
Shaka melirik jam yang melingkar di tangannya, tak terasa sudah lumayan lama dia telponan dengan sahabat lamanya itu, akhirnya ia pun pamit dan mengakhiri panggilannya dan beralih ke ruang pesta tadi untuk menghampiri Amira, namun begitu sampai semua yang ada di situ berkata kalau Amira sudah pulang lebih dulu bersama Queen.
“Kenapa dia pulang lebih dulu? Mungkin dia pikir aku sudah pulang,” gumam Shaka dalam hati.
Shaka pun pamit pada Reza dan juga Yura lalu pulang ke rumahnya menyusul Amira.
Sesampainya di rumah, Shaka berlari kecil, bibirnya menerbitkan senyuman saat menatap pintu kamar, belum juga melangkah, Amira keluar dari kamarnya, rambutnya yang basah membuat Shaka semakin terpesona.
Berbeda dengan Shaka yang menampakkan wajah berseri-seri, wajah Amira nampak merengut saat berpapasan dengan Shaka, ia pergi begitu saja melewati tubuh tegap tinggi suaminya.
“Mau ke mana sayang?” Tanya Shaka menatap punggung Amira yang berlalu menuju dapur.
Tidak ada jawaban, Shaka menghempaskan tubuhnya di sofa, mengurai rasa lelah karena sebelum ia pergi ke pesta ulang tahun Queen bersama Amira, dia menyempatkan diri ke kantor dulu untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang menguras otak.
“Kumat lagi, kenapa sih dia,” cecar Shaka dalam hati.
“Buatin kopi buat Shaka ya, jangan bilang aku yang suruh,” ucap Amira pada salah satu pelayan yang ada di dapur itu.
Shaka memejamkan matanya, menjulurkan kaki di bawah meja dengan kepala mendongak.
“Ini tuan kopinya,” suara pelayan membuat Shaka terbangun.
Amira menatap punggung Shaka yang menikmati kopi, hatinya kembali goyah karena kejadian tadi.
Malam semakin larut, setelah keheningan di ruang makan, Shaka membuka pintu kamar, nampak Queen berbaring anteng mendengar Amira sedang membacakan dongeng.
“Papa,” panggil Queen melambaikan tangannya dan menepuk kasur di sisinya yang masih kosong.
Amira hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada bukunya.
Shaka ikut duduk di samping Queen, tangannya mengulur ke samping merangkul pundak Amira yang bersandar di headboard, namun Amira langsung menepisnya tanpa kata hingga Shaka kembali menariknya.
Shaka ikut larut mendengar cerita dari Amira, perlahan matanya ikut terpejam dengan tangan memeluk tubuh mungil Queen, melihat itu hati Amira sedikit terenyuh, namun ia segera menepis perasaan itu.
Amira menutup bukunya, memindahkan tangan Queen dan menyelimuti tubuh mungil bocah itu, menatap Shaka yang juga terlelap dengan nafas teratur.
Amira memutari ranjang mengambil selimut dari lemari, namun tiba-tiba tangan kekar Shaka menyentuh pinggangnya dari belakang hingga membuat Amira terkejut.
Jantungnya berdetak dengan kencang saat tangan itu merambat melingkar pada tubuh Amira dengan erat.
“Aku lagi pengen,” bisik Shaka dengan suara lirih.
Menyandarkan dagu di pundak Amira dengan tangan yang masih memeluk erat.
Amira menggerakkan tubuhnya mencoba terlepas dari rengkuhan sang suami, ia belum mau melakukannya malam ini, mengingat kejadian tadi di rumah Reza.
“Bagaimana kalau aku tidak mau,” jawab Amira dingin.
Shaka memutar tubuh Amira hingga keduanya saling bertatap muka, berbeda dengan mata Shaka yang nampak sendu dan penuh cinta, kedua bola mata Amira bak busur panah yang siap meluncur dan menembus hingga ke tulang rusuk.
Namun, itu tak membuat keinginan Shaka surut, malam ini ia benar-benar ingin sekali melakukan itu dengan Amira.
Shaka terus saja memeluk tubuh Amira dan mulai menciumi tengkuknya, Shaka meyakinkan Amira sebagai suami kalau dia berhak meminta sesuatu yang memang seharusnya di lakukan istri.
“Aku tetap tidak bisa, lagi pula di sini ada Queen, jangan paksa aku melakukan itu,”
Shaka mengendurkan pelukannya, menahan dadanya yang hampir meledak, ia merasakan sakit saat di abaikan, ia tidak tau apa kesalahannya sehingga Amira begitu jutek padanya, tidak biasanya Amira menolak permintaan Shaka melakukan itu.
__ADS_1
“Baiklah, sekarang kamu tidur,”
Shaka berjalan menuju kamar Amira yang dulu, menutup pintu dengan keras menandakan jika dirinya sedikit marah.
Tanpa rasa bersalah, Amira pun berbaring di samping Queen, ia membaringkan tubuh nya pakai selimut hingga menampakkan wajahnya saja.
Memejamkan matanya membayangkan apa yang tadi di dengarnya di rumah Reza.
Sementara di kamar lain, Shaka berteriak dan menghantam dinding hingga tangannya memar, ia kecewa dengan penolakan Amira kali ini, bukan hanya kecewa karena penolakan itu, tapi dengan cara Amira menolaknya, ia tak menyangka Amira memenangkan ego dari pada kewajibannya.
Ponsel di nakas berdering, ia meraih ponsel itu dan membaca nama yang tertera di layar.
“Halo Vi, ada apa?” Tanya Shaka sedikit tenang saat meluapkan amarahnya.
“Shaka tolong cepat kamu ke sini, aku di hadang penjahat di tepi jalan, tapi untung saja aku bisa lari dan bersembunyi, tapi saat ini aku tidak bisa keluar dari tempat persembunyian ku, karena mereka mencariku dan kebetulan berdiri di tempat aku bersembunyi, aku sangat takut,” rengek Viona dari seberang sana.
Shaka mengerinyitkan dahi.
“Memangnya kamu di mana?” Tanya Shaka antusias.
Shaka berfikir tidak ada salahnya menolong sahabat lama, apa lagi Viona adalah wanita yang sangat baik dan juga pengertian, sering membantu Shaka pada saat kesusahan dan menjadi sahabat akrabnya.
“Aku ada di club sekarang,”
“Baik lah kamu share lok, aku akan ke sana sekarang juga,”
Shaka masuk ke kamarnya dan Amira, menyemprot parfum di beberapa bagian tubuh, menyambar jaket yang ada di sofa.
Sedangkan Amira menatap penampilan Shaka tanpa bertanya, menghirup aroma parfum yang menyengat.
“Pulang jam berapa?” Tanya Amira menyelidik.
“Tergantung, aku juga belum tau lokasinya di mana, tapi aku berusaha untuk pulang tidak terlalu larut,”
Amira hanya diam saja, ia sebenarnya tak mau melihat Shaka keluar meninggalkan rumah malam-malam, tapi dia tidak bisa melarang karena ia sedang berusaha tidak peduli dengan Shaka, karena masih kesal dengan kejadian tadi.
“Apa teman Shaka itu perempuan tadi di telepon?” Gumam Amira sembari menatap punggung Shaka yang menghilang di balik pintu kamar.
Setelah mendengar suara mobil berdesing, Amira kembali menutup pintu kamarnya.
“Kamu ada di mana?” Shaka mengucap dengan lantang, menyerang suara gemuruh yang memenuhi ruangan, matanya terus menyusuri setiap pengunjung yang sedang asik berjoget, menikmati alunan musik yang menggema, sesekali menyenggol mereka yang sempoyongan, bau alkohol menusuk rongga penciuman, membuat Shaka sesekali mendengus.
Ia sudah tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di club, ia hampir lupa dengan pergaulan yang dulu, sekarang Shaka adalah seorang calon ayah dan suami, hingga membuatnya tidak pernah menginjakkan kaki di tempat itu.
Lampu yang remang-remang membuat pandangan Shaka sedikit tidak jelas, ia harus bekerja ekstra mencari sahabatnya yang tidak ada di luar setelah dia mencari-cari ke sana kemari.
“Shaka, aku di sini,” gadis cantik dengan baju seksi dan mata coklat yang ada di ujung ruangan melambaikan tangannya ke arah Shaka, bibirnya terus berteriak memanggil nama sahabatnya yang sudah lama tak jumpa.
Shaka tersenyum, meski pun sudah sangat lama, dia tidak lupa dengan sosok Viona yang sangat familiar dengan centilnya.
Tanpa aba-aba, Viona memeluk tubuh Shaka dan melonjak kegirangan, seperti mendapatkan hadiah utama, ia terus mengutarakan kebahagiaan pada Shaka.
“Viona, lepaskan nanti di lihat orang,” bisik Shaka mencekal tangan gadis itu yang melingkar di lehernya.
Viona berdecak dan memanyunkan bibirnya, melipat kedua tangan dengan tubuh yang masih bergoyang kecil.
“Sekarang kamu berubah, apa kamu takut sama istri kamu?”
__ADS_1
Mendengar kata istri, tiba-tiba Shaka teringat dengan kejadian tadi di rumah, dimana Amira membuatnya kecewa, ia menarik tangan Viona, membelah kerumunan dan mengajaknya duduk di samping bartender cantik.
Tanpa sadar, Shaka meraih gelas yang berisi wine lalu meneguknya hingga kandas, pikirannya sedikit kacau jika menyangkut tentang Amira.
Viona menatap jari-jari Shaka yang tampak memar, menggenggamnya lalu meniupnya, merasa iba dengan pria itu, ia tampak cemas.
“Kamu ada masalah?” Tanya Viona menyelidik, mengusap darah yang hampir mengering itu dengan tisu basah.
Menatap wajah Shaka lagi yang masih di penuhi dengan amarah.
Mengusap wajahnya dengan kasar, ingin sekali menyimpan masalahnya sendiri, namun dadanya sudah tidak kuat menahan beban yang menyelimutinya saat ini.
“Hanya masalah kecil,” ungkapnya menahan rasa perih saat Viona mengobati lukanya dengan salep.
“Jika hanya masalah kecil, tidak mungkin kamu sampai sekacau ini,”
Viona berbisik tepat di telinga Shaka, mendekatkan wajahnya di wajah pria itu, hembusan nafas keduanya saling beradu, sekian lama berpisah, akhirnya Viona bisa menikmati wajah tampan yang membuat hatinya berdenyut saat di dekatnya.
“Ngomong-ngomong, mana suami kamu?” Shaka mengalihkan pembicaraan, melihat wanita cantik yang berlalu lalang melintasinya.
“Dia tidak ikut,” ucap Viona dengan wajah lesu, dia jadi tak bersemangat saat membahas pasal suaminya.
“Kenapa? Kalian bertengkar juga?” Tanya Shaka balik sembari menggelengkan kepala, menolak segelas minuman yang di sodorkan di depannya, takut mabuk dan kesulitan untuk menyetir.
“Tidak,” mengucap dengan berat, “aku hanya menghindarinya saja, untuk apa suami egois aku pertahankan, maunya menang sendiri dan tidak pernah peduli padaku,” imbuhnya.
Shaka melihat jam yang melingar di tangannya, ternyata sudah lumayan lama ia berada di club itu dan ingin mengakhiri pertemuannya dengan Viona.
“Pulang yuk, istriku menunggu,” Shaka beranjak dari duduknya dan merapikan penampilan, baru beberapa langkah, ia terhuyung saat tubuh Viona ambruk di belakangnya.
“Hati-hati,” ucap Shaka menahan tubuh Viona yang menempel di dadanya.
“Mas, hati-hati kalau jalan,” tegur Shaka pada seseorang yang menabrak Viona.
“Shaka tidak pernah berubah, selalu perhatian seperti dulu, beruntung sekali perempuan yang sudah memenangkan hatinya,”
Menatap tangan Shaka yang terus menggenggam tangannya dengan erat.
Setelah mengantar Viona ke apartemen, Shaka langsung pulang ke rumah, selain sudah mengantuk, ia tak mau menimbulkan kecurigaan.
Amira yang belum tidur membuka tirai jendela saat mendengar mesin mobil berhenti di depan rumah, menatap Shaka yang turun dari mobil dengan jaket yang tersampir di pundak.
Menutup kembali tirai, dan duduk di tepi ranjang, menatap jam dinding yang menunjuk ke angka satu.
“Memangnya temannya ada di mana? Kenapa sampai 5 jam dia keluar?”
Bertanya pada diri sendiri, meremas ujung piyamanya hingga kusut.
Shaka berjalan menuju kamarnya, ia berpapasan dengan Amira yang juga baru keluar dari kamarnya.
Tatapan keduanya bertemu, bibir mereka saling membisu hingga keheningan tercipta, dari lubuk hati yang terdalam, Shaka ingin menyapa, namun tertahan di kerongkongan, mengingat sikap ketus Amira yang menolaknya tadi.
Shaka berjalan lebih dulu meninggalkan Amira yang masih menatapnya.
Amira mendenguskan hidungnya, mencium aroma parfum yang berbeda.
“Ini seperti parfum cewek, apa jangan-janhan Shaka…”
__ADS_1