
3 bulan kemudian..
Kini perut Amira sudah semakin membesar. Kandungannya sudah berusia 9 bulan, bulan di mana Amira akan melahirkan. Amira dan orang tuanya pun sudah kembali ke Jakarta.
Sisi Lain Kediaman Amira..
Tok.. Tok.. Tok
Amira beranjak dari duduknya ketika mendengar suara ketukan pintu. Dengan langkah gontai, Amira berjalan mendekati pintu sembari memegang perutnya yang sudah semakin membesar. Ketika Amira membuka pintu, Amira sontak membulatkan mata nya terkejut melihat seseorang yang datang.
"Nenek.." Amira spontan memeluk Emely dengan tersenyum sumringah.
Amira perlahan melepas pelukannya.
"Nenek sudah bisa berjalan?" Tanya Amira sembari menatap kaki dan wajah Emely secara bergantian.
"Seperti yang kau lihat". Jawab Emely dengan senyuman merekah.
"Amira.. Bawah masuk dong nenek Emely nya". Ucap Riana yang tiba-tiba muncul dari belakang Amira.
"Eh iyaa nek, ayo masuk dulu". Ucap Amira sembari tersenyum bahagia.
Emely pun masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu bersama Amira dan Riana.
"Akhirnya Mama Emely sudah bisa jalan, kami sangat senang sekali melihatnya". Cetus Riana dengan senyum sumringah menatap hangat ke arah Emely.
"Iyaa.. Alhamdulilah semua ini berkat Amira, dia lah yang mengembalikan semangatku untuk sembuh". Jawab Emely sembari mengusap punggung tangan Amira.
"Mama Emely?" Sapa Adi yang sudah muncul di ruang tamu.
Adi sontak mendekat ke arah Emely sembari mencium punggung tangannya menyalami. Adi kemudian duduk di sebelah Emely sembari menatap Emely dengan senyum sumringah.
"Aku sangat senang melihat keadaan Mama saat ini, akhirnya mama sudah bisa berjalan sendiri ke sini". Ucap Adi memegang pundak Emely dengan lembut.
"Aku begitu bahagia melihat Amira sudah menikah dengan Shaka apa lagi tidak lama lagi Amira akan memberiku seorang cicit jadi aku harus bisa berjalan agar bisa menimang cicitku nanti". Ucap Emely sembari mengusap lembut perut buncit Amira.
"Hehehe iyaa nek, dia juga sudah tidak sabar ingin segera keluar untuk bertemu nenek buyut nya".
__ADS_1
Sudah sejam mereka asyik berbincang-bincang di ruang tamu, tak lama Emely pun pamit ke pada Adi dan Riana untuk pulang ke rumah.
"Adi Riana Amira aku pulang ke rumah dulu ya, besok Shaka akan pulang dari Jerman. Sepulang dari Jerman dia akan langsung menjemput Amira pulang kembali ke rumah". Jelas Emely bersemangat.
Mendengar itu Amira hanya terdiam, dia tidak yakin apakah Shaka datang menjemputnya karena benar-benar menginginkan dia pulang atau hanya sekedar untuk menyenangkan neneknya.
"Yah sudah nak, kamu jaga diri baik-baik ya nenek pamit pulang dulu, sampai ketemu di rumah besok". Ucap Emely sembari mencium kedua pipi Amira dan pamit undur diri.
Keesokan harinya..
Shaka sudah pulang dari Jerman. Shaka kini tengah berada di rumahnya dan mencari Emely.
"Pak Dody, apa kau meliahat nenekku?" Tanya Shaka kepada pak Dody yang tengah berdiri menyambutnya.
"Nyonya besar sedang berada di kamarnya tuan". Jawab Dody ramah sembari membungkukkan badannya.
Shaka langsung melangkah berjalan menuju kamar Emely.
Ceklek..
Shaka membuka gagang pintu kamar Emely dan mendapati Emely sedang duduk menyulam di atas sofa kamarnya. Melihat kedatangan Shaka, Emely hanya melirik sejenak ke arah Shaka dan kembali fokus pada sulamannya.
Emely tidak bergeming. Dia hanya fokus pada sulamannya.
"Nek.. Apa nenek sakit?" Tanya Shaka mulai cemas.
"Menurutmu?" Ketus Emely.
"Kenapa nenek begitu ketus padaku?" Tanya Shaka sembari mengerutkan dahinya.
"Kau ini bagaimana, kau sudah pulang sejam yang lalu tapi kau juga tidak menemui Amira dan membawahnya ke sini". Bentak Emely mulai meninggikan suaranya.
"Oh jadi karena itu nenek marah padaku, nek, tadi aku sedang menunggu Kevin sebentar di bandara untuk menyerahkan berkas-berkas ku pada Kevin agar dia menghandle pekerjaanku sementara ini karena aku akan pergi menemui Amira dan membawahnya pulang ke sini". Jelas Shaka meyakinkan neneknya.
"Yah sudah tunggu apa lagi? Ayo cepat jemput Amira, dan kalau kau akan menjemputnya, jemput saja di rumah orang tua nya Amira sudah kembali ke Jakarta". Ucap Emely datar.
"Baiklah nek, kalau begitu aku akan segera menjemput Amira, aku pergi dulu ya nek". Shaka dengan semangatnya yang kembali berkobar berpamitan sembari mencium ujung kepala neneknya.
__ADS_1
Shaka bergegas menaiki mobil sport nya dan segera melajukan mobilnya. Sepanjang jalan Shaka terus tersenyum bahagia membayangkan pertemuannya dengan Amira nanti.
Sementara Amira, saat ini tengah duduk di taman belakang rumahnya sembari membaca buku di tangannya tentang cara merawat bayi. Namun tiba-tiba Amira merasakan sakit yang begitu hebat dari perutnya.
"Argghh". Amira meringis kesakitan sembari memegangi perutnya yang sakit.
"Mama... Ma.." Amira berteriak memanggil mamanya sembari berjalan memasuki rumah dengan langkah yang gontai.
"Amira.. Yah ampun, ayo nak". Riana bergegas meraih tubuh Amira dan memboyong Amira masuk ke dalam rumah.
"Pa.. Papa". Teriak Riana memanggil suaminya.
Mendengar itu Adi segera bangkit dari duduknya dan bergegas menghampiri Riana yang sedang memanggilnya. Melihat Amira tengah kesakitan sembari memegang perutnya, dengan sigap Adi langsung meraih tubuh Amira dari dekapan Riana dan segera membopongnya menuju mobil untuk membawah Amira ke rumah sakit. Di tengah perjalanan tiba-tiba mobil Adi mogok, Adi mencoba mengecek mobilnya selama beberapa menit namun Adi belum menemukan apa yang menyebabkan mobilnya mogok. Hari sudah mulai gelap, Adi tampak khawatir dengan keadaan Amira yang sedang meringis menahan sakit.
"Pa.. Gimana pa?" Tanya Riana yang terlihat sangat cemas.
"Aku coba carikan taksi dulu ya ma".
Adi pun mencoba berdiri di tepi jalan untuk melihat taksi yang akan lewat. Sementara Shaka yang sedang mengemudi mobilnya terhenti melihat seorang lelaki paru baya tengah berdiri di tepi jalan dan menyetop mobilnya. Namun alangkah terkejutnya Shaka saat melihat orang yang menyetop mobil nya itu adalah mertua nya sendiri. Shaka bergegas turun dari mobil dan menghampiri Adi.
"Pa.. Ada apa pa?" Tanya Shaka tampak bingung.
"Shaka, kebetulan kau datang. Ayo nak tolong bantu Amira dia mau melahirkan, Papa mau mengantarnya ke rumah sakit tapi mobil Papa mogok". Jelas Adi tampak cemas.
"Apa? Amira mau melahirkan?" Shaka sontak membulatkan matanya dan bergegas menuju mobil Adi untuk memindahkan Amira ke mobilnya.
Begitu melihat keadaan Amira, Shaka jadi semakin tak tegah melihat istri yang mulai dia cintai sedang menahan sakit. Shaka lantas membopong Amira menuju mobil nya dengan di ikuti Riana dan Adi. Sementara Amira, tidak menyadari keberadaan Shaka karena sakit yang begitu hebat. Shaka menambah kecepatan mobil nya agar Amira cepat tertangani. Shaka berinisiatif membawah Amira ke rumah sakit nya. Sesampai nya di rumah sakit, Shaka membopong Amira dengan di sambut oleh para perawat dan dokter dan membaringkan Amira di atas brankar. Dokter dan perawat segera mendorong brankar Amira menuju ruang bersalin.
"Maaf, apakah suaminya ada?" Tanya seorang dokter kepada Adi dan Riana. Adi dan Riana hanya diam dan saling menatap.
"Saya suaminya". Ucap Shaka dengan lantang, membuat Adi Riana dan Dokter tersebut tercengang. Namun Dokter tersebut segera mempersilahkan Shaka masuk walau masih dengan raut wajah yang tampak kaget.
Shaka memasuki ruang bersalin itu dan mendapati Amira yang sedang terbaring meringis kesakitan, sehingga tanpa ia sadari dia meneteskan air matanya karena tak tegah melihat istrinya sedang berjuang antara hidup dan mati melahirkan seorang anak dari rahimnya. Shaka perlahan mendekati Amira dan langsung menggenggam erat tangan Amira. Amira yang merasa tangannya di genggam sontak melirik ke arah seseorang yang tengah menggenggam tangannya. Dan betapa terkejut nya Amira melihat orang yang menggenggam tangannya adalah Shaka.
"Shaka Buwana". Ucap Amira dengan nafas terengah-engah dan keringat serta air mata yang mengucur deras.
"Kamu kembali?" Tanya Amira di tengah-tengah sakitnya dengan air mata yang sudah menetes.
__ADS_1
"Iyaa.. Aku kembali untukmu, berjuanglah aku di sini menemanimu". Ucap Shaka sembari mengusap ujung kepala Amira.