
Waktu petang kini telah berubah menjadi gelap gulita, kini Amira, Shaka dan nenek Emely telah duduk menyantap makan malam mereka dengan suasana yang sangat hening, tak terdengar sedikit pun suara yang terdengar dari mulut mereka bertiga, hanya suara sendok dan garpu yang jelas terdengar ketika bergesekan dengan piring.
Shaka adalah yang pertama menyelesaikan makan malamnya.
"Nenek aku begitu lelah, aku ingin masuk ke kamar duluan." Ucap Shaka setelah mengusap bibirnya dengan tisu.
Emely tidak mengeluarkan suara, ia hanya melirik Shaka sejenak lalu mengangguk. Shaka pun langsung beranjak menuju kamarnya tanpa melirik Amira sedikit pun.
Sementara Amira juga ikut diam, dengan pelan ia terus melahap makanannya walaupun sebenarnya nafsu makannya sudah tidak ada lagi.
"Apa kalian bertengkar?" Tanya Emely setelah menghirup minumannya.
Amira yang terus tertunduk jadi sontak mengangkat kepalanya.
"Tidak nek, hanya sedikit berdebat masalah kecil saja." Ucap Amira sembari berusaha menampilkan senyuman di depan Emely.
"Jika ada masalah, sebaiknya harus langsung di selesaikan, jangan sampai jadi berlarut-larut, itu tidak baik untuk ke depannya nanti."
"Iya nek, mungkin dia memang lelah karena pulang begitu sore tadi." Jawab Amira masih dengan senyuman keterpaksaan.
"Baiklah, kalian selesaikan masalah kalian, jangan di tunda. Aku akan kembali ke kamar." Tak lama Emely pun ikut beranjak dan meninggalkan Amira yang masih terduduk.
Amira perlahan bangkit dan membereskan meja makan, namun pelayan dengan cepat melarangnya dan menyarankan Amira untuk langsung istirahat saja.
"Baiklah aku istirahat dulu, kalian juga langsung istirahat setelah ini." Amira tersenyum tipis kemudian langsung beranjak.
Amira perlahan masuk ke dalam kamar, saat itu Shaka terlihat sudah terbaring dengan posisi membelakangi Amira. Amira pun duduk di tepi ranjang sembari memandang nanar ke arah Shaka yang sejak tadi jadi cuek padanya.
Maafkan aku Shaka Buwana. Maafkan aku. Gumam Amira dalam hati.
Akhirnya Amira pun berbaring di samping Shaka dan menyelimuti tubuhnya.
Sementara Shaka yang menyadari itu hanya diam dan langsung memejamkan matanya seolah sudah tidur.
Kini Amira dan Shaka berbaring dengan saling membelakangi dengan pikiran mereka masing-masing.
3 hari kemudian..
Yura sudah menjanjikan untuk mereka berkumpul di taman tengah kota agar bisa pergi ke puncak bersama. Ia juga merencanakan mengajak mereka menginap di vila satu malam, agar bisa lebih menikmati suasana.
Shaka sejak pagi sudah tidak terlihat, membuat Amira berfikir jika ia sudah datang ke taman lebih dulu. Setelah memastikan semua barang bawaannya lengkap, Amira pun pamit pada Emely dengan alasan ingin pergi berlibur bersama Shaka.
Dengan di antar oleh pak Ardi, mobil yang di tumpangi Amira melesat dengan cepat menuju taman. Hanya butuh waktu 10 menit, Amira pun tiba dan langsung berjalan perlahan menyusuri taman.
Amira pun duduk di sebuah kursi panjang yang terletak di tengah taman, matanya menatap kosong dengan pikiran yang yang sudah tidak menentu, tanpa ia sadari, setengah jam sudah ia terduduk dengan terus seperti itu.
"Senang bisa bertemu kamu lagi." Tibah-tiba terdengar suara yang begitu familiar di telinga Amira.
Membuat Amira sontak menatap ke arah sumber suara, matanya membulat, sembari mendadak menampilkan senyuman kaku.
"Kak Reza." Ucap Amira canggung.
Reza sudah berdiri tegak di sisi sebelah Amira dengan sebuah senyuman tipisnya yang masih tetap sama, sebuah senyuman yang tetap penuh makna saat menatap Amira.
"Kenapa selalu bertemu denganmu dengan raut wajahmu yang seperti itu hah?" Tanya Reza yang kemudian duduk di sebelah Amira namun sedikit berjarak.
__ADS_1
Amira pun hanya tersenyum canggung, ini pertama kalinya dia kembali bertemu Reza setelah sekian lama.
"Kak gimana kabarmu? Sepertinya kau terlihat begitu baik." Amira hanya bisa cengengesan.
"Aku baik, lebih tepatnya sedang berusaha untuk terlihat baik-baik saja." Reza tersenyum dengan pandangannya yang lurus ke depan.
Mendengar pernyataan Reza membuat Amira semakin merasa canggung dan tidak tau harus menjawab apa.
"Lalu apa yang membuatmu menerima ide gila Yura?"
Amira pun hanya tersenyum lirih dan mulai tertunduk.
"Entahlah, aku hanya tidak tegah melihat Yura kembali sakit seperti waktu itu. Apa lagi Shaka yang membuatnya sakit waktu itu, jadi aku sebagai istrinya harus turut andil untuk menyemangatinya." Amira melirik Reza sejenak lalu ikut meluruskan pandangannya ke depan.
"Kau sungguh sudah mencintainya?" Kali ini Reza menatap begitu lekat pada Amira.
Amira langsung tersenyum, namun belum sempat Amira menjawab, tiba-tiba Yura hadir di tengah-tengah mereka.
"Maaf ya aku membuat kalian menunggu lama." Ucap Yura yang langsung berdiri di hadapan Reza dan Amira.
"Tidak, aku belum lama tiba." Jawab Reza dengan tenang.
"Syukurlah." Yura tersenyum lebar.
Tak lama supir Yura datang dengan membawa begitu banyak barang bawaan.
"Letakkan di sini saja." Ucap Yura.
"Kenapa kau terlalu banyak membawa barang?" Tanya Reza mengerutkan dahinya.
"Ini bukan hanya untukku, tapi untuk kita semua." Yura semakin sumringah.
"Jadi, kita akan bermalam di Vila, namun agar lebih menyenangkan kita akan memasang tenda di pinggir danau yang ada di depan Vila keluargaku. Liburan akan semakin menyenangkan jika kita bisa menyatu dengan alam." Jelas Yura.
"Kenapa haru serepot itu? Di Vila keluargamu kan banyak kamar, kenapa harus tidur di tenda? Lagi pula ini musim dingin, akan sangat kedinginan nanti kalau kita tidur di luar." Keluh Reza.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin membuat liburan kali ini lebih seru dan menyenangkan, lagi pula aku sudah menyiapkan semuanya, akan ada api unggun, persediaan selimut tebal juga banyak di Vila ku. Jadi kalian tenang saja ya." Yura semakin tersenyum kemudian memainkan kedua alisnya.
"Aku setuju!" Tak lama Shaka pun muncul.
Shaka pun berjalan dengan tenang sembari memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana, lalu menghampiri mereka. Hal itu sontak membuat mata Amira membulat menatapnya.
"Aku setuju dengan ide Yura, akan sangat membosankan bila harus tidur di kamar." Ucap Shaka lagi.
"Benarkan apa kataku?" Yura nampak begitu sumringah dan langsung mengalungkan kedua tangannya di lengan Shaka.
Shaka hanya terdiam membiarkan kedua tangannya di kuasai oleh Yura, matanya sesekali melirik ke arah Amira yang saat itu masih terduduk, Amira hanya tersenyum lirih, pandangannya kembali tertunduk saat menyaksikan adegan yang kembali membuat hatinya berdenyut.
Ini kah yang kau inginkan Amira? Tanya hati kecil Amira.
Reza terdiam, matanya lekat memandangi Amira dan Shaka secara bergantian.
Ada apa sebenarnya dengan mereka? Apa sungguh kau harus terlibat dengan hal konyol ini. Gumam Reza dalam hati.
"Tidak usah berlama-lama lagi di sini, kita naik mobilku saja." Ucap Shaka.
__ADS_1
"Ah tidak, aku naik mobil ku saja." Reza bangkit dari duduknya.
"Amira, apa kau mau ikut denganku?" Tanya Reza sembari melirik Shaka sejenak.
"Aku.. aku." Amira terbata-bata.
Pertanyaan Reza membuat Shaka berhasil emosi dan sedikit panik saat membayangkan Amira yang akan berduaan dengan Reza di mobil.
Yang benar saja, aku berusaha untuk tidak berduaan dengan Yura kenapa dia malah ingin berduaan dengan Reza. Celetuk Shaka dalam hati.
"Kenapa harus pergi terpisah? Akan lebih baik jika kita semobil saja." Ucap Shaka yang berusaha tenang.
"Bukan kah begitu Yura?" Shaka pun tersenyum memandangi Yura.
"Iya lebih baik kita pergi satu mobil saja." Tambah Yura.
Akhirnya mereka pun berangkat menuju Vila hanya dengan satu mobil saja yaitu mobil Shaka. Shaka memilih untuk mengambil bangku kemudi, begitu pun dengan Yura yang mengambil posisi di samping Shaka.
Mau tidak mau Amira dan Reza duduk bersebelahan di bangku belakang, hal itu cukup kembali memicu emosi Shaka, namun karena melihat duduk mereka yang cukup berjarak, membuat Shaka masih bisa meredam emosinya.
Kali ini, Shaka sungguh sangat kesal pada Amira, semenjak Amira menyetejui permintaan Yura beberapa hari lalu, sejak itu pula Shaka terus mendiaminya. Ada rasa kecewa dengan ide Amira kali ini, namun keadaan membuat Shaka tidak bisa mengelak.
Yura terlihat begitu menikmati suasana, hal itu bisa terlihat jelas dari sebuah senyuman yang terus terpancar dari wajahnya. Sesekali ia mengajak Shaka berbincang sembari menyandarkan kepalanya di pundak Shaka dengan begitu manjanya.
Shaka tersenyum sinis, saat mendapati raut wajah yang sangat tak bersahabat dari Amira.
Ternyata kau begitu lemah dan tidak bisa menyembunyikan rasa cemburu mu, namun kenapa kau berlagak sok kuat? Lihat saja, akan ku buat kau menyerah dan tak akan menyuruhku untuk melakukan ide menjijikkan ini lagi. Gumam Shaka dalam hati.
Ya tuhan, aku tidak kuat melihatnya. Tapi semua ini aku lakukan untuk membuktikan pada hatiku sendiri kalau Shaka benar-benar sudah melupakan Yura. Kalau memang setelah ini aku membuktikan kalau Shaka masih mencintai Yura maka aku akan menyerah dan meninggalkannya sejauh mungkin, tapi kalau memang dia sudah melupakan Yura dan benar-benar sudah mencintaiku maka aku akan membiarkannya jujur pada Yura soal pernikahan kami. Amira terus bergumam dalam hati.
Menempuh perjalanan satu setengah jam lamanya, kini mobil di kemudi Shaka telah terparkir dengan sempurna di depan Vila keluarga Yura.
Mereka pun segera turun sembari memandangi pemandangan indah yang di sajikan.
Jam menunjukkan pukul 08.30 pagi, kabut di puncak terlihat begitu jelas, udara semakin terasa sejuk langsung menyapa dan mulai perlahan menusuk ke tulang-tulang mereka.
Dari dalam Vila, tak lama keluarlah tiga orang pelayan wanita dan satu tukang kebun.
"Selamat datang nona muda dan tuan muda." Sambut para pelayan.
"Apa sudah beres semuanya?" Tanya Yura ramah.
"Semuanya sudah kami siapkan sesuai permintaan anda nona."
"Terimakasih kalian sudah bekerja keras hari ini, jadi sekarang kalian sudah boleh pulang." Yura memberikan tips untuk masing-masing pelayan.
"Yuk masuk." Ucap Yura dan mulai memasuki Vilanya.
Mereka masuk perlahan dengan mata yang menyisir seluruh sudut Vila. Yura membawa mereka menapaki tangga menuju lantai dua, ada balkon yang begitu luas dengan pemandangannya yang langsung menyajikan danau yang indah.
"Sebentar ya, aku akan memastikan persediaan makanan di dapur." Yura tersenyum dan langsung pergi ke dapur.
Mata Amira terbuai dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Amira perlahan berjalan menuju tepi balkon dengan tangannya yang mulai memegang pembatas balkon sembari memejamkan mata menikmati tetesan embun yang menetes di wajahnya.
Shaka pun ikut bediri tak jauh dari Amira, ia memandang pemandangan yang sudah lama tidak ia lihat karena begitu sibuk bekerja. Shaka menengadakan kepalanya ke atas, ia menghela nafas panjang, untuk menghirup udara segar dari alam. Burung camar dan gemerecik air danau yang terkena angin perlahan turut menyapu bersih pikirannya yang kalut.
__ADS_1
Reza melihat mereka dari belakang. Ia tersenyum lirih melihat mereka yang tampak begitu canggung, ia kemudian memilih membantu Yura di dapur, karena dia sudah tidak mau lagi terjebak di tengah-tengah mereka.
Reza memang masih menaruh perasaan pada Amira, namun ia menyadari Amira yang nampaknya sudah mencintai Shaka dan melihat Shaka yang biar bagaimana pun adalah sahabatnya membuatnya berusaha untuk tidak lagi mengusik rumah tangga mereka. Saat ini yang dia inginkan hanyalah, ingin berada di dekat Amira walau hanya sebagas teman, ia merasa perlu melindungi Amira saat ia sedih apa lagi dalam keadaan bahaya.