Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 126 Menyatakan Kebenaran


__ADS_3

3 bulan kemudian…


Hari demi hari berlalu, minggu berganti bulan, bulan demi bulan pun berganti, kini sudah 3 bulan usia Samudra, artinya Amira sudah melewati masa nifasnya.


Di taman yang sepi itu, di balut gelapnya malam Amira duduk sendirian di atas dipan yang sudah tersedia di taman itu, hanya berteman sinar rembulan dan lampu remang-remang sebagai penerang di kala malam, untuk menghiasi keindahan taman itu, Amira duduk merenung memikirkan sesuatu yang sudah cukup lama bersarang di benaknya, pikiran itu sangat mengganggu Amira, ingin ia melepas beban pikiran itu dengan membawa pulang anaknya yang kini bersama wanita lain, sudah 1 minggu ini Amira banyak diam, pandangannya kosong, Amira banyak melamun.


Shaka yang begitu mengerti apa gerangan yang mengundang gundah di hati istrinya, membuat ia memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya pada Reza.


Shaka yang sedang berdiri menatap Amira dari jarak yang cukup jauh, kini perlahan mengayunkan langkahnya dengan gontai menghampiri istri tercinta, Shaka memegang pelan kedua pundak Amira dari belakang, membuat sang empuh melirik ke arah pria yang menyentuhnya, dia sudah menduga itu suaminya, dia kenal betul wangi tubuh suaminya, hanya menoleh sejenak, Amira kembali mengalihkan pandangannya memandang ke arah bunga-bunga mekar di depannya, tepatnya bunga-bunga mekar itu lah yang memandangnya, karena sebenarnya tatapannya kosong.


“Kenapa belum tidur?” Tanya Shaka dengan suara serak.


“Tidak bisa tidur,” jawab Amira singkat.


“Sudah seminggu ini kamu tidak tidur dengan nyenyak, apa kamu memikirkan Queen?”


Amira pun menatap lekat suaminya itu, Shaka pun mengerti, sebuah harap seakan terlukis di matanya.


“Tolong bawa anak ku ke pangkuanku,” cetus Amira dengan nada lirih, buliran bening kini lolos begitu saja dari matanya.


“Iya sayang, aku janji, besok aku akan menemui Reza, dan mengatakan kebenaran ini padanya,” Shaka mengusap lembut air mata yang membasahi pipi mulus istrinya itu, lalu kemudian ia menarik Amira ke dalam dekapannya.


Sudah 1 minggu Amira seakan abai pada Shaka dan Samudra, namun Shaka mengerti akan hal itu, ia tidak menyalahkan istrinya, toh juga ada pengasuh yang akan membantu merawat Samudra, Shaka hanya tidak ingin istrinya itu stres, lantas tekad Shaka untuk membawa Queen pulang sudah bulat, ia tidak ingin melihat istrinya terus menangis dan melamun karena menahan kerinduan yang mendalam pada putri pertama mereka, sudah cukup lama Amira menahan perasaannya untuk tidak mengatakan yang sebenarnya pada Yura, sudah cukup mereka menjaga perasaan Yura, kini Shaka harus memikirkan perasaan istrinya sendiri, ia harus mengutamakan perasaan Amira.


Belum lama tenggelam dalam tangis, Shaka tidak ingin istrinya larut dalam kesedihan, Shaka pun meraih dagu lancip Amira, ia menatap lekat manik mata itu dan perlahan mengecup lembut bibir Amira, tak lama tangis Amira terhenti, ternyata Shaka punya senjata khusus untuk menghentikan tangis istrinya itu.


Keesokan harinya…


Kebetulan hari masih libur, tepat pukul 10.00 pagi, Shaka sudah berada di rumah Reza, kini mereka berdiri berdampingan di samping kolam renang rumah Reza.


“Ada apa Ka?” Tanya Reza memulai percakapan, sudah 10 menit ia dan Shaka saling diam dan berdiri berdampingan seperti itu, Reza masih belum tau apa gerangan yang membawa Shaka ke rumahnya.

__ADS_1


Shaka pun menarik napas dalam-dalam, sebenarnya mulut nya berat untuk mengatakan yang sebenarnya, hatinya tak tega pada sahabat yang belum juga di karuniai anak itu, namun demi kebaikan istrinya, Shaka harus tega pada pria yang sudah lama berstatus sebagai sahabatnya itu.


“Kedatanganku ke sini karena ada suatu hal yang ingin aku sampaikan pada kalian berdua,” akhirnya Shaka memberanikan diri untuk buka suara.


“Hal apa? Kelihatannya penting sekali,” tukas Reza dengan tersenyum.


“Ia ini memang penting, aku ingin menyampaikan 1 kebenaran pada kalian berdua,”


Mendengar itu dahi Reza mengkerut, masih dengan senyuman di wajahnya, ia pun membunuh rasa penasarannya itu dengan bertanya.


“Kebenaran tentang apa?”


Shaka kembali menarik nafasnya lagi, dan menghembuskan dengan perlahan.


“Tentang Queen,” jawab Shaka yang kini menatap sendu ke arah Reza.


Melihat mimik wajah Shaka, Reza pun semakin penasaran, kebenaran apa yang akan di sampaikan Shaka padanya.


Shaka pun mulai menceritakan kebenaran yang ia dan Amira tau selama ini, ia menceritakannya secara gamblang, bahkan tak lupa pula ia memperlihatkan bukti rekaman cctv rumah sakit yang sudah di kirim Kevin padanya.


Di situ Reza melihat kekejian dua wanita yang merupakan musuh Amira selama ini, baru lah ia tau kalau ternyata memang benar, Queen adalah putri Amira, bukan anak Amira, ternyata selama ini keponakannya lah yang meninggal kala itu.


“Tidak mungkin!” Pekik seorang wanita yang ternyata sejak tadi sudah mendengar semua pembicaraan Shaka dan Reza.


Mendengar itu Reza pun menoleh, sontak Reza membulatkan matanya, ia terkejut melihat keberadaan Yura di belakang mereka, tak hanya Reza, Shaka pun tak kalah terkejutnya, ia jadi tak enak hati.


“Sayang, dengarkan dulu,” ucap Reza yang kini melangkah mendekati istrinya yang ternyata malah mundur 1 langkah.


“Tidak, jangan mendekat!” Teriak Yura dengan suara melengking, air matanya mengalir bak banjir bandang, dada nya kembang kempis, jantung nya berdegup dengan kencang, kini Yura memegang dadanya, merasakan sesak yang tiba-tiba saja menyerangnya.


“Sayang, tolong mengertilah,” ucap Reza yang kini memegang kedua pundak Ayura.

__ADS_1


Shaka yang menyaksikan itu merasa iba, dia sebenarnya tidak sampai hati, namun ia juga tidak ingin istrinya larut dalam kesedihan, sudah cukup lama anak dan ibu itu terpisah, kini saat nya mereka harus bersama, harus, itu lah yang ada dalam pikiran Shaka saat ini.


Sekelabat Yura membayangkan kebersamaannya bersama Queen, bagaimana ia menjaga dan menyayangi anak itu dengan tulus hati, kekecewaanya membayangkan garis 1 di tes pack yang sering ia gunakan, rasa takut kehilangan Queen tiba-tiba membuat hatinya semakin sesak, ia pun menepis tangan Reza yang sudah merangkulnya dan berlari ke kamar Queen.


Reza dan Shaka pun saling berpandangan, seakan isi pikiran mereka sama, mereka sama-sama berlari menuju kamar Queen menyusul Yura yang sudah sampai lebih dulu, kini mereka mendapati Queen yang sudah berada dalam dekapan Yura.


“Yura tolong berikan anak itu pada ku,” ucap Shaka yang masih berdiri di ambang pintu, seakan menghalangi Yura agar tidak berhasil lolos.


Melihat itu Yura semakin frustasi, ia menggeleng dengan keras.


“Tidak, sampai kapan pun aku tidak akan memberikan anak ini pada kalian! Ini anak ku,” rasa ego itu kini menyelimuti hati Yura, ia pun melirik ke arah balkon kamar Queen, tanpa pikir panjang, ia berlari dengan masih memeluk Queen ke dalam dekapannya, lalu ia berdiri di tepi pagar besi pembatas balkon itu.


“Yura!” Pekik Reza yang semakin panik.


“Kalau kalian tetap nekat mau membawa Queen, aku akan lompat, lebih baik kami mati bersama, dari pada aku harus melihat kalian membawa Queen, aku tidak sanggup,” papar Yura sembari menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah memenuhi matanya.


“Baik, baik, aku tidak akan membawa Queen, tapi tolong menjauh lah dari situ,” Shaka mencoba mengalihkan perhatian Yura.


Mendengar itu, Yura pun mulai menjauh dari pagar besi itu, ia berjalan hendak masuk kembali ke kamar itu dengan sudah mendapat ruang dari Reza dan Shaka yang sejak tadi berdiri di ambang pintu pembatas balkon dan kamar.


Melihat keadaan rumit itu, Shaka memutuskan untuk belum membawa Queen sekarang, keadaannya tidak memungkinkan, akhirnya ia pamit pada dua pasutri itu, dengan berbohong pada Yura kalau dia tidak akan menyerahkan Queen pada Amira, yang penting Shaka sudah mengatakan kebenarannya pada mereka berdua.


Mau tidak mau Shaka harus pulang dengan tangan kosong, ia tidak akan memaksa membawa Queen hari ini, dia tidak mau Yura nekat mencelekai anak sambungnya itu, sejenak ia merasa bersalah sudah membohongi Yura dengan mengatakan tidak akan membawa Queen, walau pun sebenarnya cepat atau lambat dia akan tetap membawa Queen untuk Amira.


Sepanjang jalan Shaka pun terus diam sembari melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sebenarnya ia mulai frustasi, ia tidak tau apa yang harus ia katakan pada istrinya, dia sudah berjanji untuk membawa Queen pulang, namun keadaan Yura tidak memungkin kan, Shaka pun mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangan.


Selang beberapa menit, mobil sudah sampai di depan rumah mewah keluarga Buwana, dengan langkah gontai, Shaka mengayunkan langkah memasuki rumahnya, dan benar saja seperti yang ia duga, Amira sudah menyambutnya dengan senyum sumringah, namun melihat Shaka datang dengan tangan kosong, senyum itu memudar.


“Kamu tidak berhasil membawa nya pulang?” Tanya Amira yang sontak membuat Shaka menelan salivanya, ia tidak tau apa yang harus ia katakan pada Amira.


Dengan berat hati, Shaka menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Amira.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, yang penting kau sudah mengatakan kebenaran ini pada mereka, nanti pelan-pelan kita akan mengambil Queen dengan baik-baik, bagaimana pun mereka sudah membesarkan dan menyayangi Queen sepenuh hati,” ucap Amira berusaha tegar namun sebenarnya ia begitu rapuh, berlama-lama jauh dari Queen membuat hatinya sakit, namun ia tidak tega melihat Shaka yang jadi tidak enak hati padanya.


__ADS_2