
Tok.. Tok.. Tok
Suara ketukan pintu rumah Amira.
"Iyaaa sebentar". Sahut Mama Riana dari dalam rumah.
Setelah membuka pintu Mama Riana tampak bingung melihat seorang wanita tua sedang duduk di kursi roda bersama seorang wanita paruh baya berdiri membelakanginya.
"Emm.. Maaf siapa ya?" Tanya Riana mengerinyitkan dahi.
Wanita paruh baya itu memutar kursi roda Nyonya Emely, berbalik menghadap Riana. Riana masih bingung dia tidak tau siapa yang sedang berada di hadapannya ini, karena yang mengenal Emely memang hanya suaminya.
"Apa kamu istri Adi Wijaya?" Tanya Emely dengan tersenyum manis.
"Iyaa benar, apa nyonya mengenal suami saya?" Riana balik bertanya.
"Iyaaa saya ibu dari sahabat baik suami kamu". Jawab Emely tanpa basa basi.
"Kalau begitu ayo masuk dulu nyonya". Riana mempersilahkan Emely masuk. Emely yang sedang berada di kursi roda di dorong oleh pelayannya masuk ke rumah Wijaya.
Emely tampak heran melihat keadaan rumah Rangga Wijaya yang sederhana itu dan yang membuat Emely bertanya-tanya di mana rumah Wijaya dan Maria sekarang. Kenapa mereka pindah rumah. Seketika Emely prihatin melihat keadaan anak Wijaya dan Riana sekarang.
"Sebentar ya saya panggilkan Mas Adi dulu". Ucap Riana kemudian berlalu meninggalkan Emely dan pelayannya sebentar untuk memanggil suaminya.
"Pa.. Papa.." Teriak Riana memanggil suaminya, yang tengah duduk di dermaga kayu yang berada di taman belakang rumah mereka.
"Kenapa Ma?" Tanya Adi lalu menghentikan tangannya yang hendak menyereput kopi ke mulutnya dan meletakkan kembali cangkir berisi kopi di meja dekat tempat duduknya.
__ADS_1
"Pa.. Ada tamu di depan, katanya mau ketemu Papa". Ucap Riana pada suaminya.
"Tamu? Siapa?". Tanya Adi mengerinyitkan dahinya.
" Nggak tau.. Katanya dia ibu dari sahabat dekat Papa". Ucap Riana.
Adi pun beranjak dari duduknya meninggalkan taman dan berjalan menuju ke depan untuk melihat siapa yang datang bertamu ke rumah mereka.
Setelah sampai di ruang tamu. Sontak Adi membulatkan matanya terkejut melihat siapa yang sedang berada di depannya itu. Melihat Emely Adi seperti melihat Maria ibu nya yang sudah meninggal berapa tahun lalu. Adi pun berdiri mematung agak lama tidak percaya melihat Emely datang menemuinya. Sontak Adi langsung memeluk hangat Emely yang terduduk di kursi rodanya. Riana yang melihat pemandangan itu seketika terenyuh, ia seperti melihat ibu dan anak yang sudah lama berpisah dan baru di pertemukan kembali.
Cukup lama mereka berpelukan tak terasa butiran bening di mata mereka jatuh begitu saja. Tak lama kemudian Adi melepas pelukannya sambil berjongkok di hadapan Emely memegang pundaknya dan bertanya.
"Mama Emely, kenapa baru datang sekarang? aku sangat merindukanmu. Sudah lama kita tidak bertemu dan sudah lama juga aku tidak mendengar kabarmu, bagaimana kabar Surya Ma?" Tanya Adi sembari mengusap air matanya.
Mendengar Adi bertanya soal Surya membuat hati Emely seperti teriris, Emely kembali teringat kecelakaan maut yang merenggut nyawa Anak dan Menantunya beberapa tahun yang lalu. Emely terdiam dengan tatapan sendu, tak terasa air matanya menetes lagi.
"Surya dan istrinya sudah meninggal beberapa tahun lalu akibat kecelakaan mobil, meninggalkan aku dan putra semata wayangnya". Jawab Emely kemudian tangisnya pecah.
Adi begitu syok mendengar penuturan Emely mengenai sahabat kecilnya itu. Adi tidak menyangka Surya pergi secepat ini. Hati Adi seperti di remas-remas. Adi lalu mencoba tenang agar dia bisa menenangkan Emely yang masih menangis sesenggukan kalah menceritakan kepergian anak dan menantunya itu. Bahkan sampai bertahun-tahun berlalu Emely belum bisa melupakan kejadian tragis yang menimpah anak dan menantunya itu.
" Mama Emely!! Tenang lah!! Surya dan istrinya pasti sudah bahagia di alam sana, sekarang masih ada aku yang akan menemani mama Emely di hari tuamu ini, aku sudah menganggapmu seperti Mama Maria. Jujur saja saat melihatmu aku tiba-tiba teringat Mama Maria dan Papa Wijaya". Ucap Adi sembari menggenggam tangan Emely.
"Terimakasih Nak.. Kamu sudah membuatku tenang, aku juga sudah menganggapmu seperti putra kandungku sendiri". Ucap Emely mengusap ujung kepala Adi. Di mata Emely Adi masih seperti anak kecil baginya.
"Nak.. Maaf kalau aku lancang. Kenapa kalian bisa pindah kesini?" Tanya Emely lagi.
"Iyaa Ma.. Jadi semenjak Papa Wijaya dan Mama Maria meninggal aku mengelolah perusahaan Papa, selama beberapa tahun semua lancar-lancar saja, namun suatu hari kami di tipu oleh orang yang sudah kami tolong, kami menjadikannya orang kepercayaan tanpa curiga sedikit pun dengan niat jahatnya, dia memanfaatkan kebaikan kami dengan menipu kami hingga perusahaan kami bangkrut dan di ambil alih oleh keluarganya. Saat itu ternyata kami baru tahu kalau dia memiliki perusahaan juga. Mereka sudah merencanakan semuanya. Saat itu Riana sedang mengandung putri kami, usia kandungan Riana saat itu sudah menginjak 7 bulan. Tapi karena masalah itu Riana jadi stres hingga mempengaruhi kandungan Riana. Riana mengalami pendarahan dan kondisi bayi dalam kandungannya terancam, hingga harus di lakukan operasi untuk menyelamatkan mereka berdua. Biaya perawatan dan biaya operasi saat itu tidak sedikit untuk saya yang baru kehilangan semuanya. Untung saya masih memiliki simpanan, sebagian di gunakan untuk biaya rumah sakit dan sebagian lagi di gunakan untuk buka usaha toko pakaian kami yang sekarang, sehingga Riana juga harus menjual semua perhiasannya untuk tambahan modal dan untuk keperluan kami sehari-hari". Adi menceritakan semua yang terjadi di masa lalu yang menyebabkan mereka harus hidup seperti sekarang ini.
__ADS_1
Mendengar itu Emely begitu prihatin, dia tidak menyangka kehidupan anak Wijaya dan Maria akan seperti sekarang ini. Emely lebih terpukul lagi karena pada saat itu dia tidak berada di samping mereka. Keluarga Buwana dan keluarga Wijaya sudah seperti keluarga sedarah mereka selalu saling membantu. Sedari kecil, Adi begitu dekat dengan Emely dan suaminya. Sehingga tak heran jika Adi begitu dekat dengan Emely. Dulu Emely selalu menjaga Adi seperti dia menjaga dan menyayangi Surya putranya, dia tidak pernah membeda-bedakan mereka berdua, itu sebabnya kenapa Adi saat ini begitu bahagia bertemu kembali dengan Emely, dia merasa seperti ibunya pulang kembali.
Selang berapa lama berbincang-bincang, Amira pun datang. Dia baru saja berkunjung dari rumah Salsa, ketika masuk Amira begitu kaget melihat nyonya Emely sedang berada di rumahnya.
"Nenek!!" Seru Amira sedikit terkejut.
Nenek hanya tersenyum menatap Amira.
"Mama dan Amira sudah saling kenal?" Tanya Adi tak percaya terlebih ketika melihat Amira tiba-tiba langsung duduk di samping Emely.
"Iyaa, Amira akhir-akhir ini selalu berkunjung ke rumahku". Jawab Emely tersenyum sambil membelai rambut Amira.
Mama? Kenapa Papa memanggil nenek Emely dengan sebutan Mama? Apa Papa anak Nenek Emely yang hilang? Aduuuhh mikir apa sih aku, masa' Papa anak yang hilang. Celetuk Amira dalam hati dengan pikiran konyol nya itu.
"Berkunjung ke rumah Mama? Kapan?". Tanya Adi membulatkan matanya tak percaya.
" Kemarin juga dia baru berkunjung ke rumah Mama.. Hampir tiap hari dia selalu berkunjung ke rumahku". Ucap Emely sambil tersenyum menatap Amira.
"Emm.. Iyaa jadi aku pernah di tolong oleh Cucu nenek Emely saat aku pingsan di pesta Mery malam itu". Ucap Amira menjelaskan.
"Jadi.. Yang menolong kamu malam itu adalah cucu dari Nyonya Emely?" Tanya Riana tidak percaya.
"Emm.. Iyaa, Mama sama Papa kenal?" Amira balik bertanya.
Riana dan Adi pun menceritakan secara detail hubungan antara Adi dan nenek Emely dulu. Mulai dari keakraban mereka sampai kepindahan Emely dan keluarganya keluar negeri.
Amira pun tidak menyangka, ternyata keluarga Shaka Buwana dan keluarganya punya hubungan dekat dulu. Entah takdir apa ini, ini benar-benar sebuah kebetulan. Tuhan mempertemukan kembali sahabat yang sudah lama terpisah lewat cucu-cucu mereka. Hubungan yang dulu sempat terpisah oleh jarak yang jauh kini di pertemukan kembali. Adi pun bersyukur di saat-saat dia kehilangan semuanya Emely datang kembali di kehidupan mereka, di tambah lagi Adi begitu senang ketika mendengar Surya memiliki anak yang sangat hebat yaitu Shaka. Adi pun tidak sabar ingin bertemu dengan Shaka, pasti dia mirip sekali dengan ayahnya, mungkin dengan cara melihat Shaka bisa mengobati sedikit kerinduan Adi kepada Surya karena pasti mereka sangat mirip.
__ADS_1
Beberapa hari sebelum Surya meninggal Adi sempat bertemu Surya di luar kota saat dia berlibur bersama Riana dan Amira. Tapi mereka tidak sempat bertukar nomor telpon karena saking asiknya berbincang-bincang. Sehingga Adi tidak tahu menahu tentang kematian Surya.