Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 45 Rencana Jahat Berbuah Manis


__ADS_3

Shaka sudah masuk ke dalam rumah dengan menggendong Amira. Semakin ke sini gelagat Amira semakin aneh, Amira mulai membuka satu persatu kancing bajunya. Melihat itu Shaka semakin panik, ia segera membawa Amira ke kamar. Sesampainya di kamar Shaka membaringkan tubuh Amira di ranjang, namun Amira segera menarik Shaka menggunakan lengannya yang melingkar di leher Shaka. Amira memangkas jarak antara dia dan Shaka, hal itu membuat Shaka semakin gugup.


"Amira tunggu sebentar, aku akan menyiapkan air dingin untukmu". Ucap Shaka dengan lembut.


Namun Amira semakin mengeratkan pelukannya sembari meraba dada bidang Shaka dan membuka satu persatu kancing kemeja Shaka.


"Amira, jangan lakukan ini. Sadarlah!!" Ucap Shaka sembari menahan tangan nakal Amira.


Namun Amira tak mempedulikannya. Malah Amira tanpa permisi mencium bibir Shaka, hal itu sontak membuat mata Shaka membulat sempurna dan mencoba melepaskan tautan bibir mereka.


"Amira, sadarlah!!" Ucap Shaka sembari mengguncang kedua pundak Amira.


Namun Amira menciuminya lagi dengan penuh nafsu.


"Aku sudah tidak bisa menahannya. Tolong aku, selamatkan aku dari situasi ini." Bisik Amira di telinga Shaka sembari menciumi telinga Shaka.

__ADS_1


Hal itu membuat Shaka sontak merasa kegelian. Namun Shaka tetap menahannya, dia tidak mau mempergunakan kesempatan untuk melayani nafsu Amira di saat seperti ini. Shaka sekali lagi mencoba melepaskan tangan Amira yang sedang melingkar di leher Shaka.


"Amira, tolong sadarlah jangan seperti ini." Ucap Shaka mencoba menyadarkan Amira.


"Tolong aku." Bisik Amira, lalu ia ******* bibir Shaka.


Kini lidah Amira semakin liar berkelana di mulut Shaka. Membuat Shaka sangat sulit menolaknya, Shaka pun akhirnya pasrah dan membiarkan Amira melakukannya sesuka hati. Lama kelamaan hal itu menggoyakan pertahanan Shaka sebagai lelaki normal. Dengan keadaan bibir yang masih bertautan Shaka pun mengunci pintu kamar itu dan mendorong tubuh Amira hingga jatuh ke ranjang. Shaka menciumi area leher Amira dengan lahap, hal itu sontak membuat Amira memejamkan mata menikmati setiap sentuhan lidah yang di berikan Shaka pada lehernya.


Amira masih dengan nafsu yang tak terkendali mendorong tubuh Shaka hingga membuat posisinya yang tadi di bawa, kini jadi di atas Shaka. Amira membuka satu persatu kancing kemeja Shaka dan langsung membuangnya ke sembarang arah. Kini Shaka sudah bertelanjang dada dan menciumi leher dan dada bidang Shaka dengan liar dan menyisahkan tanda merah di sana. Amira pun menarik tubuh bidang Shaka hingga posisi mereka jadi terduduk dengan Amira berada di atas pangkuan Shaka. Mereka kembali berciuman panas, Amira terus menjambak pelan rambut Shaka.


Shaka menciumi bagian dada Amira yang terbuka dengan penuh nafsu dan meninggalkan tanda merah di area dada Amira. Amira mulai mendesah dan terus menjambak pelan rambut Shaka. Tak hanya sampai di situ, kini tangan Shaka tengah bermain di area sensitif Amira, membuat Amira semakin menggeliat dan mendesah merasakan setiap sentuhan yang di berikan Shaka. Shaka menghentikan sejenak aksinya dan melihat Amira yang sedang merasakan kenikmatan yang tiada tara.


"Apa kau yakin aku akan melakukannya?" Tanya Shaka untuk memastikan.


Namun bukannya menjawab Amira kembali mengalungkan tangannya di leher Shaka dan membenamkan wajah Shaka ke dadanya sebagai isyarat agar Shaka kembali ******* area dadanya. Shaka pun kembali menciumi area dada Amira hingga akhirnya tanpa sadar Amira harus merelakan tubuhnya seutuhnya untuk Shaka.

__ADS_1


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 malam. Amira dan Shaka masih berkutat di atas ranjang untuk yang ke empat kalinya. Amira berulang-ulang kali meminta Shaka untuk memuaskan nafsunya. Keadaan kamar pun semakin berantakan dengan pakaian sudah berhamburan di mana-mana dan sprei juga yang entah ke mana.


Ponsel Shaka yang berada di saku celananya terus berdering berkali-kali entah berapa puluh panggilan sudah di abaikan oleh Shaka hanya karena sedang bersenggama dengan Amira. Sedangkan Amira yang kini tengah menguasai permainan ranjang mereka juga tidak mempedulikan ponselnya yang terus berdering panggilan dari Reza.


Akhirnya setelah selesai di round ke empat, Amira mulai terbaring lemas di ranjang setelah semua nafsunya sudah tersalurkan dengan puas. Begitu pun dengan Shaka yang juga terbaring di samping Amira dengan nafas terngah-engah. Shaka pun memandangi wajah Amira dengan lirih dan menarik selimut tebalnya untuk menutupi tubuh Amira yang tanpa sehelai benang pun. Shaka mengusap lembut sebagian rambut Amira yang tertutup di wajah, sejenak perasaan bersalah dari benak Shaka pun mulai muncul.


Maafkan aku Amira, aku sudah gagal menahannya. Tidak seharusnya aku memaksakan nafsu ku di saat kau tengah berada dalam pengaruh obat. Batin Shaka sembari menatap sendu ke arah Amira.


"Aku janji aku akan tetap bersamamu dan akan mempertahankan rumah tangga kita selamanya. Aku yakin setelah kau tau apa yang sudah kita lakukan malam ini, kau pasti akan sangat marah dan akan membenciku. Tapi sebelum kau membenciku aku ingin kau tau satu hal, sesungguhnya aku diam-diam sudah mencintaimu, hanya saja, sampai sekarang aku tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkannya padamu. Karena aku tidak siap jika harus mendapatkan penolakan darimu. Kau tidur lah yang nyenyak." Bisik Shaka sembari mencium kening Amira dengan lembut dan membawa Amira ke dalam dekapannya.


Tak lama karena saking lelahnya, Shaka pun terlelap dengan posisi tengah memeluk Amira dengan tubuh yang sama-sama polos tanpa busana di balik selimut tebal.


Pagi harinya, sinar mentari pagi kini telah menyapa Shaka dan Amira melalui sela-sela gorden jendela dan menyengat hangat kulit wajah Shaka. Shaka perlahan mulai membuka matanya sembari tersenyum menatap Amira yang masih tertidur di dalam dekapannya.


Shaka terus memandangi wajah Amira yang memucat karena lipstiknya yang luntur akibat ciuman panas mereka semalam. Shaka perlahan melepaskan pelukan Amira pada tubuhnya, dan duduk di tepi ranjang. Shaka kembali memandangi Amira dengan rasa penyesalan karena tidak bisa menahan nafsunya di saat kondisi Amira seperti ini.

__ADS_1


Puas memandangi Amira yang masih tertidur pulas. Shaka beranjak dari duduknya, dan mulai memakai kembali pakaiannya dan memunguti pakaian Amira yang berserakan di lantai. Setelah itu, Shaka memutuskan untuk segera keluar dari kamar itu sebelum Amira bangun dan melihatnya ada di kamar itu dengan keadaan Amira yang tanpa sehelai benang pun di dalam selimut. Ia takut Amira akan langsung memarahinya habis-habisan tanpa mendengar penjelasan darinya terlebih dahulu.


__ADS_2