Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 92 Melihat Amira


__ADS_3

Kini Elisa dan Marsel sudah berada di hadapan Dewa dengan membawa Amira, namun sesampainya di sana dengan emosi yang membara, Dewa langsung melayangkan tamparan keras di pipi kiri Amira.


Amira pun sontak terjatuh saat menerima tamparan yang begitu keras itu dari Dewa, ia meringis kesakitan sembari memegang pipi kirinya, air matanya pun jatuh begitu saja, tamparan Dewa sukses membuat pipi kiri Amira memerah.


“Kenapa kau sampai hamil hah? Lihat gara-gara kau hamil, kau tidak bisa berguna apa-apa untukku,” bentak Dewa sembari menunjuk-nunjuk wajah Amira.


Melihat itu, Marsel langsung berjongkok mendekati Amira dan mulai memegang kedua tangan Amira untuk membantunya berdiri.


“Kak, ku rasa kak Dewa jangan terlalu keras padanya, bagaimana pun dia sedang hamil, asalkan dia tidak kabur, biarkan aku yang mengambil alih untuk mengawasinya, aku jamin, dalam pengawasanku dia tidak akan kabur dari sini,” ucap Marsel yang mulai memberi saran.


“Heh katakan padaku, selain memuaskan tamu-tamuku, apa kau bisa berguna bagiku ha?” Ketus Dewa lagi.


Selama 2 hari Amira bekerja di Cassino milik Dewa, para tamu yang ingin membooking Amira, tak pernah berhasil menidurinya karena Amira selalu saja kabur dari pria-pria hidung belang itu, sehingga Amira selalu mendapatkan amukan kasar dari Dewa.


“Suru aku apa saja, aku janji pasti bisa melakukannya, demi menebus kesalahanku padamu, agar dendam mu bisa hilang dan tidak mengusik orang-orang yang ada di sekelilingku,” jawab Amira lirih.


“Apa saja? Kau yakin mau melakukan apapun tanpa di bayar?”


“Iya, tidak apa, bayar aku dengan makanan dan susu untuk kandunganku saja,”


Dewa kembali terdiam sembari berfikir.


“Kak Dewa, sepertinya untuk sementara ini berikan dia tugas lain, namun jika kandungannya sudah mulai membesar, maka ia harus melayani tamu-tamu mu,” ujar Marsel menyarankan.


“Dan tentu saja setelah kandungan mu membesar, kau akan jadi budak nafsuku,” gumam Marsel dalam hati sembari tersenyum sinis.


“Tadi dokter sudah menjelaskan, Amira boleh melakukan hubungan intim apabila kandungannya sudah membesar,”

__ADS_1


“Baiklah, saran mu saya terima, tapi ingat jangan biarkan dia lolos, kau mengerti?!” Ucap Dewa pada Marsel.


“Iya, tenang saja aku tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja,”


Amira pun kembali menangis ketakutan.


“Kenapa? Kau mau menolaknya? Jika kau menolak, maka aku akan menyuruh Marsel untuk meneror orang tuamu, suamimu, anak itu dan nenek tua itu,” jelas Dewa dengan wajah sinisnya.


“Jangan lakukan itu, baiklah aku akan menurutinya,”


“Good girl!” Dewa pun tersenyum lalu beralih menuju meja judi di mana rekan-rekannya yang lain sedang menunggu.


Sisi lain di kantor utama Buwana Group…


Kini waktu sudah beranjak siang, waktunya para pegawai kembali bekerja setelah jam istirahat, mereka juga sudah dikejutkan dengan kabar hilangnya istri dari Shaka Buwana, yaitu bos mereka sendiri.


Berita itu kian merambat dari mulut ke mulut sampai ke seluruh pegawai Shaka yang berada di setiap cabang perusahaan, hotel, restoran dan rumah sakit miliknya, tidak hany itu bahkan semua orang yang ada di kota itu termasuk Genta, juga tau berita hilangnya Amira, Shaka juga menegaskan pada seluruh pegawainya atau siapapun itu melalui Kevin, jika yang ada menemukan Amira ia akan mendapatkan imbalan besar darinya.


Genta menyusuri semua jalanan di kota itu, ia sudah mencari Amira ke mana-mana, ke rumah Salsa, ke tempat mereka biasa bertemu dulu, ke rumah teman-temannya yang lain, namun hasilnya nihil Amira tak kunjung ditemukan.


Tak terasa waktu kini beranjak malam, Genta pun memilih untuk pulang karena seharian mencari Amira yang tak juga ia temukan.


“Amira kamu di mana? Kenapa kau sampai hilang? Apa yang terjadi padamu?” Ucap Genta lirih.


Genta membaringkan tubuhnya di atas ranjang sembari memijit pelipisnya, seharian mencari Amira membuat ia begitu penat, tak lama ponselnya berdering, dengan lesu Genta meraih ponselnya di atas nakas dan menjawab panggilan telepon dari sang penelepon.


“Halo,”

__ADS_1


“Heii bro, kau di mana? Kita jadi kumpul kan?” Tanya Doni teman Genta.


Genta pun sontak bangkit dari tidurnya, dia lupa kalau hari ini dia ada janji dengan teman-temannya untuk berkumpul di rooftop Cassino milik ayahnya yant ada di gedung lantai 4.


Genta dan teman-temannya memang sering berkumpul di rooftop Cassino milik ayahnya.


“Maaf aku lupa, ya sudah sekarang juga aku akan siap-siap, aku akan segera ke sana,” jawab Genta kemudian langsung mengakhiri panggilan telepon dari Doni.


Akhirnya mobil Genta tiba di basement Cassino milik ayahnya, Genta pun turun, saat itu seperti biasa, banyak orang yang lalu lalang di gedung itu, ada yang keluar dan ada juga yang masuk ke dalam gedung itu.


Tak lama Genta pun masuk dan melihat banyak para tamu yang ditemani wanita-wanita yang bekerja di Cassino milik ayahnya.


Kini Marsel selalu berada di Cassino itu semenjak Amira di pekerjakan disana, demi untuk memastikan kalau Amira tidak kabur.


Namun entah kenapa pula, semakin ke sini Marsel semakin mulai di buat luluh dengan Amira, wajah lembut Amira, ditambah dengan sikap Amira yang sekarang selalu menurut dengan apapun ucapannya, sehingga dengan perlahan Marsel jadi tak terlalu kejam padanya, kini diam-diam Marsel pun jadi sering memperhatikan Amira bekerja dari kejauhan, hingga kadang membuatnya senyum sendiri.


Malam ini seperti biasa pula, Amira kembali bekerja dengan duduk menemani tamunya berjudi, sesekali ia menuangkan minuman dan memberikan pada tamunya itu.


Di sudut yang lain di dalam ruangan itu, tanpa Amira sadari, ternyata sudah ada sepasang mata yang begitu membulat saat memandanginya, sepasang mata itu nampaknya begitu terperangah dan terkejut saat mengetahui keberadaan Amira di tempat yang sama dengannya, sepasang mata itu tak lain ialah milik Genta.


“Amira, apa itu sungguh Amira?” Tanya Genta sembari terus mengedip-ngedipkan matanya demi memastikan tidak ada yang salah dengan padangannya.


“Astaga, benar itu Amira,” tambahnya lagi.


Namun tak lama Genta kini di tarik oleh Doni dan teman-temannya yang lain.


“Ayo kita ke atas,” ucap teman Genta.

__ADS_1


“Baik, ayo kita ke atas,”


“Apa Amira bekerja di sini? Kenapa papa tidak pernah cerita? Pantas saja aku cari ke semua sudut kota ini dia tidak juga ditemukan, nyata nya dia ada di sini, baiklah aku akan ke rooftop dulu, namun selesai dari situ aku akan kembali lagi ke sini untuk menemuinya,” gumam Genta dalam hati.


__ADS_2