Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 100 Shaka Menjemput Amira


__ADS_3

Green Light Hospital…


Kini jam telah menunjukkan 19.00 malam, Shaka duduk termenung di kursi tunggu ruang IGD dengan perasaan yang begitu kalut, tak lama Kevin dan Salsa pun ikut duduk di sampingnya.


“Tenang Ka, dokter terbaik sudah di kerahkan untuk menangani nenek Emely, jadi kau tak usah cemas dan banyak lah berdoa dari pada memikirkan yang tidak-tidak,” ucap Kevin sembari menepuk pundak Shaka.


Shaka hanya diam dan hanya mengusap wajahnya sendiri dengan kedua tangannya, tak lama dokter yang menangani nenek Emely pun keluar dari bilik penanganan.


“Bagaimana?” Tanya Shaka yang langsung bangkit dari duduknya.


“Nyonya Emely mengalami heart attack atau serangan jantung akibat terlalu syok atau terlalu frustasi,” jelas Dokter secara tenang.


“Lalu bagaimana keadaannya sekarang?”


“Nyonya Emely masih belum sadarkan diri tapi saya dan tim sudah melakukan penanganan utama, dan kini denyut jantungnya sudah kembali stabil,”


“Ah syukurlah,” Shaka pun kini bisa bernafas sedikit lega.


Kevin pun tersenyum dan menepuk pundak Shaka lagi.


“Tapi saran saya, ada baiknya nyonya Emely dirawat inap selama beberapa hari ini, untuk mengantisipasi adanya serangan susulan,”


“Baik Dokter tidak masalah, tolong siapkan kamar VVIP untuk nenek ku,” jawab Shaka dengan tenang.


“Baik tuan muda,”


Dokter pun akhirnya undur diri, tak menunggu lama nenek Emely pun dipindah kan ke bangsal VVIP agar bisa beristirahat lebih tenang dan nyaman.


Shaka pun dengan raut wajah sendu duduk di sisi dimana nenek terbaring lemah, ia perlahan meraih sebelah tangan nenek nya dan menempelkan tangan itu di pipinya.


“Nek, sadarlah, aku minta maaf atas segala kekacauan yang telah aku ciptakan ini nek, maaf nek, maafkan aku karena masih menjadi orang yang begitu emosian dan tak pikir panjang,” ucap Shaka lirih dengan mata yang kembali mulai berkaca-kaca.


“Aku janji, akan membawanya pulang ke rumah nek, dan aku janji akan merubah sifat buruk ku ini, tapi tolong nenek sadar lah, aku tidak siap jika harus kehilangan nenek,” Shaka pun mulai menciumi punggung tangan nenek nya dengan penuh penghayatan.


Keesokan harinya…


Hari ini Amira mulai menjalani hari-harinya di rumah orang tuanya, bebas dari jeratan Dewa dan Marsel seakan membuat jiwanya seakan ikut bebas, namun di sisi lain, ada perasaan sedih saat teringat Marsel yang rela berkorban demi keselamatannya.


“Marsel, bagaimana keadaannya sekarang? Apakah ia berhasil selamat? Ya tuhan semoga saja dia bisa selamat agar dia bisa berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi,” doa Amira pagi itu.


Pagi itu, Amira berdiri di teras rumahnya sembari menghirup udara segar dengan secangkir teh hangat yang ia pegang, kabut-kabut masih terlihat jelas, embun pagi yang membasahi tanaman di sekitarnya ikut menambah rasa sejuk di pagi itu.


Sisi lain di Green Light Hospital…


Shaka nampaknya begitu setia menemani sang nenek yang masih terbaring tak sadarkan diri, dengan selang oksigen yang menerobos masuk ke rongga hidung, nafas Emely nampak sesekali masih terengah.


Shaka benar-benar tak ingin berpaling sedetik pun, sampai ia bisa memastikan neneknya tersadar, hingga akhirnya, perlahan jari jemari nenek Emely mulai bergerak, Shaka yang saat itu terduduk lesu, langsung di buat terkejut dan ia pun langsung meraih tangan sang nenek dan mengusap kepalanya.


“Nenek, ayo sadarlah,” ucap Shaka pelan.


Mata nenek Emely kemudian perlahan mulai terbuka, Shaka pun semakin di buat bersemangat dan terus mengusap ujung kepala neneknya.


“Nenek, ah syukurlah, nenek sudah mulai sadar,” mata Shaka kembali berkaca-kaca.

__ADS_1


Shaka pun memanggil Dokter dengan menekan tombol yang ada di dinding samping ranjang nenek Emely.


Tangan Emely yang masih terlihat sangat lemas mulai bergerak ke arah pipi Shaka dan mengusapnya pelan.


“A… Amira,” ucap Emely dengan terbata-bata dan dengan suara yang begitu pelan.


“Iya nek, aku berjanji Amira akan cepat kembali ke rumah kita,” jawab Shaka dengan lembut.


“Ba… bawa dia pu… pulang se…sekarang ju…juga,” Emely nampaknya masih begitu sulit untuk berbicara.


Tak lama Dokter dan suster pun datang, dan langsung memeriksa keadaan nenek Emely, mulai dari denyut jantung hingga denyut nadi.


“Syukurlah nyonya sudah sadar, setelah mengalami koma kurang dari 24 jam,” ucap Dokter.


“Kondisi nyomya Emely masih begitu lemas, ada baiknya nyonya Emely di beri asupan makanan terlebih dulu,”


“Tapi apa kondisi nenek saya sudah baik-baik saja sekarang?” Tanya Shaka yang mulai bangkit dari duduknya.


“Itu tergantung tingkat syok dan stres yang beliau alami, jika stres nya masih berlanjut, bisa jadi serangan jantung seperti ini akan terus terjadi berulang-ulang, maka dari itu, saran saya hindari hal yang membuat nyonya Emely stres,” jelas Dokter dengan begitu tenang.


Shaka pun terdiam dan mengangguk.


“Baiklah tuan muda, saya sudah menyuruh suster untuk mengantarkan makanan untuk nyonya Emely, setelah makan, saya akan kembali untuk memeriksanya,” Dokter itu pun tersenyum kemudian berlalu pergi.


“Ba…bawa A…Amira,” ucap Emely lagi.


Shaka pun jadi begitu bingung untuk hal yang harus ia lakukan saat ini.


“Seperti nya aku harus ke rumah orang tua Amira sekarang juga,” gumam Shaka dalam hati.


Tak menunggu lama, Kevin pun datang untuk menjaga nenek Emely.


“Tolong jaga nenek di sini ya, aku akan menjemput istriku,” ucap Shaka sembari menepuk pundak Kevin kemudian berlalu pergi.


Shaka dengan begitu cepat langsung mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Amira sore itu juga, keadaan tubuh yang sebenarnya masih kurang fit akibat perkelahiannya kemarin pun tidak ia pikirkan saat ini, meski tubuh nya masih lemas, itu tidak menjadi penghalang bagi nya dalam memperjuangkan kembali cinta Amira.


Tak lama kemudian, berhentilah mobil di pekarangan rumah Amira.


Dengan membawa wajahnya yang mulai pucat, ia pun akhirnya turun dari mobil sembari memandangi ke arah rumah Amira.


Namun tatapan Shaka sontak langsung berpindah saat mendengar suara di halaman samping rumah Amira, ia pun perlahan melangkah menuju taman halaman samping rumah Amira.


Shaka mendapati Amira yang saat itu sedang sibuk menggunting rumput di samping rumahnya.


Shaka pun langsung menghampiri Amira dan mengambil alih alat penggunting rumput yang sedang ia pegang.


“Kenapa masih beraktivitas seperti ini di sore menjelang malam ini?” Ucap Shaka pelan.


Amira pun begitu terkejut, ia sontak terperangah saat menyadari Shaka yang kini berada di hadapannya.


“Shaka Buwana,” ucap Amira lirih.


Shaka menghempaskan alat gunting rumput itu ke sisi sebelah kirinya, lalu dengan perlahan ia mulai memangkas jarak di antara mereka, hingga kini Amira dan Shaka pun kembali berdiri berhadapan dan saling memandang satu sama lain.

__ADS_1


Namun, beberapa saat saling memandang, dahi Amira mulai mengkerut saat melihat wajah Shaka yang tidak seperti biasanya, saat itu bibirnya terlihat kering dan pucat, begitu pun dengan matanya yang sayu di tambah dengan kantung matanya yang terlihat jelas.


“Shaka, wajahmu pucat sekali,” ucap Amira lirih.


Namun alih-alih menjawab, Shaka pun langsung menarik tubuh Amira dan memeluknya dengan begitu erat.


“Kembali lah sayang, aku mohon kembali lah,” ucap Shaka yang tak kalah lirih.


Mata Amira kembali membulat, ditambah dengan air matanya yang menetes begitu saja, saat itu ingin sekali rasanya ia membalas pelukan hangat dari Shaka, karena jika mengandalkan perasaan, Amira pun tak kalah merindukan Shaka.


Namun lagi-lagi, rasa sakit hati itu kembali muncul hingga membuat Amira kian meragu untuk kembali padanya, tambah lagi mengingat Shaka yang sudah sering menuduhnya tanpa mendengar penjelasan dari Amira.


Amira pun kembali menghapus air matanya, lalu melepaskan tautan tubuh mereka dengan perlahan.


“Jika kau sedang sakit, kenapa harus memaksakan diri untuk datang ke sini? Pulang lah, aku juga mau masuk dan beristirahat,” ucap Amira yang ingin beranjak.


“Bukan aku yang sakit,” Shaka dengan cepat menahan tangan Amira, agar tidak pergi.


“Tapi nenek lah yang sedang sakit,” tambahnya kemudian.


“Nenek?” Tanya Amira yang kembali menatap Shaka dengan tampang yang begitu serius.


“Iya, nenek mengalami serangan jantung saat tau kamu tidak ingin lagi pulang ke rumah, dia mengalami koma selama 24 jam, dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit, ia baru sadar beberapa jam yang lalu, ketika dia sadar, dia langsung menyebut namamu,” jelas Shaka sembari mulai menunduk.


Amira begitu terkejut sontak menutup mulutnya, air matanya menetes dengan deras seakan tak percaya bisa sefatal itu.


“Amira, bukan hanya aku yang hancur saat kamu tidak ada, tapi nenek juga, bahkan setelah kau pergi dari rumah malam itu, nenek juga pergi dari rumah meninggalkan aku sendirian karena saking marahnya padaku, ia begitu merindukanmu dan mengharapkan kepulangan mu, aku mohon maafkan aku, kembali lah,” Shaka memohon dengan begitu memelas sembari meraih kedua tangan Amira.


Sungguh sikap seperti itu sangat jauh berbeda dengan Shaka yang banyak di kenal orang, bahkan kali ini Shaka di buat begitu memelas.


Namun Amira masih terdiam dengan air mata yang masih bercucuran deras.


Hingga akhirnya, tiba-tiba saja Shaka merendahkan tubuhnya di hadapan Amira, dia mulai berlutut dan meminta maaf pada istrinya itu.


“Aku mohon maafkan aku, ini murni kesalahanku yang sempat meragukanmu, tolong maafkan aku, hidup ku sangat berantakan saat kamu tidak ada di sisiku, aku hidup tapi seakan mati,”


“Jangan seperti ini Shaka Buwana, aku mohon berdirilah,” Amira pun segera memegang kedua lengan Shaka, untuk menyuruhnya kembali berdiri.


“Tidak, biarkan seperti ini jika itu bisa membuatmu memaafkan aku dan bersedia kembali, aku akan melakukan apapun, apapun asalkan kamu mau kembali, tolong pikirkan nenek yang begitu sedih memikirkan mu,” bujuk Shaka.


“Baiklah aku akan kembali, sekarang berdirilah,” Amira kembali mencoba untuk mengangkat kedua lengan Shaka.


“Kamu serius? Kamu akan kembali?” Shaka langsung sumringah, hingga susah baginya untuk percaya begitu saja dengan jawaban Amira, yang keluar dari mulut Amira.


“Iya aku akan kembali, tapi untuk nenek,” jawab Amira yang kembali datar.


Meski sedikit sedih, tapi ia bersyukur dan perlahan ia pun mulai bangkit dan meraih kedua pipi Amira.


“Tidak apa jika kamu masih belum bisa memaafkan aku, aku akan lebih berusaha lagi ke depannya hingga kamu bisa memaafkan aku, dengan kamu bersedia kembali saja, itu sudah lebih dari cukup untuk ku saat ini,” Shaka dengan sebuah senyuman manis pun menarik tangan Amira untuk membawanya masuk ke rumah Amira.


“Tunggu,” Amira kembali menghentikan langkahnya.


“Kenapa?” Shaka pun kembali menatap Amira.

__ADS_1


“Kau mau ke mana?”


“Ke dalam rumah, kita harus pamit kepada orang tuamu, dan lagi pula aku mau menyampaikan permintaan maafku pada mereka karena sudah tega mengusir putri sematang wayang mereka malam itu,” jawab Shaka dengan begitu bersemangat.


__ADS_2