Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 121 Semakin Jelas


__ADS_3

Setelah kejadian yang tadi, malam itu juga Shaka membawa Amira pulang ke rumah, Amira masih bergeming memikirkan sesuatu, bagaimana tidak, ucapan Windy masih terngiang-ngiang dalam benaknya, ternyata putrinya masih hidup, ada rasa senang namun juga sedih tak luput dari perasaan Amira, di sisi lain ia senang karena anaknya masih hidup, namun di lain sisi, dia sedih karena dia tidak tau bagaiamana keadaan anaknya sekarang.


Sebagai suami, Shaka selalu siaga berada di samping Amira, Shaka juga sudah memberitahukan kabar ini kepada nenek dan juga kedua mertuanya, kini kedua orang tua Amira sedang menunggu di rumah Amira untuk menenangkan Amira.


Shaka menjalankan mobil nya dengan kecepatan sedang membelah kegelapan malam, Shaka melirik Amira yang hanya diam bersandar di kursi mobilnya sembari menatap ke arah luar jendela mobil, ia tau saat ini pikiran Amira sedang kacau sehingga ia meraih tangan Amira ke dalam genggamannya mencoba menyalurkan kekuatan untuk istrinya itu.


Setengah jam kemudian, sampailah mereka di pekarangan rumah, namun pada saat Shaka turun lebih dulu hendak membuka kan pintu mobil untuk Amira, Amira sudah membukanya terlebih dulu dan berjalan mendahului Shaka dengan tatapan kosong, tak lupa air mata terus membasahi pipinya bak banjir bandang, hingga pada akhirnya tanpa di sadari, kakinya tersandung namun dengan sigap Shaka langsung menahannya.


“Untung saja tidak jatuh, hati-hati sayang, kamu sedang hamil,” ucap Shaka sembari memegang kedua pundak Amira.


Menyadari itu Amira langsung tersadar, karena keteledorannya ia hampir saja jatuh, padahal ia sedang hamil, dia jadi merasa bersalah pada calon bayi nya itu dan juga Shaka.


“Maafkan aku, pikiran ku begitu kalut, aku bukan tidak memperhatikan anak kita, aku, aku hanya…” belum selesai Amira berbicara, Shaka langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir Amira.


“Tidak usah merasa bersalah seperti itu, seperti kamu, aku pun begitu khawatir dengan anak kita, aku janji aku akan mencari keberadaannya, kamu tenang saja ya,” ucap Shaka kemudian membawa masuk Amira ke dalam rumah dan langsung di sambut oleh kedua orang tuanya dan juga nenek Emely.


“Amira, kamu jangan terlalu banyak pikiran ya, kamu serahkan saja urusan ini pada Shaka, nenek yakin, dia pasti akan segera menemukan anak kamu,” tukas Emely sembari mengelus pundak Amira.


“Iya nak, kamu sedang hamil, pikirkan juga kehamilan kamu, jangan sampai banyak pikiran, sekarang kamu istirahat, mama antar ke kamar ya,” pinta Riana pada putrinya.


Setelah Amira terlelap, Shaka memutuskan untuk menghubungi Kevin, untuk memintanya mencari tau asal usul wanita yang bernama Nilasari.


Shaka tidak mau melihat Amira larut dalam kesedihan, dia ingin segera mempertemukan ibu dan anak yang sudah terpisa lama itu.


Di sisi lain apartemen Kevin…


“Halo Vicko, aku ingin sekarang juga kamu ke rumah sakit tuan Shaka, tepatnya di ruang persalinan dan ruang bayi, kamu cari tau wanita bernama Nilasari, 1 tahun lalu dia melahirkan di sana tepatnya di tanggal yang sama dengan tanggal nona Amira melahirkan, kamu cari tau alamatnya,” ucap Kevin langsung saja melaksanakan perintah Shaka.


“Baik bos, sekarang juga saya ke rumah sakit,” jawab Vicko dari seberang sana.


“Cepat kabari aku,” ucap Kevin kemudian langsung mematikan panggilan telepon.


Shaka menatap lekat wajah istrinya yang sedang terlelap, Shaka mengecup kening Amira lalu berkata.


“Kamu tenang saja sayang, kamu akan segera bertemu dengan putrimu, aku sudah menyuruh Kevin untuk mencari tau semuanya, besok aku janji aku akan segera menemukan alamat Nilasari dan mengambil anak kamu dari tangannya, kamu tau kan bagaimana kinerja Kevin selama ini? Kinerja nya tidak pernah mengecewakan, kamu percayakan saja semuanya pada aku dan Kevin,” jelas Shaka sembari mengelus lembut rambut Amira.


Amira yang memejamkan matanya ternyata belum benar-benar tertidur, sehingga ia mendengar semua percakapan suaminya, mendengar itu hati Amira terenyuh, Shaka selalu menemukan jalan keluar di saat ia di timpa musibah, bahkan Shaka selalu ada di garda terdepan untuk melindunginya, Amira sangat bersyukur dengan hal itu, Shaka adalah suami yang paling baik dan setia, Amira pun berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan selalu mencintai Shaka dengan setulus hati dan akan selalu ada bersamanya apa pun terjadi, mengarungi lika liku jalan pernikahan.


Keesokan harinya…

__ADS_1


Libur masih belum usai, sehingga itu jadi kesempatan Shaka untuk berada di samping Amira, menghiburnya walau sekedar berbincang dengannya, Shaka takut mental Amira terguncang sebagaimana yang sudah pernah terjadi, Shaka juga punya banyak kesempatan untuk mencari tau alamat wanita yang bernama Nilasari itu, saat ini Shaka sedang menunggu telepon dari Kevin.


Waktu sudah menunjuk ke angka 07.00 pagi, dering telepon di ponsel Shaka berbunyi, Shaka pun tersenyum melihat nama Kevin tertera di layar ponsel.


“Halo Vin, bagaimana?” Tanya Shaka antusias.


“Ka, aku sudah menemukan alamat wanita itu,” ucap Kevin dengan semangat.


“Baiklah, sekarang juga kau share lok alamat lengkapnya, kita harus segera ke sana sekarang,”


Shaka pun segera masuk ke kamarnya menuju walk in closet untuk mengganti pakaian, melihat Shaka yang terlalu terburu-buru membuat Amira menghampirinya.


“Kamu mau ke mana? Kenapa buru-buru?”


“Aku akan ke tempat wanita itu sayang, aku sudah menemukan alamatnya, sekarang juga aku harus ke sana,” jawab Shaka sembari mengecup ujung kepala Amira.


“Shaka tunggu,” langkah Shaka pun terhenti, ia menoleh ke arah Amira.


“Ada apa sayang?”


“Sarapan dulu baru pergi, aku sudah menyiapkan sarapan di meja makan,”


Kini sampailah Shaka dan Kevin di depan gang sempit kos-kosan kumuh tempat Nilasari tinggal.


“Apa ini benar alamatnya?” Tanya Shaka setelah melihat keadaan tempat itu.


“Iya benar ini alamatnya,” jawab Kevin meyakinkan.


“Apa selama ini putri Amira tinggal di sini? Ya tuhan bagaimana kalau dia sakit-sakitan? Keadaan di sini sangat memprihatinkan, kasihan anak itu,” batin Shaka menatap nanar lingkungan tempat tinggal wanita itu.


“Shaka ayo turun,” suara Kevin membuyarkan lamunan Shaka.


“Kenapa harus turun? Apa tidak ada jalan lain agar kita bisa memarkirkan mobilku di depan rumahnya?” Ucap Shaka menatap jalanan yang begitu becek dan dilengkapi bau kotoran kambing, karena di sekitar situ memang ada kandang kambing.


“Tidak ada jalan lain, kita hanya perlu berjalan kaki agar bisa sampai di tempat tinggal wanita itu, lihat lah gang ini terlalu sempit, tidak bisa dimasuki mobil,” jawab Kevin sembari menahan tawa melihat tingkah sahabatnya itu yang tidak terbiasa dengan tempat seperti itu.


“Yang benar saja kau ini,” ketus Shaka sembari menuruni mobil dan mengikuti langkah Kevin.


Kini Shaka dan Kevin sudah sampai di depan kos tempat tinggal Nilasari, mereka mengetuk pintu namun tidak ada sahutan.

__ADS_1


“Cari Nila ya pak?” Tanya seorang wanita tua yang tiba-tiba muncul di belakang mereka, sembari memegang rantang yang mungkin berisi makanan.


“Iya nek, apa ini benar tempat tinggal Nilasari?” Tanya Shaka dengan ramah.


“Iya benar, kebetulan saya yang menjaga Nila selama ini, ini saya mau mengantarkan dia makanan,” jawab wanita tua itu sembari sedikit mengangkat rantang makanan itu dengan tangan kanannya.


“Memangnya Nilasari kenapa nek? Apa dia sakit?” Tanya Shaka penasaran.


“Maaf kalau boleh tau kalian siapa ya?” Tanya sang nenek menatap Shaka dan Kevin dari atas ke bawah.


“Saya saudara jauh Nilasari nek,” jawab Shaka asal.


“Apa boleh kami masuk nek?” Tanya Kevin menimpali.


“Ya sudah ayo,” jawab nenek tersebut sembari membuka pintu kos Nilasari.


Sesampainya di dalam, Shaka langsung mendapati wanita itu sedang berbaring di tempat tidur, Shaka sama sekali tidak melihat adanya tanda-tanda keberadaan anak kecil di situ.


Nenek tersebut langsung membangunkan Nilasari yang sedang tertidur, namun pada saat membuka mata, Nilasari langsung berteriak histeris pada saat ia melihat dua orang lelaki asing yang berada di dalam kamarnya.


Shaka dan Kevin pun seketika panik, wanita tua itu langsung membawa Shaka dan Kevin keluar karena kondisi Nilasari yang tidak mau bertemu orang asing, ternyata trauma yang menimpah wanita itu semakin parah, kini wanita itu menjadi gila dengan hanya di temani oleh wanita tua yang hanya tetangganya.


“Nek apa saya boleh bertanya?” Tanya Shaka sesampainya di depan.


“Iya tanya apa nak?”


“Apakah Nilasari mempunyai anak?”


Nenek itu pun terdiam sejenak, wajah nya jadi sendu, matanya menerawang jauh ke depan, ia pun mulai menceritakan eemua kisah Nilasari, Shaka dan Kevin pun mendengarkannya dengan seksama.


“Kasihan sekali dia, jadi traumanya ini karena pernah di tinggal kekasihnya?” Tanya Shaka memastikan.


“Iya kira-kira seperti itu ceritanya,”


“Siapa nama laki-laki itu?” Tanya Shaka kemudian.


“Namanya Roy Alfahri,” jawab nenek tersebut.


Mendengar nama itu Shaka sontak terkejut, pasalnya ia sangat mengenal sosok yang di sebutkan wanita tua itu, ya kini Shaka menemukan keberadaan anak Amira, dia pun sudah tidak sabar ingin segera pulang dan mengabarkan berita gembira ini pada istrinya, ternyata anak yang selama ini ada di samping Amira, yang selalu Amira temui adalah anak kandungnya.

__ADS_1


__ADS_2