
Tepat jam 7 pagi, mobil Shaka sudah melesat sampai di sekolah anak-anaknya, sekolah itu sudah ada TK dan PAUD yang tergabung di dalamnya, Shaka sengaja menyekolahkan mereka di sekolah yang sama agar tidak repot bolak balik mengantar jemput mereka di sekolah yang berbeda.
“Pa, kita turun ya,” ucap kedua anaknya serentak, lalu bergantian menyalami Shaka.
“Iya, belajar yang benar ya, nanti mama yang akan menjemput kalian,” jawab Shaka sembari mengusap lembut ujung kepala kedua anaknya itu secara bergantian.
“Oke pa,” jawab kedua bocah itu dengan kompaknya.
Akhirnya mereka pun turun dari mobil, setelah sudah di pastikan mereka masuk ke dalam halaman sekolah, Shaka pun segera melajukan mobilnya menuju kantor utama.
Tak terasa jarum jam sudah menunjuk ke angka 08.30 pagi, Amira sedang asyik duduk berbincang-bincang dengan nenek Emely di taman belakang rumah, Amira yang tengah memotong buah-buahan untuk nenek Emely pun sontak mengehentikan aktivitasnya saat dering telepon di saku celananya berbunyi, dengan menampilkan nama mama di layar ponselnya.
“Sebentar ya nek, Amira angkat telepon dari mama dulu,” ucap Amira meminta izin lalu berdiri sedikit jauh dari nenek Emely.
“Iya nak,” jawab Emely dengan tersenyum.
“Halo, kenapa ma?”
“Apa?” Amira sontak membulatkan matanya dengan menutup mulutnya yang menganga karena saking terkejutnya, tangannya mulai gemetar, hingga membuat ponsel di tangannya jatuh begitu saja.
Melihat reaksi Amira nenek Emely dengan langkah yang tergopo-gopo, menggunakan tongkatnya berjalan menghampiri Amira yang sudah terlihat begitu syok.
“Ada apa nak?” Tanya Emely yang ikut bingung dan panik melihat keadaan Amira.
Kaki Amira terasa begitu lemah, hingga tak sengaja tubuhnya terhuyung ke tanah, nenek Emely pun semakin panik, spontan ia berteriak memanggil pelayan untuk membantu Amira yang sudah tampak terpuruk.
Tak lama dua orang pelayan pun datang dan dengan sigap langsung membantu Amira berdiri, lalu menggiring Amira duduk di dipan yang tersedia di taman belakang itu.
Nenek Emely pun menyusul duduk di samping Amira, ia menepikan rambut Amira yang sedikit menghalangi wajahnya lalu mengusap air mata Amira dengan lembut, setelah cukup tenang, nenek Emely pun mulai bertanya.
__ADS_1
“Coba ceritakan, apa yang terjadi?” Tanya Emely sembari mengusap-ngusap punggung Amira.
“Papa nek…” jawab Amira beralih menatap Emely dengan mata yang begitu sembab.
“Kenapa papa?” Tanya Emely yang jadi ikut panik, perasaannya jadi mulai tidak enak.
“Papa kecelakaan, sekarang papa sedang berada di rumah sakit keluarga kita,” jawab Amira dengan air mata yang semakin membanjiri pipinya.
Mendengar itu Emely tak kalah kagetnya, ia pun seketika di buat panik dan tiba-tiba dadanya sesak, melihat keadaan Emely kini gantian Amira yang panik.
“Nek, nenek tenanglah,” ujar Amira mengusap punggung Emely dan semakin menangis.
Dengan sigap pelayan pun memapah Emely menuju kamarnya dengan di susul oleh Amira, membantu para pelayan membaringkan tubuh Emely di ranjang ukuran king size miliknya.
“Nek, tenanglah, jangan seperti ini Amira jadi takut, Amira sudah tidak tau harus berbuat apa,” ujar Amira semakin menangis.
Melihat itu Emely pun di buat iba, seketika dia langsung mengontrol rasa paniknya sembari mengusap-ngusap dadanya yang terasa sesak, dia tidak ingin melihat Amira semakin khawatir, dan benar saja, setelah berusaha mengontrol rasa paniknya, kini sesak di dada Emely sudah mulai berkurang.
“Apa benar nenek sudah membaik?” Tanya Amira melihat nafas Emely yang sudah mulai normal.
“Iya, kau pergilah jenguk papa kamu, dan jangan lupa begitu sampai segera kabari aku, nanti kalau tubuhku sudah mulai membaik, aku akan segera ke rumah sakit menjenguk papa kamu,” jelas Emely kemudian.
“Sebaiknya nenek jangan terlalu memikirkan itu, istirahatlah yang cukup agar tubuh nenek kembali fit,” ujar Amira mulai merapikan bantal dan membaringkan tubuh nenek Emely yang sebelumnya duduk berselonjor di atas ranjang, jadi berbaring telentang, Amira menyelimuti tubuh nenek Emely hingga sebatas dada lalu mengecup singkat dahi Emely, lalu pamit untuk ke rumah sakit menjenguk papanya.
“Bi’ Santi, tolong jaga nenek baik-baik ya,” ujar Amira beralih menatap Santi yang kini tengah duduk di tepi ranjang sembari mengurut pelan kedua kaki Emely.
“Baik nona,” jawab Santi sontak berdiri dan membungkukkan badannya di hadapan Amira.
Sementara di sekolah, Queen dan Samudra sedang duduk di depan sekolah menunggu jemputan mereka yang tak kunjung datang, semua anak-anak sudah di jemput orang tuanya masing-masing, sehingga hanya menyisakan Queen dan Samudra yang masih setia berdiri di depan gerbang sekolah.
__ADS_1
“Kenapa mama lama sekali?” Tanya Samudra yang sudah mulai gelisah.
“Sabar dek, mungkin mama masih dalam perjalanan dan mungkin jalanannya macet,” ucap Queen pada adiknya itu.!
Sementara tak jauh dari tempat mereka berdiri, sudah ada dua orang pria dengan tubuh kekar sedang berdiri menatap kedua anak itu.
Tak lama setelah dirasa cukup aman, kedua pria berbadan kekar itu langsung berjalan cepat menghampiri kedua anak itu dan langsung saja menggendong tubuh Queen begitu saja untuk membawanya masuk ke mobil, Queen tampak begitu kaget dan berteriak saking takutnya.
Melihat itu Samudra sontak terkejut, ia juga berteriak histeris dan menahan lengan pria yg sudah menggendong kakaknya.
“Siapa kalian? Jangan bawa kakak ku, tolooonnggg,” terdengar pantulan suara Samudra melengking dan begitu memekakan telinga di halaman sekolah yang sudah kosong penghuni itu.
Kedua pria itu seketika di buat panik, mereka tidak mau ada yang mendengar suara Samudra, dengan sigap 1 pria lagi menutup mulut Samudra dengan kain yang diikat di belakang kepala, mereka mengikat tangan dan kaki Samudra dengan tali lalu mendudukkan Samudra di kursi yang sebelumnya ia dan Queen duduki.
“Jangan sakiti adikku,”
Mendengar teriakan Queen mereka pun dengan segera membekap mulut Queen dengan tangan mereka dan membawanya secara paksa, masuk ke dalam mobil.
Mobil itu pun langsung saja melaju dengan cepat, berlalu meninggalkan Samudra yang sudah duduk terikat dengan keadaan mulut yang juga sudah disumbat kain.
Sementara Amira yang baru saja sampai langsung menghentikan mobilnya saat melihat Samudra sudah dalam keadaan terikat.
Dengan cepat Amira turun dari mobilnya dan berlari kecil menghampiri anaknya, ia sangat panik menemukan Samudra dalam keadaan seperti itu, dengan sigap, ia membuka ikatan pada tangan dan kaki Samudra juga ikatan di mulut Samudra, Amira terlambat menjemput mereka karena begitu sibuk dengan papanya yang kecelakaan, dan juga nenek Emely yang hampir drop karena mendengar musibah yang menimpa papa Amira.
Ketika keadaan sudah cukup tenang, dia baru teringat dengan kedua anaknya yang sedang menunggu di sekolah, ia pun bergegas pergi menuju sekolah untuk menjemput kedua anaknya, namun sayangnya, sesampainya di sekolah, dia harus mendapati kenyataan yang sangat mengejutkan ini.
“Sayang, kenapa bisa seperti ini? Siapa yang melakukan ini padamu? Mana kakakmu?” Amira memberikan pertanyaan yang beruntun pada anaknya saking paniknya.
“Kakak di bawa pergi oleh dua orang pria bertubuh besar dan garang, mereka mengikatku di sini dan membawa kakak secara paksa, dua pria itu membawa mobil,” jawab Samudra dengan air mata yang sudah membanjiri pipi gembulnya.
__ADS_1
“Apa?” Amira sontak jadi begitu panik, jantungnya bergemuruh dengan sangat cepat, dengan tangan bergetar ia meraih ponselnya untuk menghubungi Shaka.