
"Nenek.. Apa yang Nenek pikirkan? Saya hanya gadis biasa, bukan dari keluarga terpandang, dan tidak punya pendidikan yang cukup baik. Jika tuan muda Shaka menikah dengan saya itu hanya akan jadi aib di keluarga ini. Lagi pula saya yakin, tuan muda juga pasti akan menolak". Jawab Amira memberi pengertian pada Emely.
"Aku dan cucuku tidak membutuhkan itu, bisa di bilang kami sudah memiliki segala yang kami inginkan, tapi bukan itu yang bisa membuat Shaka ku bahagia. Nyatanya uang dan gelar yang saat ini kami miliki tidak mampu membuat aku dan Shaka bahagia seutuhnya. Mengertilah Amira, aku merasa kesepian di rumah ini, begitu pun Shaka yang aku yakin juga merasa kesepian". Ucap Emely lirih mencoba meyakinkan Amira.
Mendengar itu Amira hanya tertunduk, dia tidak bisa membayangkan jika harus menikah dengan lelaki yang menurutnya mengerihkan itu.
"Apa yang membuatmu sangat sulit menerima permintaanku Amira? Aku yakin sikap dingin cucuku akan berubah bila kau mau sedikit bersabar Amira, lagi pula Shaka tidak menolak permintaanku, cucuku itu sebenarnya lelaki yang baik dan penurut". Jelas Emely lagi sembari mengusap tangan Amira.
"Emmm... Nek, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu". Ucap Amira menundukan kepalanya.
" Katakan saja nak.. Tak usah sungkan". Ucap Emely lembut.
"Aku tau, mungkin setelah mendengar ini nenek pasti akan mengurungkan niat nenek untuk menikahkan kami. Sebelumnya saya minta maaf nek, sebenarnya saya sedang mengandung anak pacar saya, usia kandungan saya sudah 4 bulan, saya benar-benar menyesal atas apa yang saya lakukan karena itu saya masih menundah kuliah saya, saya sangat ingin kuliah tapi kecerebohan saya ini mengehentikan segalanya. Pacar saya tidak mau bertanggung jawab, dia pindah ke luar negeri dengan di bawah orang tuanya untuk kuliah di sana dan meninggalkan aku sendiri. Itu lah sebabnya kenapa saya ragu untuk menerima permintaan nenek". Jelas Amira lirih dengan tatapan sendu, mengalihkan pandangannya dari Emely karena malu.
"Saya merasa sangat tidak pantas untuk bersanding dengan cucu nenek, kalau sampai Shaka menikah dengan saya itu hanya akan mencoreng nama baik keluarga ini". Tambah Amira.
Mendengar itu Emely sangat kaget, tapi bukan kaget karena tidak terima dengan keadaan Amira tapi kaget karena emosi mendengar penuturan Amira tentang pacar nya yang lari dari tanggung jawab.
Suasana berubah menjadi hening. Emely terdiam dan berfikir sejenak, dia terus saja mencernah pengakuan Amira tadi, sampai akhirnya dia membuka suara.
"Amira.. Sudah jangan menangis". Emely mengusap air mata Amira lalu kemudian memeluknya.
" Saya sungguh sangat prihatin dengan keadaanmu ini, rasanya saya ingin memberi pelajaran kepada laki-laki yang sudah mempermainkan mu seperti ini, terlebih sikap orang tua nya yang ikut melarikan anaknya. Amira! Saya sudah mengambil keputusan, jika lelaki itu tidak mau bertanggung jawab maka izinkan Shaka yang akan bertanggung jawab, tapi kamu jangan ceritakan ini dulu kepada Shaka, biarkan pernikahan kalian dilaksanakan dulu baru pelan-pelan saya sendiri yang akan menceritakan ini padanya. Amira semua pengakuanmu tadi tidak merubah keputusanku, tidak mengurangi rasa kagumku padamu, kamu anak yang baik sayang, kamu pantas bahagia dan saya yakin suatu saat sekalipun Shaka tau keadaan kamu ini perlahan-lahan dia pasti akan menerimanya". Ucap Emely meyakinkan Amira.
Shaka yang sedari tadi terus membayangi masa kecilnya bersama sang nenek, terbayang ketika melihat neneknya lemah tak berdaya. Dia memikirkan permintaan neneknya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk turun ke lantai 1 dan memasuki kamar neneknya.
"Ekhemm..." Shaka berdehem ketika memasuki kamar neneknya dan melihat Amira sedang duduk di samping neneknya
"Nenek aku ingin berbicara dengannya sebentar". Tambah Shaka lagi.
" Heii kamu! Ikutlah denganku". Ucap Shaka pada Amira sembari keluar dari kamar neneknya.
Amira pun bergegas mengikuti Shaka yang ternyata membawahnya duduk di taman belakang rumah Shaka. Shaka langsung duduk di kursi sementara Amira hanya diam dan berdiri.
"Duduklah". Perintah Shaka.
Amira pun duduk di kursi tepat di hadapan Shaka, kini mereka duduk berhadapan dan hanya terhalang oleh meja bundar.
"Apa nenek sudah mengutarakan apa yang jadi keinginannya padamu?" Tanya Shaka to the point.
Amira hanya mengangguk sembari terus menunduk, entah mengapa walau sudah menyadari ketampanan Shaka, namun Amira masih menilai bahwa Shaka sangat menyeramkan. Amira lalu teringat dengan kondisinya saat ini, bagaimana mungkin dia menikah dengan laki-laki lain sedangkan dia mengandung anak Genta.
"Lalu apa pendapatmu?" Tanya Shaka singkat tanpa melihat wajah Amira.
"Saya rasa itu sangat mustahil tuan, mengingat anda dan saya sangat berbedah kasta, lagi pula saya tau pasti tuan muda juga akan menolaknya". Jawab Amira gugup sambil tersenyum kecil.
"Jadi kau menolak permintaan nenekku?" Tanya Shaka lagi.
__ADS_1
"Saya belum menjawabnya tuan muda, tapi saya rasa permintaan Nyonya besar sangat mustahil bagi saya". Jawab Amira jujur.
" Katakan berapa yang kau minta agar kau mau menuruti permintaan nenekku? Aku akan membayarmu untuk itu". Ucap Shaka enteng.
"Maksud anda apa tuan? Apa dengan sebuah pernikahan pun anda harus membayar seseorang dengan uang? Tanpa berdasarkan rasa cinta? Apa anda mau menjalani pernikahan semacam itu?" Ketus Amira sedikit meninggikan suaranya.
"Aku hanya sedang berusaha memenuhi keinginan nenekku". Jawab Shaka santai.
Amira yang mendengar itu hanya terdiam menahan emosinya, dia tidak mau kata-katanya nanti bisa membuat situasi menjadi semakin rumit dan bisa merugikannya.
"Mari kita bernegosiasi, dan aku jamin kau tak kan merasa di rugikan dalam hal apapun". Ucap Shaka lagi mulai memberi penawaran.
"Apa itu?" Tanya Amira mengerinyitkan dahinya.
"Kita menikah layaknya suami istri hanya di depan nenekku saja. Selebihnya kau bebas melakukan apapun yang kau mau". Ucap Shaka mulai bernegosiasi.
"Maaf tuan, saya pikir-pikir dulu, lagi pula orang tua saya belum tau ini semua, mereka pasti akan kaget kalau tau saya akan menikah di usia seperti ini". Ucap Amira sedikit lesuh.
"Kau tidak perlu khawatir, nanti saya yang akan bicara dengan orang tuamu". Ucap Emely yang tiba-tiba muncul dari belakang Amira dan berjalan dengan membawah kursi rodanya sendiri.
"Aku yakin mereka pasti akan setuju karena jika kalian menikah hubungan persahabatan keluarga kami akan semakin erat". Ucap Emely lagi.
"Kau sudah dengar kan apa yang nenekku katakan? Jadi bagaimana menurutmu?" Tanya Shaka datar.
Amira pun hanya mengangguk pelan dan menyetujuinya.
SISI LAIN KEDIAMAN KELUARGA WIJAYA
Emely dan orang tua Amira sedang asik mengobrol di ruang tamu rumah Amira. Sedangkan Amira membawah Shaka duduk di taman belakang sesuai dengan perintah Emely, karena di dalam obrolan mereka nanti akan di bahas soal kehamilan Amira dan Emely tidak ingin Shaka mendengarnya dulu. Setelah berbincang-bincang dan suasana menjadi hening. Emely pun mengutarakan niatnya.
"Adi.. Riana.. Sebenarnya kedatangan saya ke sini ada yang ingin aku bicarakan". Ucap Emely yang mulai membuka percakapan.
"Ada apa Ma? Apa yang hendak Mama sampaikan?" Tanya Adi wijaya menatap ke arah Emely.
Sebelum mengutarakan niatnya, Emely terlebih dahulu menceritakan secara detail masa remaja Shaka sampai dengan penyebab mengapa Shaka bersifat dingin dan angkuh.
"Jadi karena hal itu lah saya ingin menikahkan Shaka dengan Amira, dari awal saya bertemu Amira saya melihat Amira anak yang baik dan saya yakin Amira bisa membuat Shaka tersenyum lagi, saya ingin di sisa hidupku ini Shaka mendapatkan pendamping yang tulus menyayanginya. Saya tidak tau berapa lama lagi saya akan hidup di dunia ini umur saya sudah sangat rentah, di luar sana sangat jarang ada gadis seperti Amira yang tulus dan apa adanya kebanyakan wanita di luar sana hanya mengincar harta Shaka saja bukan karena tulus mencintai Shaka, Adi.. Riana.. Saya mohon mengertilah". Ucap Emely lirih sambil menatap sendu Adi dan Riana secara bergantian.
Mendengar itu Adi dan Riana pun kaget, mereka saling berpandangan, karena mereka pikir Emely belum tau tentang kehamilan Amira mereka ragu akan hal itu. Andai saja Amira tidak hamil mereka akan dengan senang hati menerima perjodohan ini untuk mempererat hubungan persahabatan keluarga mereka, tapi Amira sedang hamil Adi dan Riana yakin Emely dan Shaka pasti akan berubah pikiran dengan membatalkan perjodohan ini kalau mereka tau keadaan Amira sebenarnya.
"Ta.. Tapi Ma ada hal yang Mama tidak tau tentang Amira". Ucap Riana dengan menekan suaranya.
" Aku sudah tau". Ucap Emely singkat.
"Ma.. Maksud Mama sudah tau apa?" Tanya Adi tampak bingung.
"Saya sudah tau tentang kehamilan Amira, saya tidak masalah biarlah kami yang akan bertanggung jawab, kalian tidak usah mengharap lelaki bejat itu. Soal Shaka kita rahasiakan ini dulu dari Shaka, nanti kalau mereka sudah menikah, saya sendiri yang akan mengatakan ini semua kepada Shaka". Jawab Emely meyakinkan Adi dan Riana.
__ADS_1
Adi dan Riana pun tidak menyangka begitu lembutnya hati Emely yang tidak menilai buruk tentang Amira. Malah dia tetap tidak mengurungkan niatnya untuk menjadikan Amira menantu walaupun dia tau keadaan Amira sebenarnya.
"Tapi Ma.. Apa Mama yakin Shaka akan menerima keadaan Amira?" Tanya Adi ragu.
"Saya yakin, Shaka adalah anak yang baik dan penurut saya bisa dengan muda mengambil hati Shaka, karena saya yakin suatu saat Shaka akan sangat mencintai Amira, karena Amira tidak hanya cantik tapi juga begitu baik". Ucap Emely mencoba meyakinkan mereka.
Adi dan Riana masih tampak ragu.
"Kalian tenanglah, serahkan semua ini padaku". Ucap Emely lagi sembari menggenggam tangan Riana yang saat itu tengah duduk di sampingnya.
"Ma.. Apa Mama sudah mengatakan ini kepada Amira? Dan apakah Amira setuju? Kami hanya ikut Amira saja kalau Amira setuju kami pun juga akan setuju". Ucap Adi yang kemudian meletakan tangannya di atas punggung tangan Emely yang sedang menggenggam tangan istrinya.
"Amira sudah tau, tadi saya sudah mengatakan ini kepadanya. Dia juga bilang kalau dia juga akan setuju kalau kalian juga setuju". Cetus Emely sambil tersenyum dan perlahan mulai melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Riana tadi.
Akhirnya setelah terdiam sejenak sambil berpikir Adi pun setuju dengan keinginan Emely, Adi tidak bisa menolak Emely karena Adi sangat ingat dulu keluarga Buwana sudah banyak membantu keluarga mereka, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak jasa yang sudah di berikan keluarga Buwana untuk mereka. Sehingga mereka berniat untuk balas budi dan untuk mempererat hubungan persahabatan mereka. Namun Adi tetap menunggu keputusan Amira.
SISI LAIN TAMAN BELAKANG RUMAH AMIRA
"Kenapa kau memanggilku kesini? Kenapa kita tidak duduk saja bersama mereka?" Tanya Shaka datar tanpa melirik Amira.
"Emm.. Maaf tuan, kata Nenek, Nenek hanya ingin bicara saja dengan orang tuaku". Ucap Amira.
"Maaf tuan bisakah anda menjelaskan lebih detail lagi tentang yang anda bicarakan tadi di rumah anda? Karena saya belum paham". Ucap Amira gugup.
"Dasar bodoh." Celetuk Shaka yang sontak saja membuat Amira kembali terdiam.
"Maksudku kita tetap menikah secara resmi, namun pernikahan ini di lakukan secara tertutup, dan hanya diketahui nenek dan orang tuamu saja, selebihnya orang-orang tidak perlu tau kita menikah, kau akan tinggal di rumahku namun dengan kamar yang berbeda, aku akan menempatkan kamarmu di sebelah kamarku. Nenek tidak akan tau karena dia tidak akan naik ke lantai 2, kau hanya perlu menampakan diri saat sarapan, jam makan siang dan jam makan malam". Jelas Shaka panjang lebar menjelaskan aturan mainnya pada Amira.
Sementara Amira pun terus mencerna penjelasan Shaka dan terus berfikir apakah rencana itu akan membuatnya rugi atau tidak.
"Sejauh ini apa kau mengerti dengan penjelasanku?" Tanya Shaka memastikan.
"Jadi maksud anda, kita akan bersandiwara sebagai suami istri hanya di depan nenek saja? Selebihnya apakah aku bebas melakukan apapun? Apakah tidak ada larangan?" Tanya Amira lagi.
"Ya kira-kira begitu, setiap bulan juga aku akan selalu mengirimkan uang ke rekeningmu aku akan tetap menafkahimu layaknya suami istri pada umumnya".
Amira kembali di landa di lemah, dalam hatinya dia sama skali tidak ingin menjalankan pernikahan yang seperti ini. Dari dulu dia memimpikan menikah dengan orang yang di cintainya dan yang mencintai dia. Amira sangat berfikir keras sampai akhirnya dia menyerah dengan keputusan yang sebenarnya sangat bertolak belakang dengan nuraninya.
"Tapi sampai kapan kita harus bersandiwara dengan semua ini?" Tanya Amira lagi yang tiba-tiba mendadak sedih.
"Oh yah masalah itu mungkin hanya sampai setahun, nanti akan ku pikirkan alasan yang tepat untuk ku sampaikan pada nenek agar kita bisa berpisah".
Amira hanya mengangguk tanda setuju. Lalu mengajak Shaka untuk masuk ke dalam rumahnya, dan bergabung kembali dengan Emely dan orang tuanya yang sedang asik mengobrol di ruang tamu.
"Bagaimana Amira, apa kamu setuju menikah dengan Shaka?" Tanya Emely sedikit cemas.
"Baiklah nek, aku akan menikah dengan Shaka". Ucap Amira yakin dengan keputusannya.
__ADS_1
Emely yang mendengar itu sontak sumringah kesenangan, dia langsung mengulurkan tangannya untuk memeluk Amira, Amira pun dengan segera meraih tubuh Emely dan memeluknya. Sementara Shaka yang melihat pemandangan itu seketika hatinya menghangat, dia juga turut senang jika bisa memenuhi keinginan neneknya walaupun sebenarnya dia sama skali tidak mencintai Amira.