
Shaka dengan sumringah keluar dari mobil dan dengan sangat percaya diri ia terus melangkah memasuki kantor sambil membawah kotak bekal di tangannya. Kevin yang sudah berdiri di meja resepsionis bergegas menyambut kedatangan Shaka.
"Tak perlu menyambutku, lanjutkan pekerjaanmu". Perintah Shaka sembari berjalan menuju lift khusus.
"Ada apa dengan orang itu? Dan itu, apa aku tidak salah lihat? Dia membawah bekal makanan? Ah yang benar saja, bukan kah itu terlalu kekanak-kanakkan?" Kevin tertawa geli sembari menggelengkan kepalanya saat melihat Shaka menenteng kotak bekal di tangannya.
Shaka memasuki ruangannya, ia meletakkan tas kotak bekalnya di atas meja. Hari ini adalah hari yang cukup santai di kantor, Shaka juga tidak ada jadwal meeting. Shaka membuka jasnya dan menggantungnya di sandaran kursi, dan dengan segera dia membuka kotak bekal itu, dengan wajah berbinar dia memandangi 10 potong dimsum yang tersusun rapi beserta dengan saosnya.
Shaka mulai melahap dimsum nya lagi dengan penuh semangat.
"Astaga aku tidak bisa menahannya lagi, dimsum ini membuat ku seperti orang kecanduan". Gumam Shaka sembari melahap dimsum itu.
Tak lama Kevin pun muncul dengan membawah jadwal meeting yang akan di lakukan dia dan Shaka dalam waktu 1 minggu ke depan.
"Ini jadwal meeting untuk 1 minggu ke depan". Kevin meletakkan map di atas meja Shaka.
Dengan mulut yang masih mengunyah Shaka mengamati isi map itu dengan fokus hingga tak mendengar ucapan Kevin.
"Wah seperti nya dimsum itu enak". Ucap Kevin dengan tanpa izin mengambil 1 dimsum dan mencocolkannya di saos sementara Shaka masih fokus dengan jadwal meetingnya.
"Apa ini semua sudah fix?" Tanya Shaka terus mengamati selembar kertas itu.
"Iyaa sekretarisku sudah memastikan pada semua klien untuk tidak mengubah tanggal meetingnya". Ucap Kevin santai dan lagi-lagi mengunyah 1 dimsum.
Shaka pun meletakkan map itu dan mata nya membulat dengan sempurna saat mendapati tinggal ada 2 potong dimsum dalam kotak bekalnya. Shaka memicingkan matanya menatap Kevin yang dengan santai melahap dimsum yang ada di tangannya.
"Ada apa?" Tanya Kevin tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Kenapa kau memakannya?" Bentak Shaka menggebrek mejanya sembari berdiri.
"Memangnya kenapa? Bukankah kita terbiasa saling berbagi? Kenapa kau mendadak jadi sangat kikir?" Kevin tak kalah meninggikan suaranya.
Ucapan Kevin membuat Shaka semakin kesal, ia pun meraih kerah Kevin.
"Kau ini sangat menyebalkan keluarkan dimsumnya". Teriak Shaka mencekik leher Kevin menyuruh Kevin mengeluarkan dimsum itu dari mulutnya.
Kevin pun menjadi terbatuk-batuk sembari menepis tangan Shaka.
__ADS_1
"Kau gila Shaka Buwana, kau benar-benar sudah gila, ini hanya dimsum kenapa kau sangat berlebihan bukan kah kau bisa membelinya lagi? Apa uangmu sudah mulai habis sehingga tidak mampu membeli dimsum". Ucap Kevin terengah-engah.
"Kau ini benar-benar menyebalkan". Shaka merapatkan giginya karena sangat kesal.
"Katakan di mana kau membelinya? Aku akan memesankannya untuk mu". Ketus Kevin.
"Aku tidak membelinya". Shaka meninggikan suaranya dan kembali duduk di kursinya.
"Apa pelayanmu memasak menu yang berbeda hari ini? Kalau begitu suru pelayanmu membuatkannya lagi, kenapa harus sangat dramatis seperti ini? Apa kau mulai takut merepotkan pelayanmu?" Kevin terus menyerang Shaka dengan berbagai pertanyaan.
"Bahkan pelayanku tak memasak hari ini". Keluh Shaka sembari menyandarkan dirinya di sandaran kursi.
"Apa maksudmu? Lalu dimsum ini? Ah aku tau pasti Amira yang membuatkannya kan? Yah sudah suru dia membuatkannya lagi, apa kau mulai takut pada istrimu itu?" Kevin tertawa geli.
"Ah sudahlah lama-lama berada di sini aku bisa ikut gila sepertimu, baiklah aku akan melanjutkan tugasku. Terimakasih atas dimsum yang sangat lezat ini". Kevin mengambil 1 dimsum lagi dari kotak bekal itu kemudian langsung berlari keluar.
"Ah dasar teman tidak tau diri". Shaka mendengus kesal.
"Oh ya ampun dia hanya menyisakan ku satu dimsum saja". Shaka menatap lirih ke arah dimsum nya yang tinggal satu.
Shaka dengan lesu memakan sisa dimsumnya yang sudah dingin.
Shaka pun melanjutkan membuka laptop nya untuk memeriksa berbagai email yang masuk.
"Hai Shaka". Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang berjalan mendekati meja Shaka.
Sontak mata Shaka melirik ke arah sumber suara, dan betapa terkejutnya Shaka saat melihat arah sang pemilik suara yang saat itu sedang tersenyum dan sudah berdiri tepat di depan Shaka. Ya pemilik suara itu adalah seorang wanita, dan dia adalah Yura Handika, mantan pacar Shaka.
Yura adalah wanita yang tak kalah cantik, ia adalah wanita yang lemah lembut dan juga berasal dari keluarga terpandang. Ayah Yura adalah pengacara kondang yang terkenal.
Shaka dan Yura saling berpandangan, Shaka sangat terkejut.
Oh tidak mungkin, benarkah yang baru saja kulihat? Tanya Shaka dalam hati.
Shaka terdiam sejenak dan terlihat sangat gugup.
"Sedang apa kau di sini?" Tanya Shaka yang tampak gugup.
__ADS_1
"Kenapa kau bertanya begitu? Aku datang untuk menemui mu, apa kau tidak merindukanku?" Tanya Yura lirih.
"Maaf bukan itu maksudku, yah sudah ayo duduk saja". Ucap Shaka mempersilahkan Yura duduk.
Keadaan ini benar-benar membuatku tak nyaman. Keluh Shaka dalam hati.
" Bagaimana kabarmu selama aku pergi Ka? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Yura mulai membuka percakapan.
"Baik, semuanya berjalan sangat baik". Jawab Shaka tersenyum.
"Oh begitu ya". Yura tersenyum lalu kembali terdiam.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah mendapatkan apa yang kau kejar?" Tanya Shaka tanpa melihat Yura.
"Kau rupanya masih mengingat alasan kepergianku". Yura tersenyum lirih.
" Kau bahkan tidak menjawab pertanyaanku". Shaka tersenyum lagi.
"Kita sudah sangat lama tidak bertemu, tapi sepertinya sikapmu masih sama seperti saat terakhir kita bertemu. Apa kau masih marah padaku?" Tanya Yura menatap lekat ke arah Shaka.
"Oh hahaha lupakan soal itu aku bahkan sudah melupakannya". Shaka mengalihkan pembicaraan.
"Shaka.. Apa kau ingat janjimu? Kau tidak pernah mengangkat telepon dariku selama 2 bulan ini, kau baik-baik saja kan?"
"Iyaa 2 bulan terakhir ini aku memang sangat sibuk".
" Oh ya apa yang akan kau minta dariku?" Tanya Shaka mulai bertanya.
"Emmm.. Nanti saja kalau waktu nya sudah tepat aku hanya ingin melihatmu saat ini". Ucap Yura tersenyum.
"Aku pikir setelah menyusulnya kau tak membutuhkanku lagi". Ucap Shaka santai sembari tersenyum simpul.
"Shaka bagaimana kau bisa berfikir begitu? Aku tetaplah Yura yang dulu yang selalu membutuhkan perlindungan darimu. Kau tetaplah malaikat pelindung untukku kau mengerti?" Yura terlihat mengerucutkan bibirnya pada Shaka. Sebelum berpacaran Yura dan Shaka memang sudah bersahabat sebelumnya jadi wajar saja kalau mereka tetap berteman walaupun hubungan mereka sudah berakhir.
Shaka melirik Yura dan kembali tersenyum penuh makna, Shaka pun tak memberi komentar apapun lagi dia lalu fokus ke laptop nya memeriksa beberapa email yang belum di buka. Melihat kesibukan Shaka, Yura lalu pamit undur diri tak mau menganggu Shaka, Yura lalu menyerahkan undangan pesta ulang tahun yang akan dia rayakan lusa malam.
"Kau jangan lupa datang ya, aku juga sudah mengundang Kevin dan juga Reza". Ucap Yura yang di angguki Shaka lalu kemudian pamit pergi meninggalkan ruangan Shaka.
__ADS_1
Shaka mengamati undangan itu dan kembali meletakkanya di atas meja.