Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 66 Di mabuk cinta


__ADS_3

Kini Shaka dan Amira sudah selesai melakukan aktivitas suami istri yang cukup menguras keringat. Saking lelahnya Amira sampai kembali tertidur sedangkan Shaka bangun lebih dulu lalu bangkit dari tidurnya dan mulai memunguti semua pakaian yang tercecer di lantai. Setelah memakai kembali pakaiannya, Shaka pun keluar dari kamarnya.


Shaka berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan dan mendapati neneknya yang tengah duduk di meja makan sembari menikmati sarapan pagi.


"Selamat pagi nek." Sapa Shaka ramah pada Emely sembari mencium ujung kepalanya.


"Pagi. Amira mana?"


"Dia masih tidur nek, nampaknya dia kelelahan karena bekerja semalaman." Jawab Shaka sembari terus mengusap tengkuknya.


"Memangnya semalaman dia bekerja apa?" Tanya Emely sembari tersenyum.


"Ah tidak maksudnya semalam dia tidak bisa tidur dia baru bisa tidur pagi ini jadi aku tidak tegah membangunkannya." Jawab Shaka tampak gelagapan.


"Yang benar?" Tanya Emely mencoba menggoda Shaka.


"Iyaa benar nek." Jawab Shaka tampak malu-malu.


"Yah sudah terserah kamu saja yang pasti cepat berikan aku cicit." Ucap Emely yang sontak saja membuat Shaka terkejut dan menelan salivanya.


Emely pun tersenyum bahagia melihat Shaka dan Amira sudah saling mencintai. Emely tentu tau apa yang terjadi kepada mereka semalam,bagaimanapun Emely juga pernah muda, jadi dia bisa melihat tingkah malu-malu pasangan muda seperti Shaka dan Amira.


Amira perlahan bangun dari tidurnya, dia pun langsung terduduk saat menyadari Shaka tak ada lagi di sisinya. Ia pun kembali mengenakan bajunya sembari berdiri di depan cermin.


"Astaga." Ucap Amira yang jadi begitu terkejut karena melihat leher dan dadanya yang penuh tanda merah.


"Shaka Buwana!" Amira pun hanya bisa menggeram seorang diri menahan kesalnya.


Udara pagi ini memang masih begitu dingin membuat Amira mempunyai alasan yang cukup kuat pada nenek dan yang lainnya untuk memakai jaket yang bisa menutupi lehernya. Amira perlahan keluar dari kamar sembari melirik kesana kemari.


Amira pun berjalan menuruni anak tangga menuju dapur.


"Kau sudah bangun nak?" Tanya Emely yang sontak membuat Amira kaget.


"Iya nek, maaf aku bangunnya telat." Jawab Amira cengengesan.


"Tidak apa-apa nak. Pasti Shaka yang sudah membuat tidurmu tidak enak ya."

__ADS_1


"Aa, apa maksud nenek? Aku, aku tidak melakukan apapun dengannya nek." Amira langsung gugup dan gelagapan.


Entah kenapa Amira harus begitu malu di depan Emely, dia sering lupa dan menganggap dirinya belum menikah.


"Ah tidak usah malu begitu. Memang seperti itu lah pasangan suami istri." Ucap Emely tersenyum sembari mengusap pundak Amira.


"Tidak nek." Jawab Amira menundukkan kepala menahan malu.


"Nenek senang nak, kalian sudah saling mencintai. Ini yang nenek harapkan sejak dulu."


"Iya nek. Oh iya di mana Shaka Buwana nek?" Tanya Amira mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Dia di sana." Emely menunjuk taman belakang.


Amira melangkah mendekati jendelanya dan memandangi Shaka yang sedang terduduk di salah satu kursi taman belakang rumah.


Dia sedang menelpon siapa? Pagi-pagi begini? Tanya Amira dalam hati.


Amira pun beranjak dan sarapan sendirian di meja makan dengan di temani Emely karena tadi dia bangun telat jadi tidak sempat makan bersama Emely dan Shaka.


Selesai menelpon Kevin, Shaka memilih mandi, sementara Amira kembali masuk ke kamar untuk membereskan ranjang dan seisi kamarnya yang nampak begitu kacau. Amira sengaja tidak menyuruh pelayan untuk membersihkan kamar karena Amira tidak ingin mereka berfikir macam-macam tentang dia dan Shaka. Selesai mandi Shaka pun mendapati Amira tengah membereskan ranjang dan langsung memeluknya dari belakang.


"Memangnya tidak bisa melihat?" Ketus Amira.


Shaka langsung mengerutkan dahinya.


"Kamu kenapa? Kenapa jadi begitu kasar padaku?"


Amira kembali diam sembari terus melanjutkan beres-beresnya.


"Sayang kamu kenapa?" Shaka meraih kedua pundak Amira.


"Pagi-pagi sekali sudah ada di taman menelepon siapa?" Tanya Amira datar.


Menyadari Amira yang mempermasalahkan hal itu, membuat Shaka tersenyum geli.


"Ka, kamu serius marah karena hal itu?" Tanya Shaka yang tak percaya.

__ADS_1


Amira tidak menjawab, dia malah menepis tangan Shaka yang ada di pundaknya.


"Hei.. hei kenapa harus marah? Aku tidak berselingkuh. Aku menyuruh Kevin untuk menggantikan aku menyelesaikan meeting pagi ini, karena aku akan datang terlambat." Jelas Shaka yang kembali meraih kedua pundak Amira.


Amira pun hanya diam sembari berusaha menahan senyumannya karena merasa legah dengan penjelasan Shaka.


"Tidak percaya? Coba lihat riwayat panggilan di ponselku." Shaka pun meraih ponselnya dan menunjukkan riwayat panggilan yang memang tertera nama Kevin di situ.


"Bagaimana? Masih tidak percaya?"


Amira melihat riwayat panggilan masuk di ponsel Shaka. Alih-alih melihat nama Kevin, mata Amira justru malah terfokus pada nama Yura yang juga ada menelepon Shaka namun tidak di jawab.


"Yura?" Tanya Amira melirik ke arah Shaka.


Shaka pun hanya mengangguk lesu.


"Dia nampaknya masih begitu mengharapkan mu." Ucap Amira yang langsung mengembalikan ponselnya pada Shaka.


"Entahlah." Jawab Shaka lesu sembari terduduk di atas ranjang.


"Apa kau sungguh tidak memiliki perasaan apa pun lagi padanya?" Amira pun mendadak jadi murung.


Mendengar pertanyaan Amira, Shaka hanya mendengus kemudian tersenyum.


"Kamu sudah menguasai seluruh hatiku sekarang, jadi tidak ada tempat pada wanita mana pun lagi, termasuk Yura." Jawab Shaka sembari menarik tangan Amira.


Shaka mendudukkan Amira di pangkuannya, ia tersenyum sembari menyelipkan rambut Amira di telinganya.


"Oh ya tadi nenek pamit untuk keluar sebentar bersama pelayan."


"Lalu kenapa?" Amira mengerutkan dahinya.


"Aku ingin lagi." Bisik Shaka tersenyum genit sembari megedipkan sebelah matanya dan langsung melahap lagi bibir Amira.


Amira melepaskan ciuman hangat Shaka.


"Aku belum mandi. Aku malu padamu kalau harus melakukan itu di pagi hari seperti ini apa lagi aku belum mandi begini."

__ADS_1


Namun tanpa menjawab, Shaka langsung saja mengangkat tubuh Amira dan membawanya ke kamar mandi. Shaka menghidupkan shower, ia melahap bibir Amira lagi dan membiarkan guyuran air di shower membasahi tubuh mereka.


******* demi ******* kembali mengalun indah bersahut-sahutan dengan suara guyuran air yang jatuh, kedap suara di kamar mereka, membuat mereka lebih leluasa mengeluarkan suara kenikmatan yang mereka ciptakan di dalam kamar mandi. Satu persatu pakaian Amira dan Shaka kembali terlepas, Shaka terus melahap bibir Amira, membuat mulutnya semakin terbuka hingga lidahnya bebas berkelana menyapu seluruh isi dalam mulut Amira. Suara erangan Amira semakin pecah saat Shaka kembali memasuki lubang surgawi miliknya, entah berapa lama sudah suara air shower menyamarkan suara ******* Amira, hingga akhirnya aksi itu pun berakhir dengan membawa nafas keduanya yang sama-sama terengah.


__ADS_2