Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 64 Bimbang


__ADS_3

Amira kini telah berdiri di balkon kamarnya sembari merenung memikirkan nasib rumah tangganya nanti. Namun tak lama ponsel Amira bergetar tanda pesan masuk.


Amira bisa kah kau turun ke bawah? Tanya seseorang melalui whatsapp.


Nomor siapa ini? Tanya Amira dalam hati sembari mengerutkan dahinya karena memang ia tidak tau nomor siapa yang mengirim pesan padanya.


Ini siapa? Tanya Amira tampak bingung.


Ini aku Genta.


"What? Astaga." Amira pun seketika panik sembari melirik ke arah kamar mandi karena saat ini Shaka sedang mandi dan bergegas turun ke bawa menemui Genta.


Amira pun berlari menuju gerbang yang jaraknya sangat jauh dari rumah itu dengan nafas terengah-engah. Sesampainya di depan gerbang ia langsung mendapati Genta tengah berdiri menungguinya di luar gerbang, Amira langsung berjalan mendekati Genta.


"Kamu ngapain ke sini?" Tanya Amira tampak emosi.


"Aku rindu Amira, aku ingin kita seperti dulu lagi, aku menyesal Amira, aku benar-benar menyesal." Ucap Genta sembari menatap lekat ke arah Amira.


"Kita udah selesai ya, jadi stop gangguin aku. Sekarang juga aku mau kamu pergi dari sini aku nggak mau suami aku sampe salah paham. Pergi Genta." Ketus Amira sembari mendorong pelan tubuh Genta.


"Baik Amira aku akan pergi kalau kamu menyetujui permintaan aku." Genta mencoba bernegosiasi.


"Permintaan apa lagi?" Tanya Amira tampak kesal.


"Aku mau sebentar malam kamu temui aku di restoran biasa."


"Apa? Nggak nggak aku nggak mau temuin kamu. Kita udah selesai Gen." Ketus Amira.


"Kalau begitu aku nggak akan pergi dari sini." Genta tetap saja ngeyel.


Amira pun terdiam sejenak sembari menatap tajam ke arah Genta.


"Mau kamu apa sih?" Tanya Amira mulai emosi.


"Kamu jawab aja iya atau nggak?"


"Oke oke, tapi itu terakhir kali aku mau ketemu kamu, mengerti?" Tegas Amira sembari berlalu pergi meninggalkan Genta.


"Aku tunggu jam 7 malam ya." Teriak Genta sembari tersenyum puas.

__ADS_1


Amira yang mendengar itu tidak menggubris dan terus berjalan meninggalkan Genta.


Sementara dari kejauhan tampak seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu Genta melihat Genta bersama dengan Amira, dia tampak emosi melihat Genta bertemu lagi dengan Amira bagaimana tidak ibu Genta tidak menyetujui hubungan Genta dengan Amira itulah sebabnya dia dan suaminya membawa Genta pergi menjauh dari Amira ketika tau Amira hamil anak Genta.


Amira berjalan menuju taman, dan duduk di salah satu kursi yang ada di taman itu. Dia duduk dan terdiam sembari memikirkan bagaimana caranya dia menemui Genta nanti. Dia berniat ingin menemui Genta sekaligus mengingatkan agar Genta tidak menemuinya lagi.


Pokoknya ini terakhir Genta menemui aku, lagian maunya apa sih, di saat aku membutuhkan dia, dia pergi begitu saja meninggalkan aku dan sekarang di saat aku sudah bahagia dan menemukan tambatan hati aku dia malah kembali dan mengganggu hidupku lagi. Amira terus bergumam dalam hati dengan raut wajah yang tampak masam.


Tak lama Shaka pun muncul dan langsung duduk di samping Amira. Shaka melihat ke arah Amira dan mengerutkan dahinya melihat ekspresi Amira yang diam dengan tatapan kosong.


"Amira." Shaka mencoba membuyarkan lamunan Amira. Namun Amira sama sekali tak bergeming.


Shaka pun semakin bingung dan memegang pundak Amira. Merasa pundaknya di sentuh Amira sontak terkejut dan refleks menepis kasar tangan Shaka.


"Ada apa denganmu?" Tanya Shaka tampak bingung sembari mengerutkan dahinya.


"Ma.. maaf aku pikir kamu siapa, aku sampai kaget." Ucap Amira sedikit gelagapan.


"Kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Shaka bingung dengan sikap Amira.


"Ah tidak."


"Lalu apa?" Tanya Shaka semakin bingung.


"Bukan kah seharusnya ekspresimu bahagia ketika melihat bunga? Ini kenapa terlihat sedih begitu?"


"Memangnya ekspresi ku harus bagaimana? Kenapa hanya karena ekspresi saja kau begitu mempermasalahkannya?" Tanya Amira tampak kesal.


"Ah tidak aku hanya bertanya, yah sudah aku tidak akan bertanya lagi." Ucap Shaka sembari memegang tengkuknya. Entah kenapa sekarang Shaka begitu takut kalau Amira marah dia lebih banyak mengalah jika Amira sudah memelotinya seperti itu.


Kini waktu menunjukkan pukul 18.00 Amira pun siap-siap untuk menemui Genta. Amira mengenakan celana kulot 3/4 berwarna peach dan di padukan dengan tanktop dan vest warna putih sebagai luaran dan high heels membuat penampilan Amira terlihat minimalis namun classy. Amira berjalan cepat untuk segera keluar dan menemui Genta sebelum Shaka selesai rapat besar di kantor dan mengusahakan untuk pulang terlebih dahulu sebelum Shaka pulang.


Kini Amira sudah berada di luar gerbang rumahnya dan sedang menunggui taksi. Tak lama taksi pun datang, Amira begegas naik dan menyuruh supir untuk segera melajukan mobilnya. Beberapa menit kemudian kini Amira sudah sampai di restorant di mana Genta sudah menungguinya. Amira masuk ke dalam restorant tersebut dan di sambut hangat oleh Genta.


"Akhirnya kau datang juga Mir, aku sangat merindukanmu." Ucap Genta hendak memeluk Amira namun Amira mundur selangkah untuk menghindari Genta.


"Jangan berlebihan aku sudah bersuami." Tegas Amira lagi.


"Yah sudah, ayo duduk." Genta menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Amira untuk duduk.

__ADS_1


Amira pun duduk sembari memandang Genta dengan tatapan datar.


"Langsung saja, apa yang akan kau bicarakan?" Tanya Amira tak ingin membuang-buang waktu.


"Jangan terlalu jutek seperti itu, santai saja jangan terlalu terburu-buru. Kita pesan makanan dulu kamu mau makan apa?" Tanya Genta sembari tersenyum manis ke arah Amira.


"Minum saja." Jawab Amira singkat.


"Yah sudah sebentar ya."


Genta pun memanggil salah satu pelayan pria yang ada di restorant itu dan segera memesan makanannya dan minuman untuk Amira.


"Oh ya Mir, lihat restorant ini sudah banyak berubah ya padahal baru juga setahun aku pergi." Ucap Genta mencoba mencairkan suasana.


"Jelas lah banyak perubahannya, setahun itu bukan waktu yang singkat kamu pergi meninggalkan kota ini. Jadi wajar saja jika semua yang ada di kota ini banyak berubah tidak mungkin terus-terusan seperti dulu." Ucap Amira sedikit menyindir Genta.


Mendengar itu, Genta hanya tersenyum tipis dan tampak kikuk.


"Emmm Mir, apa sudah tidak ada cinta lagi di hatimu untuk aku?" Tanya Genta yang kini sudah tidak mau basa basi lagi.


"Tidak!!"


"Apa secepat itu kah kamu melupakan aku Amira? Kamu tau, selama aku di sana aku tidak pernah terfikir untuk menjalin hubungan apa lagi sampai menikah dengan wanita lain. Walau pun di sana ada Safa yang terus menerus berusaha untuk mengambil hati aku tapi aku tidak terpengaruh sama sekali Amira, aku hanya memikirkan kamu, aku tidak bisa melupakan kamu Mir." Jelas Genta mencoba meyakinkan Amira.


"Dan asal kamu tau aku pergi bukan karena keinginan aku saja tapi aku pergi dengan niat akan melanjutkan cita-cita aku agar aku punya masa depan yang cerah untuk bisa menghidupi dan membahagiakan kamu dan anak kita itu rencana aku Amira. Bahkan aku berencana, setelah aku wisudah dan memimpin perusahaan papa, aku akan pulang ke Indonesia dan kembali padamu Amira. Tapi apa yang ku lihat sekarang, setelah aku pulang sebentar karena libur di kampus, kamu malah sudah menikah dengan laki-laki lain kamu tidak menunggu aku Amira." Tambah Genta lagi.


"Rencana? Kamu berencana sebesar itu, tapi kamu tidak pernah sama sekali bicara terus terang padaku, kamu malah pergi begitu saja tanpa memberiku kabar. Bahkan kamu juga sudah memblokir nomor telepon, whatsapp dan semua sosial mediaku. Bagaimana aku bisa menunggu? Aku tidak mungkin menunggu orang yang jelas-jelas sudah pergi meninggalkan aku. Andai kamu memberi kabar dan terus terang tentang semua rencanamu maka aku akan tetap menunggu kamu. Tapi apa? Setahun berlalu baru sekarang kamu muncul di hadapan aku!! Di saat aku melewati kesulitan-kesulitan dalam hidup aku, di mana kamu saat itu?" Ucap Amira pelan namun penuh penekanan.


"Aku tanya di mana kamu?" Kini suara Amira sedikit meninggi.


"Kamu malah menyalahkan aku menikah dengan orang lain? Wajar aku menikah aku hamil di luar nikah dan saat itu ada laki-laki yang mau dengan sukarela mempertanggung jawabkan kesalahan yang tidak di perbuatnya sama sekali. Bahkan bisa di bilang, dia bertanggung jawab atas kesalahan yang kamu perbuat!! Kamu bukan pergi demi kebaikan aku dan anakku saat itu, tapi kamu cuma mau lari!!" Tegas Amira yang kini memandang Genta dengan tatapan tajam.


"Kalau kamu mengajak aku bertemu di sini hanya untuk membicarakan hal ini. Lebih baik aku pulang. Buang-buang waktu saja." Ucap Amira sembari beranjak dari duduknya.


"Amira tunggu!!" Genta segera menarik pergelangan tangan Amira namun dengan cepat Amira menepisnya.


"Dan satu hal lagi. Jangan pernah kamu menemui aku lagi, aku sudah tidak mencintai mu lagi!! Karena saat ini hatiku sudah milik suamiku seutuhnya." Tegas Amira lalu pergi meninggalkan Genta begitu saja.


Genta hanya terdiam sembari memandangi punggung Amira yang sudah menjauh dari pandangannya. Kini matanya berkaca-kaca dan sontak mengepalkan tangannya. Ia begitu frustasi dan menyesal yang sedalam-dalamnya atas apa yang dia perbuat terhadap Amira dulu. Cintanya untuk Amira masih begitu besar tapi dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena kini Amira sudah menutup hati sepenuhnya untuk Genta.

__ADS_1


Amira terus berjalan dan tanpa sadar air matanya menetes. Kini dia sudah semakin membenci Genta karena Genta malah menyalahkannya atas semua kekacauan yang sudah Genta buat sendiri. Amira duduk sejenak di halte, sembari memikirkan kata-kata Genta mengenai rencananya yang akan kembali pada Amira. Sedikit terbersit dalam hati Amira rasa penyesalan kenapa dulu Genta tidak terus terang padanya, kenapa Genta baru mengatakannya setelah semuanya sudah terlambat. Namun Amira segera menepis rasa penyesalannya itu, dia pun semakin menangis ketika mengingat pernikahan yang dia banggakan di depan Genta hanyalah pernikahan kontrak, dia tidak tau bagaimana masa depan pernikahannya itu.


Walaupun kini Shaka sudah mencintainya tapi dia masih tetap bimbang mengingat masa lalu Shaka kembali lagi di kehidupan mereka saat ini. Dia begitu takut jika nanti Shaka kembali pada Yura dan meninggalkannya, mengingat bahwa dulu Shaka sangat mencintai Yura, cintanya untuk Yura begitu besar sehingga dia berfikir tidak menutup kemungkinan kalau suatu saat pasti cinta itu akan tumbuh lagi di hati Shaka, apa lagi Shaka sampai menemui Yura tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Kini Amira semakin bimbang dan meragukan Shaka.


__ADS_2