
"Ka, aku rasa kamu perlu mendengar penjelasan istrimu dulu, aku yakin dia orang yang baik dan setia dan dia tidak mungkin mengkhianatimu". Jelas Kevin lagi.
Namun mendengar itu Shaka kembali melesu.
"Entahlah otakku sudah tak mampu lagi berfikir sekarang. Tolong jangan ganggu aku dulu". Ucap Shaka mengalihkan pandangannya dari Kevin.
"Tapi Ka.."
"Vin, tolong kau pulang dulu". Ucap Shaka datar.
"Yah sudah, kalau kamu perlu bantuan hubungi aku". Ucap Kevin lagi sembari melangkah keluar dari kamar Shaka.
Sejam kemudian, Shaka masih terduduk di sofa kamarnya dan merenung. Tiba-tiba Emely membuyarkan lamunan Shaka dengan suaranya.
"Nenek.. Nenek sudah datang?" Tanya Shaka berjalan mendekati neneknya dan memeluknya.
Emely hanya diam dan tidak membalas pelukan Shaka. Emely sudah kembali dari Singapore setelah beberapa bulan lamanya. Shaka langsung memeluk haru tubuh neneknya yang masih berdiri dengan sebelah tangannya yang sudah memegang tongkat.
"Nenek, kenapa pulang tidak mengabariku?" Tanya Shaka sembari melepas pelukannya.
Namun Emely masih terdiam memandangi cucunya dengan datar.
"Nenek.. Sejak kapan nenek kembali?" Tanya Shaka dengan wajah begitu berbinar.
"Dari tadi". Jawab Emely datar sembari menghadap lurus kedepan.
" Oh begitu rupanya, jadi bagaimana? Apakah nenek sudah bisa berlari sekarang?" Shaka terus menggoda neneknya dengan menampilkan senyuman yang merekah.
"Jangankan berlari, membunuhmu pun aku bisa, sudah cukup sandiwara ini".Jawab Emely yang begitu ketus.
Mendengar hal itu sontak membuat Shaka membulatkan matanya. Shaka pun perlahan mulai melepaskan rangkulannya dari pundak sang nenek dengan raut wajah yang tegang bercampur kebingungan.
Emely dengan tongkatnya berdiri tegak dengan tatapannya yang kosong.
__ADS_1
"Apa yang sedang nenek bicarakan? Kenapa berbicara begitu padaku?" Shaka mulai gelagapan.
"Kenapa dengan ucapanku apa ada yang salah?" Emely kini menatap Shaka dengan tatapan tajam.
"Aku tidak menyangka cucuku yang ku besarkan sendiri, ku rawat dengan penuh kasih sayang, kini tegah menipuku". Tambah Emely.
"Nenek tau dari mana hal itu?" Tanya Shaka semakin gelagapan.
"Dody!!". Teriak Emely.
Tak lama Dody pun datang dengan keadaan wajah yang nampak ketakutan.
"Berikan padaku!" Ucap Emely menjulurkan tangannya.
Dody terus menunduk dan sontak memberikan sebuah map pada Emely.
"Ini, bukankah ini tanda tangan kalian berdua?" Emely menghempas map itu ke tubuh Shaka.
"Nenek, bagaimana nenek bisa mendapatkan ini? Apakah Dody sengaja memberikannya?" Tanya Shaka yang jadi menatap tajam ke arah Dody.
"Berhenti melempar kesalahan kepada orang lain Shaka Buwana". Bentak Emely lagi.
"Apa kau pikir aku ini begitu bodoh? Bagaimana kau bisa berfikir untuk mengelabui ku terus menerus dengan perjanjian konyol itu ha?"
"Kau tau, aku sudah mengetahui ini semua saat aku masih di Singapore, kau lupa di setiap sudut kamar ini ada cctv dan bukan hanya kau yang memiliki akses untuk membuka rekaman cctv itu melainkan aku juga, bahkan wanita itu juga pergi dari rumah ini entah kemana apakah itu pantas. Aku juga melihat semuanya, ternyata dari awal menikah kalian tidur terpisah maka dari itu aku langsung memeriksa ruang kerjamu dan kamar kalian masing-masing, dan karena itu juga, aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi di Singapore. Dan wanita itu, aku benar-benar mempercayainya namun apa yang ia lakukan? Dia bahka hamil dengan laki-laki yang tidak jelas asal usulnya. Aku benar-benar tidak bisa tinggal diam".
"Nenek, kau harus mendengarkan dulu penjelasan dari Amira, dia bukan wanita seperti itu".
"Ku perhatikan kau mulai membelanya. Ada apa? Apa kau mulai menyukai istri bayaranmu itu?" Emely tersenyum sinis memandang Shaka.
"Katakan Shaka, apa kau sudah mulai mencintai istri bayaranmu itu ha?" Emely mulai meninggikan suaranya.
Shaka hanya diam membisu. Dia sudah tidak tau lagi harus berkata apa. Karena ia sendiri pun masih bingung dengan perasaannya.
__ADS_1
"Kenapa kau hanya diam? Sekarang sudah betul kau menyeretnya dari rumah ini. Kau tidak usah mengharapkannya lagi. Besok kau urus perceraian kalian". Ucap Emely datar.
Mendengar itu hati Shaka benar-benar tersayat. Matanya mulai berkaca -kaca. Baru saja dia mulai mencerna ucapan Kevin dan mulai tenang dan berniat menjemput Amira kembali, sekarang justru neneknya lah yang menghalanginya.
"Tidak nek.. Aku akan menjemput Amira". Shaka berjalan hendak menemui Amira namun langkahnya dicegah oleh Emely.
"Berhenti Shaka Buwana! Jika kau masih menganggap aku ini nenekmu, dengarkan ucapanku. Jangan mengejar wanita yang sama sekali tidak kau cintai!" Ketus Emely.
Langkah Shaka terhenti dia kini d landa kebingungan dan rasa frustasi yang amat sangat.
"Nenek.. Dulu nenek begitu menyayanginya, kenapa sekarang nenek tidak menginginkan kehadirannya?" Tanya Shaka dengan air mata yang mulai menetes.
"Lihat lah dirimu, apa kau sedang meneteskan air mata? Untuk siapa air mata itu? Bukankah kau tidak mencintai wanita itu? Lalu untuk apa kau menangis?" Ucap Emely datar.
Alih-alih menjawab Shaka justru melangkah pergi. Dia melewati Emely begitu saja menuju lantai bawa.
Sementara Emely hanya diam sembari memandang kepergian Shaka.
"Aku ingin melihat sampai di mana ketahananmu!" Ucap Emely seorang diri.
Tak lama Emely pun tersenyum sinis sembari berjalan pelan menuruni anak tangga menuju kamarnya.
Shaka sedang berada di ruang keluarga, ia hanya terus berjalan mondar mandir di ruangan itu sembari mengacak-acak rambutnya. Kini perasaan Shaka campur aduk, ada perasaan sakit hati dengan kebohongan Amira dan ada perasaan marah pada neneknya ada pula rasa bersalah. Semua bercampur menjadi satu.
Sementara Amira tengah duduk termenung di kamarnya, dengan air matanya yang masih sesekali mengalir di pipi.
Bodoh, kenapa aku menangis? Bukankah harusnya aku merasa senang? Karena tugasku sudah selesai lebih cepat dari waktu yang telah di tentukan. Kini aku sudah bebas tanpa ikatan apapun. Gumam Amira dalam hati dengan tatapannya yang kosong.
Tak lama Riana pun datang dan menghampiri Amira.
"Nak jangan terlalu di fikirkan, Mama sudah menelpon Nenek Emely dan menceritakan semuanya padanya. Katanya hari ini dia akan kembali dari Singapore". Ucap Riana sembari mengusap lembut rambut Amira.
Amira yang mendengar itu tak bergeming. Dia juga kurang yakin apakah saat ini Shaka mau mendengarkan penjelasan dari Emely atau justru balik marah pada Emely karena telah bersekongkol dengan mereka untuk menutupi ini semua dari Shaka. Amira pun juga bingung dengan perasaannya pada Shaka saat ini. Kenapa dia sesedih ini, kenapa dia terus menangis kala mengingat Shaka dan kenangannya bersama Shaka.
__ADS_1