Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 89 Mencari Amira


__ADS_3

Kini kedua mobil itu melesat cepat menuju desa tersebut dengan membawa harapan besar, mereka berharap jika mereka akan menemukan Amira di sana, dan bisa membawah Amira pulang ke rumah.


Akhirnya dengan hanya menempuh 2 setengah jam perjalanan, kini mereka pun tiba di depan rumah nenek Amira, suasana desa pagi itu terasa masih sejuk, mereka pun dengan cepat turun dari mobil di sambut oleh nenek Amira yang saat itu tengah duduk bersantai di halaman depan rumahnya.


“Assalamualaikum bu,” Riana mengucap salam dan langsung menyalami ibu nya kemudian diikuti oleh yang lainnya.


Namun setelah semuanya bersalaman, nenek Amira mengerutkan dahinya tampak bingung, dari semua yang datang dia tidak melihat sosok Amira diantara mereka.


“Bu’ kenalkan ini kedua sahabat Shaka,” ucap Riana mengenalkan Reza dan Kevin.


Nenek Amira tampak berbinar-binar melihat kedatangan mereka, lalu setelah itu ia pun bertanya.


“Amira di mana?”


Mendengar pertanyaan nenek Amira, semuanya jadi ikut heran, maksud kedatangan mereka adalah untuk mencari Amira, namun sebelum mereka menanyakan keberadaan Amira, nenek Amira sudah bertanya keberadaan Amira lebih dulu, sehingga dengan menelan kekecewaan yang begitu dalam akhirnya mereka pun sadar kalau Amira juga tidak berada di sini.


Shaka masih terdiam, dia orang yang paling kecewa setelah kedua orang tua Amira, harapan yang mereka bawah ternyata sia-sia belaka.


Nenek Amira yang mendengar penuturan Adi dan Riana juga ikut sedih mendengar berita hilangnya Amira, namun dia tidak ikut-ikutan menghakimi Shaka, dia berpesan agar mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari Amira, dia tidak bisa ikut karena keadaannya yang sudah sakit-sakitan, di ikut berdoa agar Amira baik-baik saja dan akan segera ditemukan.


Setelah memastikan Amira tidak ada di rumah neneknya, Shaka pun kembali terduduk lesu di bangku halaman depan rumah nenek Amira, ia nampak frustasi hingga terus mengusap kasar wajahnya.


“Sekarang lihat! Putriku tidak ada di mana-mana, bagaimana kalau orang-orang jahat diluar sana mencelakainya?” Ketus Adi dengan emosi.


“Tidak, aku bersumpah akan menemukannya!” Shaka pun kembali berdiri dan langsung berjalan menuju mobilnya.


Sisi lain di Cassino…


Dewa menarik kasar tangan Amira saat mereka sedang berada di Cassino, ia menarik Amira menuju lift untuk ke lantai 3 bangunan itu, ternyata di lantai 3 dari gedung Cassino itu, adalah khusus kamar para wanita yang bekerja di Cassino milik Dewa, mereka bekerja sebagai wanita pendamping para pejudi, dengan menyemangatinya dengan berbagai cara.


Terdapat banyak kamar di lantai 3 gedung Cassino itu, layaknya sebuah mess atau kost-kostan yang memiliki kamar bersusun.


“Ini kamarmu!” Ucap Dewa sembari menghempas kasar tangan Amira saat ia telah sampai di kamarnya.


Amira hanya terdiam dan meringis sembari memegangi pergelangan tangannya akibat cengkraman Dewa yang begitu kuat.


Amira pun mulai memandang nanar seluruh sudut kamar yang begitu asing baginya.


“Ingat, mulai besok malam kau harus bekerja, jangan berfikir bisa kabur dari sini, apalagi sampai berbuat hal yang aneh-aneh, jika itu terjadi, maka siap-siap saja kau akan kehilangan seluruh keluargamu,”


“Ta.. tapi, aku bekerja sebagai apa di sini?” Tanya Amira lirih.


“Sebentar malam juga kau akan tau, sekarang yang terpenting kau harus tidur, agar wajah sembab mu ini hilang, dan nanti malam kau bisa terlihat segar kembali, jika sudah begitu maka para tamuku pasti akan senang, hahaha,”


Amira pun terdiam memikirkan apa sekiranya yang akan jadi pekerjaannya, dia berharap semoga saja Dewa tidak benar-benar menjualnya, namun perasaannya tak enak, namun Amira berusaha untuk bersikap tenang di hadapan Dewa.


“Nanti pelayanku akan datang mengantarkan makanan, kau tidak boleh keluar dari sini,” ucap Dewa dengan senyuman sinis, lalu kemudian langsung menutup pintu kamar itu dan menguncinya dari luar.


“Jaga dia baik-baik, hanya boleh pelayan yang masuk ke kamar itu, kau mengerti?” Tegas Dewa pada penjaganya yang bertugas di lantai 3 gedung itu sembari menyerahkan kunci kamar Amira padanya.


“Siap bos!” Jawab penjaganya dengan tegas.


Dewa pun tersenyum sinis dan menepuk-nepuk pundak penjaganya, lalu kemudian melangkah ke lantai 1, tempat di mana semua fasilitas judi tersedia.


Dewa dengan mata berbinar kembali menyapa para tamu kelas kakapnya yang memang sudah menjadi pelanggan tetap di Cassino miliknya.

__ADS_1


Sementara Shaka yang sudah berada di dalam mobil sedang terduduk lesu, ia terus duduk dengan tatapan kosong memikirkan Amira yang entah ada di mana.


“Amira, aku mohon maafkan aku, kini aku tak peduli kau benar mengkhianatiku atau tidak, yang ku mau sekarang kau kembali ke sisiku dengan selamat,” gumam Shaka dalam hati.


Kevin pun sengaja membeli minuman dingin di toserba terdekat, ia membawa minuman itu di mana Shaka dan yang lainnya sedang menunggu.


“Ya tuhan, kita harus mencarinya kemana lagi,” Riana kembali menangis.


Namun Adi langsung menarik tangannya dan mendekapnya, dengan lembut Adi mengusap punggung Riana untuk menenangkannya.


“Sudahlah ma, sikapmu seperti ini hanya akan semakin memperkeruh suasana, tenanglah kita akan secepatnya menemukan Amira, kita akan cari kemana pun itu,” ucap Adi yang terdengar begitu lembut.


“Bu’ Riana pak Adi, minumlah minuman dingin ini dulu,” Kevin memberikan minuman itu kepada Adi Riana dan juga Reza terlebih dulu.


Dengan lesu Riana menerima botol minuman itu dan mulai meminumnya secara perlahan.


“Ka, kau minumlah juga,” Kevin memberikannya juga pada Shaka.


“Tidam, aku tak ingin apapun sekarang,” jawab Shaka semakin tak bersemangat.


“Ka, ayolah kita harus tetap dalam situasi yang tenang agar bisa berfikir jernih,” jelas Kevin lagi.


Shaka pun terdiam, dan akhirnya meraih sebotol minuman yang dipegang Kevin, perlahan tapi pasti ia meminumnya, dan perlahan pula suasana berubah menjadi sedikit tenang.


“Ka, aku yakin kalau masih ada orang di balik Marsel,” Kevin mulai kembali membuka suara.


“Bagaimana kalau kita menemui Marsel lagi, dan mengorek informasi lebih dalam lagi,”


Shaka pun mengangguk tanda setuju, akhirnya dengan semangat yang mulai kembali, Shaka mengajak mereka untuk pergi menemui Marsel.


“Baiklah, tapi maaf sebelumnya om tante, jangan melakukan apapun dulu padanya ya,” pinta Kevin dengan lembut.


Mereka pun mengangguk cepat, dan langsung berjalan kembali menuju kota.


Kini waktu sudah menujukkan pukul 14.30 sore, mobil mereka pun akhirnya berhenti di depan markas orang-orang suruhan mereka, Shaka tanpa membuang waktu pun langsung turun dari mobil, dan melangkah masuk ke dalam ruangan.


Namun ada hal yang aneh, tidak ada satu pun orang yang menyambut kedatangan Shaka seperti biasa, dengan dahi yang mulai mengkerut, Shaka pun kembali melangkah memasuki ruangan tempat di mana Marsel Frederick di sekap.


Dan ternyata di luar dugaan Shaka, mata Shaka melotot saat melihat kursi yang di duduki Marsel sejak kemarin sudah terlihat kosong dan hanya menyisakan tali-tali yang dipakai untuk mengikat tubuh Marsel terletak di atas kursi, orang-orang suruhannya juga terlihat sudah tergeletak tak sadarkan semua di lantai.


“Apa-apaan ini? Di mana Marsel Frederick?” Bentak Shaka sembari menendang keras pintu ruangan itu.


Kevin Reza dan yang lainnya mendengar itu, langsung berlari menyusul Shaka ke dalam ruangan itu.


“Ada apa ini?” Tanya Kevin yang juga terlihat tercengang.


“Ba, bagaimana dia bisa kabur dengan keadaan tubuh terikat? Dan ini, semua orang-orang ini pingsan? Apa dia mengalahkan mereka semua?” Tanya Riana yang juga merasa tak percaya.


“Aaaghhhh brengsek!” Teriak Shaka yang lagi-lagi memukul keras pintu itu dan kemudian mengusap kasar wajahnya sendiri.


“Dia pasti mempunyai orang yang memback up nya, dan aku yakin orang ini bukan orang yang sembarangan,” jelas Reza sembari memandangi satu persatu orang suruhan Kevin yang pingsan di lantai.


“Aku tidak mau tau, Kevin kau sadarkan orang-orang ini sekarang juga! Aku butuh penjelasan dari mereka,” ketus Shaka lalu kemudian keluar dari ruangan pengap itu.


Shaka duduk termenung di depan markas, dengan tatapan kosongnya, ia pun mulai berfikir kini pilihan satu-satunya yang harus ia lakukan adalah melapor ke polisi atas kehilangan Amira.

__ADS_1


Sementara Kevin dengan dibantu oleh Reza dan Adi langsung menyadarkan semua orang suruhannya itu dengan menyiram mereka, hingga akhirnya orang-orang itu tersentak dengan gelagapan seperti orang ling lung.


“Tu, tuan Kevin,” ucap Vicko dengan gelagapan.


Vicko bisa di bilang adalah ketua geng Maleo, Maleo sendiri adalah nama geng yang sengaja dibentuk oleh Kevin, untuk mengerjakan berbagai misi yang diberikan Kevin.


“Tu.. tuan maafkan kami tuan, semua terjadi di luar kendali kami,”


“Sekarang juga kalian keluar dan jelaskan semuanya kepada tuan muda Shaka,” tegas Kevin sembari menunjuk ke arah luar pintu.


“Ba, baik tuan,” orang-orang itu pun ketakutan, meski masih terlihat begitu sempoyongan, namun mereka tetap berjalan menuju pintu luar untuk menemui Shaka.


“Tuan muda,” ucap Vicko sembari menundukkan kepalanya.


Shaka pun langsung melirik tajam ke arah Vicko dan anggotanya.


“Jelaskan apa yang terjadi?” Ucap Shaka datar sembari kembali memandang lurus ke depan.


Saat itu Vicko langsung terbayang kejadian yang dianggap nya begitu cepat, dan mulai menceritakan apa yang ia bayangkan kepada Shaka.


Saat itu Vicko dan yang lainnya seperti biasa sedang bermain kartu di depan markas, tak lama terdengar suara teriakan anggota lainnya yang ada diruangan tempat Marsel berada.


Mendengar suara teriakan yang begitu melengking, Vicko dan dua orang anggotanya itu pun berlari masuk ke dalam ruangan itu.


Dan betapa terkejutnya Vicko saat melihat sebuah pistol sudah mengarah ke kepala kedua anggotanya yang bertugas berjaga di dalam ruangan bersama Marsel.


Terlihat ada 3 orang bertopeng yang berhasil menyusup masuk dari pintu belakang, dua orang membekap tubuh kedua anggota Vicko, dan satu orang lagi dengan cepat melepas ikatan tali yang mengikat tubuh Marsel.


Marsel yang saat itu terlihat lemas nyatanya masih bisa tersenyum sembari menunjuk ke arah cincin besi bermata satu yang dipakainya.


“Kalian tidak menyadari ada chip ini kan? Hahaha,” celetuk Marsel tertawa namun dengan tubuh yang tak bertenaga.


Ternyata mata cincin itu sudah diselipkan sebuah chip micro, yaitu chip yang berukuran begitu kecil, chip itu berfungsi seperti GPS, yang bisa melacak keberadaan Marsel.


“Heh kau berdiri di sini!!” Bentak salah satu pria bertopeng itu pada Vicko dan dua lainnya sembari menyuruh mereka untuk memasuki ruangan itu.


“Lepaskan mereka!” Ketus Vicko.


“Menjauh dari pintu itu, kalau tidak kami akan menembak kedua temanmu ini!!” Ketus pria bertopeng itu lagi.


Melihat kedua anggotanya yang saat itu ditodong pistol, membuat Vicko dan yang lainnya tak bisa berkutik, dengan terpaksa mereka harus menuruti orang-orang itu.


Perlahan tapi pasti, ketiga orang bertopeng itu mulai melangkah menuju pintu untuk keluar, setelah memastikan Marsel sudah berhasil keluar, kedua orang bertopeng itu langsung mendorong kasar kedua sanderanya ke arah Vicko dan yang lainnya, hingga membuat mereka terjatuh bersama, lalu salah satu orang bertopeng itu melemparkan alat kecil dalam ruangan itu, alat itu ternyata bisa mengeluarkan gas yang bisa menghilangkan kesadaran Vicko dan yang lainnya, hingga akhirnya saat mencoba untuk kembali berdiri, mereka semua mulai terasa keliyengan, perlahan kepala mereka mulai terasa berat, ditambah aroma yang dikeluarkan dari gas beracun itu sangat menyengat, hingga membuat dada mereka sesak, dan akhirnya mereka pun jatuh pingsan.


“Begitu tuan muda,” jelas Vicko mengakhiri penjelasannya.


Shaka, Kevin, Reza Adi dan Riana jadi terdiam lesu, di dalam hati Shaka terbesit rasa cemas yang semakin besar, dia semakin yakin jika siapapun orang yang ada di belakang Marsel, dia bukanlah orang sembarangan, Shaka yakin orang itu juga memiliki kuasa itu sebabnya bisa melakukan hal seperti itu.


“Segera lapor polisi Vin!” Tegas Shaka yang kemudian langsung melangkah menuju mobilnya.


“Ta.. tapi Ka, kita bisa lapor polisi atas kehilangan Amira jika sudah 2x24 jam,” jawab Kevin sembari menyusul langkah Shaka.


“Aku tidak peduli, bagaimana pun caranya, tolong temukan istriku, kerahkan seluruh orang-orang suruhan yang kau miliki berapa banyak pun itu, secepatnya mereka harus menemukan istriku!” Tegas Shaka dengan sorot mata yang kembali dipenuhi kobaran api kemarahan.


“Baik Ka,” Kevin pun mengangguk dan ia membiarkan Shaka pergi.

__ADS_1


Kevin pun terdiam sejenak memandangi kepergian mobil Shaka yang terlihat begitu terburu-buru, tak lama ia pun melirik ke arah Reza, Riana dan juga Adi yang berdiri tak jauh darinya, saat itu mereka juga terdiam, orang tua Amira menatap begitu sendu, mereka pun menatap wajah Kevin seakan penuh harap agar Kevin bisa menemukan Amira.


__ADS_2