Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 125 Gagal Lagi


__ADS_3

Saat memasuki kamar Samudra, mata mereka langsung terpana melihat keindahan kamar itu yang nampak luar biasa, ruangan yang memanjakan mata sekaligus menenangkan bagi siapa saja yang ada di dalamnya, dan mereka berharap Samudra akan nyaman.


Amira sengaja tidak memberikan banyak aksesoris di dalamnya, tidak ada box bayi juga karena Amira akan menidurkan Samudra langsung di atas ranjang.


“Sejak kapan kamu berencana membuat kamar seperti ini?” Tanya Amira pada Shaka yang kini ada di sampingnya.


“Sejak tau anak kita laki-laki, sejak saat itu aku meminta Kevin untuk mencarikan desain yang cocok,”


Amira menghirup dalam-dalam udara yang langsung berhembus dari arah taman, ia menoleh menatap Shaka yang sedang mengalihkan letak bantal.


Meskipun rasa sakit itu menyeruak, ia tidak ingin merepotkan orang lain untuk terus membantunya, kini ia berjalan pelan mengitari kamar itu.


“Ka,” hanya sebuah panggilan itu saja sudah mewakili pertanyaan yang akan Amira luncurkan.


“Salsa dan Kevin yang membeli itu semua,” menunjuk lemari yang ada di samping pintu.


“Salsa dan Kevin? Mereka berdua?” Tanya Amira dengan kening bertaut.


“Iya, kamu belum tau ya, sekarang mereka mulai dekat tidak tau sejak kapan,”


Mendengar itu Amira tersenyum sumringah, pasalnya beberapa tahun terakhir ini Amira tidak pernah mendengar Salsa berpacaran, terakhir dia putus dengan pacarnya waktu mereka masih duduk di bangku SMA, saat itu Salsa sangat sedih dan galau karena pacarnya meninggalkan dia demi wanita lain.


“Akhirnya Salsa mau membuka hatinya lagi, aku harap Kevin bisa membahagiakan Salsa,” cetus Amira beralih menatap Shaka dengan senyuman termanisnya.


Santi masuk menidurkan Samudra yang sudah terlelap lalu keluar untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


Pintu tertutup, Amira langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang Shaka.


“Terima kasih atas semua yang kamu berikan padaku,”


Shaka pun membalas ucapan itu dalam hati, sebab omongan saja tak mampu mewakili rasa syukurnya yang jauh lebih besar.


Sisi Lain Kediaman Reza…


Yura menunggu hasil tes pack yang masih ia celupkan di wadah tempat penampungan urine, beberapa detik kemudian hasilnya sudah terlihat, dengan berat hati Yura kembali menelan kenyataan pahit bahwa bulan ini hasilnya negatif lagi, padahal dia sudah sangat berharap dan terlanjur senang karena selama ini, baru kali ini ia telat menstruasi, dia sudah telat 1 minggu, namun setelah di tes ternyata hasilnya tetap negatif, ternyata Yura hanya stres karena mengharapkan kehadiran seorang anak yang sudah ia nanti-nantikan, hal itu lah yang mempengaruhi kesuburannya sehingga ia sulit hamil seperti sekarang ini.


Yura juga belum berani ke dokter untuk periksa, takut dengan hasil yang tidak sesuai harapannya, jadi ia memilih untuk membiarkannya dulu sampai ia siap untuk periksa.

__ADS_1


“Padahal aku sangat mengharapkan kehadiran seorang anak, sudah setengah tahun rumah tangga kami, tapi belum juga di berikan,” gumam Yura dalam hati.


Buliran bening lolos begitu saja membasahi pipi mulusnya, hati nya terasa sesak, entah kapan karunia itu tuhan berikan padanya, Yura rupanya sudah tidak sabar, walau pun Reza tidak menyinggung hal tersebut, namun dia tetap ingin memberikan anak pada Reza.


Beberapa menit melamun di toilet, tiba-tiba pintunya di ketuk dengan keras, siapa lagi yang berani mengetuk pintu seperti itu kalau bukan Queen putrinya, tiba-tiba senyuman nya mengembang, ia pun beranjak dan membuka pintu toilet itu dan mendapati tubuh mungil putrinya yang kini sedang tersenyum menggemaskan padanya.


Yura pun menggendong Queen dan menciumnya berkali-kali, ia mengusap lembut rambut balita mungil itu, dan menatap nya dengan lekat.


“Setidaknya aku punya anak yang bisa menghibur di saat sepi, aku tidak sanggup kehilangan dia tuhan, biarkan dia terus bersama ku selamanya,” batin Yura menatap Queen sejenak lalu mencium nya lagi.


Melihat air mata Yura, tangan mungil Queen mengusap lembut air mata yang membasahi pipi Yura.


“Mama? Angis?” Ucap anak itu seakan mengerti kesedihan Yura.


Yura menggeleng, “tidak sayang, mama tidak menangis, mama hanya sakit mata jadi keluar air mata,” jawab Yura beralasan.


Anak itu hanya ber oh ria, melihat tingkah Queen, Yura pun tertawa dan mencubit pelan pipi gembulnya, membuat anak itu ikut tertawa dan menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya, Yura jadi semakin gemas melihatnya.


Sementara dari sisi lain, Kevin tengah berjuang mendapatkan cinta Salsa.


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, Kevin sudah berada di depan kampus di mana Salsa menimba ilmu.


Setelah membaca pesan Salsa, Kevin menghadap cermin yang ada di dalam mobilnya dan merapikan penampilannya, matanya terus tertuju pada mahasiswa dan mahasiswi yang berhamburan mengambil kendaraan mereka, nampak gadis cantik itu berjalan dengan dua orang perempuan di sebelahnya, gadis itu melambaikan tangannya ke arah Kevin yang masih berdiri mematung di sisi mobil.


“Sa, biar aku antar ya?” Tanya Juan yang bergegas menghampiri Salsa, salah satu laki-laki yang menyukai Salsa.


Salsa menggeleng pelan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Aku sudah di jemput,” menunjuk Kevin.


“Siapa itu?” Tanya Juan, sedangkan dua teman perempuannya menatap tanpa bertanya.


“Dia…” ucapan Salsa terpotong sejenak, bingung mau jawab apa, dia dan Kevin baru saja beberapa kali bertemu, belum ada pembicaraan mengarah ke jenjang yang serius, Salsa tidak mau berharap lebih.


“Kakak ku,” lanjutnya.


“Bukannya kakak mu kak Reza?” Tanya Juan menyelidik.

__ADS_1


“Iya, itu saudara sepupu,” jawab Salsa asal.


“Ya sudah aku pulang duluan ya, daaaa,” Salsa pun berjalan menghampiri Kevin sembari melambaikan tangannya ke arah teman-temannya.


Saat Salsa sudah berada di samping mobil berdiri sejajar dengan Kevin, dengan sigap Kevin langsung membuka kan pintu mobil untuk Salsa, Kevin mengulurkan tangannya tepat di bagian atas pintu mobil, melindungi kepala Salsa yang terus memasuki mobil, begitu lembut nya perlakuan Kevin membuat sepasang mata yang melihat mereka sontak mengepalkan tangannya, Juan terus menatap tajam ke arah mobil Kevin yang sudah ada Salsa di dalamnya dengan raut wajah kesal.


“Tadi siapa?” Tanya Kevin memulai perbincangan.


“Yang mana?” Salsa menoleh dan balik bertanya.


“Laki-laki yang menghampiri mu tadi,”


“Oh, itu teman kak, namanya Juan,” jawab Salsa dengan tertunduk.


“Sepertinya dia menyukaimu, dari cara dia menatap mu dan bertanya, ada gurat kecemburuan dari wajahnya,” ucap Kevin mulai waspada karena ternyata dia punya saingan juga, namun baginya Juan bukan rival nya, dia yakin bahwa dia lebih tampan dan mapan di banding Juan, meski sebenarnya ada rasa khawatir yang menyeruak di dalam hatinya.


“Iya, dia juga pernah menyatakan cinta nya pada ku,”


“Kapan?” Tanya Kevin antusias.


“Kemarin,”


“Tapi aku tolak, karena aku sedang dekat dengan seseorang,” lanjutnya


“Siapa?” Tanya Kevin dengan raut wajah lesu.


“Kakak,” jawab Salsa tersenyum manis ke arah Kevin.


Kevin yang tadi nya hampir sesak nafas, sontak langsung bernafas lega, ia pun mengacak-ngacak pelan ujung kepala Salsa.


“Kamu ini,” kini ia pun tersenyum lepas.


“Jadi hanya di anggap dekat?” Tanya Kevin kemudian.


“Lalu, mau di anggap apa?”


“Pacar,”

__ADS_1


Salsa pun melirik Kevin lagi dengan menyunggingkan senyum kebahagiaan.


__ADS_2