Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 116 Sakit tak Berdarah


__ADS_3

Amira menepis bayangan yang tidak-tidak, tak mau berburuk sangka pada suaminya, ia tak mau suaminya terjerumus dalam lubang yang akan menghancurkan rumah tangga mereka.


“Buka pintunya Shaka!” Amira mengetuk pintu kamar lamanya yang kini di tempati Shaka.


Tak lama Shaka membuka pintunya dan berdiri di ambang pintu sembari tersenyum pada Amira.


“Ada apa?” Tanya Shaka yang sudah melepas jaketnya.


Amira langsung saja maju satu langkah dan mencium baju Shaka.


Amira tak hanya mencium parfum wanita tapi juga bau alkohol.


“Kau habis minum? Dengan siapa?” Tanya Amira menyelidik.


“Ternyata dari tadi dia memperhatikan aku,” batin Shaka.


“Dengan Viona Clara,” jawab Shaka jujur.


“Viona Clara? Viona Clara artis itu? Jadi dia punya teman artis,” gumam Amira dalam hati dengan jantung yang berdegup kencang, Amira sudah mulai merasakan sakit yang menjalar dalam hatinya, pernyataan Shaka yang tanpa beban itu membuatnya bak di sambar petir.


“Kenapa kau minum-minum dengan seorang wanita? Jadi sekarang kau mulai menjadi seorang lelaki yang melampiaskan amarah mu dengan minum bersama seorang wanita? Kau mulai menjadi lelaki yang seperti itu Shaka? Aku kasihan dengan calon anak ku dan keluarga besar Buwana, bagaimana kalau nenek tau, dan apa kata orang kalau seorang pemimpin perusahaan Buwana bebas keluar masuk club malam bersama seorang wanita?”


Amira menjeda ucapannya, menahan air mata yang hampir saja luruh.


“Aku mungkin bukan wanita yang baik dan sesuai harapan mu, terkadang aku tidak bisa menjelaskan apa yang membuat aku marah dan bersikap jutek padamu, seperti yang aku lakukan tadi, tapi kalau kau sudah tidak sanggup lagi, kau bisa mengambil langkah yang terbaik, apa pun keputusan mu aku siap,”


Amira hendak melangkah masuk ke kamarnya, namun langkahnya terhenti saat Shaka tiba-tiba memeluk tubuh nya dari belakang.


“Maaf, maaf, maaf,” Shaka mengucapkan kata maaf itu sampai tiga kali.


“Jika aku bersalah, aku minta maaf, mungkin aku berbuat salah yang membuat kamu bersikap jutek seperti tadi, aku yang bodoh karena tidak memahami mu, sekali lagi maaf kan aku, aku tidak sanggup kehilangan kamu, dan aku akan mengambil langkah yang terbaik, langkah terbaik itu adalah bersama mu selamanya,” cetus Shaka dengan lirih sembari terus merengkuh tubuh Amira, dan mencium aroma shampo pada rambut Amira, yang wangi nya menusuk rongga hidung Shaka.


Amira melepas dengan perlahan pelukan Shaka, dan masuk ke kamarnya meninggalkan Shaka yang masih berdiri mematung menatap kepergiannya.


Melihat punggung Amira yang hilang di balik pintu, beberapa detik kemudian Shaka pun memilih untuk kembali tidur di kamar mereka dan berbaring di samping Queen yang sudah tertidur lelap sembari menatap Amira yang tidur membelakanginya, dia semakin merasa bersalah pada istrinya itu, dia selalu meratapi kebodohannya yang selalu tidak bisa memahami Amira, tak lama Shaka mencoba memejamkan mata, melupakan sejenak kejadian tadi, kini mereka bertiga tidur bersama untuk yang pertama kalinya.


Keesokan harinya…


Amira mengumpulkan baju kotor Shaka yang ada di kamar mereka, sebelum di serahkan ke pelayan, menatap sang empu yang masih tertidur lelap sembari memeluk Queen yang juga masih terlelap.


Amira mulai memisah satu persatu baju Shaka, tanpa sengaja Amira melihat ada warna merah di jaket Shaka, hati nya berdenyut, dadanya kembang kempis mengingat suaminya memakai jaket itu saat keluar tadi malam.


“Aku harus tanya pada Shaka,” batin Amira.


Amira meletakkan jaket itu, saat melihat Queen yang berjalan dengan tertatih-tatih menghampirinya.


Amira pun menggandeng tangan Queen, membawanya ke meja makan dan menyuapi Queen dengan sabar.


Nenek Emely pun keluar dari kamar, menyaksikan Amira yang tengah meyuapi Queen, nenek tersenyum dengan wajah berbinar, ia menghampiri Queen dan Amira di meja makan.


“Nenek, ayo sarapan bersama,” ucap Amira sembari tersenyum ke arah nenek Emely.


Nenek Emely pun ikut bergabung bersama Amira dan Queen di meja makan, dengan duduk di samping kiri Queen.


“Halo anak manis, makan yang banyak ya,” ucap Emely sembari mengusap lembut kepala anak itu.

__ADS_1


Queen pun hanya tersenyum lebar menampilkan gigi nya yang baru tumbuh beberapa, melihat itu Emely semakin gemas dan mencubit pelan pipi gembul bayi itu.


“Mana suami mu Amira?” Tanya nenek saat menyadari tidak adanya keberadaan Shaka di situ.


“Shaka masih di dalam kamar nek, belum bangun, semalam dia pulang larut malam karena menolong temannya yang butuh bantuan, jadi aku tidak tega membangunkannya,” jawab Amira beralasan.


“Temannya yang mana?” Tanya nenek mulai mengerinyitkan dahi.


“Aku juga tidak sempat bertanya karena semalam aku tidur lebih awal,” Amira sedikit berbohong, sengaja menyembunyikan masalah mereka, takut nenek sampai kepikiran.


Shaka baru saja bangun, saat ini ia sudah keluar dari kamar mereka, dia melihat Amira, Queen dan nenek Emely sedang duduk menyantap sarapan pagi di meja makan, namun Shaka memilih tidak bergabung, sebelum mereka menyadari keberadaan Shaka, Shaka kembali naik ke kamar mereka dan berdiri di balkon kamar sembari menatap ke arah taman belakang.


Sarapan pagi berlangsung dengan damai, nenek Emely memilih duduk bersantai di taman belakang ditemani salah satu pelayan wanita, sedangkan Amira dan Queen naik ke atas untuk membereskan beberapa baju Queen yang di bawah dari rumah Reza dan Yura, karena Amira akan mengantar Queen pulang hari ini.


Saat masuk ke kamar, Amira mendapati Shaka yang sudah bangun dan tengah berdiri di balkon kamar mereka.


“Papa,” suara Queen membuyarkan lamunan Shaka.


Ia tersenyum, merentangkan tangannya memeluk Queen yang juga berlari ke arahnya.


“Sudah makan?” Tanya Shaka mencium lembut pipi Queen.


Queen mengangguk tanpa suara, sedangkan Amira hanya melirik sekilas lalu kembali fokus mengemasi baju-baju Queen.


Tak lama dering di ponsel Amira berbunyi, menampilkan nama Yura di layar ponselnya.


“Halo Ra,” jawab Amira setelah menempelkan benda pipih itu di telinganya.


“Mir, hari ini aku dan Reza berencana membawa Queen jalan-jalan, kamu dan Shaka ikut ya,” ucap Shaka dari seberang sana.


Amira melirik sejenak ke arah Shaka dengan keadaan ponsel yang masih menempel di telinga, lalu kembali menjawab permintaan Yura.


“Tidak usah Mir, kita ketemu saja di wahana tempat permainan anak, nanti aku share lok ya, jangan lupa kau harus datang bersama Shaka,” ucap Yura dan langsung mematikan sambungan telepon begitu saja.


“Tapi Ra…” belum sempat Amira menyelesaikan kalimatnya, panggilan telepon terputus.


Shaka yang melihat itu berjalan menghampiri Amira yang masih menggendong Queen.


“Ada apa sayang?”


“Yura mengajak kita berdua ke tempat permainan anak untuk membawa Queen bermain,” jawab Amira datar.


“Kamu pergi berdua saja dengan Queen, aku di rumah saja, kebetulan hari ini libur aku ingin memanfaatkan waktu ku untuk istirahat,” Shaka seakan mengerti perasaan Amira yang tidak nyaman bila harus pergi bersamanya.


Ternyata Queen mengerti percakapan mereka dan menatap Amira dan Shaka secara bergantian.


“Papa itut,” ucap Queen menatap Shaka.


“Queen pergi bersama mama Amira saja ya, di sana kan sudah ada papa Reza dan mama Yura juga,” bujuk Shaka dengan lembut berharap bocah itu akan mengerti.


Namun bukannya mengerti, Queen malah menangis mendengar Shaka yang tidak akan ikut, dia ingin Shaka dan Amira pergi bersama dia.


“Iya papa ikut, ayo pa siap-siap, mama dan Queen tunggu di bawah, jangan lama-lama ya,” ucap Amira sembari menatap Queen meyakinkan dia kalau papa Shaka nya akan ikut.


“Yeeeeee,” Queen berseru kegirangan.

__ADS_1


Akhirnya dia dan Amira menunggu Shaka di ruang tamu untuk pergi bersama.


Setelah sampai di tempat tujuan, Yura dan Reza sudah menunggu, Queen pun langsung berlari kecil ke area bermain, Yura dan Reza menyambut mereka dengan senyum senang, mereka bahagia bisa membahagiakan Queen bersama-sama.


Amira dan Shaka pun nampak serasi, mereka berusaha menutupi masalah mereka di depan orang lain, sekali pun itu sahabat mereka sendiri.


“Shaka,” suara cempreng dari belakang membuat Amira dan Shaka menoleh, begitu pun dengan Yura dan Reza yang juga ikut menoleh.


Seorang wanita cantik berlari kecil ke arah Shaka yang ada di depan pintu tempat bermain.


“Itu kan Viona, kenapa dia bisa ada di sini?” Gumam Yura dalam hati, lalu beralih menatap Reza, tidak hanya Shaka dan Yura, Reza pun mengenal Viona.


“Viona? Untuk apa dia di sini?” Gumam Shaka dalam hati.


Shaka pun terkejut hingga seluruh tubuhnya kaku bak patung hidup.


Shaka yang bengong pun tak sempat menghindar dari pelukan Shaka yang begitu mendadak.


Amira menggeleng, kedua matanya sudah digenangi cairan bening, sebuah pertanyaan belum sempat ia layangkan, ia malah mendapati sebuah fakta baru yang mencengangkan.


Yura dan Reza pun tak kalah terkejut saat Viona dengan berani nya memeluk Shaka di depan Amira.


Shaka mencekal tubuh Viona hingga tersentak ke belakang, mendekati Amira yang terus berjalan mundur.


“Amira, ini tidak seperti yang..”


“Cukup!” Pekik Amira mengangkat tangannya memberi tanda pada Shaka untuk diam.


“Sayang, aku bisa jelaskan,”


“Jangan sentuh aku,” Amira menepis tangan Shaka yang hampir menyentuhnya.


Viona menatap Shaka dan Amira secara bergantian, ia belum menyadari keberadaan Yura dan Reza di situ, dia tau Shaka sudah beristri, tapi dia tidak ingat betul wajah istrinya, bahkan saking fokusnya dengan Shaka, Viona sampai tidak memperhatikan perut Amira yang hamil besar.


“Shaka, ini siapa?” Tanya Viona.


Amira mengusap air matanya yang lolos membasahi pipi, lalu menatap Yura dan Reza.


“Maaf kak Reza, Yura, aku mau pulang, nanti bilang ke Queen kalau aku tidak bisa menemaninya,”


Amira menyerahkan tas milik Queen dan berlari ke luar.


Yura dan Reza pun mengambil Queen yang masih asyik bermain dan ikut menyusul Amira keluar.


“Itu kan Yura dan Reza,” batin Viona melihat ke arah mereka berdua.


“Amira,” teriak Shaka yang hampir saja melangkah namun Viona menarik tangannya dari belakang.


“Kamu mau ke mana Ka? Dia bukan siapa-siapa, tenang saja, aku bisa mencarikan pembantu seperti dia,”


Shaka menepis kasar tangan Viona, matanya pun berkaca mengingat kacaunya Amira tadi.


“Tutup mulutmu! Dia bukan pembantu, dia istriku, mulai sekarang jangan temui aku lagi!” Ketus Shaka meninggalkan Viona begitu saja.


Shaka menegaskan, sesakit apa pun hatinya karena sikap Amira, dia tetap Shaka Buwana, lelaki yang mencintai Amira tanpa celah.

__ADS_1


Shaka terus berjalan keluar, tak peduli dengan Viona yang terus memanggilnya.


“Jadi dia Amira Zavia, istri Shaka, kalau tidak salah lihat dia sedang hamil besar, aku sampai tidak terlalu memperhatikan saking bahagianya bertemu Shaka tadi, beruntung sakli dia,” Viona tersenyum menyeringai.


__ADS_2