
Kini Amira sedang berada di kamarnya, setelah selesai menidurkan kedua anaknya, ia pun memilih duduk bersantai di atas ranjang kamarnya.
Tak lama, Shaka pun keluar dari toilet, ia baru saja selesai membersihkan diri, ia mendapati istrinya yang sedang duduk di atas ranjang sembari memainkan ponselnya, dengan masih memakai handuk yang melingkar di pinggangnya, Shaka berjalan menghampiri Amira dan langsung saja memeluk tubuh Amira dari samping, Amira pun tersentak dan tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya.
“Bikin kaget saja, kenapa?” Tanya Amira setelah meraih kembali ponsel yang jatuh di pahanya dan menatap Shaka dengan dahi mengkerut.
“Maaf sayang, aku cuma kangen saja,” jawab Shaka sembari mencium pipi istrinya.
“Apaan sih, ganti baju sana,”
“Tidak mau, aku belum mau ganti baju sekarang,”
“Lalu?” Tanya Amira semakin mengerutkan keningnya, menatap heran suaminya.
Tanpa aba-aba, Shaka menangkup kedua pipi Amira lalu mencium bibir wanita itu, Amira pun sontak membulatkan matanya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, ia pun pasrah saja saat suaminya menciumnya begitu saja.
Semakin lama, ciuman itu semakin dalam, tangan Shaka mulai merayap menyentuh bagian tubuh Amira yang membuat sang empu menggelinjang, terlena dengan sentuhan lembut dari Shaka.
Shaka kembali menunjukkan keperkasaannya sebagai pria sejati, malam itu menjadi malam yang paling bahagia, kilauan bintang dan sinar bulan yang begitu cerah menggambarkan hati Shaka dan Amira yang saat ini juga berbinar.
Kediaman keluarga Atmadja…
“Pokoknya mama tidak mau tau Genta, kalau kamu tidak bisa membawa Queen ke sini, kamu harus menikahi Safa,” cerca ibu Genta yang masih saja memaksakan kehendaknya.
Sejujurnya, keinginan besar Anisa adalah ingin memiliki cucunya, dia juga tidak suka dengan Safa semenjak dia tau Safa dalang di balik tertukarnya cucunya dan anak orang lain yang sudah meninggal, dia sengaja mengancam Genta seperti itu, agar Genta mau menyetujui keinginannya dan membawa Queen tinggal bersama mereka.
Genta mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya, pilihan yang di berikan mamanya itu adalah pilihan yang sulit baginya, dia pun hanya diam saja mendengar ocehan mamanya.
“Genta, kenapa diam? Jawab Genta, kamu harus segera mengambil keputusan,” desak Anisa pada anaknya.
“Ma, sudahlah, Genta tidak mau menyakiti Amira lagi, sudah cukup dulu aku menyakiti dia, aku tidak mau menyakiti dia lagi sekarang, lagi pula dulu juga mama dan papa membohongi ku, kalian mengaku akan menikahkan aku dan Amira kalau aku mengikuti keinginan kalian, tapi setelah aku menurutinya kalian malah menjodohkan aku dengan Safa,” jelas Genta, mengurai rasa kecewanya selama ini.
__ADS_1
“Bohong bagaimana? Kamu kan tau sendiri, Amira yang tidak sabar menunggu kamu, dia malah menikah dengan pria lain,” ujar Anisa menyalahkan Amira.
“Sudah cukup ma! Jangan selalu menyalahkan Amira, sudah jelas selama ini aku yang salah, kenapa harus menyalahkannya, Amira sudah cukup menderita akibat perbuatanku, aku tidak mau membuat Amira menderita lagi!” Cetus Genta dengan suara keras.
“Baik! kalau kamu tidak mau, mama yang akan bertindak dengan cara mama sendiri, mama akan mengambil paksa Queen dari Amira,” ancam Anisa lalu pergi begitu saja meninggalkan Genta yang masih diam mematung.
“Aarrrgghhh,” teriak Genta, pikirannya begitu kalut sekarang, dia benar-benar bingung harus mengambil keputusan apa.
Akhirnya ia pun masuk ke kamarnya, ia berjalan gontai menuju kursi yang ada dekat jendela, lalu duduk di samping jendela itu sembari menatap ke arah luar, memikirkan keputusan yang akan ia ambil.
“Mana mungkin aku menikahi Safa, aku tidak mencintainya, lagi pula mana mungkin aku bisa hidup selamanya dengan wanita licik seperti itu,” rutuk Genta dengan raut wajah frustasi.
Ia pun mengacak-ngacak rambutnya, pikirannya saat ini kacau, bagaimana pun dia masih sangat mencintai Amira, dia tidak tega jika harus menyakiti hati wanita itu lagi.
Setelah puas dengan pikirannya, Genta pun akhirnya mendapatkan keputusan.
“Aku tidak sanggup jika harus menyakiti Amira berulang kali, tidak ada pilihan lain, mau tidak mau aku harus menikahi Safa,” gumam Genta dalam hati.
“Besok aku akan menemui Shaka dan Amira, aku akan memohon pada mereka untuk membebaskan Safa dari penjara, lalu kemudian aku akan segera menikahinya,”
Akhirnya ia pun memutuskan untuk menemui mamanya di kamar, dan mengutarakan keputusannya itu, ia beranjak dari duduknya, membuka pintu kamarnya menuju kamar mamanya, sesampainya di depan pintu kamar mamanya, ia langsung membuka pintu kamar itu.
Ceklek…
Genta memasuki kamar dan mendapati mamanya yang sedang berdiri di balkon kamar.
“Ma,” panggil Genta menghampiri mamanya.
Anisa pun menoleh lalu bertanya.
“Ada apa?”
__ADS_1
“Genta sudah mendapat keputusan,”
“Katakan, apa yang sudah kamu putuskan?” Tanya Anisa antusias, dia berharap keputusannya itu adalah menyetujui keinginannya untuk mengambil Queen dari Amira, bahkan bila perlu, dia ingin meminta Genta agar memperjuangkan hak asuh Queen sampai ke pengadilan.
“Aku akan menikahi Safa,” jawab Genta dengan tatapan serius.
“Apa? Menikahi Safa? Yang benar saja kamu Genta,” ketus mamanya tampak kecewa.
“Mama yang memberikan aku pilihan, setelah aku memutuskan, kenapa mama harus kaget begitu?” Genta tak habis fikir dengan tingkah mamanya.
“Sial! Kenapa tidak sesuai harapanku, ada apa dengan anak ini, masih saja bucin dengan Amira yang bahkan sudah menjadi istri orang, dasar bodoh,” gumam Anisa dalam hati.
“Kenapa mama diam? Aku harap, keputusan ku ini harus mama setujui,”
Anisa pun terdiam sejenak, sembari memikirkan sesuatu.
“Baiklah mama setuju,” ucap Anisa dengan terpaksa.
“Tidak apa-apa jika dia harus menikah dengan Safa, anak itu kan licik dan jahat, dia pasti punya seribu satu cara untuk melakukan sesuatu yang mustahil sekali pun, aku bisa saja memintanya untuk mengambil Queen dari Amira, tidak ada salahnya kan bekerja sama dengannya, bagaimana pun caranya cucuku harus bersamaku,” batin Anisa dengan senyum sinisnya.
“Besok aku akan menemui Shaka dan Amira dan memohon kebebasan Safa pada mereka,” ucap Genta kemudian.
“Ya sudah, kalau itu pilihanmu, mama bisa apa,” jawab Anisa pura-pura pasrah.
“Kalau begitu, Genta ke kamar Genta dulu ma,” ucap Genta lalu mengayunkan kakinya hendak melangkah keluar.
“Genta tunggu,” suara Anisa menghentikan langkah Genta.
Genta menoleh ke arah mamanya.
“Ada apa?”
__ADS_1
“Jangan lupa, minta kebebasan papa juga pada mereka,”
Genta terdiam sejenak, “baiklah, akan aku usahakan,” ucap Genta, karena sejujurnya dia juga tidak tega membiarkan ayahnya berlama-lama di penjara, seburuk apa pun Dewa Atmadja, dia tetap ayah bagi Genta.