
Amira berjalan begitu saja melewati Yura, ia keluar dari rumah Reza dengan langkah cepat sambil menangis.
Yura yang melihat itu tampak cemas, ia lalu melangkah keluar menyusul Amira, namun tak di sangka tiba-tiba saja….
“Bruukkkk”
Amira tertabrak mobil ketika tengah berlari menyebrang jalan, saking kalutnya pikiran Amira, ia tak melihat mobil yang lewat dia terus saja berlari tanpa melihat sekeliling.
Amira terpental jauh ke jalan dengan keadaan yang sudah bersimbah darah, sementara mobil yang menabraknya lari begitu saja tanpa menghiraukan keadaan Amira.
“Amiraaaaaa,” teriakan histeris Yura kini terdengar, ia tampak begitu syok melihat Amira yang tertabrak mobil di depan mata nya.
Orang-orang pun berkerumun untuk melihat keadaan Amira.
“Ini kan istri tuan muda Shaka Buwana,” ucap seorang lelaki yang tidak lain adalah warga di kompleks itu.
“Iya ini kan istri tuan muda Shaka, ayo bantu angkat,” seloroh seorang lelaki paruh baya, kemudian mulai mengulurkan tangannya untuk membantu mengangkat tubuh Amira.
“Amiraa,” Yura begitu panik melihat keadaan Amira.
“Pak tolong bawa ke rumah sakit Green Light ya, saya kenal dengan wanita ini,” tutur Yura sembari menunjuk mobilnya agar para warga tersebut membawa Amira masuk ke mobilnya.
“Iya iya mbak, ayo bantu angkat,” ucap beberapa warga mulai membopong Amira.
Sementara Salsa yang sedang berada di kamar nya baru menyadari suara ribut-ribut di depan rumah nya, ia lantas langsung berjalan ke arah sumber suara dan melihat dari kamarnya.
Salsa tampak bingung melihat kerumunan orang yang tengah berada di depan rumahnya.
Tanpa pikir panjang Salsa langsung turun dan melihat keadaan di luar, namun Salsa juga sama terkejutnya dengan Yura, ternyata di luar ada tabrakan dan yang tertabrak itu adalah Amira.
“Kak Yura, Amira kenapa?” Tanya Salsa dengan mata yang berkaca-kaca.
“Salsa kamu di rumah saja ya jaga Queen, aku akan segera membawah Amira ke rumah sakitnya Shaka, kamu tenang saja begitu sampai rumah sakit aku akan langsung mengabarimu, jangan lupa kasih tau kak Reza juga ya,” jelas Yura berusaha menenangkan Salsa.
“Iya kak, kabari aku ya, aku sungguh tidak tenang memikirkan keadaan Amira,”
“Iyaa, kamu jaga Queen ya,” Ucap Yura mengusap pundak Salsa lalu langsung masuk ke dalam mobil untuk membawah Amira yang kini sedang tidak sadarkan diri.
30 menit kemudian mobil Yura sampai di depan IGD rumah sakit Green Light, begitu sampai Yura langsung berlari menuju IGD untuk meminta para perawat jaga untuk segera mengangkat Amira yang ada di mobil nya.
“Perawat, tolong segera bawa brankar ke mobil saya ada istri tuan muda Shaka Buwana, keadaannya kritis karena kecelakaan, ayo cepat!” Tegas Yura kepada perawat jaga di IGD.
Mendengar itu dengan sigap beberapa perawat laki-laki itu langsung mendorong brankar yang ada di IGD menuju mobil Yura yang terparkir di depan IGD, untuk membopong Amira yang ada di dalam mobil itu.
Dengan menggunakan brankar para perawat mendorong Amira menuju IGD, tak sengaja brankar yang membawa Amira berpapasan dengan Reza yang baru saja ingin masuk ke rumah sakit karena sudah di beritahu Salsa.
Melihat itu, Reza juga membantu beberapa perawat untuk mendorong brankar itu.
“Yura ada apa dengannya?”
“Entahlah Za, kita dengar penjelasan dokter nanti ya,” jawab Yura.
Kini brankar sudah langsung masuk ke dalam bilik yang ada di ruang IGD.
“Tolong tangani dia jangan buang-buang waktu!” Tegas Yura pada seluruh perawat yang ada di ruang IGD.
Dengan cepat suster langsung menutup tirai yang ada di bilik itu, tak lama dokter pun terlihat masuk ke dalam bilik tersebut untuk memberi penanganan bagi Amira.
Kini Yura terlihat kebingungan dan cemas, ia pun langsung menghubungi Shaka namun tak langsung di angkat.
“Ayo lah Ka, angkat telepon ku,” ucap Yura yang semakin di buat tak tenang sembari mengigiti ibu jarinya.
“Yura, bagaiaman? Apa Shaka mengangkatnya,” tanya Reza yang juga ikut cemas.
“Entahlah Za, sampai sekarang dia tidak mengangkat telepon ku,”
Akhirnya setelah beberapa kali mencoba menelepon, akhirnya Shaka mengangkat teleponnya.
“Ya ada apa Yura?” Tanya Shaka datar.
“Ka, Amira Ka,”
__ADS_1
“Amira? Ada apa dengannya?” Shaka yang awalnya terduduk sontak berdiri dengan wajah yang terlihat panik.
“Amira kecelakaan, dia tertabrak mobil di depan rumah Salsa, dan mobil itu langsung lari begitu saja tanpa mempedulikan keadaan Amira, mungkin dia sudah membaca berita buruk mengenai dirinya, karena sebelum kecelakaan ini aku melihat dia keluar dari kamar Queen dengan raut wajah yang histeris dan berlari keluar begitu saja,” jelas Yura.
“Astaga,” Shaka pun langsung mengusap kasar wajahnya.
“Lalu di mana dia sekaranga? Apa sudah di bawah ke rumah sakit?” Tanya Shaka lagi yang semakin terlihat panik.
“Dia sedang berada di rumah sakit mu, sekarang dia sedang di tangani dokter di IGD,” jawab Yura sedikit takut.
“Baiklah, saya akan segera ke sana,” Ucap Shaka langsung mengakhiri panggilan teleponnya.
“Vin, tolong kamu handle sisa nya,” ucap Shaka.
“Ka ada apa dengan Amira?” Tanya Kevin yang juga ikut khawatir.
“Entahlah nanti aku jelaskan,”
“Tuan, maaf aku ada urusan yang begitu mendesak, asisten ku akan menjelaskan sisa nya,” tambah Shaka kepada rekan bisnisnya dan langsung pergi begitu saja.
Kevin pun terdiam dan hanya bisa patuh.
“Baik tuan mari kita lanjutkan,” ucap Kevin berusaha memasang senyuman sembari fokus pada presentasinya.
Shaka dengan wajah tegangnya, berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir di parkiran kantor utama Buwana Group.
Namun tiba-tiba saja beberapa wartawan langsung menyerbu nya untuk menanyakan perihal berita miring mengenai istrinya.
“Tuan, bagaimana pendapat anda tentang berita miring mengenai istri anda? Apakah itu benar?” Tanya salah satu wartawan.
Namun saking cemasnya kepada Amira, Shaka tak punya waktu menjawab pertanyaan mereka.
“Aku tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaan kalian!” Jawab Shaka datar sembari terus melangkah.
Shaka pun masuk ke dalam mobil nya dengan membawa rasa cemasnya, ia langsung mengebutkan mobil nya meninggalkan kantor utama.
Shaka semakin menaikkan kecepatan mobilnya menuju rumah sakit, begitu sampai di rumah sakit ia langsung berlari menuju salah satu bilik yang ada di IGD rumah sakit nya.
“Shaka, tunggu sebentar Amira sedang di tangani oleh dokter,” jelas Reza mencoba menenangkan Shaka.
Shaka pun hanya bisa terduduk lesu, penampilannya nampak kacau, dan terus mengusap kasar wajah nya dengan kedua tangannya.
“Tenangkan dirimu Ka, istrimu akan baik-baik saja,” ucap Reza sembari menepuk pundak Shaka.
“Aku sungguh tidak akan memaafkan orang yang berani mengusik ketenangan keluarga ku!” Ketus Shaka sembari mengepalkan tangannya.
“Apa ini menyangkut pemberitaan miring di luar sana?” Tanya Reza sedikit ragu.
“Kau juga sudah mengetahui berita itu?” Tanga Shaka melirik tajam ke arah Reza.
“Emm,” jawab Reza mengangguk.
“Aku mengetahui nya tadi pagi dari salah satu majalah bisnis,” tambah Reza lagi sembari mulai menundukkan kepalanya.
Shaka pun terdiam dan hanya mengusap kasar wajahnya sekali lagi.
“Aku akan membantu mu mencari tau siapa dalang di balik semua ini, namun kesimpulan yang bisa ku ambil, orang ini pasti ada kaitannya dengan masa lalu Amira, atau jangan-jangan ini ulah Safa lagi? Dulu dia sempat menjebak Amira di ulang tahun Yura, bisa jadi dia juga yang melakukan ini,” ucap Reza menatap serius wajah Shaka.
Shaka kembali terdiam sembari mencerna ucapan Reza yang dia rasa ada benarnya juga.
Sementara Yura yang melihat itu merasa bangga dengan sikap Reza yang begitu berbesar hati membantu sahabat nya.
“Tapi apa Safa sungguh tak ada kapok nya? Bukan kah seharusnya dulu ia jerah dengan perbuatannya terakhir kali karena aku mengancam nya?” Celetuk Shaka dalam hati.
“Namun jika terbukti dia orang nya, aku akan membuat hidup nya seperti di neraka,” tambah nya lagi sembari memancarkan sorot mata kemarahan.
Disisi lain, tepatnya di loby rumah sakit, tanpa Shaka, Reza dan juga Yura sadari, telah berdiri seseorang yang berpakaian serba hitam, di tambah topi dan kacamata hitam menambah kesan misteriusnya.
Sejak tadi terlihat sedang mengawasi mereka, tak lama lelaki tak di kenal itu meraih ponselnya dan menelepon seseorang,
“Haloo bos, berita itu kini berhasil mengirim istri Shaka Buwana ke rumah sakit,”
__ADS_1
“Bagus! Nampaknya Amira begitu syok dengan berita nya yang begitu heboh,” sambut seseorang di balik telepon.
“Benar bos, Shaka juga nampak syok melihat keadaan istrinya,”
“Hahahaha, dia begitu syok rupanya,” suara tawa di balik telepon itu terdengar begitu menggema.
“Kalian melakukan semuanya dengan baik, oke baiklah, terus awasi mereka! Akan lebih baik lagi jika mereka mendengar berita kematian wanita itu,” tambah sang suara misterius itu lagi yang kemudian mengakhiri panggilan mereka.
Tak lama sang dokter pun mulai membuka tirai yang menutupi bilik tempat nya menangani Amira di ruang IGD tersebut, dokter paruh baya itu segera menghampiri Shaka yang saat itu juga ingin menghampirinya.
“Bagaiamana keadaan istri ku dok? Apa dia baik-baik saja?” Tanya Shaka tampak tak sabar.
“Tenanglah tuan, beruntung luka yang istri anda alami hanya luka ringan, dia sudah bisa langsung di pindahkan ke ruangan perawatan sekarang nona Amira sudah sadarkan diri,” jelas dokter dengan raut wajah yang begitu tenang.
“Baik,” ucap Shaka sembari mengangguk.
Brankar pun kembali di dorong oleh para suster menuju ruang VVIP.
Shaka bersama dengan Yura dan Reza mengikuti para perawat yang mendorong brankar yang di atasnya sudah terbaring Amira.
Amira tak mengeluarkan sepatah kata pun, ia hanya terus meneteskan air matanya sembari terus *******-***** tangannya sendiri, bahkan ia sama sekali tak melirik Shaka yang beridiri disisi nya.
“Tenang lah sayang, kamu pasti akan baik-baik saja,” ucap Shaka dengan lembut sembari mengusap ujung kepala Amira.
Tak terlalu jauh dari ruang IGD, kini dengan pelan tubuh Amira dibaringkan ke atas kasur yang memang sudah di sediakan di ruangan tersebut.
“Amira syukurlah kamu baik-baik saja, aku tadi begitu panik dan takut saat melihat kamu tertabrak mobil di depan mataku sendiri,” ucap Yura mengusap punggung tangan Amira dengan lembut.
“Terima kasih ya Ra, sudah mengkhawatirkan aku dan mau membawaku kemari,” tambah Amira tersenyum tipis.
“Tidak perlu berterima kasih begitu, itu memang sudah seharusnya aku lakukan,”
“Dari tadi dia tidak menatapku dengan hangat seperti itu, dari tadi dia terus mengabaikan ku, tapi ketika Yura ajak bicara dia langsung tersenyum seperti itu,” celetuk Shaka dalam hati.
Tak lama setelah memastikan keadaan Amira baik-baik saja, Reza dan Yura pamit pulang.
Kini tinggal Amira dan Shaka yang berada di ruangan itu, Shaka pun mulai menggenggam tangan Amira.
“Aku berjanji, aku tidak akan membiarkan orang yang sudah mengusik ketenangan hidup kita hidup tenang di luar sana,” ucap Shaka dengan nada yang lembut.
“Aku tidak mau kamu menjadi orang yang pendendam Shaka Buwana,” jawab Amira sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan balas dendam sayang, aku hanya ingin memberi mereka efek jerah agar mereka tidak akan melakukan hal ini lagi kepada kita dan menyesali perbuatan mereka,” jelas Shaka.
Mendengar itu, Amira hanya terdiam dia sedang tidak ingin berdebat, selang beberapa menit saja, pintu kamar rawat Amira terbuka, dan di susul oleh orang tua Amira dan nenek Emely yang datang menjenguk dengan membawa serta kecemasan mereka.
“Ya tuhan anakku, apa yang terjadi padamu nak?” Tanya Riana dengan raut wajah cemas sembari mengusap ujung kepala putrinya.
Shaka pun langsung berdiri demi menyambut kedatangan mereka.
“Mama, Papa, Nenek, bagaimana kalian tau?”
“Tentu saja kami harus tau,” celetuk nenek Emely.
“Salsa yang mengabari kami nak,” jawab Papa Amira.
“Bagaimana keadaanmu? Apa semuanya baik? Tidak ada yang serius kan?” Tanya Emely yang tak kalah cemas.
“Kalian tenanglah, aku baik-baik saja,” jawab Amira sembari meraih tangan Nenek Emely dan Mamanya.
“Syukurlah, akhirnya mama bisa bernafas lega,” jawab Riana.
2 hari kemudian..
Menjalani perawatan intensif di rumah sakit selama 2 hari, membuat keadaan Amira semakin membaik, di ikuti juga dengan keadaan psikisnya yang juga membaik, dia sudah tidak takut dan syok berlebih lagi.
Kevin dan orang-orangnya juga sudah berhasil meredam berita miring tentangnya, kini berita tersebut sudah tak muncul lagi di media massa maupun media sosial mana pun.
Namun dalang di balik semua ini rupanya sudah memikirkan rencana jahat dengan matang, sehingga permainannya begitu rapi dan tak meninggalkan jejak sehingga Kevin dan orang-orangnya, kesulitan mengungkap siapa dalang di balik semua ini.
Orang-orang kepercayaan Kevin sudah menginterogasi beberapa pihak penerbit berita, namun mereka tak tahu siapa orang yang memberikan file berita hoax itu, karena mereka memakai topeng, mereka memberikang uang dalam jumlah besar, itulah sebabnya pihak penerbit itu mau memunculkan berita hoax tersebut.
__ADS_1
Medengar itu, Shaka menegaskan pada Kevin untuk melaporkan beberapa majalah surat kabar itu ke polisi, atas perusakan nama baik dan penyebaran berita hoax yang mereka sebar, kini polisi pun sudah mengusut beberapa perusahaan yang menerbitkan berita hoax tersebut, dan perusahaan mereka pun diancam di segel dan di tutup selamanya.