Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 62 Sakit Hati


__ADS_3

Setelah selesai makan siang dengan mama Riana, Amira memutuskan untuk pulang setelah mengantar mama Riana terlebih dahulu.


"Ma, Amira antar sini aja ya. Amira pulang dulu Amira masih mau bicara dengan Shaka perihal Safa dan Windy tadi." Ucap Amira kepada mamanya yang tengah berdiri di depan pintu rumah.


"Iya nak, hati-hati ya. Jangan lupa kalau sudah sampai kabarin mama ya." Ucap Riana sembari mengusap pundak Amira.


"Iya ma, Amira pulang dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab Riana yang masih berdiri di depan pintu melihat kepergian Amira.


Tak lama mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Buwana. Sepanjang jalan Amira hanya diam dan memejamkan matanya. Amira memikirkan bagaimana caranya agar Shaka mau mengurungkan niatnya untuk tidak memecat papanya Windy dan kembali mau mejalin kerja sama dengan ayah Safa.


Selang beberapa menit kemudian, mobil pun sampai di depan lobby rumah keluarga Buwana. Amira turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah lalu langsung masuk ke kamarnya. Sesampainya di kamar Amira mendapati keadaan kamar yang kosong tidak ada Shaka di sana. Amira mencarinya ke kamar mandi namun nihil Shaka juga tidak ada di sana.


Mungkin dia belum pulang, aku tunggu saja. Gumam Amira dalam hati kemudian berdiri di balkon kamarnya memandangi pemandangan yang ada.


"Amira." Shaka memeluknya dari belakang.


Amira terkejut dengan keberadaan Shaka yang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang.


"Shaka." Ucap Amira tampak gugup. Jantungnya berdetak kencang saat merasakan pelukan dari Shaka.


Amira mencoba melepaskan diri karena merasa gugup namun Shaka malah lebih mengeratkan pelukannya.


"Biarkan seperti ini dulu Amira. Aku sangat merindukanmu." Ucap Shaka lalu mencium pucuk kepala Amira.


Amira pun semakin gugup namun dia juga begitu nyaman dengan pelukan Shaka sehingga dia sudah tidak melepaskannya. Amira menyandarkan kepalanya di dalam pelukan Shaka. Mereka terdiam sejenak dengan pikiran mereka masing-masing seakan merasakan kenyamanan dalam pelukan itu.

__ADS_1


"Shaka." Amira mulai membuka suara.


"Ada apa?" Tanya Shaka yang masih memeluk erat tubuh Amira.


"Tadi Windy dan Safa mendatangiku."


"Windy dan Safa?"


"Iya, mereka datang dalam keadaan yang nampak sangat memprihatinkan, mereka terlihat begitu lesu, wajah mereka sembab dan begitu tak berdaya. Mereka terus menangis berlutut padaku agar aku bisa memintamu mengurungkan niatmu yang akan membatalkan kerja sama di perusahaan ayah Safa dan tidak memecat papa Windy." Jelas Amira.


"Jadi maksud mu aku harus.." Ketus Shaka.


"Iya, kau mengerti kan maksudku? Bisa kah kau membatalkan niatmu itu? Aku sungguh tak tegah melihat mereka terutama mendengar penuturan Safa mengenai ibunya yang sakit-sakitan. Shaka bisa kah kau mengurungkan niatmu itu?" Ucap Amira yang kini berbalik mengahadap Shaka.


"Aku sungguh bingung denganmu, kau ini terlalu baik atau terlalu bodoh? Mudahnya kau terpedaya dengan bujuk rayu mereka." Ketus Shaka dengan raut wajah tak terima.


"Ayolah Shaka ku mohon, aku tau kau orang baik hati dan pemaaf. Lagi pula kau sudah mengancam mereka seperti itu, aku yakin mereka pasti akan jera dan takut berurusan lagi denganmu." Bujuk Amira sembari menggoyang-goyangkan lengan Shaka.


"Ayolah aku harus bagaimana lagi agar kau mengabulkan permintaanku." Ucap Amira dan memasang wajah memelas.


Shaka pun berfikir sejenak, ia pun kembali memandang Amira yang terus menampilkan wajah begitu memelas.


"Emmm baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu tapi aku tidak akan melakukannya secara cuma-cuma. Aku akan mengurungkan niatku itu asalkan kau harus melupakan perjanjian konyol kita mengenai pernikahan kontrak itu dan menjalani kehidupan rumah tangga seperti pada umumnya. Dan kau juga harus bersikap manis padaku dan tidak boleh membangkang. Bagaimana? Cukup sederhana kan?" Ucap Shaka tersenyum sembari menaikkan kedua alisnya.


"Ma.. Maksudmu, kita tidak akan bercerai?" Tanya Amira sedikit gelagapan.


"Iya kita akan terus bersama selamanya, apa kau lupa, tuhan sangat membenci perceraian. Lagi pula aku sudah mencintaimu jadi kita tidak perlu bercerai."

__ADS_1


"Emmm.. Baiklah." Ucap Amira tersenyum kecut sembari merapatkan giginya.


"Deal?" Shaka menjulurkan tangannya.


"Baiklah." Jawab Amira lesu sembari berjabat tangan dengan Shaka.


"Gadis pintar." Ucap Shaka tersenyum puas sembari menepuk pelan pipi Amira dan kemudian langsung beranjak pergi.


Shaka masuk ke kamar mandi dengan membawa senyuman kepuasan yang terpancar jelas dari wajahnya. Ia pun langsung membuka pakaiannya untuk mandi.


Sementara Amira masih saja terdiam memandangi punggung Shaka yang sudah menghilang dari pandangannya. Dia memikirkan perkataan Shaka tadi. Dia juga sudah mencintai Shaka sehingga dia memutuskan untuk menjalani hubungan rumah tangga seperti pada umumnya, dan bila perlu jika Shaka akan meminta hak nya saat ini juga dia juga sudah siap untuk memberikannya.


Beberapa menit kemudian Shaka sudah keluar dari kamar mandi dan tidak mendapati sosok Amira di sana. Tak lama ponselnya berdering, Shaka melihat nama Yura di layar ponselnya. Shaka meraih ponsel yang terletak di atas nakas itu lalu menjawab telepon dari Yura.


"Halo."


"Shaka, kamu di mana? Bahkan sampai aku pulang kamu tidak datang menemuiku." Ucap Yura terdengar lesu.


Sementara dari luar ada Amira yang hendak masuk ke dalam kamar namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Shaka yang sedang bicara dengan seseorang lewat telepon. Amira perlahan membuka pintu dan mengintip dari luar.


"Maaf Yura aku begitu sibuk. Aku sangat lega mendengar kau sudah pulang yah sudah sekarang juga, aku ke rumah untuk menemui kamu okee. Kau tunggulah!" Ucap Shaka mencoba menghibur Yura.


"Baiklah aku tunggu ya." Ucap Yura kemudian.


Shaka memutuskan sambungan telepon dan mulai melangkah keluar dari kamarnya tanpa menyadari keberadaan Amira di depan pintu kamar. Sementara Amira yang melihat itu bergegas bersembunyi di balik guci besar yang besar nya itu melebihi tubuhnya itu dan terus melihat kepergian Shaka dengan perasaan sakit di hatinya. Awalnya dia memang berniat untuk mengalah dari Yura tapi begitu mengetahui perasaan Shaka padanya dan menyadari perubahan sikap Shaka yang begitu manis akhir-akhir ini membuat Amira semakin mencintainya. Namun apa daya, saat ini Amira melihat Shaka pergi menemui Yura lagi, hati Amira tiba-tiba sakit seperti teriris sembilu, sehingga tanpa ia sadari air matanya jatuh begitu saja.


Aku jadi bingung dengan sikapmu, kau baru saja mengatakan cinta padaku dan terus bersikap baik. Tapi kenapa kau masih pergi menemuinya, apa kau masih mencintainya? Lalu untuk apa kau mempertahankan aku. Gumam Amira dalam hati.

__ADS_1


Aku bahkan hampir saja berfikir untuk memberikan hak mu jika kau memintanya, karena aku akan berusaha menjadi istri yang sesungguhnya untukmu tapi hari ini melihat mu yang masih saja pergi menemui Yura seperti ini, membuat aku kembali ragu padamu Shaka. Amira terus bergumam dalam hati dengan tatapan kosong.


Ia pun mulai melangkah masuk ke kamarnya, dan berbaring di atas ranjang sembari terus memikirkan Shaka. Amira kini sedang cemburu bahkan sakit hati.


__ADS_2