Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 101 Pertemuan Amira dan Nenek


__ADS_3

Kini Shaka berjalan memasuki rumah Amira sembari menarik tangan Amira yang saat itu ikut melangkah di belakangnya.


Adi dan Riana yang saat itu sedang duduk di ruang keluarga kini di buat tercengang dengan kedatangan Shaka.


Shaka yang terus melangkah dengan masih menggenggam tangan Amira, kini sudah berdiri tepat di depan Adi yang masih berdiri terdiam.


“Pa, ma,” ucap Shaka yang sontak membuyarkan lamunan Adi.


“Shaka datang ke sini untuk meminta maaf kepada papa dan mama atas apa yang sudah Shaka perbuat kepada Amira malam itu,” tambah Shaka sembari menundukan kepalanya.


“Maafkan Shaka pa, Shaka melakukan itu semua karena Shaka sangat mencintai Amira, Shaka tidak rela kalau Amira di sentuh pria lain, sekali lagi maafkan Shaka pa, ma, yang lebih percaya perkataan orang lain di bandingkan Amira,” jelas Shaka yang masih terus menundukan kepalanya.


Namun semua pernyataan Shaka itu tidak menimbulkan respon apapun dari orang tua Amira, mereka masih terus diam tak bergeming.


“Kenapa papa dan mama masih terus diam, apa mereka masih sangat marah?” Gumam Shaka dalam hati.


“Ma, pa, sekali lagi tolong maafkan Shaka,” Shaka memohon dan mulai kembali berlutut di hadapan kedua orang tua Amira, Amira pun sontak terkejut saat Shaka tiba-tiba saja kembali merendahkan tubuhnya di hadapan orang tuanya.


Melihat itu Adi pun dengan sigap menahan lengan Shaka agar tidak berlutut.


“Kau tak perlu berlutut seperti ini hanya karena ingin memohon maaf dari kami,” ucap Adi secara datar.


“Pa, ma, aku seperti ini karena aku tidak sanggup jika harus berpisah dengan Amira, semua ini aku lakukan demi nenek dan juga Amira, saat ini nenek sedang sakit pa, dia sangat merindukan Amira,” jelas Shaka dengan lirih.


“Apa? Mama Emely sakit?” Tanya Adi sontak membulatkan matanya dengan sempurna saat mendengar pernyataan Shaka.


“Lalu mama Emely sakit apa? Dan di mana mama Emely sekarang?” Tanya Riana menimpali.


“Nenek terkena serangan jantung karena mengetahui Amira yang memilih pulang ke rumah mama dan papa, saat ini nenek sedang berada di rumah sakit, nenek juga tidak sadarkan diri selama kurang dari 24 jam, namun untungnya nenek sudah sadar beberapa jam yang lalu, dan ketika sadar nenek langsung memanggil-manggil nama Amira,” papar Shaka yang sembari mulai menundukan kepalanya lagi.


“Oh tuhan, mama,” Riana menutup mulutnya yang sedikit menganga dengan mata yang mulai berkaca.


“Shaka, antarkan kami ke rumah sakit sekarang dan kau juga bisa membawa Amira pulang ke rumahmu,” ucap Adi kemudian.


Shaka pun mulai mengangkat kepalanya dan menatap ayah menantunya itu dengan wajah sumringah.


“Tapi dengan syarat, kau jangan menyakiti Amira lagi, kalau sampai aku melihat Amira meneteskan air mata kesedihan lagi karena mu, aku akan membawa Amira pulang kembali ke rumah ini, dan aku tidak akan mengizinkan mu datang menemui Amira walau hanya sedetik,” tegas Adi mencoba memperingatkan Shaka.


“Aku bersumpah, aku tidak akan menyakiti Amira lagi, aku akan melindunginya dengan segenap hatiku, pegang kata-kataku ini pa, ma,” Shaka mencoba meyakinkan Adi dan Riana.

__ADS_1


Mendengar itu Amira pun sontak di buat terkesima hingga pipinya memerah, namun ia segera menepis perasaan itu saat Shaka beralih menatapnya.


“Yah sudah, kalau begitu ayo kita segera ke rumah sakit sekarang,” ucap Adi yang langsung diangguki oleh Shaka dan Amira.


Kini mereka berempat sudah ada di dalam mobil, Shaka dengan sigap menyalahkan mesin mobilnya dan menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Amira.


Rumah sakit Green Light…


Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 malam, mobil yang dikemudikan Shaka kini sudah terparkir sempurna di parkiran rumah sakit, tak lama Shaka pun langsung turun dan membuka kan pintu mobil untuk Amira.


“Terima kasih,” ucap Amira pelan.


Shaka pun tersenyum dengan wajahnya yang semakin jelas terlihat pucat, Shaka pun segera menarik tangan Amira untuk masuk ke rumah sakit, namun dengan segera Amira melepaskan tautan tangannya dari tangan Shaka.


“Aku bisa jalan sendiri,” ucap Amira dengan wajah yang datar.


Shaka pun hanya bisa diam sembari menatap Adi dan Riana yang saat itu juga terheran-heran dengan sikap Amira yang begitu dingin pada Shaka, dengan menghela nafas, ia pun akhirnya kembali melanjutkan langkahnya mendahului Amira dan orang tuanya yang terus mengikuti dari belakang.


Untuk menuju kamar Emely yang berada di lantai 10, mereka pun tentunya harus menaiki lift, Shaka dan Amira begitu pun dengan orang tua Amira berdiri berdampingan dengan suasana hening, ketika lift menunjukkan angka 5, tiba-tiba saja lift terguncang entah apa penyebabnya, hingga membuat Amira refleks memegang tangan Shaka dan Shaka pun spontan memeluk Amira untuk memberi perlindungan.


Sejenak Shaka dan Amira saling menatap, namun Amira langsung di buat tersentak saat lift terbuka menandakan ada orang yang ingin masuk, menyadari Shaka yang memeluk Amira, membuat Amira sontak menepis tangan Shaka dan kembali berdiri seperti biasa begitu pun dengan Shaka.


“Kali ini aku maafkan,” jawab Amira pelan namun tanpa melirik Shaka sedikit pun.


“Rupanya Amira belum sepenuhnya menerima Shaka kembali, tapi biarlah itu jadi urusan rumah tangga mereka,” batin Riana yang dari tadi memperhatikan tingkah laku Amira terhadap Shaka.


Kini mereka sudah sampai di lantai 10, Shaka pun terus melangkah membawa Amira dan orang tuanya ke ruangan di mana Emely di rawat.


Amira menarik nafas panjang, entah kenapa kali ini ia sungguh merasa gugup, seolah ini pertemuan pertamanya dengan nenek Emely.


“Nenek,” ucap Shaka sembari tersenyum tipis.


“Ka, di… di mana A…Amira?” Tanya Emely yang masih terlihat begitu lemas dan terbata-bata.


Setelah merasa cukup tenang Amira dengan di susul orang tua nya pun akhirnya masuk.


“Aku di sini nek,” jawab Amira sembari tersenyum, namun dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Amira pun menghampiri Emely dan memeluk tubuhnya sembari menangis.

__ADS_1


“Maafkan aku nek, aku sudah banyak membuat kekacauan di keluarga ini,” ucap Amira lirih.


“Ja… jangan bi…bicara be..gitu se…luruh orang di… rumah sa.. ngat mengasihi mu,” jawab Emely dengan begitu pelan.


“Maafkan aku nek, karena masalah ini juga kau sampai jatuh sakit, aku sangat menyesal nek,” Amira semakin menangis.


Sementara Emely masih terdiam sejenak, sembari mengusap pelan ujung kepala Amira.


Beberapa saat kemudian, Amira pun kembali berdiri tegak sembari mengusap air matanya.


“A…aku mo..hon padamu Nak, to…long ja..jangan tinggalkan ne…nek lagi,” ucap Emely sembari mulai meraih jemari tangan Amira.


Amira pun akhirnya hanya mengangguk patuh.


“Aku berjanji tidak akan meninggalakan nenek, asalkan nenek juga berjanji nenek harus segera sembuh agar kita bisa pulang sama-sama ke rumah ya?” Amira dengan lembut pun mulai mengusap punggung tangan Emely lalu menciuminya.


Amira pun lalu menatap ayahnya dan mundur selangkah untuk memberi jalan pada ayahnya agar bisa berdiri lebih dekat lagi dengan Emely.


“Mama, cepatlah sembuh supaya bisa cepat pulang ke rumah dan bisa melihat calon cicit mama yang sebentar lagi akan hadir,” ucap Adi meraih tangan Emely dan mengusap punggung tangannya.


“Ci…cit?” Tanya Emely mulai mengerutkan dahinya.


“Iya, mama tau, Amira sekarang mengandung, usia kandungannya sudah 1 bulan,” tambah Adi lagi dengan wajah yang berseri-seri.


Emely pun begitu sumringah saat mendengar pernyataan Adi, ia pun menatap Shaka dan Amira bergantian dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya.


“Iya nenek akan segera menimang cicit,” tambah Shaka kemudian.


“Kalau begitu sekarang waktunya nenek istirahat, malam sudah mulai larut,” Amira pun tersenyum sembari membenahi selimut Emely.


“Oh ya, apa nenek sudah makan dan minum obat?” Tanya Amira lagi.


Emely pun hanya mengangguk sembari terus menatap Amira dengan senyum yang terus terpancar dari wajahnya.


“Ah baguslah,” Amira pun kembali tersenyum.


Shaka yang melihat adegan itu kembali merasakan kehangatan pada jiwanya yang sempat di buat begitu rapuh.


“Terima kasih tuhan, karena telah menghadirkan wanita setulus ini di hidupku, meragukannya adalah hal yang paling tolol yang pernah ku lakukan, kini aku berjanji pada tuhan dan diriku sendiri, mulai sekarang dan nanti aku tidak akan meragukannya lagi, takkan pernah!” Gumam Shaka dalam hati sembari terus tersenyum tipis memandangi Amira yang saat itu terlihat begitu tulus menyayangi neneknya.

__ADS_1


__ADS_2