Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 133 Melamar


__ADS_3

Shaka dan Amira sudah mencabut tuntutan terhadap Safa, Shaka sengaja belum membebaskan Dewa karena kesalahan Dewa yang sudah sangat fatal, dia hampir membahayakan nyawa Amira yang sedang mengandung Samudra dulu.


Sedangkan Safa, Shaka tidak hanya membebaskan wanita itu begitu saja, Shaka juga tentunya mengawasi setiap gerak gerik Safa.


Begitu pun dengan Windy, setelah memastikan Windy benar-benar sudah berubah, Amira memutuskan untuk membebaskan Windy juga.


Hari ini Amira tengah asyik menyaksikan anak-anaknya bermain, Queen dan Samudra bermain petak umpet di depan rumah, tak terasa kedua anak itu sudah besar, usia mereka tidak terpaut jauh, mereka seperti anak kembar yang berbeda jenis kelamin, mereka terlihat sepantaran.


Tak lama Yura datang bersama Reza dengan membawa dua buah paper bag, tentu saja itu untuk Queen dan Samudra, Yura sudah terlihat lebih ceria dari sebelumnya, ia benar-benar sudah pasrah dengan takdirnya dan mencoba menikmati hidupnya dengan bahagia.


“Mama, papa!!” Teriak Queen lalu kemudian berlari menghampiri Yura dan Reza.


Samudra pun ikut berlari menyusul kakaknya, ia juga sudah jadi dekat dengan Yura dan Reza, karena setiap kali berkunjung, Yura dan Reza tidak hanya memperhatikan Queen, tapi Samudra juga, bahkan Samudra juga ikut-ikutan memanggil Yura dan Reza dengan sebutan mama dan papa seperti kakaknya.


“Mama bawa apa?” Tanya Samudra antusias.


“Nih mama sama papa bawakan mainan baru buat kalian,” jawab Yura sembari menyerahkan paper bag itu kepada mereka masing-masing.


“Kalian sudah terlalu memanjakan mereka,” timpal Amira tersenyum yang sudah berdiri di tengah-tengah anaknya.


“Tidak apa-apa, lagian kami senang kok, selagi tidak ada yang di manjakan jadi memanjakan anak sahabat dulu, itung-itung latihan, supaya kalau sudah waktu nya di berikan, kita berdua sudah terbiasa,” jawab Yura dengan terkekeh.


“Aku doakan semoga kalian berdua akan segera di beri momongan,”


“Amin,” ucap Yura dan Reza secara bersamaan.


“Bilang apa sama mama Yura dan papa Reza?” Tanya Amira mensejajarkan tubuhnya di antara kedua anaknya.

__ADS_1


“Terima kasih!” Ucap mereka serantak sembari tersenyum riang pada Yura dan Reza.


“Pintarnya,” puji Yura menoel pipi gemoy dua bocah kecil itu.


Amira pun memanggil Yura dan Reza masuk yang sudah menggandeng tangan dua anak itu masing-masing.


Kantor Polisi…


Safa terkejut melihat keberadaan Genta yang datang menjemputnya di kantor polisi, semenjak dia di bebaskan, dia tidak banyak bertanya, dia mengirah kalau hanya Amira lah yang sudah mencabut tuntutannya, dia bahkan belum tau rencana Genta mau menikahinya.


“Ge…genta,” ucap Safa menatap Genta yang sedang berjalan ke arahnya.


Semenjak kejadian itu, Safa sudah sedikit berubah, dia sudah tidak dendam pada Amira lagi, bahkan dia sudah menelepon Amira dan berterima kasih padanya, namun di saat dia mengucapkan terima kasih dan maaf pada Amira, Amira hanya berkata kalau dia tidak perlu berterima kasih padanya, Safa hanya perlu berterima kasih pada orang yang sudah rela memohon kebebasannya pada Amira dan Shaka, namun pada saat Safa bertanya siapa orang itu, Amira tidak memberikan jawaban.


“Sudah siap? Ayo kita pulang,” tanya Genta sembari berdiri santai di hadapan Safa dengan satu tangan yang di masukkan di saku celana.


“Apa kau yang membebaskan ku? Apa kau yang rela memohon pada Amira dan Shaka untuk membebaskan aku?” Tanya Safa dengan wajah berbinar.


Mendengar itu Safa sontak menelan salivanya, entah kenapa untuk saat ini dia jadi begitu takut pada Genta, ia pun mengangguk cepat mengiyakan peringatan Genta tersebut.


“Maafkan aku Genta, aku tau aku sudah sangat jahat, tapi aku janji, aku akan berubah, aku tidak akan lagi menyakiti Amira dan anak kamu, aku akan berubah menjadi wanita yang lebih baik lagi, demi kamu,” tutur Safa sembari meraih kedua tangan Genta.


“Aku pegang kata-katamu,”


“Tapi, kenapa kamu tiba-tiba membebaskan aku?” Tanya Safa masih penasaran.


“Kita akan menikah dalam waktu dekat ini, setelah dari sini, kita akan menemui orang tua kamu, aku akan langsung melamar mu bersama dengan mama ku, dia sudah menunggu di depan,” ucap Genta datar.

__ADS_1


“Apa? Kau mau menikah dengan ku?” Tanya Safa dengan wajah berseri-seri, lalu tanpa sengaja dia memeluk Genta karena saking bahagianya.


“Genta, aku tidak menyangka akhirnya kamu mau menerima cintaku, setelah bertahun-tahun lamanya,” tutur Safa yang kini sedang memeluk tubuh Genta, Genta hanya diam mematung saat Safa memeluk tubuhnya begitu saja, dia tidak berniat membalas pelukan Safa.


“Aku akan menikahimu, tapi kau harus merubah sifat jelekmu selama ini, kalau sampai sudah menikah kau mengulang kesalahanmu lagi, aku tidak akan segan-segan untuk meninggalkan mu,” tegas Genta mengancam Safa.


Safa melonggarkan pelukannya dan menatap lekat wajah Genta.


“Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, aku tidak akan menyakiti orang lain terutama anak kamu, aku akan menganggap Queen seperti anakku juga, aku akan menyayanginya layaknya ibu kandung,” tukas Safa menatap dalam manik mata Genta.


Hukuman penjara yang Safa terima saat ini benar-benar membuatnya jerah, ia pun berniat untuk menyudahi rasa iri dan dengkinya pada Amira, bahkan setelah ini, dia bertekad untuk menemui Amira di rumahnya dan memohon maaf yang sebesar-besarnya pada Amira dan juga Shaka.


Safa tidak menyangka, perjuangan cintanya pada Genta selama ini berbuah manis, kini Genta akan menikahinya, dia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi.


Setelah berbincang cukup lama, Genta mengajak Safa keluar dari tempat itu dan menemui mamanya yang sudah menunggu di mobil, Safa menyalami Anisa lalu ikut masuk ke mobil, ia duduk di bangku belakang sedangkan Anisa duduk di samping bangku kemudi.


Anisa pun tampak mengabaikan Safa, perbuatan Safa yang sudah tega menukar cucunya dulu masih membekas di hatinya, sehingga membuat dia sulit untuk menerima Safa menjadi menantunya, dulu Anisa memang begitu ingin menjodohkan Safa dan Genta, bahkan dia sudah sangat bangga dan menyayangi calon menantunya itu,tapi sekarang sudah tidak lagi, namun dia harus apa, dia hanya bisa pasrah saja karena dia sendiri yang memberikan pilihan itu pada Genta, lagi pula dia juga sudah punya rencana dan mengajak calon menantunya itu untuk bekerja sama demi melancarkan rencananya.


Tak lama, mobil Genta sudah sampai di depan rumah Safa, orang tua Safa memang tidak menjemput Safa karena Genta meminta mereka untuk duduk menunggu saja di rumah, karena Genta ingin menyampaikan suatu hal yang serius pada kedua orang tua Safa.


Begitu sampai di depan pintu rumah keluarga Safa, mereka sudah di sambut hangat oleh kedua orang tua Safa, Anisa masih dengan sikap angkuhnya tidak mau membalas uluran tangan ibu Safa yang hendak menjabat tangannya.


Melihat itu Genta langsung menyiku tangan mamanya, Anisa seketika tersentak, ia menatap Genta lalu menyalami tangan kedua orang tua Safa dengan terpaksa.


Sebenarnya Anisa adalah orang baik, namun dia mudah terprovokasi, bahkan tanpa mencari tau kebenarannya lebih dulu, dia akan dengan mudah membenci orang-orang yang sudah membuatnya jengkel atau sakit hati.


Perubahan sikap Anisa tak luput dari perhatian orang tua Safa, namun mereka tidak mempermasalahkan hal itu, mereka dengan senang hati, menerima lamaran Genta dan mamanya untuk Safa.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, tanggal pernikahan sudah di tetapkan, mereka akan langsung menikah tanpa harus bertunangan lebih dulu, pernikahan Genta dan Safa akan di langsungksn dua minggu lagi.


Tanggal pernikahan itu tentunya atas keputusan Genta, ia ingin segera menikahi Safa, karena menurutnya mungkin dengan menikah, dia bisa perlahan-lahan melupakan Amira, karena sejujurnya, hati Genta sudah sangat tersiksa oleh belenggu cinta yang ia rasakan sendiri terhadap Amira.


__ADS_2