Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 119 Kebenaran


__ADS_3

Sesampainya dari rumah Reza, dengan cepat Shaka turun dari mobilnya dan membantu membuka kan pintu mobil untuk istrinya.


Amira pun berjalan tanpa meraih tangan Shaka, bagaimana pun Amira tidak bisa langsung menunjukkan kebaikannya di depan Shaka setelah kejadian tadi pagi, ia pun perlahan turun, namun dengan cepat Shaka langsung menggendongnya, mata Amira membulat karena ia merasa malu pada pak Dody yang baru keluar untuk menyambut mereka.


“Hei Shaka, apa yang kau lakukan? Turunkan aku, aku masih bisa jalan sendiri,” ucap Amira yang terlihat panik.


“Tidak mau,” jawab Shaka dengan tenang dan mulai kembali melangkah dengan membawa Amira di gendongannya.


“Turunkan aku Shaka, ada pak Dody yang sedang memandangi kita,” ucap Amira yang terus menggoyang-goyangkan kakinya.


Shaka pun langsung melirik ke arah pak Dody, dengan segera Dody pun langsung menundukkan pandangannya karena takut Shaka akan memarahinya.


Shaka pun terus melangkah memasuki rumahnya, ia terus memandangi wajah Amira yang nampak mulai sedikit berisi dan membuatnya terlihat semakin cantik dan menggemaskan bagi Shaka.


“Dimana kita akan melakukannya kali ini sayang?” Bisik Shaka sembari memancarkan raut wajah genit.


Mendengar itu Amira hanya tersenyum sembari menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.


“Tidak bisa kah kamu tidak berfikir mesum saat bersamaku?”


“Tidak bisa, sama sekali tidak bisa,” jawab Shaka yang semakin tersenyum lebar.


Akhirnya Amira pun mulai menunjukkan senyumnya, hingga tanpa disadari nenek Emely yang sedang duduk bersantai di ruang keluarga kembali di buat tercengang saat memandangi Shaka yang menggendong Amira dan berbicara hal mesum padanya.


“Astaga, seganas itukah cucuku?” Tanya Emely sembari terus memegang secangkir teh di tangannya.


Shaka dan Amira pun kini tiba di kamar, dengan pelan Shaka menjatuhkan tubuh Amira di atas ranjang dan mulai menindihnya begitu saja.


“Kamu sungguh ingin melakukannya sekarang?” Tanya Amira sembari menahan bibir Shaka dengan jari telunjuknya yang hendak menciumnya.

__ADS_1


“Tentu saja, sejak semalam aku sudah menahannya,” jawab Shaka kemudian mulai menyingkirkan jari tangan Amira.


Shaka pun langsung melahap bibir Amira, ia ********** dengan begitu lembut dan penuh gairah, Amira pun akhirnya hanya bisa pasrah dan mulai membuka mulutnya, membiarkan lidah suaminya berpetualang di dalam mulutnya semaunya, merasa cukup lama saling ******* bibir masing-masing, akhirnya Shaka mulai beralih menuju leher Amira, tubuh Amira pun mulai di buat menggeliat saat tangan Shaka mulai liar menuju ke gundukan daging miliknya, Shaka dengan penuh gairah mengulum lembut gundukan daging milik Amira, hingga membuat Amira mendesah dan menggeliatkan badannya, kini Shaka dan Amira sama-sama polos tanpa sehelai benang pun, kini lantai pun mulai di penuhi oleh pakaian mereka.


Tangan Amira di buat *******-***** sprey ranjang saat Shaka mulai menggagahinya, akhirnya ******* panjang pun kini menggema, mereka berdua telah sampai pada puncaknya.


“I love you so much,” kini Shaka ambruk di tubuh Amira dengan nafas yang terengah-engah.


Di sisi lain rumah Amira…


“Kamu dari mana pa?” Tanya Riana menyambut suaminya yang baru saja pulang dari restoran.


“Tadi habis pulang kerja papa mampir sebentar di restoran untuk makan siang, perut papa sudah keroncongan, papa sudah tidak tahan akhirnya papa makan di restoran,” jawab Adi belum berani jujur soal pertemuannya yang tak di sengaja itu dengan Anisa.


“Ya sudah kalau begitu papa istirahat ya,” Adi pun mengangguk lalu beranjak ke kamarnya untuk istirahat, dia berfikir untuk menceritakan pertemuannya dengan Anisa nanti setelah istirahat sebentar.


Riana pun melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti karena kedatangan suaminya, ia kini tengah sibuk menyapu isi rumahnya.


Namun pada saat di buka, mata Riana sontak membulat melihat siapa yang datang.


“Untuk apa kamu ke sini?” Tanya Riana dengan ketus.


“Ada yang akan saya sampaikan, boleh saya masuk?” Tanya wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Anisa, ya ternyata dari restoran dia terus mengikuti Adi, sehingga dia bisa tau rumah Adi.


“Silahkan masuk,” ucap Riana memberi ruang untuk Anisa masuk ke dalam rumah.


Riana pun mempersilahkan Anisa duduk, setelah duduk Anisa mulai menyampaikan keperluannya ke sana.


“Jadi, saya datang ke sini meminta kamu untuk membujuk menantumu agar dia mau membebaskan suami saya,” Anisa memulai percakapan.

__ADS_1


“Suami kamu? Siapa suami kamu?” Tanya Riana mengerutkan dahinya.


Pasalnya Riana dan Adi memang belum tau siapa suami Anisa sebenarnya, mereka hanya tau Anisa sudah menikah tapi mereka belum tau kalau suami Anisa adalah Dewa.


“Dewa Atmadja,” jawab Anisa dengan masih memperlihatkan keangkuhannya.


“Oh jadi kau adalah istri dari penjahat itu? Dan kau juga adalah ibu dari anak pengecut yang sudah lari dari tanggung jawab setelah menghamili anak ku dulu?” Tanya Riana masih sulit melupakan kejahatan dan kebiadaban keluarga dari wanita yang ada di depannya sekarang.


“Iya, tapi anggap lah itu hukum tabur tuai, kau sudah merebut Adi dariku, jadi kau juga harus terima dengan semua musibah yang menimpa keluargamu,” jawab Anisa seolah menantang.


“Hukum tabur tuai katamu? Semua apa yang terjadi pada keluargaku, itu bukan masalah dari Tuhan, melainkan masalah yang kalian buat dengan sengaja,” Riana menjeda ucapannya sejenak.


“Jadi suami mu yang dulu sudah menipu suamiku? Keterlaluan, suamiku sudah berbaik hati mau menolong suami mu dan mempercayakan dia atas perusahaan suamiku, tapi apa balasan kalian, kalian malah menipu Adi dan merebut semua harta kekayaannya, dan sekarang kau meminta dengan angkuhnya bahkan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, agar aku mau membujuk menantuku untuk membebaskan suamimu? Jangan mimpi Anisa! Itu tidak akan terjadi, Dewa akan merasakan hukuman sesuai dengan apa yang sudah dia perbuat pada keluargaku selama ini!” Ucap Riana pelan, namun penuh penekanan.


“Lebih baik kau pergi dari sini dasar wanita tidak tau diri, jangan harap aku dan istriku akan membujuk Shaka agar bisa membebaskan suami kamu,” ketus Adi yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.


“Kalau kalian tidak membebaskan Dewa, lihat saja nanti apa yang akan saya perbuat pada anak kesayangan kalian dan juga cucu kalian yang masih berada dalam kandungan,” ancam Anisa pada Adi dan Riana.


Mendengar itu Adi mengepalkan tangannya, dia berjalan menghampiri Anisa dengan tatapan yang menusuk.


“Seujung kuku pun aku tidak akan membiarkan kau menyentuh putriku dan calon cucuku, berani kau lakukan itu, aku tidak akan segan-segan untuk membalasnya, tak peduli walau pun kau seorang perempuan, aku pastikan kau akan sengsara!” Adi balik mengancam Anisa sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah Anisa.


Mendapat perlakuan seperti itu dari Adi membuat hati Anisa teriris, bagaimana tidak, Adi yang dulu memperlakukannya bak seorang ratu, kini menatap dirinya bagaikan menatap seorang musuh bebuyutan, guratan kebencian terlihat jelas dari wajah Adi, membuat Anisa tak berkutik dan memilih hengkang dari rumah Adi saat itu juga.


“Pa, mama takut dia berbuat nekat pada Amira dan calon cucu kita, mama tidak mau kehilangan cucu untuk kedua kalinya,” sergah Riana setelah kepergian Anisa.


“Jangan takut ma, papa dan Shaka tidak akan membiarkan itu terjadi, mama lupa kalau Amira mempunyai suami yang hebat dan siaga, dia pasti bisa melindungi Amira, mama ingatkan, bahkan Shaka bisa menyelamatkan Amira dari belenggu kejahatan suaminya, apa lagi hanya dia,” Adi mencoba meyakinkan istrinya.


“Tapi rupanya Anisa masih mencintai papa, terbukti dari cara dia menatap papa, dia juga langsung ciut begitu papa yang angkat bicara,” imbuh Riana tampak sedikit cemburu.

__ADS_1


“Biar lah itu yang menjadi urusannya, itu hanya perasaannya saja, yang penting kan papa sudah tidak mencintainya, cinta papa hanya untuk mama seorang,” ucap Adi sembari mencubit pelan pipi Riana.


“Papa, malu ah sudah tua masih saja gombal,” sergah Riana dengan tersipu malu.


__ADS_2