
Amira yang melihat adegan itu mulai merasakan panas yang menjalar di dadanya, meski ia tau pelukan Shaka terhadap Yura hanya sekedar pelukan sahabat saja dan tidak berarti apa-apa, entah kenapa Amira tidak bisa mengendalikan rasa cemburunya.
“Apa-apaan ini? Bisa-bisanya dia memeluk wanita lain dengan begitu erat di hadapanku,”
Gumam Amira dalam hati sembari menaikkan sebelah sisi bibirnya.
Shaka yang tak sengaja melihat ekspresi wajah Amira yang begitu tak enak di lihat, langsung saja melepaskan tautan tubuhnya dari Yura.
“Baiklah aku akan datang, bila perlu akan ikut membantu jika masih ada hal yang perlu di bantu,” ucap Shaka kemudian.
“Tidak usah Ka, semua sudah dipersiapkan dengan sangat matang,” jawab Reza sembari tersenyum.
Setelah beberapa saat berbincang akhirnya Salsa turun dari kamarnya dengan membawa Queen, melihat keberadaan Amira, Salsa juga tak kalah kagetnya, ia pun segera berjalan menghampiri Amira.
“Amira? Kau sudah kembali?” Tanya Salsa dengan senyuman lirih, kemudian langsung saja memeluk Amira dengan satu tangannya karena tangan yang satu lagi memeluk Queen.
“Iya Sa, alhamdulilah aku bisa kembali dengan selamat,” jawab Amira membalas pelukan Salsa.
“Aku senang sekali Amira, kau tau? Saat kau hilang, kami semua sangat merindukan mu,” Salsa pun melepaskan tautan tubuh mereka dan beralih menatap Amira dengan wajah sumringah.
“Aku juga sangat merindukan kalian, terutama Queen, boleh aku peluk?” Tanya Amira sembari mengulurkan tangannya ingin memeluk anak angkat kesayangannya itu yang sebenarnya adalah anak kandungnya.
Salsa pun menyerahkan Queen pada Amira.
“Heii kau semakin lucu saja, apa kau makan banyak? Badanmu semakin gemuk,” ucap Amira dengan gemas sembari mencubit pelan pipi Queen yang saat itu baru berusia 6 bulan.
“Iya mama Amira, saat ini aku sudah boleh makan loh,” jawab Salsa sembari menggoyang-goyangkan sebelah tangan Queen.
Menyaksikan itu Shaka hanya bisa tersenyum bahagia, dia pun tak kalah bahagia melihat kebahagiaan Amira, ingin rasanya dia mengadopsi Queen agar Amira tidak perlu banyak kesana kemari antara rumah nya dan rumah Reza hanya untuk melihat Queen, tapi tidak diizinkan Reza, hal itu sudah pernah ia utarakan pada Reza, namun Reza dan Yura menolaknya karena sampai saat ini, Reza masih berfikir kalau Queen adalah anak dari sepupunya Roy.
Kini Amira, Yura dan Salsa sedang berada di ruang keluarga bermain-main dengan Queen, mereka meletakkan Queen di karpet yang mereka duduki, saat ini Queen sudah boleh duduk dengan posisi Amira duduk di belakangnya, menjaga agar dia tidak oleng ke belakang.
__ADS_1
Sedangkan Shaka dan Reza memilih duduk di ruang tamu, untuk mengobrol sembari menikmati kopi.
“Oh ya Sa, tadi aku mampir di toko mainan bayi, dan aku membelikan ini untuk Queen,” ucap Amira sembari memberikan sebuah goodie bag pada Salsa.
“Wah apa ini?” Salsa pun meraih goodie bag yang diberikan Amira dan membukanya, dan ketika di buka Salsa pun di buat terkejut dengan mainan anak perempuan yang ia terima dari Amira.
Mainan itu berupa boneka Madame Alexander Eloise dengan 9 karat berlian di dalamnya serta aksesoris mahal lainnya, perancang boneka Madame Alexander Eloise hanya menciptakan boneka ini sebanyak 5 boneka saja, masing-masing memakai kristal Swarovski, aksesori Katherine Baumann, bulu Oscar de la Renta dan pakaian Christian Dior.
Madame Alexander Eloise menggambarkan gaya boneka perempuan tersebut sebagai perempuan yang kaya dengan rambut pirang, tampilan chubby dan stylish, boneka itu pun dibandrol dengan harga yang sangat fantastis.
“Amira, boneka ini kan mahal sekali, perancangnya juga hanya menciptakan 5 boneka saja dan kau membeli salah satunya untuk Queen,” ucap Salsa yang masih tercengang dengan boneka pemberian Amira itu.
“Bulan lalu Queen juga baru saja mendapatkan mainan mahal dari Yura, dan sekarang kau juga memberikannya, apa ini tidak merepotkan?” Tanya Salsa yang jadi tak enak hati.
“Iya, untuk Queen apa sih yang nggak,” jawab Amira, ia sangat menyayangi Queen bahkan ia tak tanggung-tanggung memberikan hadiah mahal untuk Queen seperti itu.
“Tidak apa Salsa, lagi pula sebentar lagi kan Queen juga akan jadi bagian dari keluargaku, dan saat menikah nanti aku akan menganggap Queen seperti anakku sendiri,” ucap Yura sembari tersenyum dan menatap Queen dengan sayang.
3 minggu kemudian…
Kini tibalah hari yang dinantikan oleh Yura dan Reza, hari dimana mereka akan menikah.
Reza dan Yura menggelar resepsi pernikahannya di gedung milik Reza sendiri, ballroom itu sudah terdekor dengan sangat indah dan elegan.
Beberapa tamu pun mulai nampak berdatangan dan melewati beberapa prosedur keamanan demi menghindari adanya penyusup, salah satunya para tamu harus membawa kembali undangan mereka sebagai bukti kalau mereka adalah tamu undangan.
Saat itu Amira sudah selesai berdandan dengan memakai gaun berwarna merah yang nampak begitu elegan, ia berdiri memandangi dirinya di depan cermin, demi memastikan tidak ada yang salah dengan penampilannya, namun tak lama Shaka pun keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai bathrobe (jubah mandi).
Shaka berdiri di sisi sebelah kiri Amira, ia terus tersenyum saat memandangi penampilan Amira dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Kamu sangat cantik sayang,” puji Shaka.
__ADS_1
Namun Amira tetap bersikap cuek seakan tak mendengar apapun yang keluar dari mulut Shaka, ia bahkan tak melirik ke arah Shaka sama sekali, dan terus fokus menyisir rambut panjangnya yang dibiarkan terurai.
Mendapat perlakuan Amira yang sudah 3 minggu ini masih saja cuek padanya, membuat Shaka mendengus dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Cepatlah, pakaianmu sudah ku siapkan di atas ranjang,” ucap Amira datar tanpa melirik ke arah Shaka sedikit pun.
Shaka melirik ke arah ranjang dan meraih setelan jas yang sudah di siapkan istrinya lalu mulai mengenakannya, tak lama Shaka pun berdiri di samping Amira, dan ikut bercermin mengamati penampilannya.
Amira pun melirik ke arah Shaka sejenak, seperti biasa, Shaka terlihat sangat tampan dan begitu formal, ia pun melirik ke dasi Shaka yang terlihat belum tertata sempurna.
“Dasi mu,” ucap Amira datar.
“Dasi ku? Ada apa dengan dasi ku?” Tanya Shaka kembali berkaca sembari mencoba membenahi dasi nya yang ternyata miring.
Namun Amira begitu tak sabar melihatnya, ia langsung saja menghadapkan tubuh Shaka ke arahnya, lalu ia pun mulai membenarkan dasi Shaka yang miring dengan raut wajah yang masam.
Shaka pun kembali tersenyum dan mengamati wajah masam istrinya.
“Kamu tidak bisa mengingkari lagi kalau kamu masih begitu peduli padaku, sampai kapan kamu bersikap seperti ini padaku sayang?” Kali ini Shaka mulai menatap lekat wajah Amira.
“Kau jangan terlalu percaya diri, aku seperti ini bukan karena peduli padamu, aku hanya tidak ingin kau malu nanti,” ketus Amira sembari melepaskan tangannya setelah selesai dengan dasi Shaka.
“Tidak ingin aku malu? Bukan kah itu salah satu bentuk kepedulian juga?” Tanya Shaka yang mulai menggoda Amira.
Mendengar itu, Amira jadi terdiam seribu bahasa, ia merasa terpojokkan dengan pernyataan nya sendiri, hingga membuatnya mulai gelagapan.
“Sudah lah kita akan terlambat, aku akan menunggu mu di bawa,” ucap Amira dengan wajah yang terlihat mulai memerah.
Amira pun keluar kamar dan meninggalkan Shaka seorang diri yang masih diam mematung.
Shaka pun hanya bisa tersenyum lebar melihat gelagat Amira yang terlihat gugup.
__ADS_1
“Sekuat apapun kau mengabaikan ku, itu tidak akan berhasil karena nyata nya kau masih begitu mencintaiku, aku akan selalu menunggu dengan sabar sampai hatimu benar-benar luluh dan kembali bisa memaafkan aku,” gumam Shaka dalam hati.