
2 minggu kemudian…
“Sudah siap Gen?” Tanya Anisa.
Pria itu mengangguk pelan.
Rencananya mereka semua akan langsung ke gedung pernikahan, karena tidak ingin terjebak macet.
Saat Genta sudah hadir di tengah-tengah mereka, semua menyadari, ada ketegangan di paras calon pengantin pria itu.
Ketika pengantin pria sedang menuju gedung pernikahan, sang pengantin wanita kini menunggu di ruang khusus.
Sejak tadi ia sangat cemas, rasa haru dan bahagia kini menyelimuti hati Safa, dia tidak menyangka bisa menikah dengan pria yang begitu ia cintai selama ini, di depan cermin ia menatap wajahnya yang begitu cantik dengan make up natural membuat wajah Safa semakin terlihat manis.
“Genta, aku berjanji, tidak akan menjadi wanita yang jahat lagi, aku akan berubah dan mencoba menerima anakmu Queen Edelenyi seperti anakku juga,” gumam Safa dalam hati dengan tatapan sendunya.
Safa melirik jam dinding, tinggal 10 menit lagi ia akan turun ke bawah untuk melaksanakan akad nikah bersama pria pujaan hatinya, mendadak rasa gugup menyeruak ke dalam hatinya, Safa jadi di buat gelisah.
Namun di tengah rasa gelisah yang mendera, pintu terbuka, Safa lantas menoleh.
“Papa,” panggil Safa.
Pria dengan kerutan di dahi itu, nampak tersenyum haru menatap putrinya yang akan menikah hari ini.
Pria itu mendekati Safa, dan menepuk pelan pundak Safa.
“Selamat sayang, semoga pernikahan mu langgeng sampai tua, papa ikut senang, perjuangan cintamu selama ini tidak sia-sia, akhirnya Genta mau menikahimu, papa harap kamu bisa menjadi istri yang terbaik untuk Genta, dan begitu pun sebaliknya, semoga Genta bisa menjadi suami yang terbaik untukmu, menjaga dan melindungimu sebagaimana papa menjaga dan melindungimu selama ini,” ujar papanya.
“Terima kasih atas doanya pa,”
Pembicaraan keduanya terusik saat seseorang masuk.
“Pengantin pria sudah tiba nona, mari siap-siap,” ucap wanita yang baru masuk tersebut, ia akan mengarahkan Safa dari awal acara sampai selesai.
“Papa keluar duluan ya,” pamit papanya, sembari mengecup dahi putri semata wayangnya itu.
Safa mengangguk kemudian berdiri, sedangkan wanita yang masuk barusan merapikan penampilan Safa, sang pengantin wanita yang cantik jelita.
__ADS_1
Di tempat yang lain, di ruang akad, dengan dada yang berdebar, Genta duduk di depan penghulu.
Dari arah belakang, Safa melangkah pelan mendekat ke arahnya, saat calon istri duduk di sebelahnya, makin berdebar lah jantung Genta, tak bisa di pungkiri, hari ini Safa terlihat sangat cantik, Genta semakin di buat tercengang, apa lagi Safa sudah berjanji padanya untuk berubah menjadi lebih baik lagi, aura positif dalam dirinya semakin terpancar.
Sedangkan Safa sendiri terlihat sama tegangnya, sama seperti Genta Atmadja, jantung Safa sudah deg-degan tak karuan, ini adalah moment yang sangat mendebarkan bagi kedua calon pengantin.
Para tamu undangan sudah hadir semua termasuk Shaka dan Amira yang tak lupa juga di undang dalam acara akad nikah tersebut.
“Sudah siap? Kita mulai ya,” pak penghulu menatap kedua calon mempelai.
Detik berikutnya, Genta dan papanya Safa saling berjabat tangan, ikrar suci itu pun akan segera di ucapkan oleh pengantin pria.
“Saudara Genta Atmadja bin Dewa Atmadja, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, dengan anak saya bernama Safa Alfahri, dengan mas kawin berupa emas seberat seratus gram, dibayar tunai!”
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Safa Alfahri, binti Adji Alfahri dengan mas kawin tersebut, tunai!”
Seketika itu, kata SAH menggema di seluruh ruangan.
Genta memejamkan mata sejenak, ada rasa syukur ketika ia sudah selesai mengucap ijab tersebut, dalam hatinya kini berkata, semoga ini pilihan terbaiknya dia tidak akan main-main dengan pernikahan ini, meski hatinya belum sepenuhnya milik Safa, namun ia akan berusaha untuk memberikan seluruh hatinya itu untuk wanita yang baru saja sah ia halalkan.
Di sampingnya, Safa juga merasa haru yang luar biasa, bila boleh menangis, ia ingin menangis sepuasnya, tapi takut maskaranya luntur dan make up nya hancur, Safa menahan matanya yang sudah terasa amat perih.
“Selamat ya Fa atas pernikahan kalian, aku doa kan semoga pernikahan kalian langgeng dunia akhirat,” ujar Amira sembari mengulurkan tangannya menyalami Safa.
Safa terdiam sejenak menatap Amira dengan mata yang sudah berkaca-kaca, bukannya menyambut uluran tangan Amira, Safa tanpa aba-aba memeluk Amira begitu saja.
“Maafkan aku Amira, maafkan aku, selama ini aku sudah begitu jahat padamu, aku benar-benar menyesal, hukuman penjara yang kau jatuhkan padaku dulu, sudah cukup membuat ku sadar akan hal bejat yang aku lakukan padamu selama ini, sekali lagi maafkan aku Amira,” ucap Safa lirih dengan air mata yang membanjiri pipinya, ia sudah tak peduli lagi dengan maskara dan make up yang ia pakai, yang ia inginkan saat ini hanyalah maaf dari Amira.
“Iya Safa, aku sudah memaafkan mu, bahkan jauh sebelum kau meminta maaf, sudah sudah jangan menangis terus, nanti make up mu luntur,” canda Amira sembari mengusap lembut punggung Safa.
Safa pun mengusap air matanya dan melonggarkan pelukannya, ia menatap Amira dan tersenyum namun buliran bening itu tetap saja luruh membasahi wajahnya yang masih tetap terlihat cantik meski menangis, dia tidak menyadari kalau make up nya ternyata waterproof.
“Terima kasih ya Amira, kamu sudah bersedia memaafkan aku,” ujar Safa kemudian beralih menatap Shaka yang sedang berdiri dengan tenang di samping Amira, dengan sebelah tangan di masukkan ke saku celana.
“Kak Shaka, ma…maafkan aku ju..juga,” ucap Safa dengan terbata-bata.
“Iya,” jawab Genta singkat.
__ADS_1
Amira pun beralih menatap Genta yang tanpa Safa sadari, ia sedang berdiri menatap hangat pada Amira, yah itu tatapan cinta dari Genta, bagaimana tidak, bahkan sampai detik ini Genta belum sepenuhnya melupakan Amira, namun dia harus mencobanya, Genta pun lantas merubah pandangan matanya menjadi biasa saja saat memandang Amira, sementara Shaka yang menyadari itu, sontak langsung menyalami Genta mendahului istrinya.
“Saya dan atas nama istri saya memberi selamat kepadamu, semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan,” ucap Shaka sembari merangkul pundak Amira.
Amira yang menyadari itu hanya tersenyum tak habis pikir pada suami posesifnya itu, dia sampai tak rela Amira bersentuhan tangan dengan mantan kekasihnya itu, meski hanya sekedar berjabat tangan.
“Terima kasih banyak Shaka, terima kasih banyak Amira,” jawab Genta membalas jabatan tangan dari Shaka.
Tak lama, Amira dan Shaka pun berlalu dari hadapan Safa dan Genta, ketika mereka mulai berjalan meninggalkan gedung pernikahan itu, langkah Amira terhenti melihat pria dan wanita yang sedang berjalan bergandengan tangan, mereka belum menyadari keberadaan Shaka dan Amira, mereka pun terus melangkah melewati Shaka dan Amira begitu saja.
“Kenapa sayang?” Tanya Shaka ikut melihat arah tatapan mata istrinya, seolah mengerti dengan tatapan Amira, Shaka pun memanggil pria itu.
“Kevin,”
Langkah keduanya terhenti, Kevin dan Salsa sama-sama melirik ke arah sumber suara, setelah melihat siapa yang memanggilnya, Kevin pun membalikkan badannya.
“Eh kalian, sudah mau pulang? Kami baru saja datang,” tutur Kevin sembari tersenyum salting menataap Shaka dan Amira secara bergantian.
“Sayang, aku rasa setelah Safa dan Genta, setelah ini ada yang akan segera menyusul,” canda Amira menatap sahabatnya itu lalu tersenyum.
“Mir, udah deh,” tukas Salsa dengan tersenyum malu.
“Kevin, jangan lama-lama, nanti di ambil orang, kalau sudah di ambil orang, entar kamu jadi jomblo akut lagi, sudah tua, sudah waktunya menikah,” ledek Shaka pada asisten sekaligus sahabatnya itu.
“Maunya sih begitu, tapi masih menunggu moment yang pas untuk bicara pada Reza, aku tidak tau apakah Reza mau merestuinya atau tidak, tapi yang jelas aku akan meyakinkan dia, kalau aku lah yang pantas bersanding dengan adiknya,” ujar Kevin sembari merangkul mesra pundak Salsa.
“Kak Kevin, malu di lihat orang,” ucap Salsa lalu menurunkan tangan Kevin dari pundaknya.
“Ciee ada yang malu-malu, biasa aja lah, nanti aku dan Shaka bantu deh ngomong sama Yura dan Kak Reza, kalian tenang saja,” ucap Amira kemudian.
“Benarkah?” Tanya Kevin dengan wajah sumringah.
“Iya, tapi jangan macam-macam dulu, awas kau!” Gertak Shaka di sela-sela candaan mereka.
“Kenapa kamu yang mengatur-ngatur? Siapa sih kakak Salsa sebenarnya? Kamu atau Reza,” jawab Kevin dengan kesal.
“Sama saja kak Kevin, aku dan Shaka akan melindungi Salsa dari kak Kevin selagi kalian belum menikah, jadi cepat nikahi Salsa,”
__ADS_1
“Baik nona muda,” ujar Kevin menirukan gaya ala asisten yang sebenarnya pada Amira, lalu kemudian di sambut tawa oleh Amira dan juga Salsa.