Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 139 Mertua Kejam


__ADS_3

5 menit kemudian mobil Shaka yang di kemudikan oleh Kevin sudah terparkir sempurna di pekarangan rumah Safa dan Genta.


Saat itu Genta sedang berada di luar kota karena urusan bisnis, rupanya mereka sudah menjual Cassino keluarga mereka atas persetujuan papanya, dan mulai membangun perusahaan baru dari nol, Genta pun di buat sibuk bolak balik luar kota agar supaya perusahaannya yang masih terbilang lumayan kecil itu akan berkembang menjadi perusahaan yang besar.


Kini akhirnya Shaka dan juga Kevin sudah berdiri tepat di depan pintu rumah Genta.


“Kamu yakin di sini alamatnya?” Tanya Shaka memastikan.


“Iya, kau yakin Vicko tidak salah mengirimkan alamat rumahnya,” Ucap Kevin mendapat anggukan dari Shaka, lalu Shaka pun menekan bel pintu rumah itu.


Ting Tong…


Pintu rumah dibuka oleh salah satu pelayan yang bertugas di rumah Genta.


Tanpa basa basi, Shaka pun masuk begitu saja ke dalam rumah Genta melewati pelayan itu yang masih berdiri dengan raut wajah bingung.


“Maaf tuan, ada apa ini? Jangan sembarang menerobos masuk ke rumah orang,” ketus pelayan itu lalu berdiri di hadapan Shaka untuk menghalangi langkahnya.


“Jangan coba-coba menghalangiku, saya ke sini untuk menjemput putri saya, kalau kau berani menghalangiku seperti ini, saya bisa saja membuat anda kehilangan pekerjaan, bahkan bukan hanya anda saja, saya juga bisa membuat majikan anda ini kehilangan segalanya!” Tegas Shaka yang mulai tersulut emosi.


Pelayan itu pun terdiam dengan wajah ketakutan, saat melihat dari jarak dekat, dia baru menyadari siapa kiranya lelaki yang sedang berada di hadapannya ini, seorang Shaka Buwana sang CEO Buwana Group yang mempunyai kuasa yang sangat besar di kota itu.


Shaka dengan diikuti oleh Kevin mulai menyusuri seluruh ruangan yang berada di lantai dasar itu, sementara di sebuah kamar, Queen baru saja terbangun dan melihat ke sekelilingnya, melihat Queen yang sudah membuka matanya, sontak membuat Anisa melangkah mendekat ke ranjang tempat di mana Queen terbaring.


“Kamu sudah bangun sayang?” Tanya Anisa yang sudah duduk di sisi ranjang dan merapikan rambut panjang bocah 5 tahun itu yang tergerai dan nampak sedikit berantakan.


Safa pun menyusul mertuanya dan berdiri di sisi ranjang itu, dengan perasaan yang begitu kalut, dia nampak begitu cemas dan takut kalau sampai Genta tau semua perbuatan yang ia lakukan bersama mertuanya itu.


“Anda siapa?” Tanya Queen mengerinyitkan dahinya dan mulai nampak ketakutan.


“Sayang, jangan takut, ini oma mu, oma dari ayah kandung kamu Genta Atmadja, oma dan juga mama Safa ini sudah menyelamatkan kamu dari kedua penculik tadi,” jelas Anisa lalu mendelikan matanya menatap menantunya, yang dari tadi hanya berdiam diri.


Mendengar itu, Queen melirik wanita yang sedang berdiri di sampingnya dan bertanya.

__ADS_1


“Apa itu benar tante? Dan siapa itu Genta Atmadja? Itu bukan ayah kandungku, ayah kandung ku Shaka Buwana bukan Genta, tante katakan, apa benar yang di bilang oma ini?” Tanya Queen mulai berdiri di hadapan Safa dan menggoyang-goyangkan kedua tangan Safa.


Melihat Anisa yang menatap tajam ke arahnya membuat Safa semakin takut.


“Iy.. iya benar apa yang di… di katakan oma mu, ayah kandungmu itu Genta Atmadja, da.. dan saya dan juga oma Anisa lah yang sudah menyelamatkan Queen dari 2 penjahat tadi,” jawab Safa dengan terbata-bata.


“Tidak mungkin, kalian pasti bohong!!” Teriak Queen mulai memundurkan langkahnya.


Suara Queen yang begitu melengking itu, tentu saja terdengar sampai ke lantai dasar, Shaka dan Kevin yang mendengar itu, dengan bergegas langsung berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua.


Begitu sampai di lantai dua, suara teriakan Queen pun semakin jelas, Shaka dan Kevin pun melangkahkan kaki mereka ke arah sumber suara.


Begitu sampai di kamar tempat mereka membawa Queen, Shaka langsung mendorong pintu kamar itu dengan kasar, sehingga berhasil membuat tiga orang yang berada dalam kamar itu tersentak.


Melihat keberadaan Shaka, Anisa pun sontak membulatkan matanya, ia begitu terkejut dengan kehadiran Shaka yang begitu tiba-tiba.


“Papa!!” Teriak Queen menoleh ke arah Shaka, namun ketika Queen hendak berlari menghampiri Shaka, Anisa memecahkan vas bunga kecil yang ada dalam kamar itu dan mengambil beling sisa pecahan vas bunga itu, tanpa pikir panjang ia pun meraih tubuh Queen dengan mengarahkan pecahan vas bunga itu ke leher Queen, mengancam Shaka agar tidak mendekat.


Melihat itu, Safa dan juga semua yang ada dalam kamar itu membulatkan mata, mereka sama terkejutnya melihat aksi Anisa yang begitu nekad hendak mencelakai cucu kandungnya.


“Papa,” lirih Queen dengan air mata yang sudah membasahi pipinya, anak itu tampak begitu ketakutan.


“Maafkan oma sayang, oma tidak bermaksud mencelakaimu, oma tidak mungkin melukai cucu oma sendiri, oma melakukan ini agar papa palsumu ini tidak akan merebut dirimu lagi dari oma,” celetuk Anisa dalam hati.


“Menjauh, atau aku akan menusukkan pecahan kaca ini ke lehernya!” Ancam Anisa semakin mendekatkan pecahan kaca itu ke leher Queen.


“Papa, tolong Queen,”


“Iya sayang, tenanglah papa pasti akan menyelamatkan kamu dari wanita jahat ini,”


“Minggir!!” Teriak Anisa lagi.


Melihat itu Safa sudah tidak tahan lagi, dia yang kini berada di belakang Anisa, dengan sigap mendorong kuat tubuh Anisa sehingga membuat mertuanya itu jatuh ke lantai dan dengan cepat ia menarik lengan Queen lalu menyerahkannya pada Shaka.

__ADS_1


Anisa yang melihat itu, jadi semakin murka, ia pun segera meraih pecahan vas itu dan menusukkannya pada pundak Safa.


Shaka dan juga Kevin begitu terkejut, melihat Safa yang mulai terkulai dan jatuh ke lantai membuat Kevin dengan sigap menyangga tubuh Safa yang sudah berlumuran darah.


“Anda benar-benar gelap mata, bahkan anda berani melukai menantu anda,” kata Shaka dengan tatapan tak percaya.


Anisa yang sudah gelap mata pun hendak menyerang Shaka namun langkahnya terhenti saat beberapa rombongan polisi datang.


“Jangan bergerak!” Cetus sang polisi itu mengarahkan pistolnya pada Anisa.


Anisa pun nampak sangat terkejut, ia pun membulatkan matanya, tubuhnya mulai gemetar saking terkejutnya, kini Anisa mulai takut dan menjatuhkan pecahan beling itu dari tangannya.


Polisi pun segera menghampiri Anisa dan memborogol tangannya lalu pamit kepada Shaka dan Kevin membawa Anisa turun ke bawah.


“Terima kasih pak atas kerja samanya,” ujar Shaka kemudian.


“Pa, tante itu berlumuran darah,” ujar Queen seketika menyadarkan Shaka dan menatap Safa dengan miris.


“Kasihan sekali dia, bagaimana pun dia sudah menyelamatkan Queen, Kevin ayo segera bawa dia ke rumah sakit, dan jangan lupa hubungi Genta dan beritahu semua kejadian ini padanya,”


“Baik Ka,” jawab Kevin lalu membopong tubuh Safa yang sudah terkulai lemas karena banyak mengeluarkan darah.


Amira yang sudah menunggu di luar nampak terkejut melihat keadaan Safa yang terluka parah.


“Apa yang terjadi padanya?” Tanya Amira dengan raut wajah cemas.


“Dia sudah berhasil menyelamatkan Queen, namun ternyata itu mengundang murka mertuanya sehingga dengan gelap mata Anisa menusuk pundaknya dengan pecahan beling,” jawab Shaka menyerahkan Queen pada Amira.


“Apa? Tante Anisa memang benar-benar kejam,”


“Sayang, kamu tidak apa-apa kan?” Tanya Amira mensejajarkan wajahnya ke wajah anaknya sembari memeriksa seluruh tubuh Queen.


“Tidak ma, oma itu mau menusuk leher Queen, tapi tante ini mendorong tubuh oma itu sampai tersungkur ke lantai, lalu tante ini menarik tangan Queen untuk diberikan pada papa, lalu dengan tiba-tiba oma itu langsung mengambil pecahan beling di lantai dan menusukannya pada pundak tante ini,” jelas Queen dengan lirih.

__ADS_1


“Benar-benar kejam, kak Kevin ayo segera bawa dia ke rumah sakit, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengannya,”


“Baik, ayo lah,” jawab Kevin lalu kemudian langsung membaringkan tubuh Safa di kursi belakang, tak lama Amira pun menyusul duduk di kursi belakang dan meletakkan kepala Safa ke pahanya.


__ADS_2