
Shaka belum putus asa, ia kembali menyusuri berbagai sudut jalanan kota, demi mencari Amira, namun setelah berjam-jam menempuh perjalanan, hasilnya tetap nihil.
Tak lama tubuh Shaka pun mulai melemas, mengingat dia belum makan apapun sejak semalam.
Shaka pun memilih untuk kembali ke rumahnya, bukan untuk makan melainkan ia lebih memilih merenung di kamarnya, kali ini Shaka benar-benar di buat menyesal.
Tak terasa waktu begitu cepat beranjak menjadi malam, kini waktu pun sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, tak lama suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Shaka, namun bukannya membuka pintu, Shaka malah terdiam dan kembali mengosongkan tatapannya.
*Tok tok tok*
Suara ketukan pintu kedua pun terdengar dan semakin terlihat jelas.
“Ka,” tak lama terdengar suara Kevin memanggil.
Kevin sengaja menyusul Shaka ke rumahnya, karena khawatir dengan keadaan Shaka yang sedang frustasi, apalagi saat ini dia hanya sendirian di temani para pelayan yang tentunya juga takut jika menghampirinya, karena saat ini Shaka benar-benar tidak ingin di ganggu, mereka tau betul sifat tuan muda mereka itu, kalau sedang frustasi lalu di ganggu dia akan semakin mengamuk.
Mendengar suara panggilan Kevin, Shaka masih belum bergeming.
“Shaka Buwana,” panggil Kevin lagi.
“Ini sudah waktunya makan, ayo makan dulu Ka,”
Akhirnya Shaka melirik ke arah pintu.
“Kalau kau tak ingin makan, maka kau akan lemas dan sakit, kalau badanmu lemas kau tidak bisa fokus mencari Amira,” ucap Kevin lagi.
Akhirnya Shaka pun mulai bangkit dari duduknya, ia melangkah perlahan menuju pintu hingga akhirnya ia membuka pintu dengan membawa wajah lesunya, tanpa berkata apapun, Shaka langsung memeluk Kevin sembari menangis.
“Aku harus bagaimana sekarang Vin? Aku sungguh menyesal,” Shaka berkata begitu lirih dengan air mata yang mulai mengalir begitu saja.
“Aku sungguh mencintainya, aku tidak bisa jauh darinya,” tambahnya lagi jadi semakin menangis tersedu-sedu.
Sementara Emely yang melihat Shaka dari rekaman cctv yang ada di layar ponselnya, menjadi sedih, ini pertama kalinya Emely melihat Shaka menangis seperti itu, terakhir ia melihat Shaka menangis tersedu-sedu saat orang tuanya meninggal dunia.
Saat ini Emely tidak sedang berada di Amerika, Emely sedang berada di Villa keluarga Buwana, Emely sengaja berkata bohong pada Shaka agar Shaka tidak menyusulnya dan menjemputnya pulang.
Akhirnya Emely memutuskan untuk pulang besok, dia jadi tak tega melihat cucunya menderita sendirian seperti itu.
“Jika kau mencintainya, kenapa kau tidak bisa mempercayainya?” Tanya Kevin.
“Saking aku mencintanya lah yang membuat emosiku jadi meledak-ledak saat melihatnya bersama lelaki lain, aku sungguh tidak bisa melihat itu, aku tidak rela melihat ada lelaki lain menyentuhnya,” jawab Shaka.
“Jadi apa itu benar? Apa dia sungguh mengkhianatimu?”
“Aku tidak tau pasti, yang jelas saat ini aku ingin Amira kembali, benar tidaknya biarlah itu menjadi urusan belakangan,” Shaka pun mulai menghapus air matanya dan perlahan mulai melepaskan pelukannya dari Kevin.
“Kau tenanglah Ka, aku yakin Amira wanita yang bisa menjaga kehormatannya, pasti dia mempunyai alasan kenapa itu bisa terjadi, yang terpenting sekarang selain usaha, kita harus banyak berdoa agar Amira cepat kembali,” jelas Kevin menenangkan Shaka.
Shaka pun mengangguk lesu, akhirnya Kevin memaksa Shaka untuk makan.
Shaka pun bersedia untuk makan malam, Shaka pun banyak diam dan menyantap makanan dengan begitu pelan, bagaimana tidak, meski lapar dan merasa lemas, namun nafsu makannya benar-benar hilang, hingga berbagai makanan enak pun sama sekali tak berhasil membuat Shaka berselera.
Sisi lain di Cassino…
Amira dengan tatapan sendu terduduk memeluk kedua dengkulnya di atas ranjang, matanya terus menatap nanar ke arah jendela kamar yang masih terbuka, angin malam yang cukup kencang dari lantai 3 itu cukup menyejukkannya, membuat gorden tipis yang menutupinya terus berkibar-kibar menyentuh sesekali kulit wajahnya.
Tak lama seorang wanita paru baya dengan didampingi seorang penjaga masuk ke kamar Amira, Amira terkejut dan langsung melirik ke arah pintu, terlihat wanita itu membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman, sementara seorang penjaga yang berbadan tegap itu, terlihat membawa gaun yang tergantung di hanger.
“Jadi kau yang bernama Amira?” Tanya wanita paru baya itu sembari meletakkan nampan itu ke atas nakas yang ada di sisi ranjang Amira.
__ADS_1
Amira mengangguk cepat dengan wajahnya yang masih terlihat ketakutan.
“Aku Elisa, namun kau bisa memanggilku nyonya El, aku orang yang bertugas mengkordinir para wanita yang bekerja di Cassino ini,” jelas wanita yang berbadan semok itu dengan pakaiannya yang juga terlihat seksi.
“Elisa?” Tanya Amira dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Seketika Amira teringat ibunya yang juga bernama Elisa, ya Riana Elisa.
“Ya ada apa? Apa kau memiliki masalah dengan nama Elisa?” Tanya El.
“Tidak,” jawab Amira pelan, dan kembali menundukkan kepalanya.
“Akhirnya aku mengerti kenapa tuan Dewa berani nekat menculik istri dari Shaka Buwana,” El pun tersenyum sinis sembari memandangi Amira dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Namun Amira hanya bisa mengerinyitkan dahi saat mendengar ucapan El sebagai tanda dia tidak mengerti dengan maksud dari ucapan itu.
“Mulai dari bentuk tubuh, warna kulit, dan rambut mu, semua yang ada padamu benar-benar tipe ideal wanita yang pantas menjadi primadona di sini, sehingga dengan begitu dia akan meraup keuntungan yang amat besar,” tambah El yang kemudian mulai melangkah mendekati Amira.
Mendengar itu, akhirnya Amira pun kembali tertunduk, sama sekali bukan hal yang bisa dibanggakan pikirnya.
“Makanlah dan habiskan ini, karena jika tidak, tuan Dewa akan murka,” tegas El.
“Dan ini, kau pakailah!” Kemudian El pun mencampakkan gaun yang sejak tadi sudah di pegang oleh penjaga itu ke hadapan Amira.
“Ini malam pertamamu bekerja, tolong jangan buat kesalahan, dan ini alat make up mu, kau harus berdandan agar para tamu semakin bersemangat melihatmu,” jelas El lagi sembari menyerahkan kotak make up pada Amira.
“Aku akan kembali 20 menit lagi, setelah aku kembali kau harus selesai makan dan berdandan, mengerti?”
Amira pun mengangguk pelan sembari memandang sendu baju yang akan ia kenakan.
El pun Akhirnya beranjak, ia keluar dengan di susul oleh penjaga yang ikut keluar dan mengunci kembali pintu kamar Amira dari luar.
Namun tak ingin terus meratapi nasib dan larut dalam kesedihan, Amira pun mengambil nafas panjang, lalu perlahan membuangnya dari mulut, akhirnya Amira kembali tersenyum sembari memandangi dan mengusap air matanya.
Akhirnya Amira pun berusaha makan, ia menepis sejenak pikiran kacaunya.
20 menit sudah berlalu, Amira pun menghabiskan makan malamnya, ia juga sudah beganti baju dan berdandan, namun dengan dandanan yang tipis dan tidak terlalu mencolok, kini ia pun duduk bersimpuh menunggu kedatangan nyonya El.
Tak lama, yang di tunggu-tunggu pun akhirnya tiba, nyonya El kembali datang untuk menjemput Amira.
“Wah nampaknya kau sangat bersemangat, ayo ikut aku,” ucap El sembari tersenyum memandangi Amira.
Amira pun kembali mengangguk pelan, dan akhirnya ia pun ikut beranjak mengikuti ke mana pun langkah El membawanya.
Mereka turun ke lantai dasar dengan menggunakan lift, Amira yang sedang berdiri di belakang El hanya terdiam.
*Ting*
Lift berbunyi, kemudian pintu lift itu pun terbuka, begitu keluar dari lift, mata Amira sudah disambut dengan pemandangan yang baru baginya, Amira bediri di ruangan yang begitu luas, ruangan itu terdapat banyak meja judi, ditambah lagi aneka ragam permainan judi lainnya, para tamu yang kebanyakan dari kalangan mafia dan pengusaha pun terlihat sudah bertebaran memadati Cassino terbesar itu.
Mata Amira pun di buat semakin membulat saat melihat ada banyak wanita dengan berpakaian seksi duduk di samping sang penjudi, bahkan ada pula yang dengan tak malunya duduk di pangkuan lelaki yang saat itu begitu asik bermain kartu.
Para wanita itu ada yang terlihat dengan semangat memijiti tamunya, ada pula yang terus memeluk manja leher tamunya dari belakang, ada pula yang menuangkan minuman wine untuk tamunya, dan masih banyak lagi tingkah polahnya yang sulit dijelaskan satu persatu.
Para wanita itu pun terlihat tak canggung melakukannya di ruangan yang begitu ramai dan terang.
“Nyonya, apa aku bekerja seperti mereka?” Tanya Amira dengan ragu-ragu menunjuk ke arah salah satu wanita yang sedang menemani tamunya.
“Benar,” jawab El tersenyum.
__ADS_1
Tak lama Marsel dengan wajah sumringah datang menghampiri El dan Amira.
“Selamat malam Sayangku,” sapa Marsel dengan begitu genit.
Melihat keberadaan Marsel sontak membuat Amira tersentak, dia mendadak menatap tajam ke arah Marsel.
“Wah, lihatlah penampilanmu malam ini, kau terlihat sangat cantik dan fresh,” tambah Marsel lagi sembari membelai pipi hingga lengan Amira yang terbuka.
“Lepaskan!” Ketus Amira menepis tangan Marsel.
Dewa pun yang melihat itu di buat jadi mendengus sembari berjalan melangkah mendekati Amira dan menarik kasar tangan Amira.
“Berhenti berlagak sok suci, karena sekarang di mataku kau sama seperti mereka, hahaha, dan kau ingat cepat atau lambat paru tamu-tamuku ini akan mencicipi tubuhmu,” bisik Dewa di dekat telinga Amira sembari menunjuk ke arah para wanita pekerja di Cassino nya dan tersenyum sinis.
Mendengar pernyataan itu sontak membuat mata Amira kembali berkaca, namun dia berusaha untuk tetap tenang dan tidak ingin terus bersedih.
“Kakak, jangan terlalu kasar padanya, aku juga ingin mencicipi tubuhnya,” ucap Marsel sembari memandang genit ke arah Amira.
Mendengar itu Amira semakin di buat ketakutan, namun dia tetap berusaha untuk kembali tenang.
“Kau jangan mengganggunya dulu Marsel, biarkan dia melayani tamuku dulu,” celetuk Dewa kemudian.
“Baiklah, tamu mana yang harus ku temani?” Tanya Amira dengan bibir bergetar.
“Wahhh, nampaknya kau sudah tak sabar, baikah ayo ikut aku,” Dewa menarik tangan Amira lalu membawanya ke meja salah satu pejudi.
“Selamat malam tuan Reki,” sapa Dewa pada pejudi yang saat itu sedang fokus memandangi kartunya sembari menghisap cerutu.
“Emm,” jawab singkat yang masih fokus pada kartunya.
Lelaki paru baya itu memiliki badan yang cukup berisi, rambutnya gondrong namun di ikat satu ke belakang, tampilannya juga menunjukkan kalau ia itu seperti bos besar, dan nyatanya memang iya, tuan Reki adalah salah satu bos mafia yang juga memiliki saham di Cassino milik Dewa, dia hampir setiap malam selalu memunculkan batang hidungnya di Cassino itu dan bisa dikatakan ia adalah tamu kehormatan.
“Lihatlah siapa yang datang bersamaku,” ujar Dewa sembari tersenyum.
“Memangnya siapa? Tidak usah menawariku wanita, jika wanita itu adalah wanita yang sama, aku bosan Dewa, aku sudah ditemani oleh seluruh wanita yang bekerja di sini,” jawabnya ringan sembari meletakkan 1 kartu di atas meja.
“Hahahaha, setidaknya lihatlah dulu tuan Reki,” jawab Dewa santai.
Akhirnya dengan wajah datar, tuan Reki pun melihat ke arah Amira yang mulai gemetaran, tuan Reki sontak langsung membulatkan matanya, sembari perlahan mulai bangkit dari duduknya dan berdiri memandangi Amira dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Waahh barang baru, hahahaha, di mana kau mendapatkan yang seperti ini ha?” Tanya tuan Reki pada Dewa namun dengan tatapannya yang tidak berhenti memandangi Amira.
Dewa pun tersenyum puas sembari berbisik.
“Dia bukan wanita biasa, dia istri dari Shaka Buwana yang berhasil ku sandra,” bisik Dewa.
“Ha, Benarkah?” Tuan Reki nampak terkejut lalu memandangi Amira dari atas ke bawah.
“Aku bahkan tidak menyadarinya, hahaha kau memang bandit yang nakal Dewa, berani sekali kau mencari masalah dengannya, hahahaha,” tuan Reki akhirnya ikut tertawa.
Amira hanya terdiam sembari *******-***** tangannya sendiri, ia sama sekali tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
“Bukan aku yang mencari masalah, tapi merekalah yang lebih dulu membuat masalah denganku,” jawab Dewa sembari menatap tajam ke arah Amira.
“Emm, baiklah, biarkan wanita itu di sini, aku ingin dia menemaniku malam ini,” tuan Reki pun semakin melebarkan senyumannya sembari sebelah tangannya mulai merangkul Amira.
Amira yang ketakutan hanya bisa terdiam, ia hanya bisa pasrah dan tak dapat berkutik.
“Layani tamuku dengan baik!” Bisik Dewa pada Amira.
__ADS_1
Dewa yang begitu puas, akhirnya mengembangkan senyum iblisnya, lalu kemudian ia pun beranjak pergi untuk kembali bergabung dengan rekannya yang lain.