Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 111 Menjenguk Marsel


__ADS_3

“Amira,” desah Genta memejamkan matanya, karena sudah terbiasa bertemu Amira di Cassino milik ayahnya, rasanya dia akan gila tidak melihat wanita itu.


Genta sudah terbiasa tanpa Amira selama beberapa bulan, namun karena sering bertemu Amira lagi, tiba-tiba saja dia jadi rindu.


Sudah 2 minggu ini dia tidak melihat Amira, selama 2 minggu itu pula dia begitu merindukan Amira, dan semenjak kejadian itu dia jadi sangat malas untuk menjenguk ayahnya di penjara, dia sangat muak dengan tindakan bodoh ayahnya yang sudah tega mencelakai Amira, mantan kekasih yang sudah memberikannya 1 anak itu.


“Seandainya saja dulu aku tidak lari dari tanggung jawab, pasti saat ini aku yang berada di samping Amira menjadi suaminya, bukan Shaka Buwana,” gumam Genta dalam hati.


Dia ingin sekali melihat Amira, tapi tidak bisa, karena Shaka pasti tidak mengizinkannya, dan semenjak Amira kembali ke rumah keluarga Buwana, dia sudah tidak pernah melihat Amira lagi.


Genta bergegas meninggalkan kamarnya, Genta terlihat tak kalah tampan, badannya juga proporsional dengan roti sobek yang tercetak jelas di balik bajunya.


“Sayang,” tiba-tiba saja Safa menghadang jalannya.


“Ada apa?” Tanya Genta ketus, dia menjauh dari wanita itu.


“Kau mau ke mana sayang? Aku membawakan mu makan siang,” Safa menunjukkan bekal yang ada di tangannya.


“Berhenti memanggilku sayang Safa, kau bukan kekasihku,” bentak Genta, dia jijik di panggil sayang oleh wanita yang seperti cacing kepanasan itu.


“Kau lupa kalau kita ini di jodohkan?” Safa mengelus dada bidang Genta, dan berusaha menggodanya.


“Jauhkan tangan mu itu dariku,” Genta menepis tangan Safa dengan kasar.


“Awww,”


“Dengarkan aku, aku tidak akan pernah menerima perjodohan ini,” tegas Genta menatap Safa dengan tajam.


“Iya aku tau, apa kau masih mencintai Amira?” Tuduh Safa.


“Iya aku masih sangat mencintainya, jadi berhenti mengejarku, karena aku tidak akan pernah menyukaimu,” ucap Genta lalu pergi dengan amarah.


Mendengar itu membuat nafas Safa memburu.


“Lihat saja nanti, cepat atau lambat, kau pasti akan bertekuk lutut memohon cinta dariku, semua ini gara-gara Amira, dasar gadis jal*** dia sudah menguasai seluruh relung hati Genta,” ketus Safa dalam hati, yang masih saja emosi dengan Amira.


Kantor Utama Buwana Group…


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 siang, Shaka dan Kevin sudah menyelesaikan meeting mereka, Shaka dan Kevin berjalan berdampingan meninggalkan ruang meeting.


“Ka, kau mau makan siang di mana?” Tanya Kevin.


“Aku mau makan siang di rumah saja, oh ya apa agenda ku hari ini masih ada?” Tanya Shaka setelah hampir sampai di pintu ruangan pribadinya.


“Tidak ada meeting lagi hari ini,”


“Ah baiklah kalau begitu, aku pulang dulu, aku mau makan siang bersama istriku, kau makan siang sendiri saja hari ini,” ucap Shaka sembari tersenyum dan menepuk-nepuk pelan pundak Kevin.


“Siapa bilang aku mau makan siang sendiri,” sergah Kevin kemudian.


“Lalu? Kau mau makan siang bersama siapa?” Tanya Shaka mengerinyitkan dahinya.


“Nanti juga kau akan tau kalau kita sudah turun ke bawah, yang pasti kau akan kaget kalau kau melihatnya, aku turun duluan ya tuan muda,” ucap Kevin dengan wajah sumringah lalu pergi begitu saja meninggalkan Shaka.


Shaka pun di buat penasaran, karena yang dia tau, sudah hampir setahun ini Kevin tidak menggandeng wanita lain, Shaka pun mengikuti langkah Kevin saking penasarannya.


“Heii tunggu!” Panggil Shaka sembari menyusul langkah Kevin.


“Memang nya siapa gadis yang kau kencani kali ini?” Tanya Shaka penasaran dengan terus berjalan mengikuti langkah Kevin.


“Sudah tidak usah banyak bertanya,” jawab Kevin terus melangkah menuju lift dengan diikuti oleh Shaka.


Tinngg…


Lift berbunyi tanda sudah sampai ke lantai dasar, Kevin dan Shaka pun keluar dari lift itu dan berjalan menuju loby, ketika sudah sampai di loby Kevin menyapa seorang wanita yang kini tengah berdiri membelakangi mereka.


“Ayo kita pergi sekarang,” ucap Kevin pada wanita itu.


Namun pada saat wanita itu berbalik, Shaka sontak membulatkan matanya, ia begitu tercengang kalau ternyata wanita yang akan Kevin dekati kali ini adalah adik Reza, siapa lagi kalau bukan Salsa.


“Selamat siang kak Shaka,” Salsa menyapa Shaka dengan raut wajah bingung.


“Iya selamat siang,” jawab Shaka kemudian.


“Heh, bagaimana bisa kau mendekati adik dari sahabat kita? Apa Reza tau?” Bisik Shaka bertanya pada Kevin.


“Ini baru pendekatan, Reza memang belum tau, tapi aku yakin, kalau pun dia tau pasti dia akan menerimaku,” bisik Kevin menjawab pertanyaan Shaka.


“Kau jangan terlalu percaya diri dulu, Salsa ini kan adik kesayangannya, tidak mungkin dia percaya begitu saja pada pria playboy seperti mu,” ketus Shaka seakan tak terima Kevin memacari adik dari sahabat mereka itu.

__ADS_1


“Kau ini sahabat ku atau bukan? Kenapa kau mendoakan yang jelek-jelek begitu? Sudah lah lagi pula aku tidak akan mempermainkannya kok, iya kan sayang?” Ucap Kevin yang kini beralih menatap Salsa.


“Sayang?” Tanya Salsa mengrutkan dahinya.


“Sayang? Memang nya aku memanggilmu sayang ya? Ah sepertinya kau salah dengar, tadi aku memanggil Salsa bukan sayang, kenapa jadi terdengar sayang? hehehe ya sudah ayo kita makan sekarang, kamu pasti sudah lapar,” sergah Kevin cengengesan.


Shaka yang melihat itu menggigit bibir bawah nya menahan tawa, akhirnya Kevin dan Salsa pun pamit lebih dulu untuk makan siang, kemudian di ikuti Shaka yang juga pulang untuk makan siang di rumahnya.


Mobil yang di tumpangi Shaka pun tiba di depan teras rumahnya, pak Ardi dengan cepat membukakan pintu untuk Shaka, dengan tenang Shaka pun turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumahnya, saat itu Amira dan nenek Emely sudah duduk di meja makan untuk makan siang.


“Shaka, kamu sudah pulang?” Tanya Amira yang langsung berdiri.


“Iya aku sengaja ingin makan siang di rumah,” jawab Shaka sembari tersenyum manis dan melangkah mendekati Amira.


“Ya sudah, ayo duduk lah Ka, ayo kita makan, aku senang kau menyempatkan diri untuk makan siang di rumah,” ucap Emely.


Shaka pun duduk, Amira sebagai istri melayani suaminya, ia mengambil beberapa menu kesukaan Shaka.


“Ini makan lah,” ucap Amira dengan wajah berbinar.


“Terima kasih sayang,” Shaka pun kembali tersenyum.


Makan siang pun berakhir dengan damai, setelah berbincang sejenak bersama Emely, Shaka pun mengajak Amira untuk naik ke kamar mereka.


“Ada apa?” Tanya Amira saat mereka baru saja memasuki kamar.


“Aku sudah mendapatkan informasi tentang Marsel,” ucap Shaka kemudian.


“Benar kah? Lalu bagaimana keadaannya?” Tanya Amira dengan wajah berbinar.


“Aku sudah mencari tau kabar nya melalui Kevin, saat ini ia masih berada di rumah sakit, tulang rusuknya patah sehingga luka nya semakin parah,” jelas Shaka.


Mendengar itu Amira jadi semakin merasa bersalah, dia ingin sekali menjenguk Marsel, namun dia tidak enak hati dengan Shaka, ia takut kalau ternyata Shaka tidak mengizinkannya, oleh karena itu dia hanya diam saja.


Melihat ekspresi Amira, Shaka jadi bisa menebak kalau Amira semakin merasa bersalah, dia seakan mengerti perasaan Amira, namun saat ini ia masih mempertimbangkan apakah dia akan mengizinkan Amira menjenguk Marsel atau tidak, karena biar bagaimana pun Marsel sudah menyelamatkan nyawa Amira dan calon anaknya, tidak bisa di bayangkan bagaimana kalau saat itu Amira tertembak, dia pasti sudah kehilangan dua orang yang sangat ia cintai.


“Emm, Amira,” ucap Shaka setelah beberapa menit terdiam.


“Ya, ada apa?” Jawab Amira yang beralih menatap Shaka.


“Ganti baju mu, kita akan keluar,”


“Menjenguk Marsel,” jawab Shaka sedikit tak bersemangat.


“Benar kah? Ah terima kasih suamiku,” ucap Amira dengan binar di wajahnya, lalu ia beranjak menuju walk in closet untuk mengganti pakaian.


Tak lama Amira pun keluar dengan sudah memakai dress striped garis-garis dengan warna hitam campur putih, dress itu sedikit pendek sehingga menampilkan sebagian paha Amira.


Shaka yang melihat itu sontak membulatkan matanya.


“Hei ganti pakaian mu, aku tidak ingin Marsel melihat mu berpakaian terbuka seperti itu, hanya aku yang boleh melihat tubuh dan kecantikan mu,” ketus Shaka dengan wajah merengut.


“Baik lah,” Amira pun kembali masuk ke dalam walk in closet untuk mengganti pakaiannya.


Akhir nya Amira pun memilih dress di bawah lutut dengan lengan yang sedikit panjang, berwarna merah dengan motif stripe.


“Ayo,” ajak Amira setelah selesai ganti baju.


Shaka pun bangkit dari tempat duduk dan menggandeng tangan Amira menuruni anak tangga.


Kini mereka sudah berada dalam perjalanan, setelah menempuh beberapa puluh menit perjalanan, akhirnya tiba lah mereka di depan loby rumah sakit.


Saat itu Amira sudah membawa parcel buah di pangkuannya, karena sebelumnya mereka singgah di toko buah untuk di berikan pada Marsel, dan tentu saja itu atas permintaan Amira.


“Terima kasih sayang,” ucap Amira sembari tersenyum manis.


Mendengar kata sayang dari Amira, sontak membuat Shaka tersenyum lebar dan mendengus.


“Tumben,” celetuk Shaka sembari mengambil alih parcel buah itu.


“Memangnya kenapa kalau aku memanggil suami ku dengan sebutan sayang? Apa ada yang salah?” Tanya Amira sembari melingkarkan tangannya di lengan kokoh Shaka.


“Ah tidak, hanya saja aku terbiasa mendengar mu memanggilku Shaka Buwana, jadi saat mendengar mu memanggilku dengan sebutan sayang, membuat ku semakin gugup,” jawab Shaka sembari tersenyum.


“Ah kamu berlebihan sekali,” ucap Amira malu-malu sembari menyandarkan kepalanya di pundak nyaman Shaka.


Akhir nya mereka pun masuk, menelusuri beberapa koridor terbuka di rumah sakit itu menuju kamar di mana Marsel di rawat.


“Selamar siang, aku ingin menjenguk Marsel, apa bisa?” Tanya Shaka pada dua orang polisi yang berjaga di depan pintu ruangan itu.

__ADS_1


“Tuan muda Shaka Buwana, tentu saja bisa, silahkan tuan,” jawab salah satu polisi itu.


Amira dan Shaka pun masuk ke dalam ruangan kelas I itu, saat itu Marsel terlihat terbaring dengan mata nya yang terpejam, di tambah keadaan di pundak sebelahnya yang di perban, mata Amira berkaca-kaca melihat keadaan Marsel, ia pun melirik ke arah Shaka sejenak sebagai tanda, meminta izin untuk sedikit lebih dekat dengan Marsel, Shaka pun akhir nya mengangguk pelan.


Amira pun melangkah perlahan mendekati tempat tidur dimana Marsel terbaring lemah.


“Marsel,” ucap Amira pelan.


“Amira,” jawab Marsel yang begitu terkejut.


“Kau di sini?” Tanya Marsel berbinar dan spontan langsung meraih tangan Amira.


Hal itu sontak membuat Amira terkejut, hingga membuatnya memandangi tangannya yang di pegang oleh Marsel, begitu juga dengan Shaka, Shaka yang awalnya berdiri bersedekap dengan tenang di dekat pintu, kedua tangannya mengepal seperti sudah siap ingin kembali menghajar Marsel karena berani menyentuh tangan istrinya.


“Brengsek, ku hajar kau!” Batin Shaka yang mulai ingin melangkah.


Namun tiba-tiba Shaka teringat akan janji nya pada Amira, langkah nya pun terhenti, ia kembali memundurkan langkah nya dan berdiri dengan tenang.


“Aku tidak boleh emosi, aku harus bisa mengendalikan diriku,” gumam Shaka dalam hati.


“Amira, kau tidak apa-apa kan? Dewa tidak menembakmu kan?” Tanya Marsel yang nampak khawatir.


“A.. aku baik-baik saja Marsel,” jawab Amira sembari melepas perlahan genggaman tangan Marsel.


“Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah membaik? Maafkan aku baru bisa menjenguk sekarang,” tambah Amira lagi.


“Sudah membaik, tapi tulang rusuk ku katanya patah karena terkena peluru, makanya harus di rawat sedikit lebih lama lagi di sini,”


“Maafkan aku Marsel, karena aku kau jadi begini,” ucap Amira lesu.


“Aku yang seharusnya minta maaf sudah memiliki dendam padamu, aku sudah berlaku kasar padamu bahkan hampir saja membunuhmu, sekali lagi maafkan aku, beberapa kali menghabiskan waktu berbincang bersama denganmu membuat mata ku terbuka,”


“Semua sudah berlalu, tidak perlu merasa bersalah lagi,” jawab Amira membuat hati Marsel semakin merasa teduh.


“Terima kasih karena sudah memaafkan aku, aku berjanji akan menebus kesalahanku dengan menjalankan hukuman penjara sesuai dengan kesalahan yang aku perbuat,” ucap Marsel sembari mulai bangkit dari tidurnya.


“Aaagghh,” Marsel meringis kesakitan saat ingin duduk.


“Ah Amira, bisa kah kau membantu ku untuk bangun?” Tanya Marsel lirih.


Nampak nya Marsel tidak menyadari keberadaan Shaka di situ, Shaka yang berdiri pun akhirnya berdehem dan menghampiri mereka.


“Shaka Buwana,” ucap Marsel yang sontak menatap tajam ke arah Shaka.


“Hai Marsel, iya ini aku, biarkan aku yang membantu mu,” ucap Shaka sembari tersenyum dan membantu Marsel untuk duduk.


“Jadi kau datang ke sini bersamanya Amira?” Tanya Marsel seakan tak percaya.


“Iya aku, aku datang bersamanya,” jawab Amira dengan sedikit ragu.


“Apa kabar?” Tanya Shaka sembari tersenyum tenang dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


Namun Marsel hanya diam saja sembari mendengus kesal.


“Marsel, terima kasih karena kau sudah menyelamatkan istriku, tapi ku harap kau tak perlu bersikap berlebihan seperti tadi!” Tegas Shaka.


“Amira, kenapa kau kembali pada orang yang tidak mempercayaimu?” Tanya Marsel menatap sendu ke arah Amira.


Amira pun terdiam sejenak, ia memandang ke arah Shaka dan Marsel secara bergantian.


“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja karena Amira masih sangat mencintaiku, berhenti mengharapkan apa yang bukan menjadi milik mu Marsel, Amira adalah istriku dan selamanya ia akan tetap menjadi istriku,” tegas Shaka sembari menggenggam erat tangan Amira di depan Marsel.


Marsel pun hanya bisa mendengus dan tertunduk.


“Baiklah sebagai ucapan terima kasih karena kau sudah menyelamatkan istriku, aku akan mengurangi masa tahanan mu,”


“Benar kah?” Tanya Amira yang langsung menatap Shaka dengan tatapannya yang berbinar.


“Iya sayang,” jawab Shaka lembut sembari mengusap ujung kepala Amira.


“Ya tuhan, terima kasih sayang, kau dengar itu Marsel, masa tahanan mu akan berkurang, ku harap kau bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi dan segera menemukan tambatan hatimu,”


Mendengar itu Marsel hanya bisa tersenyum lirih sembari memegangi pundak nya yang terluka.


“Aku sudah menemukan tambatan hatiku Amira, yaitu kau, kau lah yang berhasil merubah hatiku yang selama ini terasa mati perlahan menjadi hidup kembali,” gumam Marsel.


Setelah merasa cukup, Shaka pun mengajak Amira untuk pulang, Amira pun akhirnya patuh, ia berpamitan dengan Marsel lalu pergi begitu saja bersama Shaka.


Marsel pun hanya bisa diam menahan rasa kecewanya sembari terus memandang nanar kepergian Amira.

__ADS_1


“Kau hanya sedang beruntung saja Shaka Buwana,” celetuk Marsel seorang diri kemudian mengutas senyuman tipis.


__ADS_2