Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 122 Antara Rindu dan Tak Tega


__ADS_3

Selesai dari kos tempat tinggal Nilasari, Shaka segera pulang ke rumah, sepanjang jalan ia selalu mengulas senyuman, tidak hanya Amira, ia juga bahagia mendapat kabar tentang putri Amira.


Tak terasa mobil mewah Shaka kini sudah sampai di pekarangan rumahnya, ia turun dari mobil dan langsung memberikan kunci mobilnya kepada pak Dody yang sedang berada di teras rumah, untuk memarkirkan mobilnya di garasi.


Sesampainya di kamar, Shaka mengedarkan pandangannya melihat keberadaan Amira, ia mencari Amira ke walk in closet, toilet dan balkon kamar mereka, namun semuanya kosong, Amira tidak ada di kamarnya, Shaka pun meraih ponsel yang ada di saku celana dan langsung mendapati pesan dari Amira, ada juga beberapa panggilan tak terjawab, ternyata dari tadi Amira menghubunginya, dari tadi memang Shaka tidak memegang ponsel jadi dia tidak sempat menjawab panggilan dari Amira.


“Sayang kamu masih lama? Maaf aku tidak sempat menunggu kamu, aku minta izin ya ke rumah Salsa, Queen sakit jadi aku akan ke rumah Salsa sekarang, aku di antar pak Ardi,” ucap Amira via whatsapp.


“Sayang, kamu tidak sadar kalau selama ini kamu sudah memberi perhatian pada anak mu sendiri, aku harus segera ke sana menyusulnya, aku sudah tidak sabar ingin menyampaikan berita gembira ini padanya,” gumam Shaka dalam hati.


Shaka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Reza, tak butuh waktu lama, kini Shaka sudah sampai di pekarangan rumah Reza, pada saat Shaka turun dari mobil, tiba-tiba saja ada mobil mewah memasuki pekarangan rumah Reza menuju tempat parkiran, Shaka langsung menyunggingkan senyumannya saat melihat Reza turun dari mobilnya.


“Apa kabar?” Tanya Reza yang langsung saja menghampiri Shaka dan menepuk pelan pundak nya.


“Aku baik, boleh aku masuk? Aku mau menjenguk Queen katanya dia sedang sakit,” ucap Shaka sembari memegang kantong berisi susu dan popok bayi.


“Tentu boleh dong, ayo kita masuk, kebetulan ada Amira juga di dalam,” jawab Reza dan langsung menuntun Shaka untuk masuk.


“Permisi sayang,” ucap Shaka pada Amira begitu sampai di kamar Queen.


Amira yang sedang menidurkan Queen melirik Shaka dan meletakkan jari telunjuknya di bibir sebagai tanda agar Shaka tidak berisik.


Shaka pun melepas sepatunya dan berbaring di samping bayi mungil itu, ia menatap Queen dengan seksama sembari mengusap lembut pipi gembulnya.


“Pantas selama ini kau sangat mirip dengan Amira, kau juga selalu menangis saat Amira sudah lama tak bertemu dengan mu, ternyata itu semua bukan kebetulan, ikatan batin yang terbentuk antara kalian adalah murni karena kalian ibu dan anak,” gumam Shaka dalam hati sembari menatap Queen dan Amira secara bergantian.

__ADS_1


Amira mengerutkan dahinya melihat Shaka yang bergantian menatap dia dan Queen.


“Sayang, kenapa kau menatap kami seperti itu?” Tanya Amira dengan raut wajah bingung.


“Semakin lama kalian semakin mirip,” ucap Shaka mencoba memberi clue pada Amira.


“Kata orang, kalau kita terlalu dekat, lama kelamaan wajah kita akan mirip satu sama lain,” cetus Amira dengan polosnya, dia masih belum mengerti maksud dari omongan Shaka.


“Oh ya sayang, bagaimana hasil pertemuan mu dengan Nilasari? Apa kamu sudah mengetahui keberadaan anak ku?” Tanya Amira lirih.


“Itu yang akan aku sampaikan pada mu sekarang sayang,”


“Jadi bagaimana?” Tanya Amira antusias.


“Ma… maksudnya apa? Maksud kamu anak aku Queen?” Tanya Amira masih dengan raut wajah tak percaya.


“Iya sayang, dia anak kandung mu,” jawab Shaka meyakinkan Amira.


Mendengar itu Amira tersentak dan sontak membulatkan matanya, antara percaya atau pun tidak, Amira mencoba memastikannya lagi.


“Tidak mungkin, dia ponakan kak Reza dan Salsa, dia anak dari kak Roy sepupu kak Reza, bagaimana bisa jadi anak ku?” Kini Amira bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap Shaka.


Shaka pun menceritakan kronologinya secara detail, tak ada satu pun yang terlewatkan, kini Amira pun percaya, senyum di bibirnya kini terbit saat ia melirik bayi mungil yang selama ini ia anggap sebagai anaknya, ternyata memang benar-benar anaknya.


Amira pun meneteskan air mata bahagia, saking bahagianya, dia mengangkat tubuh mungil Queen yang kini sedang terlelap, dia menghujani Queen dengan ciuman, ia tak bisa menggambarkan betapa bahagianya dia saat ini, namun baru saja dia melepas rindu dengan anaknya itu, tiba-tiba saja Yura dan Reza masuk, Amira pun segera mengusap air matanya.

__ADS_1


“Amira dia sudah bangun ya?” Tanya Yura yang langsung saja meraih Queen dari pelukan Amira.


Yura pun meletakkan Queen di pangkuannya dan mengusap lembut rambut bayi itu.


“Aku senang sekali dia bisa tenang seperti ini, terima kasih ya Mir sudah mau bolak balik ke sini untuk menjaga anak ku, sudah 6 bulan pernikahan kami, tapi sampai saat ini aku belum juga di karuniai seorang anak, jadi aku dan Reza langsung saja mengadopsi dia untuk jadi anak kami, saat ini dia sudah menjadi putriku, bahkan suatu saat jika tuhan mempercayakan kami untuk punya anak, dia akan tetap ada di hati kami selamanya, kasih sayang kami tidak akan terbagi, Queen adalah anugerah dari tuhan, aku sangat bersyukur memilikinya, dan aku tidak bisa kehilangan dia,” papar Yura panjang lebar, membuat Amira terdiam dan berfikir ulang untuk mengambil Queen darinya.


“Ya tuhan, bagaimana ini? Kalau aku mengambil anak ku, Yura pasti akan merasa terpukul, bagaimana pun Queen sudah menempati hatinya, aku tidak sanggup memisahkan mereka, tapi aku juga tidak bisa jauh dari anak ku, apa lagi kini aku sudah mengetahui kebenarannya,” gumam Amira dalam hati, buliran bening kini lolos membasahi pipinya.


“Sayang, apa sebaiknya kita…”


“Shaka, ayo kita pulang, mama dan papa menunggu di rumah,” ucap Amira yang langsung memotong ucapan Shaka.


Amira pun pamit pada Yura dan Reza untuk segera pulang, ternyata tingkah Amira itu tidak luput dari perhatian Reza dan Yura, namun mereka hanya mengangguki saat Amira pamit pulang.


“Za, Ra, aku pulang dulu ya, mertua ku sudah menunggu di rumah,” ucap Shaka walau tak yakin dengan ucapan Amira dan mengikutinya saja.


Dalam perjalanan hening pun tercipta, Amira masih saja diam dengan pikirannya sendiri.


“Sayang,” Shaka memulai percakapan.


“Aku rindu dengan anak ku Ka, tapi mendengar ucapan Yura tadi aku jadi tak tega memisahkan mereka,” ucap Amira langsung bisa menebak pertanyaan yang akan Shaka lontarkan.


“Kita cari waktu yang tepat untuk jujur pada Yura dan Reza ya, bagaimana pun mereka harus tau dan mengembalikan Queen pada mu,” Shaka mencoba menenangkan Amira sembari mengusap lembut rambut nya.


Amira pun mengangguk berat, dengan terpaksa dia harus kembali menahan rindu agar tidak memperkeruh suasana, dia akan memilih waktu yang tepat untuk jujur pada Yura soal Queen.

__ADS_1


__ADS_2