
Shaka mengangkat tubuh lemah Amira dan membaringkannya di tempat pembaringan, membelai pipi istrinya itu dengan lembut lalu merapikan rambut yang menutupi keningnya.
“Kita pulang ya, aku janji tidak akan berhubungan dengan wanita mana pun termasuk Viona,”
Amira menggeleng.
“Aku bukan wanita yang pantas untuk kamu, lebih baik kamu cari perempuan lain saja,” Amira tetap kekeh dengan pendiriannya.
“Dasar keras kepala,” gerutu Shaka.
Shaka melepas sepatu dan ikut berbaring di samping Amira.
“Aku tidak akan mencari perempuan lain karena kamu sudah menjeratku hingga jatuh ke dasar jurang cinta yang terdalam,”
Memiringkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh sang istri.
“Tidurlah aku akan menemani kamu,” ucap Shaka lirih dan memejamkan mata lebih dulu, mengurai beban yang seharian ini menyelimuti nya.
Hingga beberapa menit napas Amira mulai teratur membuat Shaka membuka mata, senyum mengembang di bibir pria itu saat menatap wajah teduh Amira yang sesekali masih terisak.
“Aku terlalu bodoh karena tidak mengerti kamu, mulai hari ini aku tidak akan mengulanginya lagi, kamu dan calon anak kita terlalu berharga bagiku, jangan tinggalkan aku,” gumam Shaka dalam hati sembari mengusap lembut perut buncit Amira.
Shaka mencium kening Amira dengan lembut dan lama hingga dering ponsel membuat Shaka mengakhiri adegannya.
Shaka segera merogoh ponselnya yang ada di saku celana, sekilas melihat nama yang tertera dan mengangkatnya dengan malas.
“Maaf Viona, sepertinya kita tidak usah bertemu lagi, aku tidak ingin membuat istriku salah paham,” Shaka langsung mematikan teleponnya hingga membuat wanita yang di seberang sana emosi.
“Aku tidak akan membiarkan perempuan itu memilikimu Shaka, kita lihat saja, siapa yang akan menang, dia hanya perempuan miskin yang menjadi parasit di kehidupanmu,”
Viona tersenyum menyeringai, memasang bendera perang dengan Amira yang jelas-jelas menjadi istri sah Shaka.
Shaka melihat jam yang melingkar di tangannya, ternyata sudah 3 jam mereka berada di kamar Salsa.
Tanpa di sadari Shaka, Amira berdiri di belakangnya dan bersandar di jendela kaca yang menghubungkan ruangan itu dan balkon yang ada di kamar Salsa.
__ADS_1
“Shaka,” panggil Amira pada Shaka yang sedang berdiri membelakanginya.
Shaka pun sontak membalikkan badannya, dan menatap Amira, menghampirinya dan mengecup lembut kening Amira.
“Apa aku mengganggumu?” Tanya Shaka lembut.
Amira menunduk lalu menggeleng tanpa suara.
“Kita pulang yuk,” Shaka menggenggam kedua tangan Amira.
Amira menatap lekat ke arah suaminya, kali ini ia akan melawan rasa takut yang terus mengendap di dadanya, mulai menerima kenyataan kalau suaminya diperebutkan hampir setiap kaum hawa.
“Aku mau pulang, tapi dengan syarat,”
“Apa?”
“Jangan temui Viona lagi, jangan ke club, jangan keluar malam, jangan berhubungan dengan perempuan yang bukan mahram, siapapun itu, jangan pernah berbohong atau menutupi apapun yang kamu lakukan di belakang aku,”
Shaka mengangguk cepat, meski syarat itu terdengar bertubi-tubi, tapi Shaka sama sekali tidak keberatan.
“Terima kasih karena sudah menjaga Amira dan membawa nya ke sini saat pikirannya tadi kacau, maaf sudah merepotkan kalian, sekarang saya pamit membawa Amira pulang ke rumah,” ucap Shaka kepada mereka bertiga.
“Tak perlu sungkan, kita kan sahabat dan sudah seperti keluarga, ingat ya Ka, hati-hati, banyak wanita yang menggilaimu, jaga rumah tangga kalian dengan baik, jangan sampai berpisah hanya karena salah paham,” pesan Reza pada Shaka.
Mendengar itu kali ini Amira yang merasa bersalah karena dia lah yang sudah salah paham pada Shaka, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa tau membedakan kesalahan murni Shaka dan fitnah yang dibuat oleh orang yang dengan sengaja mau merusak rumah tangga mereka.
Di sebuah restoran…
Anisa kini sedang duduk di restoran untuk makan siang sendirian, dia sedang merenung memikirkan keadaan suaminya yang masih berada di dalam penjara, ia sedang memikirkan cara untuk membebaskan suaminya.
Setelah merenung sejenak, Anisa mengedarkan pandangannya di tiap sudut ruangan itu, hingga tak sengaja pandangannya terhenti pada satu orang yang berada di pojok meja sedang menyantap makan siang dengan serius.
Melihat lelaki paruh baya itu bayangan masa lalu Anisa tiba-tiba saja lewat membuat Anisa teringat dengan kisah cinta mereka dulu sebelum dia menikah dengan Dewa Atmadja, namun tiba-tiba saja dia menepis bayangan itu ketika mengingat pria itu meninggalkan nya demi menikahi wanita lain, kobaran api cemburu kini menyelimuti hatinya, dengan langkah gontai ia berjalan menghampiri pria itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Adi Wijaya ayah Amira.
“Adi,” suara seorang wanita mengalihkan perhatian Adi yang tadinya fokus makan mendadak menghentikan makannya.
__ADS_1
Adi sangat terkejut dengan keberadaan Anisa di hadapannya.
Adi dan Anisa adalah mantan kekasih, dulu mereka saling mencintai dan menjalin hubungan yang serius, Adi berencana akan menikahi Anisa, namun pada saat dia akan melamar Anisa, tiba-tiba saja ia mendapat kiriman amplop coklat dari seseorang yang terletak di depan pintu rumahnya.
Adi membuka amplop coklat itu dan melihat beberapa lembar foto Anisa dan juga laki-laki lain yang sedang berciuman, saling merangkul dan masih banyak lagi kemesraan mereka yang lainnya, pada saat itu Adi tidak bisa dengan jelas melihat lelaki bersama Anisa yang ada di foto itu, namun Adi tidak peduli dengan lelaki itu, siapa pun lelaki itu, yang jelas saat ini Anisa sudah mengkhianati cintanya.
Adi pun membatalkan pernikahan mereka secara sepihak, dan memilih menerima wanita yang sudah di jodohkan orang tuanya dengan nya.
Mengetahui pernikahan Adi, Anisa begitu sakit hati, tanpa menjelaskan apa pun padanya Adi meninggalkan dia begitu saja, sampai saat ini dia berfikir kalau Adi yang bersalah, dia mengira kalau hubungannya dengan Dewa Atamdja waktu itu tidak di ketahui Adi, sehingga dia beranggapan kalau Adi yang sudah meninggalkannya demi wanita lain.
Karena sakit hatinya itu, Anisa akhirnya menerima lamaran Dewa, awal pernikahan hubungan mereka baik-baik saja, namun setelah Anisa melahirkan Genta, Dewa Atmadja berubah menjadi sosok yang begitu keras dan tempramen, penyeselan pun kian menyelimuti hati Anisa, dia menyesal sudah menikahi pria yang tempramen dan kasar seperti Dewa, meski pun sekali waktu Dewa akan bersikap lembut padanya, namun itu hanya berlangsung sebentar, setelah itu Dewa akan kembali tempramen dan menyakitinya, itulah yang membuat Anisa masih menyimpan cinta untuk Adi, namun di samping itu dia juga sakit hati karena Adi sudah menyakitinya.
Menurut Anisa, Adi masih menyimpan hutang penjelasan padanya, Anisa masih menuntut penjelasan Adi, kenapa dulu Adi meninggalkan nya dan memilih Riana ibu Amira.
“Kenapa kau muncul lagi di kehidupanku?” Tanya Adi datar, sembari berdiri dari duduknya, kini mereka berhadap-hadapan.
“Kau masih punya hutang penjelasan padaku Adi,” jawab Anisa menatap tajam ke arah Adi.
“Hutang penjelasan apa?” Adi mengerinyitkan dahi.
“Penjelasan kenapa kau meninggalkan aku demi menikahi wanita itu,”
“Hahaha, itu sudah berlalu, untuk apa di ungkit lagi,” Adi tertawa meledek, dia mengira Anisa masih saja sok polos dan membelah dirinya yang jelas-jelas sudah salah.
“Kenapa kamu tertawa? Aku butuh penjelasan dari mu,”
“Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?” Tanya Anisa menatap lekat mata Adi.
“Cinta? Hahahaha, sepertinya kau sedang bermimpi sekarang,” Adi tertawa lebar meledek Anisa.
“Dengar! Cinta ku padamu sudah hilang bersamaan dengan pengkhianatan mu padaku dulu, tidak usah sok polos dan merasa tersakiti, kau pikir aku tidak tau hubungan mu dengan pria lain? Apa perlu aku menunjukkan bukti foto mesra mu dengan laki-laki itu sedang berciuman di sebuah club,” Adi menjeda ucapannya.
“Lagi pula aku sudah beristri, aku sangat mencintai istriku, cinta ku padanya melebihi cinta ku padamu dulu, jadi jangan harap kalau aku masih menyimpan cinta untukmu, tidak ada yang mau menikahi wanita pengkhianat sepertimu!” Tegas Adi lalu pergi meninggalkan Anisa yang masih berdiri mematung, menatap kepergiannya.
Bak di sambar petir, Anisa menyadari kesalahannya, ternyata Adi sudah tau perselingkuhannya bersama Dewa dulu, tiba-tiba saja penyesalan kembali menyelimuti hati Anisa, dia begitu rapuh, hubungannya dengan Dewa tidak berjalan mulus, Dewa masuk penjara, sepertinya itu karma untuknya karena sudah mengkhianati laki-laki yang sudah sangat mencintainya dengan tulus.
__ADS_1
Berbeda dengan Anisa, rumah tangga Adi dan Riana justru berjalan sangat harmonis, tiba-tiba saja tangan Anisa mengepal, sekelabat rasa iri menghunus jantungnya, terlebih mengingat perlakuan putri dan menantu Adi yang sudah memenjarakan suaminya, Anisa nampaknya tidak jera dengan hukuman yang dilayangkan Shaka pada suaminya, namanya juga punya penyakit hati, sampai kapan pun dia akan terus merasa benar meski pun dia menyadari kesalahannya.