Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 130 Kedatangan Anisa


__ADS_3

Tok.. tok.. tok


“Gen, kamu di dalam? Mama masuk ya?” Ucap Anisa di balik pintu kamar.


“Masuk ma,”


Anisa pun masuk sembari membawa nampan berisi makanan dan minuman, karena sejak tadi, Genta belum makan malam, jadi dia berinisiatif membawa makanan Genta ke kamarnya.


“Kamu kenapa nak?” Tanya Anisa setelah meletakkan nampan itu di atas nakas, ia melihat raut wajah Genta yang tampak sedih.


“Ma, ternyata anak ku masih hidup,” cetus Genta dengan jujur.


Mendengar itu Anisa sontak membulatkan matanya, ia sangat terkejut, namun ia harus memastikan lagi.


“Bagaimana bisa?” Tanya Anisa memegang pundak Genta agar mengahadapnya, kini mereka berdiri berhadap-hadapan.


“Iya, selama ini aku mencari tau semua kabar tentang Amira lewat anak buah ku, tidak ada satu pun kabar yang terlewat, dan hari ini lah kabar yang paling mengejutkan itu, yaitu anak ku masih hidup,”


“Ternyata anak ku tinggal di rumah Salsa, ia di rawat oleh kakak Salsa yang bernama Reza dan juga istrinya, mereka merawat anak ku karena mengira kalau anak ku itu adalah anak dari sepupunya yang sudah meninggal, jadi mereka merawatnya sepenuh hati,” papar Genta panjang lebar.


“Kenapa bisa seperti itu?” Tanya Anisa lagi.


“Karena anak ku di tukar oleh calon menantu kesayangan mama, anak ku ditukar dengan keponakan Reza yang sudah meninggal, jadi selama ini yang kita semua tau, anak aku dan Amira itu sudah meninggal,” ketus Genta kesal dengan mama dan papanya yang masih menjodohkan Genta dan Safa.


“Apa? Jadi semua ini ulah Safa? Mama tidak menyangka, kenapa dia bisa sekeji itu kepada anak kamu, cucu mama,” ucap Anisa ikut kesal.


Meski pun dia membenci Amira dan melarikan Genta ke luar negeri agar tidak bertanggung jawab pada Amira, tapi hati kecilnya tidak bisa bohong, dia mendambakan seorang cucu, apa lagi melihat Genta yang sudah lama menolak perjodohan dengan Safa membuat keinginannya itu terus tertundah, namun tiba-tiba dia tersenyum menyeringai mengingat sebuah ide yang tiba-tiba terlintas di benaknya.


“Genta, kita bawa anak mu itu ke sini, dia harus tinggal bersama kita,” pintah Anisa kemudian.


“Apa? Tidak tidak, mana mungkin Amira memberikannya,”


“Ya kamu bujuk dong si Amira, ayo lah, apa kamu tidak mau tinggal bersama anakmu?” Tanya Anisa mencoba mempengaruhi anaknya.


“Mau ma, tapi kan tidak harus mengambilnya dari Amira,” jawab Genta tidak mau menyakiti Amira lagi.

__ADS_1


“Gimana sih kamu, susah amat di ajak omong, kalau kamu tidak mau mengambil cucu mama, kamu harus setuju menikah dengan Safa,” ancam Anisa lalu berjalan keluar meninggalkan Genta di kamarnya.


“Tapi ma…”


Genta mengacak-ngacak rambutnya, dia benar-benar tidak habis fikir dengan mamanya, selalu saja memberikan dia pilihan yang sulit, dia sangat merindukan anaknya, di sisi lain dia tidak mau menyakiti Amira lagi, bagaimana pun sampai saat ini dia masih begitu mencintai Amira, tapi dia juga tidak mau menikahi Safa, dia tidak mencintai Safa dan sangat tidak suka dengan sifat Safa yang selalu seenaknya, keras kepala, licik dan jahat.


“Bagaimana bisa mama punya pikiran untuk menikah kan aku dengan Safa, padahal jelas-jelas mama sudah tau sifat jelek Safa selama ini,” rutuk Genta dalam hati dengan raut wajah kesal.


Keesokan harinya…


Tok…tok.. tok


“Nona, ada tamu di depan, mau ketemu nona,” ucap salah satu pelayan di rumah mereka.


“Iya sebentar ya, saya akan segera turun,” jawab Amira yang sedang duduk di ranjang Samudra dan Queen bersama dengan kedua anaknya itu.


“Kalian berdua tunggu mama di sini ya, mama mau ke depan dulu, jangan ke mana-mana oke,” ucap Amira pada kedua anaknya.


“Okee ma,” jawab mereka serentak.


“Tante?” Amira mencoba menyapa lalu mendudukkan dirinya di atas sofa.


“Hai Amira, apa kabar?” Tanya Anisa basa basi.


“Baik, seperti yang tante lihat,” jawab Amira dengan tersenyum tipis.


“Syukur lah kalau begitu,”


“Ada apa tante datang kemari? Apa ada yang bisa saya bantu?” Tanya Amira dengan nada yang sopan.


“Kedatangan saya ke sini karena ingin bertemu dengan cucu saya,” jawab Anisa tanpa basa basi lagi.


“Kenapa dia bisa tau tentang Queen?” Gumam Amira dalam hati.


“Cucu tante? Maksud tante, anak pertama saya?” Tanya Amira kemudian.

__ADS_1


Anisa menyeruput teh yang sudah di suguhkan, lalu menjawab.


“Iya, cucu saya masih hidup kan?” Tanya Anisa sembari meletakkan kembali cangkir teh di atas meja.


“Kenapa kau tidak mengabari kami kalau cucu kami masih hidup?” Tanya Anisa dengan tatapan mengintimidasi, dan tentunya sudah memperlihatkan keangkuhannya.


“Jadi sekarang baru mau mengakui? Selama ini kemana kalian? Sewaktu saya hamil Queen, kalian malah melarikan Genta ke luar negeri, dan sekarang setelah tau dia masih hidup, anda menganggapnya cucu?” Ucap Akira tak kalau ketusnya.


“Rupanya kau sudah berani menjawab ya Amira, jangan sombong kamu, anak itu tidak mungkin ada dalam kandungan mu kalau tidak karena anak saya,”


“Oh ya? Anak anda hanya bisa berbuat, tapi tidak mau bertanggung jawab, bahkan kalian juga ikut terlibat melarikan dia,” celetuk Amira dengan wajah sinisnya.


“Amira, saya sudah tidak mau berbasa basi lagi, saya datang ke sini bukan hanya ingin menemui dia, tapi juga mau membawanya tinggal bersama kami,” ucap Anisa dengan tak tau malunya.


“Tidak, saya tidak mengizinkan anda membawa Queen,” ucap pemilik suara bariton yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.


Anisa mau pun Amira pun sama-sama menoleh ke arah sumber suara.


“Siapa kamu melarang saya membawa cucu saya?” Tanya Anisa yang kini berdiri menatap tajam ke arah Shaka.


“Karena dia ayahnya,” jawab Amira juga ikut berdiri di samping Shaka.


“Yang benar saja kau Amira? Dia bukan ayah kandung Queen,”


“Sejak Queen dalam kandungan, Shaka Buwana sudah saya anggap seperti ayah kandung Queen, bahkan kami juga takkan menyinggung hal itu di rumah ini, karena Queen harus tau kalau ayah nya hanya satu, hanya Shaka Buwana,” jawab Amira sembari mengenggam tangan Shaka.


Anisa pun semakin kesal, dengan raut wajah yang sangat tak bersahabat, dia melangkahkan kakinya keluar dari rumah Buwana, melewati Shaka dan Amira begitu saja.


“Sayang, kalau wanita itu datang lagi ke sini atau menemui mu di mana saja, cepat kau hubungi aku, aku tidak mau dia macama-macam dengan mu,” ucap Shaka berdiri menghadap Amira sembari memegang lembut kedua pundak Amira.


“Kamu tidak usah khawatir, aku sudah tau cara menghadapi orang seperti bu Anisa,” jawab Amira tersenyum manis.


Mendengar itu, tangan Shaka beralih menggenggam kedua tangan Amira dan berkata.


“Kamu jangan tersenyum seperti itu, senyum mu itu bisa mengundang juniorku bangun,” Shaka mulai menggoda Amira.

__ADS_1


“Dasar mesum,” jawab Amira melepaskan tautan tangan mereka dan berjalan menuju meja makan mendahului Shaka.


__ADS_2