Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 102 Bersama-sama Menjaga Nenek di Rumah Sakit


__ADS_3

“Nenek tidur lah, aku akan menginap di sini untuk menemani nenek,” Amira mengusap punggung tangan Emely sebelum beralih ke sofa.


“Jadi kau akan menginap di sini?” Tanya Riana yang sudah berdiri di samping Amira sembari mengusap pundak Amira.


“Iya ma, malam sudah mulai larut sebaiknya mama dan papa tidur lah di rumah, biar Amira di sini menjaga nenek,” ucap Amira balas mengusap pundak mamanya.


“Papa juga mau menginap di sini untuk menjaga mama Emely,” ucap Adi yang saat ini sedang duduk di tepi ranjang Emely sembari mengusap pelan kaki Emely.


“Tidak usah pa, biar mama saja yang menginap di sini menjaga mama Emely, papa kan baru sembuh, nanti papa masuk angin lagi gimana, sudah papa pulang saja ya,” kata Riana kemudian, mengingat suaminya baru sembuh setelah beberapa hari lalu sempat jatuh sakit.


“Ma..” namun Riana segera menimpali, sebelum Adi meneruskan ucapannya.


“Pa, sudah lah tidak apa-apa, biar mama, Amira dan Shaka di sini,”


“Iya pa, sebaiknya papa tidur di rumah saja ya, Amira tidak mau melihat papa sakit,” ucap Amira yang menatap ke arah papa nya lalu mulai beralih menatap Shaka dengan tatapannya yang begitu datar, Shaka yang saat itu juga menatap Amira sungguh menyadari kalau Amira nampaknya takkan nyaman jika harus tidur di sofa, apa lagi dalam keadaan hamil muda.


“Sebaiknya aku saja yang menginap di sini, tidur di sofa mungkin bisa membuat kalian sedikit tidak nyaman, mama dan Amira sebaiknya pulang dan tidur dengan nyaman di rumah saja, aku akan menelepon pak Ardi untuk menjemput kalian,” ucap Shaka sembari meraih ponsel dari sakunya.


“Tidak, aku akan tetap menginap di sini,” jawab Amira dengan datar.


“Ya sudah kalau begitu papa saja yang pulang deh, kalian jaga mama Emely baik-baik ya, dan kalian juga jangan sampai sakit apa lagi kau Amira, kau sedang mengandung kau harus tidur yang cukup,” ujar Adi yang kini mulai beralih mendekati Emely dan mengusap ujung kepala Emely yang saat ini sudah tertidur.


“Mama cepat sembuh ya,” ucap Adi sebelum beranjak keluar dari ruangan VVIP itu.


Ia pun pamit pada Riana, Amira dan Shaka kemudian berlalu pergi, menyisakan nenek, Riana, Amira dan Shaka di ruangan itu.


Saat ini Amira berusaha menegarkan hatinya untuk tetap bersikap cuek pada Shaka, karena dia masih ingin memberi pelajaran pada Shaka agar kali ini ia benar-benar jera dan bisa berubah menjadi orang yang tidak muda berasumsi lagi, meski dalam hati Amira begitu meronta ingin memeluk Shaka, karena ia begitu merindukan suaminya itu.


Di kamar itu hanya ada dua sofa panjang yang tersedia, selebihnya ada beberapa kursi yang akan tidak nyaman jika digunakan untuk tidur, di kamar VVIP itu juga sudah tersedia selimut tebal, namun selimut itu juga hanya dua, begitu juga dengan bantalnya.


Amira pun mengeluarkan selimut dan bantal itu di dalam lemari, lalu memberikan satu pada Riana, Riana pun menerimanya dan mulai menempatkan bantalnya di sofa, ia mulai berbaring sembari menyelimuti tubuhnya sendiri, begitu juga dengan Amira, sementara Shaka hanya terduduk dengan tangannya yang mulai bersedekap.


Mencoba untuk tidak peduli, Amira pun memilih untuk menutup matanya untuk tidur, tak butuh waktu lama, Amira dan mamanya akhirnya tertidur, begitu pula dengan Shaka, ia tak bisa berbuat banyak selain berusaha untuk ikut tidur meski dalam keadaan duduk.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 dini hari, Amira tersentak dari tidurnya karena ingin buang air kecil, sehabis dari toilet, Amira pun melirik ke arah Shaka yang terlihat sedang tertidur, ia tidur dalam keadaan duduk dengan tangannya yang masih bersedekap di dada, wajahnya memucat dengan tubuhnya yang semakin terlihat jelas sedang menggigil kedinginan.


Melihat itu, hati Amira pun di buat jadi tak tega, Amira pun memutuskan untuk menghampiri Shaka, perlahan demi perlahan ia memapah tubuh bidang Shaka lalu berusaha sekuat tenaga untuk memindahkannya ke sofa, saat itu Shaka sama sekali tidak tersentak, sesekali ia hanya bergumam tak jelas, setelah berhasil membaringkan suaminya di sofa, ia pun menyelimutinya hingga menutupi bahu.

__ADS_1


“Dasar sok kuat, sudah tau sakit masih saja memaksakan diri menginap di sini,” ketus Amira sembari kembali berdiri.


Kini gantian Amira yang mengambil posisi Shaka, ia duduk di kursi, tatapannya masih begitu lekat memandangi suaminya yang sedang tidur, Amira pun tersenyum tipis memandanginya.


Pagi hari di Green Light Hospital…


Sekitar pukul 06.30, Shaka bangun dari tidurnya dengan perasaan yang heran, ia memandangi selimut yang menutupi badannya hingga ke sekujur tubuh.


“Kenapa aku bisa ada di sini?” Tanya Shaka pelan.


Shaka merasakan tubuhnya yang semakin sakit ketika bangun, tulang-tulangnya terasa ngilu saat digerakkan, ia melihat ke segala arah dan tidak ada Amira maupun ibu mertuanya disana, yang ada hanya Emely yang saat itu masih tertidur.


Dengan matanya yang begitu sayu dan wajahnya yang pucat, Shaka berusaha bangkit untuk mencari keberadaan Amira.


Baru saja Shaka hendak bangkit, Amira sudah keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang sudah basah, Shaka terus memandangi Amira, melihat rambutnya yang basah membuat jiwa kelelakian Shaka meronta-ronta.


“Singkirkan pandanganmu itu dariku!” Ucap Amira datar tanpa melirik ke arah Shaka.


Shaka pun langsung tersadar dan hanya mendengus.


“Mama mana?” Tanya Shaka kemudian.


“Lalu kenapa aku tiba-tiba ada di sini? Apa kau yang memindahkan aku?” Tanya Shaka lagi.


“Kau yang berjalan sendiri ke sofa itu dalam keadaan tidur dan merebut selimut ku, karena aku tidak ingin berdebat dengan orang yang tidur, jadi aku mengalah saja,” jawab Amira dengan tenang sembari mengusap rambutnya dengan handuk.


“Apa kali ini aku harus percaya juga?” Tanya Shaka sembari mendengus saat mendengar jawaban ngibul dari Amira.


“Terserah padamu, jika tidak percaya juga tidak apa-apa, aku sudah terbiasa untuk hal itu,” ucap Amira lagi.


Shaka seketika di buat terdiam, sikap Amira sungguh cuek bahkan terlihat ketus padanya, namun hal itu sama sekali tak membuatnya marah atau geram, ia sadar dan sangat bisa menerima perubahan sikap Amira sebagai balasan untuknya.


Waktu bergulir sangat cepat, dengan sudah menunjuk ke angka 07.00 pagi, Dokter pun datang memeriksa nenek Emely dan membawakan sarapan pagi untuknya.


“Selamat pagi semua,” sapa dokter.


“Pagi dokter,” jawab Amira sembari tersenyum tipis.

__ADS_1


Dokter pun ikut tersenyum dan mulai memeriksa nenek Emely yang juga kebetulan baru saja bangun.


“Bagaimana istirahat anda nyonya? apakah nyenyak?” Tanya dokter dengan ramah, sembari mulai menempelkan stetoskop di dada dan perut Emely.


“Sangat nyenyak dokter, aku merasa jauh lebih baik saat bangun hari ini,” jawab Emely.


“Syukurlah, raut wajah anda juga tampak ceria hari ini,”


“Tentu saja dokter,” Emely pun tersenyum.


“Baiklah nyonya, nampaknya sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, jika anda mau anda bisa pulang hari ini juga, tapi jika anda masih ingin di rawat secara intensif di sini juga akan lebih baik,”


“Tidak, terima kasih dokter, saya justru ingin pulang ke rumah,” jawab Emely.


“Baiklah, saya hanya perlu meresepkan beberapa obat, untuk anda minum satu minggu ke depan,”


Dokter pun akhirnya pamit untuk pergi, namun tiba-tiba Amira menahan kepergian dokter sejenak.


“Maaf dokter, bisakah anda memeriksanya juga?” Ucap Amira sembari menunjuk ke arah Shaka.


Shaka pun terkejut, begitu pun dengan Emely yang langsung melirik ke arah Shaka.


“Ah dokter, tidak perlu di periksa, aku baik-baik saja,” ucap Shaka dengan wajah tegang.


“Periksalah dokter, wajahnya begitu pucat,” ucap Amira dengan datar.


“Baik tuan muda, sepertinya anda memang sedang sakit, terlihat dari wajah anda yang tampak tidak baik-baik saja,” dokter pun berjalan menghampiri Shaka.


Dokter pun menyarankan Shaka untuk berbaring agar lebih memudahkan untuk di periksa, awalnya Shaka menolak, namun Amira dengan tegas menyuruh Shaka menuruti apa yang di katakan oleh dokter, akhirnya Shaka pun tak bisa berkutik, ia hanya pasrah dan menurut.


“Ada terdapat beberapa memar di bahu anda, mungkin inilah sebabnya anda mengalami demam tinggi, apa anda berkelahi atau semacamnya?” Tanya dokter memastikan.


“Iya, sekitar 3 hari yang lalu dia berkelahi,” jawab Amira mewakili.


“Nah ini nampaknya seperti mendapat tekanan yang cukup keras, karena di pukul atau di tunjang, itulah sebabnya sampai memar, untung saja bukan di area dada atau perut, jika iya, mungkin akan lebih fatal nantinya,” jelas dokter.


Shaka pun hanya terdiam, sementara Amira dalam hatinya sangat merasa cemas pada suaminya, namun dia berusaha untuk tetap terlihat tenang.

__ADS_1


“Kalau begitu, saya juga perlu meresepkan beberapa obat untuk anda,”


Shaka pun hanya mengangguk pelan, lalu dokter akhirnya pamit undur diri.


__ADS_2