Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 73 Yura dan Reza


__ADS_3

"Apa aku boleh bertanya?" Tanya Amira sembari tangannya membelai lembut dada bidang Shaka.


"Boleh sayang." Jawab Shaka sembari tersenyum.


"Apa kau sungguh tidak pernah melakukannya?" Tanya Amira kemudian menatap lekat ke arah Shaka.


"Melakukan apa?" Shaka pun mengerinyitkan dahinya.


"Melakukan hubungan suami istri seperti yang kita lakukan tadi."


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Shaka mendengus dan hanya tertawa ringan.


"Kau sungguh lihai saat melakukannya berbeda dengan ku yang masih begitu canggung." Jelas Amira.


"Hanya kamu satu-satu nya wanita yang pernah ku tiduri." Jawab Shaka tenang.


"Sungguh?" Amira nampak terkejut dan langsung mengangkat kepalanya menatap Shaka lebih dalam.


"Demi Allah, aku baru melakukannya denganmu, itulah sebabnya kenapa aku begitu kecanduan denganmu. Aku juga tidak tau kenapa aku jadi begitu liar saat melakukannya denganmu, mungkin karena aku terlalu mencintaimu." Shaka tersenyum dan mencium singkat bibir Amira.


"Kau sungguh tidak pernah melakukannya dengan Yura?" Amira masih saja mencoba menggalih informasi mengenai masa lalu Shaka.


"Pemikiran macam apa itu?" Shaka dengan jari telunjuknya menoyor pelan kepala Amira.


"Aku tidak pernah melakukannya meski pun itu dengan Yura, Yura tidak mencintaiku, dulu saat berpacaran denganku dia selalu menghindariku, saat itu juga aku masih anak remaja jadi aku tidak berani melakukannya saat masih sekolah." Tambah Shaka lagi.


Mendengar itu Amira hanya tersenyum cengengesan karena malu dengan pertanyaannya.


"Hanya kamu satu-satunya wanita yang pernah ku tiduri dan yang aku cintai saat ini dan selamanya." Shaka mulai merayu Amira dan kembali menciumi pundaknya yang tanpa lapis.


Amira pun akhirnya kembali tersenyum. Namun bibir Shaka kembali liar berkelana menjelajahi leher Amira.


"Stop!" Amira mendorong pelan tubuh Shaka.

__ADS_1


"Kita sudah dua kali melakukannya, apa masih kurang?" Tambah Amira lagi.


"Kamu lupa? Saat pertama kali kita bercinta bahkan sampai tiga kali." Shaka kembali menggoda Amira.


"Itu tidak termasuk hitungan, karena aku melakukannya tanpa sadar." Ucap Amira sembari beranjak dari tempat tidur menuju lemari pakaian dan memilih pakaian tidur lalu memakainya.


"Sayang, kenapa sudah pakai baju? Kita bahkan belum melakukan yang ke tiga kalinya." Ucap Shaka yang bersandar di kepala ranjang dengan keadaan yang masih sama, tanpa busana yang hanya di tutupi selimut sampai pinggangnya.


"Aku lapar, aku mau masak makanan dulu." Jawab Amira dan langsung beranjak.


"Baiklah, makan lah yang banyak dan siapkan tenagamu untuk pertempuran kita nanti." Ucap Shaka santai, ia kembali tersenyum menatap punggung Amira yang sudah jauh dari pandangannya.


Sisi Lain Villa..


Reza duduk di sebuah kursi yang terletak di samping ranjang Yura. Yura masih tak sadarkan diri.


Reza terus memandang sendu wajah Yura, karena keadaannya terlihat begitu memprihatinkan.


Tak lama mata Yura mulai terbuka, Reza langsung bereaksi saat melihat Yura mulai sadarkan diri.


"Reza, apa aku begitu lama pingsan? Maafkan aku sudah membuatmu menungguiku sampai larut begini." Ucap Yura dengan suara begitu lirih dan pelan.


Yura pun perlahan ingin berusaha bangkit, namun Reza dengan cepat mencegahnya.


"Jangan bangun dulu."


Yura pun kembali berbaring dan memandang nanar langit-langit kamarnya.


"Kenapa kau tidak membiarkan ku mati Reza, dengan begitu kau tidak perlu repot menjagaku seperti ini." Ucap Yura lirih.


"Kau tidak boleh berbicara seperti itu. Aku sama sekali tidak merasa repot, lagi pula aku berjanji, mulai sekarang aku akan menemanimu melewati fase terendah dalam hidupmu." Jelas Reza dengan begitu lembut, sembari meraih tangan Yura.


"Kenapa kau jadi begitu tenang sekarang? Kau sama sekali tidak sakit hati saat mengetahui wanita yang kau cintai sudah menikah dengan Shaka, sahabat dekatmu." Yura seakan tak percaya melihat sikap Reza.

__ADS_1


"Sebenarnya, aku sudah lama tau." Reza perlahan menunduk.


"Kau sudah tau? La.. lalu bagaimana bisa kau dan Amira bisa dekat?" Yura nampak terkejut.


Reza kembali menegakkan kepalanya dan mengembangkan senyumnya. Perlahan Reza pun mulai menjelaskan dari awal pertama dia bertemu Amira sampai dia tau Amira sudah menikah dan penyebab kenapa dia tetap mendekati Amira meski pun tau Amira sudah menikah.


"Dan, hanya aku yang baru tau? Kenapa kalian bersekongkol untuk menyembunyikan semua ini dariku?"


"Tidak begitu Yura, kau baru saja sembuh dari sakitmu jadi kami belum memberitahu mu dulu karena kami begitu khwatir dengan keadaanmu saat itu." Jawab Reza.


Yura pun hanya terdiam, ia kembali memandang sendu salah satu sudut ruangan.


"Yura, saat ini kita sama-sama merasakan patah hati, aku harap kamu bisa kuat untuk menghadapinya. Jika dalam benakmu kau bertanya kenapa aku dan Shaka sama-sama mencintai Amira, itu karena Amira adalah perempuan yang begitu tegar, ia bahkan sudah berkali-kali menghadapi berbagai cobaan yang paling berat dalam hidupnya, Amira bahkan pernah menghadapi situasi di mana dia pernah hamil dan di tinggal pergi oleh pacarnya yang tidak mau bertanggung jawab, ia bahkan sampai kehilangan anaknya saat ia baru saja melahirkan dan berbagai macam cobaan hidup pernah ia lalui. Dia bahkan banyak mengalami hal yang jauh lebih buruk dari pada kau Yura. Namun kegigihan dan ketegarannya itu yang membuat banyak lelaki menaruh simpati padanya." Jelas Reza secara terus terang.


"Aku bicara seperti ini, bukan ingin membandingkan kau dengan Amira, sama sekali tidak. Ucapan ku ini hanya sebagai acuan untukmu, agar kau bisa mencontoh ketegarannya. Aku ingin ke depannya, kita akan saling menguatkan." Reza tersenyum manis sembari perlahan meraih tangan Yura.


"Kau wanita yang cantik Yura, dari sudut mana pun kau tidak terlihat buruk. Hanya saja kau akan terlihat lebih sempurna lagi kalau kau berubah menjadi Yura yang kuat, yang tegar dan menganggumkan."


Dan aku bisa mencintaimu. Sambung Reza dalam hati.


Mendengar itu, Yura mulai menangis dan langsung mengulurkan tangannya ingin memeluk Reza. Reza pun bangkit dari duduknya dan memeluk Yura yang tengah terbaring.


"Terima kasih banyak Reza, kau sudah mau menemaniku di saat titik terendah dalam hidupku seperti ini, aku janji, aku akan menjadi Yura yang tegar dan kuat." Yura semakin mengeratkan pelukannya.


"Harus Yura, kau memang harus melakukannya." Reza tersenyum dan perlahan melepaskan pelukannya.


"Reza, apa Ayahku datang?" Tanya Yura kemudian.


"Iya, aku sudah menelepon tuan Handika dan dia sedang dalam perjalanan ke sini. Dia sangat mengkhawatirkan mu."


"Reza, apa kau mau berjanji padaku?"


"Iya, janji apa?"

__ADS_1


"Aku mohon, kau jangan menceritakan tentang apa yang terjadi antara aku dan Shaka di sini, aku tidak mau kalau sampai Ayah berfikiran buruk pada Shaka dan Amira. Jujur aku masih kecewa pada mereka berdua, namun tetap saja kejadian ini bukan sepenuhnya salah mereka juga." Ucap Yura sembari menggenggam tangan Reza.


"Iya aku janji, aku tidak akan menceritakan ini semua kepada Ayah mu." Akhirnya Reza dan Yura pun sepakat untuk tidak membahas itu pada Tuan Handika.


__ADS_2