
Green Light Hospital..
"Yura, aku balik lagi ke kantor ya tiba-tiba ada meeting dadakan aku harus menghadirinya." Ucap Shaka setelah cukup lama menemani Yura.
Shaka pikir Amira masih menunggunya di luar, sehingga dia tampak gelisah dan ingin buru-buru cepat keluar dari ruangan Yura untuk menemui Amira.
"Yah padahal aku masih mau kamu temenin." Ucap Yura sedikit kecewa karena Shaka seperti buru-buru ingin pulang.
"Aku ada meeting penting Yura, lagi pula aku sudah sejam menemani kamu di sini. Oh ya, kamu tidak usah memikirkan biaya rumah sakit, kamu akan di rawat secara gratis di sini, aku juga sudah minta dokter di sini untuk memberikan perawatan sebaik mungkin untuk kamu di sini. Anggap saja ini sebagai tanda permintaan maaf aku." Papar Shaka sembari berdiri dari duduknya.
Mendengar itu, Yura begitu tersanjung karena Shaka membiarkan dia di rawat secara khusus di rumah sakitnya, dia juga tersanjung dengan tindakan Shaka yang meminta dokter untuk memberikan perawatan terbaik untuknya. Tapi walau begitu dia sedikit kecewa dengan sikap Shaka yang sudah banyak berubah dan kurang perhatian itu. Sehingga dia berfikir Shaka seperti menghukumnya karena dulu dia sudah mencampakkan Shaka. Dia merasa bersalah dan berniat akan memperbaikinya dengan terus bersikap manis pada Shaka. Karena dia masih yakin kalau Shaka masih mencintainya.
"Shaka, terimakasih ya, tapi kamu datang lagi kan besok?" Tanya Yura sembari menggenggam tangan Shaka.
"Kalau aku tidak sibuk aku akan datang. Aku pergi dulu ya." Ucap Shaka sembari mengusap ujung kepala Yura dan keluar dari ruangan Yura.
Shaka sudah keluar dari ruangan Yura, namun dia tidak melihat sosok Amira di sana. Matanya berkeliling mencari-cari keberadaan Amira, tapi nihil Amira tidak ada di sana. Dia pun memutuskan untuk menelepon Amira, tapi tidak di angkat. Akhirnya dia keluar dari rumah sakit itu dan bergegas masuk ke mobil dan segera melajukan mobilnya menuju rumah untuk memastikan Amira sudah pulang atau belum.
Tak lama, mobil pun sampai di loby rumahnya. Dia segera masuk ke dalam rumah menaiki anak tangga dan langsung menuju kamar. Dia membuka perlahan handle pintu.
Ceklek..
Ternyata Amira ada di kamarnya, sedang berdiri memandang ke arah luar jendela sembari melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan kosong. Dengan langkah gontai Shaka berjalan menghampiri Amira, dan memegang kedua pundaknya, membuyarkan lamunan Amira.
"Maafkan aku sudah membuatmu menunggu lama di luar ruangan, dan kenapa kau tidak pamit padaku? Aku bahkan kebingungan mencarimu di mana-mana." Bisik Shaka dengan lembut.
"Aku hanya tidak mau mengganggu kebersamaan kalian." Ucap Amira pelan.
Shaka membalikkan tubuh Amira dan berhadapan dengannya.
"Aku bahkan tidak ingin ke sana tapi kamu memaksaku untuk menemuinya. Aku tidak mau lagi menemuinya sendiri seperti itu Amira, bahkan aku ingin jujur saja soal pernikahan kita." Ucap Shaka pelan sembari memegang dagu Amira.
"Shaka.. Pernikahan kita hanya sementara bagaimana kita akan jujur soal pernikahan ini? Kamu tidak boleh seperti itu Shaka, kamu hanya akan membuat dia semakin sakit." Ucap Amira pelan.
Shaka mengehela nafas dan perlahan menurunkan kedua tangannya dari pundak Amira. Dia merasa kecewa dengan pernyataan Amira kalau pernikahan ini hanya sementara, sampai saat ini, Shaka berfikir kalau Amira tidak mencintainya karena Amira belum menjawab ungkapan cinta dari nya tempo hari.
Mereka terdiam sejenak dengan pikiran mereka masing-masing sembari kembali memandangi pemadangan di luar jendela.
"Shaka.." Tiba-tiba Amira membuka suara dan berdiri menghadap Shaka.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Shaka yang kemudian berdiri juga kembali menatap Amira.
Kini mereka berdiri berhadapan. Amira mulai menghela nafas sebelum ia kembali bersuara.
"Apakah aku bisa bertemu Salsa? Aku melihat di rumahnya ada seorang bayi perempuan seumuran anakku dan mirip dengan anakku. Dia ponakan Salsa dan Reza dari kakak sepupu mereka yang sudah meninggal. Mereka mengadopsi bayi itu. Aku sudah jatuh cinta dengan bayi itu saat pertama kali aku melihatnya. Aku ingin melihatnya lagi, tapi kamu sudah melarangku untuk ke rumah Reza. Aku hanya ingin bertemu bayi itu, karena setiap melihatnya rasa rindu ku pada anakku terobati. Shaka apa aku bisa menemui bayi itu? Aku janji, aku akan ke sana di saat Reza sedang tidak berada di rumah, kamu percaya lah padaku aku tidak akan melanggar janji ku aku benar-benar tidak akan berhubungan lagi dengan Reza selama kontrak pernikahan kita belum berakhir." Papar Amira meyakinkan Shaka.
Shaka tampak berpikir sejenak, dia mengerti perasaan Amira yang bahkan sempat depresi karena kehilangan anaknya. Namun dia tidak rela jika sampai Amira bertemu lagi dengan Reza. Shaka pun berdiam diri sejenak sampai akhirnya dia mulai membuka suara.
"Baiklah.. Kau boleh menemui bayi itu, tapi harus aku temani. Kau tidak boleh pergi sendiri ke sana apa lagi pergi diam-diam." Ucap Shaka mengingatkan Amira.
"Benarkah? Kau mengizinkanku? Terimakasih Shaka." Ucap Amira spontan memeluk Shaka dan membuat Shaka sontak membulatkan matanya tak percaya dengan tindakan Amira yang mendadak memeluknya. Ia pun membalas pelukan Amira. Amira pun tersadar dan segera melepas pelukannaya.
"Ma.. Maaf Shaka, aku tidak sengaja saking girangnya." Ucap Amira sembari menundukkan kepalanya, ia terlihat tampak kikuk, dan tingkahnya itu tentu saja membuat Shaka semakin gemas.
"Kenapa harus minta maaf? Kau bahkan boleh melakukan lebih dari itu. Menciumku misalnya." Ucap Shaka yang sontak membuat Amira mengerutkan keningnya dan mundur selangkah.
"Aku bercanda." Shaka mencoba mencairkan suasana.
Mereka pun kembali terdiam.
"Emm.. Shaka." Ucap Amira kemudian.
"Aku juga mau berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkan ku dari pria asing itu." Amira mulai mengutarakan isi hatinya saat ini sembari menundukkan pandangannya.
"Kemarin aku benar-benar belum bisa menerima kenyataan yang ada, hingga membuatku lupa berterima kasih padamu yang sudah menolongku. Bahkan aku tidak sanggup membayangkan bagaimana jika aku melayani pria asing itu secara sukarela. Beruntung kau datang tepat waktu, meski akhirnya hal yang tidak di inginkan tetap terjadi juga, namun sedikit lebih baik kalau aku melakukannya denganmu suami yang sah, hingga tidak ada dosa saat kita melakukannya." Jelas Amira sembari menampilkan senyuman lirih.
Shaka masih terdiam mendengar ungkapan Amira.
"Semuanya sudah terlanjur, aku menangis darahpun dan membunuhmu sekarang juga tetap tidak akan merubah keadaanku saat ini. Aku pun sudah terbiasa menghadapi segala kepahitan hidup, maka dari itu aku akan mencoba membuka hati dan pikiranku untuk berdamai dengan kehidupanku yang kejam ini." Amira pun memandang sendu wajah Shaka.
"Jadi, mulai sekarang aku tidak akan membencimu lagi, tidak peduli bagaimana sikap mu padaku setelah ini. Yang jelas aku sudah memutuskan untuk berdamai denganmu." Tambah Amira sembari mulai mengukir senyuman di bibirnya.
Shaka pun akhirnya tersenyum memandangi Amira, walau terbesit rasa kecewa karena dia tidak tau perasaan Amira padanya bagaimana namun dia merasa lega saat mengetahui Amira sudah tidak membencinya lagi.
"Apa kau mau berdamai denganku?" Tanya Amira lagi dengan senyuman simpul yang terpancar dari wajahnya.
"Tentu saja." Jawab Shaka yang ikut tersenyum memandangi Amira.
Amira pun kembali terdiam sembari memandang luas ke arah aneka tanaman hijau yang ada di taman.
__ADS_1
"Jadi mulai saat ini kita.." Ucap Shaka beralih mendangi Amira.
"Berteman.." Ucap Amira yang langsung memotong ucapan Shaka.
"Berteman?" Shaka sontak mengerinyitkan dahinya.
"Iya, berteman lalu apa lagi?" Jawab Amira dengan ekspresi wajahnya yang begitu polos.
Kenapa hanya berteman? Kenapa kau tidak melupakan perjanjian konyol itu dan mulai membangun rumah tangga yang harmonis. Gumam Shaka dalam hati sembari terus memandangi Amira.
"Apa kau tidak mau berteman denganku?" Tanya Amira lagi.
"Ah tidak bukan itu." Jawab Shaka sembari mengusap-usap tengkuknya.
"Lalu?"
"Ah hahaha iya iya baiklah kita berteman sekarang." Ucap Shaka sedikit gelagapan.
Tok.. Tok.. Tok..
Amira mendengar suara ketukan pintu dan bergegas membukanya.
"Pak Dody? Ada apa?" Tanya Amira.
"Nona muda, ada tamu yang mencari tuan muda." Ucap Dody sembari membungkukkan badannya.
"Tamu?" Tanya Amira mengerinyitkan dahinya.
Shaka pun berjalan mendekati Amira dan Dody.
"Siapa tamunya?" Tanya Shaka kemudian.
"Dia adalah pak Rayhan, katanya dia adalah rekan bisnis tuan muda dan perlu bertemu dengan anda sekarang."
Rayhan? Oh aku tau dia pasti sudah tau aku membatalkan perjanjian kerja sama dengannya. Ucap Shaka dalam hati sembari menyunggingkan senyumannya.
"Baiklah aku akan menemuinya." Jawab Shaka melangkah keluar dari kamarnya.
"Mari tuan muda, dia sedang menunggu di ruang tamu." Ucap Dody sembari mempersilahkan Shaka berjalan lebih dulu.
__ADS_1
Sementara Amira hanya berdiri terdiam memandangi kepergian Shaka dan Dody.