
Tak lama Kevin kembali ke ruangan Shaka dengan membawa laporan gaji para kariyawan untuk Shaka tanda tangani.
"Ka ini laporan gaji kariyawan, kau periksa lah dulu kalo sudah fix baru kau tanda tangani." Ucap Kevin sembari memberi map hitam itu kepada Shaka.
Shaka meraih map hitam itu dan mulai memeriksanya. Tak lama terdengar suara ketukan pintu, Kevin dengan sigap langsung membukakan pintu, Kevin sangat terkejut ketika tiba-tiba pintu di dorong dengan kasar oleh Reza.
"Re.. Reza." Ucap Kevin yang sangat terkejut.
Reza terus menatap tajam ke arah Shaka, dan tanpa basa basi, Reza langsung meninju pipi Shaka dengan keras.
"Brengsek!!" Ketus Reza saat meninju Shaka.
Hal itu membuat Shaka yang berdiri hampir jatuh, Shaka pun menatap tajam ke arah Reza sembari mengusap pipinya. Sementara Kevin yang masih terkejut terus tercengang.
"Ada apa denganmu?" Teriak Shaka.
"Ah diam kau dasar bajingan!!" Ketus Reza sembari meninju lagi pipi Shaka.
Shaka memegangi sudut bibirnya yang mulai keluar darah, ia memandangi sejenak ibu jarinya yang sudah terdapat bercak darah yang berasal dari ujung bibirnya. Kini Shaka mulai tersulut emosi, Shaka membalas meninju pipi Reza dengan keras. Akhirnya antara Shaka dan Reza berkelahi bagaikan musuh bebuyutan. Kevin yang melihat itu berusaha untuk melerainya.
"Ada apa dengan kalian? Berhenti jangan berkelahi!!" Teriak Kevin yang kini tengah melerai mereka.
Perkelahian mereka pun sejenak terhenti dengan saling melempar pandangan tajam satu sama lain.
"Reza, kenapa kau memukulnya? Ada apa?" Tanya Kevin tampak bingung.
"Kenapa? Kau mau membelanya juga? Rupanya kau mulai betah menjadi budaknya ya." Ketus Reza menatap sinis ke arah Kevin.
"Apa yang sudah kau lakukan padanya?" Tanya Reza pelan namun dengan suara yang berat.
"Kau tidak pantas melakukan itu padanya." Teriak Reza merasa tak terima.
Shaka pun tersenyum sinis menatap Reza sembari berdiri dengan tenang.
"Kau benar-benar licik, kau mengambil kesempatan di saat dia tidak sadarkan diri. Kenapa kau harus melakukan itu?" Ucap Reza sembari menarik kasar kerah kemeja Shaka.
"Kau terlalu jauh mencampuri urusan rumah tanggaku." Ucap Shaka dengan tenang.
"Rumah tangga? Rumah tangga atas dasar paksaan. Kau tidak mencintainya, kau hanya mau memanfaatkannya, kau bahkan sanggup menidurinya di saat dia sedang tidak sadarkan diri." Mata Reza memancarkan kobaran api kemarahan.
"Dia istri sah ku, aku berhak menidurinya, kenapa itu sangat menjadi masalah bagimu?" Shaka tersenyum mengejek.
"Kau tidak mencintainya, ceraikan dia brengsek!!" Reza sekali lagi memukul wajah Shaka.
__ADS_1
"Reza stop!!" Bentak Kevin.
"Reza sepertinya ada kesalah pahaman di sini, Shaka tidak memanfaatkan situasi seperti yang kau katakan." Jelas Kevin.
"Salah paham apa? Jelas-jelas tadi aku menelpon Amira dan dia tengah menangis. Dia pun juga mengakuinya saat ku tanya!!"
"Beraninya kau menghubungi istriku!!" Teriak Shaka yang ingin memukul Reza. Namun segera di tahan oleh Kevin.
"Kau pasti sudah memanfaatkan situasi dengan sengaja menidurinya di saat dia di kuasai obat perangsang." Ucap Reza lagi.
"Rupanya kau mau bukti kalau aku tidak memanfaatkan situasi. Baiklah akan ku tunjukkan buktinya, tapi kau harus siap-siap untuk sakit hati saat melihatnya." Ucap Shaka tersenyum sinis sembari meraih ponsel di saku celananya dan membuka rekaman cctv yang menunjukkan adegan ranjangnya dan Amira semalam.
Shaka langsung memperlihatkan isi rekaman cctv itu. Di situ terlihat Amira menarik tubuh Shaka dan menciuminya penuh nafsu. Terlihat juga di situ Shaka berusaha menolaknya namun Amira terus memaksakan kehendaknya.
"Jika sudah begini aku harus apa selain melayani nafsunya?" Ucap Shaka sembari terus memancarkan senyuman meledek.
Reza semakin tersulut emosi, dia tidak begitu percaya dengan apa yang di lihatnya itu. Hingga ia pun ingin meraih ponsel itu dari tangan Shaka untuk melihatnya lebih jelas.
"Eits sampai di situ saja." Ucap Shaka yang langsung menjauhkan ponsel itu dari jangkauan Reza.
"Karena jika kau terus melihatnya, bisa-bisa kau akan melihat seluruh tubuh istriku. Dan aku tidak mengizinkannya. Karena hanya aku suami sah nya yang bisa melihat semuanya." Bisik Shaka sembari tersenyum puas.
"Bangsat!!" Teriak Reza sembari mendorong kasar tubuh Shaka dan berlalu pergi.
"Dasar bodoh." Ledek Shaka yang kembali tersenyum.
Shaka duduk kembali di kursinya, wajahnya nampak memar dan ujung bibirnya juga nampak berdarah akibat pukulan keras dari Reza. Dia tidak mempedulikan luka di wajahanya, karena itu tidak sebanding dengan rasa puasnya melihat Reza yang terlihat sangat kecewa.
"Ka, wajahmu memar. Aku belikan obat ya?" Tanya Kevin yang berdiri memandangi Shaka.
"Tidak usah, kali ini kau tidak perlu merepotkan dirimu. Aku akan pulang. Di rumah sudah ada yang akan mengobatiku." Ucap Shaka tersenyum sembari bangkit dari duduknya.
Kediaman Keluarga Buwana..
Shaka masuk ke dalam rumahnya dengan semangat. Dia langsung berjalan menuju kamar Amira untuk melihat Amira.
Tok.. Tok.. Tok..
Pintu kamar pun segera terbuka dengan Amira yang sudah berdiri di hadapannya sembari mengerutkan dahinya.
"Shaka, kau terluka?" Tanya Amira sembari mengamati wajah Shaka.
"Iya, tapi itu tidak penting, aku hanya ingin melihat keadaanmu. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Shaka menatap lekat ke arah Amira.
__ADS_1
"Aku baik, tapi ada apa dengan wajahmu? Apa kah Kak Reza memukulmu?" Tanya Amira yang tampak terlihat khawatir.
"Ayo masuk!!" Perintah Amira mempersilahkan Shaka masuk.
Shaka pun masuk dan duduk di tepi ranjang. Sementara Amira mengambil obat dan langsung mengobati luka Shaka. Kini wajah Amira berada dekat dengan wajah Shaka. Shaka kembali terpanah memandangi wajah Amira yang begitu teduh dan menenangkan.
"Arghh." Shaka meringis kesakitan saat Amira mengobati lukanya. Namun Amira tidak menggubrisnya. Dia tetap fokus mengobati luka Shaka hingga selesai.
Selesai mengobati luka Shaka, Amira langsung tidur berbaring di ranjangnya dan menyelimuti dirinya.
"Apa kau sedang tak enak badan?" Tanya Shaka tampak mulai cemas.
"Aku hanya ingin istirahat dulu." Jawab Amira mencoba memejamkan matanya.
"Baiklah, kalau kau butuh sesuatu panggil aku." Ucap Shaka dan berlalu pergi keluar dari kamar Amira.
Shaka menutup pintu sembari terus tersenyum.
Tidak apa-apa jika kau cuek padaku, yang penting aku bisa terus melihatmu setiap saat. Gumam Shaka dalam hati sembari terus berjalan menuju kamarnya.
Kediaman Reza..
Reza masuk ke dalam rumah begitu saja dengan tatapan tajam melewati Salsa yang tengah duduk di ruang keluarga yang berada dekat kamar Reza. Melihat itu Salsa mengerutkan dahinya, terlebih ia melihat wajah kakaknya yang memar, ia merasa kakaknya pasti habis berkelahi. Salsa memilih menyusul Reza ke kamarnya. Salsa mendapati Reza yang tengah diam berdiri di dekat jendela sembari terus memandang ke luar jendela.
"Kak." Sapa Salsa yang ikut berdiri di dekat jendela tepat di samping Reza dengan tangannya yang memegang kotak obat untuk mengobati memar di wajah Reza akibat pukulan dari Shaka tadi.
"Taru saja obat itu di atas nakas, nanti aku akan mengobatinya sendiri." Ucap Reza yang melihat Salsa sedang membawah kotak obat untuknya dengan ekor matanya.
"Kenapa cinta begitu kejam ya? Aku kembali merasakan sakit yang pernah ku rasakan saat aku kehilangan mama dan papa dulu." Ucap Reza lirih yang langsung membuka percakapan.
Salsa langsung mengerti maksud omongan kakaknya, karena tadi Salsa baru menonton televisi yang membahas berita tentang Shaka yang menggendong seorang wanita yang tidak lain adalah Amira di sebuah pesta dan melewati banyak orang. Berita itu langsung trending karena selama ini, Shaka di kenal dengan pria yang sangat menjaga privasinya dan tidak pernah dekat wanita mana pun. Di tambah lagi semalam kakaknya memintanya untuk menelepon Amira karena Amira tidak mengangkat telepon dari Reza. Salsa sejak dulu sudah tau kalau Reza menyimpan cinta untuk sahabatnya itu.
"Tapi cinta itu akan terasa kejam kalau kita mencintai orang yang sama sekali tidak mencintai kita." Jawab Salsa mencoba menyadarkan kakaknya kalau Amira sudah berumah tangga.
Mendengar itu, Reza menoleh ke arah Salsa.
"Maksudmu? Amira tidak mencintaiku begitu?"
"Amira sudah bersuami, kakak harus terima itu. Jangan terlalu memaksakan kehendakmu bahwa Amira dan Shaka tidak saling mencintai sehingga kau berkesempatan untuk memilikinya. Tidak kah kau sadar dengan tingkah Shaka yang begitu mengkhawatirkannya dan tingkah Amira yang membiarkan Shaka memberikan perhatian khusus padanya? Sikap mereka seperti itu menunjukkan kalau mereka sudah saling mencintai, namun mereka belum mengungkapkannya." Tegas Salsa memandang sendu ke arah Reza.
"Kau harus move on dari Amira. Masih banyak perempuan di luar sana yang ingin memilikimu. Sadarlah kak, Amira sudah bersuami kau tidak boleh menganggunya." Ucap Salsa yang mulai melangkah pergi meninggalkan Reza yang masih terdiam.
"Ingat kata-kataku ini kak, aku berkata seperti ini agar kau tidak terus terusan seperti ini." Tambah Salsa lagi menghentikan sejenak langkahnya dan berlalu pergi dari hadapan Reza.
__ADS_1