
Amira yang menoleh ke arah Shaka begitu terkejut dengan pernyataan Shaka, ia lantas berjalan masih dengan wajah tercengang perlahan melangkah mendekati Shaka.
"Tidak mungkin, kamu tidak mencintai aku kamu hanya kasihan kan dengan aku yang sudah terjebak dalam situasi ini. Kamu hanya merasa bersalah saja." Ucap Amira sembari menatap sendu ke arah Shaka.
"Tidak Amira aku..."
"Sudah cukup, biarkan aku sendiri dulu." Celetuk Amira yang langsung memotong ucapan Shaka dan hendak melangkah masuk menuju kamar lamanya.
Namun seketika Shaka langsung menarik tangannya dan langsung mendekap tubuh mungil Amira. Shaka memeluk tubuh Amira dengan begitu eratnya dengan matanya yang terpejam, berbeda dengan Amira yang semakin membulatkan matanya, tercengang hingga tak mampu mengatakan apapun.
"Aku sudah tidak kuat untuk menahannya lagi Amira, aku sudah tidak kuat memendam perasaan ini lebih lama lagi." Ucap Shaka sembari semakin mengeratkan pelukannya.
Shaka perlahan melepaskan pelukannya dan menunduk sembari meraih kedua tangan Amira.
"Amira, demi tuhan aku sangat tersiksa bila jauh darimu, aku bisa gila kalau kamu pergi meninggalkan aku lagi. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku sudah mulai menyadari perasaanku bahkan semenjak kau pergi dari rumah ini setelah pertengkaran hebat kita terakhir kali. Aku sungguh mencintaimu Amira." Shaka mengungkapkannya dengan begitu lirih.
Mendengar pengakuan Shaka, sontak membuat air mata Amira semakin menetes. Amira bisa melihat kesungguhan dari mata Shaka.
"Apa kau sadar dengan ucapanmu Shaka Buwana?" Tanya Amira pelan.
"Iya aku sangat sadar." Jawab Shaka sembari menghapus lembut air mata Amira.
Amira pun tersenyum namun kembali menangis. Hal itu membuat Shaka kembali memeluk erat tubuh Amira.
"Aku mencintaimu Amira, sungguh mencintaimu." Ucap Shaka lagi.
Akhirnya Amira pun membalas pelukan Shaka dia terus menangis tersedu-sedu di balik dada bidang Shaka.
"Selamanya kau akan menjadi milikku, kau tidak boleh pergi lagi, karena aku tidak akan pernah membiarkannya." Tambah Shaka lagi. Amira masih diam dan terus memeluk erat Shaka.
"Ayo kita mulai menata hidup yang baru." Ucap Shaka.
Mendengar itu Amira yang tadinya terpejam memeluk erat tubuh Shaka sontak membulatkan matanya lagi. Amira tiba-tiba teringat dengan Yura, yang dia tau adalah pacar Shaka, perasaan khawatir mendadak menyelusup masuk ke dalam sanubarinya. Amira menghapus air matanya dan perlahan melepaskan pelukan Shaka, dengan raut wajah yang menjadi datar.
Tubuh Amira mulai begetar, kepalanya tertunduk mengingat hubungan Shaka dan Yura. Perasaan khawatir Shaka akan meninggalkannya demi Yura seperti yang di lakukan Genta dulu padanya kembali datang menyapa di benaknya.
"Maaf Shaka, aku tidak bisa menata hidup baru denganmu." Ucap Amira datar sembari menggelengkan kepalanya dan perlahan melepaskan pegangan tangan Shaka.
Shaka sontak mengerutkan dahinya, ia pun menatap Amira dengan raut wajah yang tampak bingung dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Tapi kenapa? Apa itu artinya kau tidak mencintaiku?" Tanya Shaka lirih sembari menggenggam kedua tangan Amira lagi.
"Dunia kita benar-benar berbeda Shaka, ibarat kau langit aku bumi, ibarat kau air dan aku minyak tidak akan pernah bisa menyatu. Jadi sebaiknya kau pikirkan lagi kata-katamu tadi." Ucap Amira lirih dan perlahan mulai melangkah pergi.
"Tidak Amira, aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi aku bisa gila Amira." Tegas Shaka.
Medengar itu langkah Amira terhenti sejenak, ia mengusap lagi air matanya yang kembali menetes.
"Yah sudah, aku tidak akan pergi dari rumah ini, tapi biarkan aku sendiri dulu." Ucap Amira tanpa berbalik badan dan terus berjalan masuk ke kamarnya meninggalkan Shaka.
"Amira aku akan terus menunggumu." Ucap Shaka kemudian yang masih belum merasa putus asa.
Aku tidak mau kehilangan kamu lagi Amira, sampai kapanpun, aku akan tetap menunggumu. Gumam Shaka dalam hati sembari memandangi punggung Amira yang sudah menjauh pergi.
__ADS_1
Amira terus melangkah masuk, dan mengunci pintu kamarnya. Di balik pintu Amira terus meneteskan air mata mengingat pernyataan Shaka tadi.
Aku juga diam-diam sudah mencintamu Shaka, mendengar ungkapan cinta darimu sungguh membuatku merasa sangat bahagia. Namun aku takut, aku takut karena pada akhirnya kita tidak akan bersatu karena ada Yura bersamamu. Gumam Amira dalam hati dengan begitu lirihnya dengan tatapan kosong. Sementara Shaka pergi ke kantor dan membiarkan Amira sendiri dulu, asalkan Amira tidak pergi meninggalkannya lagi.
Kini waktu menunjukkan pukul 10.00 Pagi. Amira masih terdiam di atas ranjangnya dengan tatapan kosong. Amira kembali teringat dengan rekaman cctv itu, dia tidak tau apakah dia harus berterima kasih kepada Shaka atau bagaimana. Karena bagaimana pun juga, jika Shaka tidak menolongnya tadi malam, pasti dia sudah melayani pria asing itu dengan sukarela walaupun pada akhirnya hal yang tak di inginkan pun tetap terjadi juga. Tapi dia masih bersyukur karena dia melakukan hal itu dengan suami sah nya sehingga tidak ada dosa.
Akhirnya Amira memilih beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi untuk mandi dan membersihkan dirinya. Selesai mandi Amira berdiri di balkon kamarnya. Sampai akhirnya Amira teringat dengan ponselnya, Amira segera masuk ke kamar untuk mengambil ponselnya di atas nakas. Amira mengecek puluhan panggilan tak terjawab dari Reza dan Salsa. Tak lama Amira kembali mendapati panggilan masuk dari Reza untuk ke sekian kalinya. Akhirnya dengan menghela nafas panjang, Amira memberanikan dirinya untuk mengangkat telepon dari Reza.
"Halo.."
"Amira, kenapa kau tidak mengangkat telepon dariku? Kau baik-baik saja kan." Tanya Reza terdengar nada kekhawatiran dari suaranya.
"Emm... I... Iyaa kak, aku baik-baik saja." Jawab Amira gugup.
"Amira, kau sedang sakit?" Tanya Reza lagi.
"Ah tidak kak, aku tidak sakit, aku hanya kelelahan saja, badanku terasa sedikit sakit semua, tapi tidak apa-apa aku masih bisa bangun." Ucap Amira yang begitu polos tiba-tiba keceplosan. Karena memang tubuhnya lelah dan sedikit sakit karena pertempuran sengit antara dia dan Shaka semalam di ranjang sampai empat kali.
Reza yang mendengar itu merasa curiga.
Kelelahan? Sakit badan? Bukannya semalam dia tidak sadar? Seharusnya kan dia tertidur sepanjang malam dan begitu bangun pasti tubuhnya terasa segar karena tertidur pulas tapi ini kenapa malah merasa kelelahan? Batin Reza yang semakin curiga.
"Amira, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Reza hati-hati.
"Boleh, kakak mau tanya apa?"
"Apa kau masih ingat, apa yang terjadi kepadamu semalam?" Tanya Reza karena Reza tau kalau lelaki asing itu mencampur obat perangsang di minumannya.
Ah tidak, kenapa sepertinya dia curiga? Gumam Amira dalam hati sembari menelan ludahnya karena gugup.
"Amira kenapa diam saja? Apa kau ingat semua yang terjadi padamu semalam?" Tanya Reza mulai khawatir.
"I.. Iya kak, aku ingat, ti.. tidak ada yang terjadi kok kak, aku hanya tidur saja sepanjang malam." Ucap Amira terdengar sangat gugup.
"Lalu kalau semalam tidur sepanjang malam, kenapa kau bilang tadi kau merasa lelah dan badan mu sakit? Sebenarnya kalau kau hanya tidur sepanjang malam, seharusnya bangun pagi badanmu terasa segar bukannya malah sakit dan kelelahan." Celetuk Shaka yang membuat Amira semakin gugup dan tanpa sadar dia kembali meneteskan air matanya.
"Amira jawab aku!!" Tegas Reza. Reza sangat peka dia bisa tau kapan orang jujur dan berbohong padanya.
Dari semalam pun Reza sebenarnya sudah curiga karena dia berulang kali menelepon Amira dan sekali juga menelpon Shaka di saat bersamaan tapi sama-sama tidak di angkat, saat itu perasaannya mulai tidak enak sepertinya terjadi sesuatu di antara mereka karena pria asing itu mencampur obat perangsang dalam wine Amira semalam, dan pasti Amira tidak bisa menahannya.
Kini Amira semakin gelagapan, detak jantungnya kembali berdetak tak beraturan, hingga membuatnya kembali terengah-engah.
"Apa benar, Shaka sudah melakukannya?" Tanya Reza, mulai to the point dengan semua kecurigaannya.
Tak puas hanya menelpon Reza mengalihkan panggilan suaranya ke panggilan video untuk melihat Amira. Amira pun memilih untuk menerima panggilan video dari Reza.
Amira terlihat menangis dan gugup. Amira memandang lirih wajah Reza dari balik layar ponselnya.
"Kenapa kau hanya diam Amira!!!" Reza mulai meninggikan suaranya.
Amira hanya diam dan menundukkan pandangannya.
"Kau terus diam berarti itu benar." Reza terlihat lesu.
__ADS_1
"Kak Reza, aku tidak tau bagaimana hal itu bisa terjadi tapi aku hanya.."
"Jadi benar dia sudah melakukannya?" Tanya Reza langsung memotong ucapan Amira.
"Aku, aku tidak.."
"Aku hanya butuh jawaban iya atau tidak?" Tanya Reza kembali meninggikan suaranya. Emosi Reza mulai meluap.
Amira semakin menangis, akhirnya Amira pun mengangguk pelan. Melihat anggukan Amira, Reza pun semakin tersulut emosi, ia memandang Amira sejenak.
"Amira maaf, aku tidak bisa menahannya lagi, aku harus menemuinya sekarang juga!!" Ucap Reza langsung mematikan teleponnya.
"Kak Reza jangan.." Amira terlihat begitu takut, dia takut Reza akan menemui Shaka dan memukulnya. Amira segera menelpon Reza lagi tapi nihil, Reza tidak mengangkatnya.
Amira ingin menyusul Reza namun tiba-tiba kepalanya pusing dan hampir terjatuh. Amira berpegangan di dinding kamarnya, dengan langkah gontai Amira berjalan menuju ranjangnya dan duduk di tepi ranjang sembari memegangi kepalanya yang semakin pusing.
Kantor Utama Buwana Group..
Shaka tengah duduk di kursi kejayaannya, matanya terpejam membayangkan bagaimana ia dan Amira memadu kasih di atas ranjang berjam-jam lamanya. Tanpa ia sadari sebuah senyuman simpul lolos begitu saja dari bibirnya saat mengingat moment indah itu.
"Sebuah senyuman di pagi hari." Celetuk Kevin yang sudah berdiri tegak di depan meja Shaka.
Hal itu membuat Shaka yang sedari tadi terpejam langsung terperanjat karena terkejut.
"Heii, apa kau tidak punya sopan santun? Tidak bisakah kau mengetuk terlebih dahulu?" Ketus Shaka dengan kesal.
"Sebentar, sepertinya semalam kau sudah melewatkan malam panjang yang sangat indah, dan mengukir moment yang tidak bisa kau lupakan seumur hidupmu." Ucap Kevin sembari tersenyum.
Mendengar itu Shaka hanya tersenyum tipis sembari menatap langit-langit ruangannya.
"Katakan, apa yang sudah kau dan Amira lakukan tadi malam?" Tanya Kevin mulai menyelidik.
Mendengar hal itu membuat Shaka kembali lesu.
"Kau benar, dia sama sekali tidak bisa mengendalikannya, dia tidak memberiku kesempatan untuk menyiapkan air dingin untuk merendamnya."
"Jadi kalian sudah.." Kevin terlihat bersemangat dan menatap mata Shaka dan tersenyum.
"Iya." Jawab Shaka lesu.
"Kenapa kau terlihat lesu?"
"Aku merasa bersalah karena tidak bisa menahannya saat kondisinya seperti itu."
"Sekarang katakan, apa kau berhasil menerobosnya?" Tanya Kevin penasaran.
"Kau tau semalam, kami melakukannya sebanyak empat kali!!" Ucap Shaka menegaskan.
"Apa? Empat kali dalam semalam?" Kevin sontak menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya.
"Iya empat kali hanya dalam waktu beberapa jam saja." Jawab Shaka sembari menutup wajahnya karena malu.
"Astaga." Kevin seolah tak percaya.
__ADS_1
"Dia yang memintanya terus menerus, aku hanya bisa menurutinya karena sesungguhnya aku juga tidak bisa menahannya." Ucap Shaka sembari bersandar di kursi.
Shaka kembali tersenyum membayangkan Amira yang memang terus muncul dalam benaknya. Shaka sedang di landa kasmaran, ia terus tersenyum tanpa sebab karena saat ini yang ada dalam pikirannya hanya ada Amira dan Amira. Sementara Kevin yang melihat ekspresi Shaka, merasa aneh dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum lebar.