
Kantor Utama Buwana Group..
Shaka sedang duduk di kursi kebesarannya sembari tersenyum mengingat semalam dia tidur bersama Amira di ranjang yang sama. Namun tiba-tiba Kevin membuyarkan lamunannya dengan masuk begitu saja di ruangan Shaka tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Shaka, aku mau protes!" Ucap Kevin berdiri di dekat meja Shaka.
"Protes apa? Apa kau tidak punya sopan santun? Biasakan mengetuk dulu sebelum masuk". Ketus Shaka mulai kesal.
"Ah itu tidak penting, kenapa kau tidak memberitahu ku kalau Yura sudah pulang dan kemarin dia datang ke kantor ini". Kevin tak kalah ketus.
"Untuk apa aku memberitahu mu? Apa itu penting?" Tanya Shaka santai.
"Shaka, kita sudah lama tidak ketemu dengan Yura apa kau tidak merindukannya? Dia satu-satunya sahabat wanita kita dan satu-satu nya mantan pacarmu". Ucap Kevin mencoba menggoda Shaka sembari mendudukkan dirinya di kursi.
"Kau jangan mengungkit itu lagi, terlebih saat di hadapan Amira, awas saja akan ku rontokkan semua gigimu". Ketus Shaka mengancam.
Kevin sontak menutup mulutnya dengan kedua tangannya sembari bergidik menatap Shaka.
"Apa kau akan datang bersama Amira sebentar malam?" Tanya Kevin mengalihkan pembicaraan.
"Entah lah.. Aku bingung, aku belum mempublikasikan pernikahan ku dengan Amira, sementara Yura mengajakku menemaninya di pesta ulang tahunnya". Ucap Shaka lesu sembari menyandarkan dirinya di sandaran kursi.
"Kenapa tidak kau publikasikan saja?"
"Tidak segampang itu Kevin, sampai sekarang aku tidak tau perasaan Amira kepadaku seperti apa".
"Jadi, Kau belum menyatakan cintamu pada istrimu sampai sekarang?" Tanya Kevin masih tak menyangka dengan keleletan Shaka.
Shaka memang pintar dan cekatan dalam hal pekerjaan dan bisnis tapi tidak dengan cinta, Shaka selalu gugup saat menyatakan cinta pada seorang wanita. Seperti hal nya dulu dengan Yura, Shaka begitu lama memendam perasaannya sampai akhirnya dia berani menyatakan cinta kepada Yura tapi itu pun setelah 3 tahun lamanya. Begitu dia dan Yura berpacaran, tiba-tiba dia harus menelan kenyataan pahit kalau ternyata Yura menyimpan perasaan cinta untuk Reza. Itu lah sebabnya kenapa dulu Yura pindah ke Paris, karena dia ingin menyusul Reza ke sana. Yura juga sudah jujur pada Shaka kalau selama ini dia tidak mencintai Shaka karena sudah mencintai Reza dan memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
Kini Yura kembali lagi ke Indonesia, Dia pikir, sampai sekarang Shaka masih mencintainya sehingga dia selalu mendekati Shaka dan perlahan sudah melupakan Reza.
Amira di hubungi Reza untuk menemaninya ke pesta ulang tahun Yura. Mendengar itu Amira terdiam sejenak.
__ADS_1
"Amira". Suara Reza membuyarkan lamunan Amira.
"Emm.. Iyaa bagaimana tadi kak?"
"Apa kau mau menemaniku ke pesta ulang tahun temanku?"
"Tapi kak.."
"Kenapa? Apa kau memikirkan perasaan Shaka?"
"Ti.. Tidak kak, aku hanya tengah berpikir kalau aku harus mengenakan apa ke pesta itu". Ucap Amira mencari alasan. Karena sebenarnya Amira tidak mau seorang pun tau tentang perasaannya terhadap Shaka karena sampai saat ini Amira belum mendapatkan pengakuan dari Shaka tentang perasaan Shaka yang sebenarnya. Seperti itu lah perempuan, perempuan hanya butuh pengakuan dan kepastian.
"Ah itu masalah gampang, kau tunggu saja sebentar". Ucap Reza lalu mematikan sambungan teleponnya.
Setengah jam kemudian..
Tok.. Tok.. Tok..
"Nona, ini ada kiriman dari tuan muda Reza". Ucap seorang kurir sembari menyerahkan kotak berwarna hitam dengan pita merah di tengahnya.
Amira dengan perasaan bingung meraih kotak itu dengan mengerutkan dahinya.
"Terimakasih". Ucap Amira kemudian.
Amira membawa masuk kotak itu, meletakkannya di atas ranjang dan membukanya perlahan. Mata Amira sontak membulat ketika mendapati sebuah gaun berwarna putih di dalamnya.
Tak lama ponsel Amira berdering.
"Halloo". Jawab Amira sembari masih memandangi gaunnya.
"Apa sudah menerima kiriman dariku?" Tanya Reza.
"Sudah, kenapa kakak membelikanku gaun? Apa tidak berlebihan?"
__ADS_1
"Apa kau tidak suka gaun pilihanku?"
"Ah tidak, aku suka.. Sukaa sekali. Terimakasih kak Reza". Ucap Amira lembut.
"Aku ingin kau memakainya di pesta itu".
"Emm.. Baiklah tuan muda". Jawab Amira kembali tersenyum.
"Okee aku akan menjemputmu satu jam lagi. Bye bye".
Kediaman Keluarga Buwana..
Shaka baru selesai mandi dan memilih pakaian yang tak terlalu formal dan terkesan santai. Tak lama Dody pun datang mengetuk pintu kamarnya dengan sudah membawa hadiah untuk Yura nanti. Shaka tidak punya waktu untuk membeli sendiri hadiahnya, sehingga dia mempercayakan itu kepada Dody untuk membelinya.
"Ini yang anda minta tuan muda". Ucap Dody sembari memberikan kotak hadiah berwarna hitam.
Shaka pun meraihnya dan langsung membukanya untuk memastikan. Di dalamnya terlihat sebuah jam tangan mewah yang di desain khusus untuk wanita, dari brend terkenal dunia, dengan dipenuhi butiran diamond di sekelilingnya.
"Not bad". Ucap Shaka
Kini waktu menunjukkan pukul 16.20 sore, Shaka sudah siap dan langsung pergi menuju rumah Yura. Begitu pun dengan Amira dan Reza, mereka juga sudah mulai berangkat menuju rumah Yura. Kali ini Shaka harus datang sendiri tanpa di dampingi oleh Kevin, karena Kevin juga ingin membawa pacar barunya.
Setengah jam perjalanan, kini mobil Shaka pun berhenti di pekarangan rumah Yura, dia pun memarkirkan mobilnya di sebuah halaman kosong yang memang sudah di sediakan khusus untuk para tamu. Ia merapikan sejenak pakaiannya lalu langsung berjalan menuju pesta.
Namun begitu mau melangkah, Shaka di buat kembali terhenti saat sebuah mobil melintas di hadapannya. Mobil itu berhenti dan terpikir tak jauh dari mobil Shaka, tak lama terlihat Reza yang turun dari mobil sembari memandang sengit ke arah Shaka yang saat itu juga sedang melihat ke arahnya.
Melihat Reza Shaka pun kembali mendengus, ia seolah bersikap tak peduli dan kembali melanjutkan langkahnya. Namun langkah Shaka sontak terhenti saat melihat Reza membukakan pintu dan Amira turun dari mobilnya sembari memancarkan senyuman simpul.
Amira? Dia datang bersama Reza? Tanya Shaka dalam hati sembari tanpa sadar kedua tangannya mulai mengepal.
Reza mengulurkan tangannya ke arah Amira, Amira yang merasa tak enak hati akhirnya membalas uluran tangan Reza. Mereka terus bejalan saling bergandengan dan melewati Shaka. Namun tiba-tiba Amira sontak membulatkan matanya dengan melihat keberadaan Shaka di sana dan tengah melihatnya bergandengan tangan dengan Reza. Melihat ekspresi Shaka yang menatap tajam ke arah dia dan Reza, Amira perlahan melepaskan genggaman tangan Reza dari tangannya sembari terus menunduk melewati Shaka begitu saja. Amira merasa tak enak hati kepada Shaka.
Istri macam apa itu, berjalan bergandengan tangan dengan pria lain, dan apa itu berpegangan tangan segala. ketus Shaka dalam hati sembari menatap tajam ke arah Amira yang Reza yang sudah berjalan melewatinya.
__ADS_1