Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 18 Pernikahan


__ADS_3

1 minggu kemudian..


Kini pernikahan antara Amira dan Shaka telah tercatat di kantor pencatatan sipil. Pernikahan dilaksanakan secara tertutup sesuai dengan permintaan Shaka dan Amira dan kemudian di setujui oleh nenek dan orang tua Amira. Kini Amira telah resmi menyandang status nona muda di rumah keluarga Buwana.


"Akhirnya kalian telah resmi menikah". Ucap Emely sembari memegang tangan Shaka dan Amira.


Riana dan Adi pun ikut tersenyum bahagia melihat anaknya menikah dengan orang yang tepat.


"Amira sayang.. Skarang kamu telah resmi menjadi seorang istri, berbaktilah kepada suamimu dan kamu harus selalu menjadi istri yang baik untuk Shaka". Ucap Riana menatap putri semata wayangnya itu.


Sementara Adi yang sedari tadi melihat pemandangan itu pun seketika matanya berkaca-kaca karena harus melepas putri kesayangannya itu.


"Semoga rumah tangga kalian langgeng dan segera memberikan ku cicit". Celetuk Emely yang sontak saja membuat Amira tersedak.


" Nek... Tidak perlu terburu-buru kami kan baru menikah". Ucap Shaka mengusap tangan neneknya.


"Baiklah kalau begitu, nikmatilah waktu berdua kalian". Ucap Emely tersenyum bahagia.


Selang beberapa saat Shaka pun kembali pulang ke rumahnya dengan membawah Amira sebagai anggota baru di keluarga mereka. Sepanjang jalan Amira hanya diam karena gugup dengan status barunya sebagi istri dari Shaka.


KEDIAMAN KELUARGA BUWANA


Amira dengan gugup berjalan masuk ke rumah mewah itu lagi. Dia merasa canggung ketika dia di sambut oleh semua pelayan yang ada di rumah itu sebagai nona muda.


"Selamat siang nona muda.." Sapa seluruh pelayan itu kepada Amira sembari membungkukan badan memberi hormat pada Amira.


Amira yang tampak kikuk itu pun dengan raut wajah yang masih bingung ikut membungkukan badannya membalas salam hormat para pelayan mereka. Sementara Shaka terus berjalan melewat Amira, Amira pun sontak berlari kecil menaiki anak tangga segera menyusul Shaka.

__ADS_1


"Tuan muda.. Selanjutnya aku harus apa?" Tanya Amira tampak bingung.


"Ikut aku akan ku tunjukan kamarmu". Ucap Shaka yang terus berjalan menaiki anak tangga.


Amira pun berjalan mengikuti langkah Shaka dengan sedikit berlari untuk mengejar Shaka karena langkahnya yang terlalu cepat.


" Ini kamarmu". Ucap Shaka singkat.


Dengan pelan Amira mendekati pintu kamar itu dan membukanya.


Amira pun terperangah melihat isi dari kamar itu, ia tak henti-hentinya di buat takjub dengan pemandangan kamar yang ada di depan matanya itu, dia terus saja memandang kagum setiap sudut-sudut ruangan yang ada di kamar itu, ukuran kamar itu bisa 2x lipat lebih besar dari ukuran kamar Amira, sangat berbeda dengan kamarnya. Kemudian dia duduk di atas ranjang yang empuk itu sembari mengguncang-guncangkan tubuhnya.


"Wah empuk sekali". Celetuk Amira.


Tingkah laku Amira yang terlihat aneh, lagi-lagi membuat Shaka yang sedang mengamatinya menghela nafas panjang sembari memutar bola matanya saking tak habis fikir.


" Sebentar lagi jam makan malam, bersihkan dirimu lalu turun ke bawah untuk makan malam". Ucap Shaka.


"Dan 1 hal lagi, kamu jangan bikin nenek curiga, jangan memanggil aku tuan muda di depannya panggil namaku saja kau mengerti?" Ucap Shaka lagi mengingatkan.


"Iyaa saya mengerti tuan". Ucap Amira yang masih menikmati duduk di ranjang empuknya.


Begitu melihat Shaka pergi, Amira pun menjatuhkan dirinya di atas ranjang dan berguling-guling menikmati ranjang itu.


"Walau harus bersandiwara, setidaknya aku senang bisa tidur nyenyak di ranjang seempuk ini". Celetuk Amira sendirian.


Amira pun berjalan memasuki kamar mandi, Amira lagi-lagi di buat kagum dengan melihat bathub di sudut kamar mandinya yang sudah di penuhi bunga mawar merah di atas air. Emely memang sengaja menyuruh pelayan untuk mempersiapkan semuanya, dia tidak tau kalau ternyata Shaka dan Amira tidur pisah kamar.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Amira kemudian membuka seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam bathub yang beraroma vanila itu. Amira pun menyandarkan tubuhnya di ujung bathub membuat tubuhnya setengah berbaring. Kemudian perlahan menikmati sejuknya berada dalam bathub itu dengan aroma vanila yang sangat menenagkan.


Sementara di ruang makan para pelayan sibuk menghidangkan banyak makanan untuk menyambut nona muda mereka. Emely tampak bersemangat dan sangat bahagia, senyumannya sedari tadi tidak pernah tersingkir dari wajahnya.


Amira yang tengah menikmati aroma vanila yang sedari tadi menembus rongga hidungnya kini tiba-tiba teringat dengan ucapan Shaka tadi jangan membuat neneknya menunggu. Amira pun terperanjat dengan sigap ia keluar dari bathub dan membilas tubuhnya kemudian meraih handuk dan melilitkannya ke tubuh.


Amira pun segera ke kamar dan mengganti pakaiannya, dia membuka lemari dan meraih dres secara asal, dres itu berwarna peach dengan motif bunga-bunga kecil warna putih.


Dengan langkah yang sangat terburu-buru Amira keluar dari kamarnya dan tanpa sengaja menabrak Shaka yang kebetulan berjalan di depan pintu kamar Amira. Amira hampir terjatuh tangan Shaka refleks meraih pinggang Amira dan menahan tubuh Amira dalam dekapannya. Shaka merasa terpaku saat mencium aroma vanila di tubuh Amira di tambah lagi pandangan mereka bertemu membuat Shaka sejenak merasa nyaman dalam posisi ini. Namun tiba-tiba Shaka tersentak dan segera melepas tubuh Amira begitu saja.


"Apa kau tidak punya mata? Kenapa kau selalu merepotkanku". Ucap Shaka membentak Amira dan menatap Amira tajam lalu pergi meninggalkan Amira.


"Lelaki itu, tidak bisa kah dia bersikap lembut kepada seorang wanita?" Keluh Amira kesal.


Amira pun langsung berjalan menyusul Shaka menuruni anak tangga menuju ruang makan, di mana Emely sudah menunggu. Amira pun langsung membungkukan badan menyapa Emely.


"Kau ini, berhentilah bersikap seperti seorang pelayan, duduklah!" Titah Emely kepada Amira yang tidak nyaman melihat Amira begitu berlebihan ketika memberi salam hormat padanya.


"Baiklah nek".


" Berhentilah lah berdiskusi, aku sangat lapar" Rengek Shaka kepada neneknya.


Amira pun begitu bersemangat melihat semua hidangan yang sudah tertata dengan rapih di atas meja. Tanpa merasa malu Amira pun mengambil makanan yang dia sukai dan langsung melahapnya. Emely yang melihat itu hanya bisa tersenyum lalu menggeleng. Saking bersemangatnya menyantap makanan lezat itu, Amira sampai terbatuk-batuk.


"Hei.. Makanlah dengan tenang dan pelan. Apa aku juga harus mengajarimu cara makan yang benar". Bentak Shaka pada Amira.


"Shaka, kenapa kau memarahinya seharusnya sebagai suami yang baik kau harus memberikannya minum ketika melihatmya tersedak begitu. Apa aku juga harus mengajarimu cara memperlakukan istri dengan baik?" Ucap Emely yang balik memarahi Shaka.

__ADS_1


Mendengar Emely memarahinya Shaka pun menarik nafas panjang lalu memberikan segelas air kepada Amira.


Amira yang masih terbatuk pun meraih gelas yang ada di tangan Shaka dan meminumnya. Shaka pun melanjutkan melahap makanannya sembari menatap tajam ke arah Amira.


__ADS_2