
Amira kembali ke kamarnya, hari mulai gelap Amira mulai membersihkan diri dan bersiap untuk turun ke bawah menuju ruang makan. Amira memilih membantu pelayan untuk menghidangkan makan malam.
"Tidak usa repot-repot nona, biar kami saja". Cegah salah satu pelayan saat Amira mulai mengambil piring dari dapur.
"Tidak usah sungkan, saya hanya ingin membantu sebab saya bosan hanya duduk saja dan menunggu". Jawab Amira ramah sembari mengambil piring dari dapur.
Amira mulai menata piring-piring kosong itu di atas meja makan, sementara Emely keluar dari kamarnya dan mendapati Amira sedang sibuk menghidangkan makan malam dengan para pelayan.
" Amira kau sedang apa?" Tanya Emely yang membuat Amira terkejut.
"Aku sedang menyiapkan makan malam nek, oh ya nek mari aku bantu duduk". Jawab Amira bersemangat meraih Emely yang sedang berada di kursi roda dan membantunya duduk.
" Kau tidak perlu melakukan ini, pelayan di sini sudah punya tugasnya masing-masing". Ucap Emely sembari menatap Amira.
"Tidak apa-apa nek aku hanya ingin menghidangkan makan malam untuk suamiku". Ucap Amira lagi.
" Kau memang benar-benar istri idaman, tidak salah aku memilihmu untuk mendampingi Shaka". Puji Emely sembari mengusap punggung tangan Amira.
Tak lama kemudian Shaka pun turun dari tangga dengan wajah dinginnya dan langsung menuju ruang makan lalu kemudian duduk dan meraih piring kosong di atas meja untuk mengambil makanan.
"Ayo makan". Ucap Shaka datar.
Mereka pun makan malam dengan tenang. Setelah makan mereka duduk di ruang keluarga dan berbincang-bincang di sana. Lalu tiba-tiba Amira mendapat telepon dari rumahnya, dan ternyata telepon itu dari mamanya yang mengabarkan kalau Nenek Amira dari sebelah Mama jatuh sakit mendengar itu Amira pun langsung memberitahu hal itu kepada Shaka.
"Shaka, nenekku yang di bandung jatuh sakit darah tingginya kambuh, boleh kah aku ke sana besok?" Ucap Amira dengan wajah memelas.
"Yah sudah kalau begitu biar pak Ardi yang mengantarmu kesana". Jawab Shaka datar sembari sibuk memainkan ponselnya.
"Shaka apa apaan kamu? Seharusnya kamu menemani istrimu untuk pergi menjenguk neneknya bukannya membiarkan dia pergi sendiri". Ketus Emely memarahi cucunya.
"Tapi nek aku masih banyak pekerjaan". Jawab Shaka memelas.
"Sudah.. Kau serahkan saja pekerjaanmu ke Kevin dia pasti bisa menghandle nya dengan baik, lebih baik kamu temani istrimu besok lagi pula biasanya juga Kevin bisa kok menghandle semua pekerjaanmu". Ucap nenek tak bisa di bantah.
Akhirnya dengan menarik nafa kasar Shaka pun menyetujui perkataan Emely.
Keesokan harinya..
Tepat pukul 07.00 pagi Amira dan Shaka bersiap menuju bandung. Emely mengantar mereka sampai ke teras.
"Hati-hati ya". Ucap Emely dengan tersenyum
" Iyaa nenek jaga diri baik-baik yaa". Ucap Shaka berpesan pada neneknya.
"Iyaa kalian pergilah dulu". Jawab Emely sembari mengusap pundak Shaka yang sedang duduk berjongkok di hadapannya.
Shaka pun berpamitan pada neneknya lalu mencium ujung kepala Emely yang diikuti Amira yang mencium punggung tangan Emely. Setelah berpamitan Shaka dan Amira masuk ke mobil. Mobilpun melaju dengan meninggalkan loby depan rumah Buwana.
Amira dan Shaka akhirnya berangkat menuju kota kembang. Shaka sudah menghubungi Kevin untuk menghandle semua pekerjaan kantor.
Selama 1 jam perjalanan mereka sama-sama terdiam. Amira sedang sibuk dengan ponselnya saling berbalas pesan dengan Salsa lalu beralih berselancar di youtube, sambil sesekali menatap Shaka yang sedang fokus menyetir.
Shaka memang memesona kulitnya putih, hidungnya tegak berdiri, dengan alis tebal dan badannya yang proporsional, bahu nya yang lebar membuat dia terlihat maco Amira lagi-lagi di buat kagum olehnya.
"Kenapa memandangiku? Apa karena aku tampan?" Ucap Shaka melirik wajah Amira sekilas lalu kembali fokus di jalanan.
Amira pun langsung menghentikan aksinya memandangi Shaka dan kembali sibuk memainkan ponselnya.
"Kenapa diam saja? Oh ya nanti setelah di sana kita harus bersikap seperti suami istri karena di situ ada keluargamu". Ucap Shaka yang masih fokus di jalanan.
__ADS_1
"Bukan kah selama ini tuan yang selalu membentakku?" Ketus Amira yang mulai kesal.
"Kau sudah berani menyela ucapanku? Tidak bisa kah kau jawab " Iya?" Bentak Shaka dengan sedikit meninggikan suaranya.
Amira hanya diam saja Amira tidak menjawab lagi karena tidak mau memperkeruh suasana.
Dua setengah jam perjalanan mereka sampai di rumah nenek Amira. Mereka turun dari mobil dengan membawah serta barang bawaan mereka.
"Selamat siang A Shaka, Teh Amira". Sambut sepupu Amira yang juga berada di sana.
Amira dan Shaka membawah barang bawaan mereka ke ruang keluarga dan meletakannya di sana. Setelah mencuci kaki dan tangan Amira dan Shaka berjalan menuju kamar neneknya.
Setelah masuk terlihat nenek sedang terbaring dengan mata terpejam dan selang infus di tangannya. Melihat Shaka dan Amira masuk Adi dan Riana memeluk mereka bergantian dan mempersilahkan mereka duduk. Amira memilih duduk di tepi ranjang.
"Kenapa tidak di bawah saja ke rumah sakit?" Tanya Amira pada ibunya.
"Nenek maunya di rawat di rumah". Jawab Riana yang sedang berdiri di belakang Amira sembari memegang kedua pundaknya dari belakang.
"Oh ya kalian istirahat dulu, kalian pasti lelah". Perintah Adi kepada Amira dan Shaka.
"Nanti, Amira mau lihat nenek dulu". Ucap Amira sembari mengusap kaki neneknya.
" Nek, maafkan Amira ya, Amira baru bisa datang sekarang". Ucap Amira lirih.
"Papa dan mama sudah makan?" Tanya Amira melihat ke arah mama dan papanya.
"Sudah nak, lebih baik kalian istirahat dulu nanti kalau nenek bangun kalian bisa ke sini lagi". Adi kembali memerintahkan mereka.
Amira dan Shaka mengangguk patuh dan pergi ke ruang keluarga dan mengambil barang bawaan mereka untuk di letakan di kamar tamu. Selama 2 hari ke depan mereka harus tidur satu kamar, tidak mungkin mereka pisah kamar karena orang tua Amira pasti akan curiga.
2 setengah jam perjalanan membuat Amira sangat lelah sehingga ia memutuskan untuk tidur belum lama rasanya Amira terlelap Amira mendengar pintu kamar dibuka oleh seseorang. Amira enggan menoleh, Amira memilih untuk melanjutkan tidur.
Jantung Shaka mendadak jadi berdetak tak karuan, dia berniat ingin keluar dari kamar itu karena tidak tahan melihat Amira yang sangat menggoda, namun Shaka sangat lelah dan ingin beristirahat sampai akhirnya Shaka membangunkan Amira.
Shaka pun masuk mendekati ranjang Amira dan mengguncang tubuhnya yang sedang tertidur, Amira membuka mata perlahan dan mendapati sebuah wajah yang begitu di kenalnya berada tepat di wajahnya. Amira tersentak dan dengan sigap bangun dari tidurnya.
"Mau apa kamu ke sini?" Ucap Amira kaget lalu menjauh dari Shaka.
Shaka berdecak dengan raut wajah yang tak bersahabat.
"Tidur di sofa!" Perintah Shaka kepada Amira.
"Enak saja ini kamarku kenapa aku yang tidur di sofa". Ucap Amira tak kalah ketus.
"Rumah ini milik nenekmu jadi aku tamu di sini, apa kau tidak pernah belajar bagaimana cara menghormati tamu?" Tanya Shaka sembari berkacak pinggang.
Amira yang baru setengah sadar mengerjap tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Cepatlah! Aku ingin istirahat, tunggu apa lagi?". Ucap Shaka menatap tajam ke arah Amira.
"Tapi.. "
"Apa kau tidak mengerti? Kamu tidur di sana". Ucap Shaka mengarahkan dagunya di sofa dekat jendela.
Amira menatap tak percaya pada pria di depannya ini, sungguh Shaka benar-benar pria yang tak berperasaan, baiklah Amira mengerti dia tidak menginginkan Amira tapi bukan berarti dia tidur di ranjang dan menyuruh Amira tidur di sofa. Jika dia tidak bisa memperlakukan Amira sebagai istri setidaknya dia memperlakukan Amira sebagai seorang wanita yang akan merasa tidak nyaman jika tidur di sofa.
Namun Amira memilih diam dan tak menanggapi ucapan Shaka lalu beranjak menuju sofa.
Setelah bangun dari tidur Amira melangkah menuju kamar neneknya. Amira meraih piring yang ada di tangan mama dan menyuapi neneknya, ternyata Shaka juga sudah berada di kamar neneknya dan mengobrol dengan Adi.
__ADS_1
Amira menyuapi neneknya dengan telaten beliau sudah lebih baik sekarang. Sudah bisa duduk dan berbicara meski belum begitu jelas.
Shaka beranjak dari duduknya dan berpindah untuk duduk di tepi ranjang di bawah kaki nenek Amira dan memijatnya dengan lembut. Amira yang menyaksikan itu seketika hatinya menghangat walau bagaimanapun Shaka begitu perhatian pada keluarganya namun di matanya Shaka tetaplah lelaki yang menyebalkan meskipun dia bersikap seperti itu. Setelah selesai menyuap nenek Shaka keluar dari kamar nenek Amira dan mengangkat telepon.
Waktu menunjukan pukul 6 sore, tubuh Amira begitu penat sehingga Amira memutuskan untuk mandi, Amira melanjutkan langkah ke kamar mandi. Setelah selesai dengan acara mandinya Amira meraih handuk dan melilitkannya pada tubuhnya. Selesai mandi Amira beranjak dari kamar mandi menuju ke kamar. Namun setelah keluar dari kamar mandi Amira sangat terkejut melihat Shaka sudah ada di kamar juga, tidak mungkin dia ganti pakaian di depan Shaka. Amira lalu mengambil bajunya dan hendak masuk lagi ke dalam kamar mandi namun suara Shaka membuatnya menghentikan langkahnya.
"Sudah selesai mandi?"
"Sudah". Jawab Amira seketika ragu dan hendak masuk lagi ke kamar mandi namun lagi-lagi langkahnya terhenti saat Shaka bertanya lagi padanya.
" Kenapa tidak ganti baju saja di sini?" Ucap Shaka yang membuat Amira mendadak ketakutan.
Amira mengigit bibir bawahnya bingung harus menjawab apa, tak mungkin dia bilang malu pada suaminya sendiri.
"Emmm... "
"Malu karena ada aku?" Tanya Shaka lalu beranjak dari ranjang dan menghampiri mendekati Amira.
"Aku suamimu bukan?" Tegas Shaka saat sudah berdiri di depan Amira.
Amira menatapnya. Shaka Buwana. Ia tengah tersenyum kecil pada Amira.
"A-aku.." Bibir Amira mendadak keluh untuk berbicara.
"Aku berhak melihatnya bukan?" Tanya Shaka sembari tersenyum menyeringai.
Amira mencoba mengartikan maksud ucapan Shaka.
Mungkinkah dia sedang di selimuti gairah? Batin Amira dan mendadak begidik ngerih. Dia masih ingat bagaimana Shaka melecehkannya tempo hari.
"Di atas kertas dan atas nama pernikahan kamu memang berhak melihatku tanpa sehelai benangpun, tapi itu hanya akan terjadi jika kamu menganggapku sebagai istri". Ucap Amira dengan tenang.
Shaka meraup wajahnya kasar.
" Jangan mengajakku berdebat".
"Kalau begitu tutup matamu, atau keluar sebentar selama aku ganti baju". Usir Amira.
Shaka membelalakan mata lalu menggeleng pelan dan hendak berbicara namun Amira terlebih dahulu menyelahnya.
" Pergi".
Air muka Shaka berubah kesal.
"Kamu pikir aku tidak bisa memaksamu untuk membukanya? Ingat Amira aku juga sudah pernah melihatnya walau hanya sebagian kecil". Shaka berusaha melepas handuk dari tubuh Amira secara paksa.
"Shaka.. " Amira mendesis kesal dan berusaha menahan tangan Shaka yang dengan lancang membuka handuk yang tengah di pakai Amira.
Shaka mencengkram kedua tangan Amira agar tak menghalangi niatnya. Dengan sekali sentakan handuk yang tengah Amira pakai terlepas dari tubuhnya. Memperlihatkan seluruh tubuh Amira yang terpampang nyata.
PLAK..
Amira refleks menampar keras pipi Shaka dan dengan segera Amira meraih handuknya di lantai dan memakainya lagi.
"Lancang kamu.. Ini sudah kedua kalinya Shaka". Umpatnya. Shaka memang suaminya tapi Amira tak terima dengan perlakuan Shaka tadi.
Shaka terlihat murka tangannya melayang ke udara hendak menampar Amira balik, Amira diam saja menunggu. Kalau sampai Shaka berani menamparnya detik ini juga Amira akan minta cerai.
Di luar dugaan tangan Shaka berhenti di udara. Kedua tangannya mengepal erat. Shaka menatap tajam ke arah Amira lalu keluar meninggalkan Amira begitu saja.
__ADS_1