
Kantor Utama Buwana Group..
Amira berjalan memasuki kantor utama Buwana Group menuju ruangan Shaka untuk mengantar bekal sarapan untuk Shaka. Kali ini Amira terlihat cantik dan ellegant dengan mini dress hitam yang dipadu dengan sling bag dan alas kaki flat shoes dengan warna senada serta rambut yang di biarkan tergerai.
Pada saat Amira berjalan melewati para kariyawan semua mata tertuju padanya, terlebih kariyawan wanita, mereka tampak penasaran dengan Amira yang berjalan menuju ruangan Shaka. Berbeda dengan kariyawan laki-laki, mereka malah menatap kagum dan terpesona dengan kecantikan Amira.
"Siapa ya dia? Apa dia pacarnya tuan muda?" Ucap salah satu kariyawan laki-laki sembari terus menatap Amira yang sedang melangkah masuk ke ruangan Shaka.
"Semoga saja bukan, sehingga aku bisa punya kesempatan untuk mendekatinya." Ucap salah satu lelaki yang juga ikut memandang Amira.
Sementara dari dalam ruangan, Shaka tampak geram dan spontan mengepalkan tangannya melihat cctv di ponselnya yang menampakkan Amira yang di tatap para kariyawan laki-laki dengan kagum.
Ada apa ini? Kenapa hanya memakai mini dress seperti itu? Lihat saja mata para lelaki itu, terus saja menatap lekuk tubuhnya dengan mesum. Celetuk Shaka dalam hati sembari manatap tajam ponselnya yang menampilkan Amira yang sedang ditatap para kariyawan di kantor itu.
Shaka menyadari Amira yang sedang berjalan menuju ruangannya pun langsung mematikan ponselnya dan menyimpannya di dalam saku celana.
Amira perlahan membuka pintu ruangan Shaka, dan tiba-tiba Shaka ternyata bersembunyi di balik pintu langsung menggendongnya begitu saja dan mendudukkan tubuh Amira di atas meja kerjanya, lalu kemudian langsung saja mencium bibir Amira dengan lembut.
Amira langsung mendorong pelan tubuh Shaka saking terkejutnya.
"Shaka stop ini di kantor!" Ucap Amira yang tampak panik.
"Biarkan saja, agar para lelaki di kantorku ini hanya menelan ludah saja hanya bisa manatap mu tapi tidak bisa menikmati tubuhmu seperti aku." Jelas Shaka tampak kesal.
"Apa? Kamu tau dari mana kariyawan lelaki di sini menatapku?" Amira mengerinyitkan dahinya.
"Tentu saja aku tau, aku Shaka Buwana, semuanya mudah bagiku." Ucap Shaka lalu kemudian kembali mendaratkan ciuman di bibir Amira.
Hanya terhitung beberapa detik saja bibir mereka kini saling bertautan, kini Shaka perlahan melepas tautan bibirnya dan kembali menatap Amira begitu lekat.
"Kamu sangat cantik sayang." Ucap Shaka sembari tersenyum.
Amira hanya tersenyum dan mencium singkat bibir suaminya.
"Yah sudah kamu sarapan dulu, aku membawakanmu sarapan, makanlah dulu." Ucap Amira sembari kedua tangannya merapikan dasi Shaka.
"Ya sudah, tapi berikan aku satu ciuman lagi sebelum makan." Ucap Shaka yang semakin mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Amira sembari tersenyum menggoda.
Amira pun semakin dibuat tersenyum dengan tingkah laku suaminya yang begitu genit, lalu kemudian ia kembali mencium singkat bibir Shaka, namun seolah tak membiarkan bibir Amira pergi, Shaka pun seketika langsung melahap lagi bibir Amira, ia ********** dengan begitu lembut, dan perlahan mulai mendorong tubuh Amira hingga membuatnya jadi terbaring di atas meja kerjanya, semakin lama ciuman yang lembut berubah jadi sedikit menuntut dan penuh gairah. Tak lama bibir Shaka berpindah ke leher Amira dan mulai membuka kancing kemejanya.
"Shaka ini di kantor." Ucap Amira dengan nafas terengah-engah.
Namun Shaka tidak menggubris dan terus membasahi leher dan dada atas Amira sembari sebelah tangannya mulai liar meraba paha mulus Amira dan mulai ingin memasuki lebih dalam lagi.
Tangan Amira pun sontak jadi liar hingga menjatuhkan beberapa berkas yang terletak di meja kerja Shaka, namun hal itu sama sekali tidak membuat aksi Shaka berhenti.
Saking asiknya hingga mereka tak menyadari Kevin yang ternyata sudah berdiri tercengang dengan mulut sedikit menganga memandangi mereka. Amira yang tak sengaja melirik ke arah Kevin langsung membulatkan matanya dan mencoba menolak tubuh Shaka.
"Shaka Buwana, stop!" Ucap Amira yang jadi panik sembari menahan tangan Shaka yang mulai ingin menjelajah di balik dressnya.
Namun bukannya berhenti, Shaka justru semakin liar dan kembali ******* bibir Amira. Amira terus memukul-mukul dada bidang Shaka dan melepas paksa tautan bibir mereka.
"Ada Kevin itu." Ucap Amira yang jadi begitu malu sembari memalingkan wajahnya.
"Ha?!" Shaka sontak berhenti namun matanya masih memandang Amira.
"Ada Kevin." Amira menunjuk ke arah Kevin dengan wajah yang sama sekali tak berani menatap Kevin.
Shaka pun sontak melirik ke belakangnya, dan begitu terkejut melihat Kevin sudah berdiri mematung dengan datarnya.
__ADS_1
Amira dengan cepat memasang kedua kancing kemejanya yang sudah terbuka, lalu mendorong tubuh Shaka agar kembali berdiri tegak.
"Ba.. baiklah aku pulang dulu." Ucap Amira yang begitu gelagapan dan langsung keluar dari ruangan Shaka dengan wajah memerah karena malu.
Amira melangkah begitu cepat sembari mengusap bibir dan lehernya yang basah akibat aksi liar suaminya.
Shaka pun juga begitu kikuk, kini mulai melotot memandangi Kevin yang masih saja berdiri terdiam menatapnya dengan begitu datar.
"Kenapa harus aku yang menyaksikan aksi vulgar kalian?" Tanya Kevin dengan raut wajah yang masih tercengang.
"Bukan kah sudah sering ku ingatkan untuk mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" Ketus Shaka yang masih terlihat begitu gelagapan.
"Aku menganggu ya?" Tanya Kevin datar.
"Su, sudahlah tidak perlu di bahas. Ada apa?" Shaka yang kikuk kembali duduk di kursinya sembari merapikan rambut dan penampilannya.
Kevin pun ikut duduk dengan wajah yang masih datar.
"Ada yang ingin menemuimu."
"Siapa?" Shaka mengerinyitkan dahinya.
"Dewa Atmadja." Jawab Kevin singkat.
"Suru dia masuk."
"Sebentar aku hubungi resepsionist dulu." Kevin pun meraih ponsel di sakunya dan menelepon bagian resepsionist untuk mengizinkan Dewa Atmadja masuk.
"Apa itu tadi Ka?" Tanya Kevin kemudian.
"Astaga, kenapa kau masih membahasnya?" Shaka mengangkat kedua alisnya menatap Kevin yang saat itu terlihat mulai memicingkan matanya.
Kenapa dia menatapku seperti itu? Gawat, kali ini dia sudah memegang kartu As ku. Celetuk Shaka dalam hati yang jadi tak berani memarahi Kevin.
"Aku sangat sibuk, aku hanya ingin bersantai dengan meneguk secangkir kopi pun tak sempat. Tapi kalian? Kalian seperti tengah di mabuk cinta, dunia serasa milik berdua sehingga di kantor pun kalian bisa melakukannya." Sindir Kevin.
Akhirnya Shaka memilih diam dan seakan tidak mendengar sindiran Kevin padanya sembari terlihat begitu fokus memainkan ponselnya.
"Kenapa harus aku yang melihatnya? Padahal aku baru saja putus dari pacarku tadi malam, kenapa kau jadi begitu tegah pada temanmu ini Ka." Raut wajah Kevin yang datar kini berubah menjadi raut wajah yang sangat menyedihkan.
"Jadi karena itu kau menatapku seperti itu?" Shaka menggeram dan memukul kepala Kevin dengan map yang di pegangnya.
"Tolong hormati aku sebagai lelaki yang baru menyandang status jomblo ini Ka. Apa kau tidak bisa sabar dan melakukannya di rumah?"
"Makanya cepatlah menikah dan rasakan sensasinya."
"Kau ini, kau mau mencoba membalasku ya? Karena dulu aku sering mengejekmu karena jomblo." Ketus Kevin yang semakin dibuat kesal.
"Lain kali kalau melihat gordenku tertutup, maka ku sarankan kau jangan masuk atau setidaknya ketuk pintu dulu. Karena aku tidak bisa berhenti untuk melakukannya dengan istriku di sini." Tegas Shaka.
"Aku tidak menyangka, Shaka Buwana pengusaha yang terkenal cuek dan dingin pada setiap wanita, kini terlihat begitu buas menggerayangi istrinya." Celetuk Kevin.
"Kau sungguh sudah gila karena cinta." Tambah Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya dan keluar begitu saja.
Namun Shaka hanya tersenyum sembari menyandarkan dirinya ke sandaran kursi dan menggoyangkan kursinya ke kanan dan ke kiri.
"Mau bagaimana lagi, mood ku jadi jauh lebih baik dan semangatku akan kembali saat sudah berhasil melahap istriku, hahahaha." Celetuk Shaka seorang diri.
Tak lama, Shaka pun memilih menelepon istrinya.
__ADS_1
"Apa?" Ketus Amira saat mengangkat teleponnya.
"Sayang, kenapa jadi begitu ketus padaku?"
"Sudah ku bilang jangan lakukan itu di kantor, aku sangat malu." Keluh Amira.
"Sudah lah, Kevin orangnya santai, jadi tak perlu cemas memikirkannya."
"Terserah! Yang jelas jangan begitu lagi di kantor. Aku tidak akan mengizinkannya." Tegas Amira.
"Sayang, kenapa begitu? Lagi pula kita kan sudah sah, jadi sah saja melakukannya di mana saja, lagi pula ini ruangan pribadiku, Kevin saja yang lancang masuk tanpa mengetuk pintu."
"Dasar mesum." Ketus Amira.
"Hahahaha, entah kenapa setiap melihatmu membuatku jadi ingin melakukan hal mesum terus menerus." Goda Shaka.
Amira pun terdiam menahan kesal sekaligus juga menahan tawanya.
"Oh ya kamu di mana?"
"Aku masih di jalan, mau ke rumah mama." Jawab Amira.
"Baiklah kamu hati-hati di jalan ya, nanti aku jemput di rumah mama. I love you."
"Love you to." Jawab Amira yang akhirnya kembali tersenyum.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk!" Ucap Shaka saat mendengar suara ketukan pintu.
Tak lama sekretaris Shaka pun masuk.
"Permisi tuan, ada yang ingin bertemu dengan tuan." Ucap sekretaris sembari membungkukkan badannya.
"Suru masuk!" Ucap Shaka dengan raut wajah yang berubah datar karena dia tau siapa yang akan datang menemuinya saat ini.
"Permisi tuan Shaka." Sapa Dewa Atmadja sembari membungkukkan badannya.
"Apa yang membuatmu datang menemuiku lagi? Bukan kah sudah jelas kalau saya sudah membatalkan kerja sama dengan perusahaanmu?" Jelas Shaka masih terlihat tenang.
"Iya tuan, itu yang ingin saya sampaikan. Tuan Shaka, tidak bisa kah kau memberiku kesempatan? Aku sungguh minta maaf padamu, aku juga sudah memperingatkan istriku untuk tidak mengganggu istri tuan muda lagi." Jelas Dewa lirih.
Mendengar itu Shaka hanya tersenyum sembari berdiri dan menyandar di meja kerjanya dengan memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya dengan tenang.
"Aku dan istriku sungguh tidak tau kalau Amira adalah istri anda tuan muda, kami benar-benar tidak tau. Sekali lagi saya minta maaf tuan, tolong jangan batalkan kerja sama perusahaan kita dan jangan blacklist seluruh klien ku agar membatalkan kerja sama denganku." Jelas Dewa dengan raut wajah yang tampak memelas.
"Oh jadi, kalau Amira bukan istriku, kalian bisa semena-mena padanya begitu hah?" Kini Shaka mulai meninggikan suaranya dia terlihat tampak emosi.
"Tidak tuan muda, bukan begitu, dulu kami benar-benar khilaf sudah membuat Amira menderita tapi sekarang saya benar-benar minta maaf. Bila perlu saya akan minta maaf secara langsung kepada nona Amira." Ucap Dewa yang jadi terlihat begitu ketakutan.
"Kalian benar-benar sombong, mentang-mentang kalian punya segalanya, kalian tegah membuat Amira menderita dan tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatan bejat anak kalian. Untung saja saya bertemu dengannya, sehingga Amira tidak perlu merasakan penderitaan yang kalian berikan!" Ucap Shaka sembari menatap tajam ke arah Dewa
"Ingat!! Saya akan selalu ada di samping Amira untuk melindunginya dan mengangkat derajatnya agar tidak selalu di remehkan oleh orang-orang sombong seperti kalian!" Ucap Shaka pelan namun penuh penekanan.
Mendengar itu Dewa kini hanya menunduk, mendadak tubuhnya jadi gemetaran mendengar ungkapan Shaka. Bagaimana tidak, perusahaan Dewa masih bergantung pada perusahaan Shaka, Shaka juga adalah orang yang berkuasa yang bisa membuat sebuah perusaan bangkrut dalam hitungan detik apa bila membuatnya geram.
"Keputusan saya sudah bulat, saya tidak akan merubah keputusan saya. Keluar dari ruangan saya sekarang, saya sangat sibuk sehingga tidak punya banyak waktu untuk meladeni orang seperti anda."
Mendengar itu, Dewa masih diam mematung beridiri di depan Shaka.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi? Terserah anda mau berdiri sampai besok di sini pun tetap tidak akan merubah keputusan saya. Paham?" Tegas Shaka sembari kembali mendudukkan dirinya di kursi kejayaannya.
"Baik tuan. Saya permisi dulu." Ucap Dewa tampak lesu lalu kemudian melangkah keluar meninggalkan ruangan Shaka.