
Sisi Lain Pekarangan Rumah Yura..
Waktu menunjukkan pukul 21.00 malam, Yura baru saja pulang dari rumah Reza dengan di antar oleh Reza.
Kini Yura turun dari mobil Reza ketika mobil itu sudah berhenti sempurna di pekarangan rumah Yura.
“Terima kasih Reza,” ucap Yura tersenyum tipis.
“Tak perlu sungkan,” jawab Reza.
“Baiklah kalau begitu aku masuk dulu,” Yura pun kembali tersenyum lalu berbalik badan hendak masuk ke rumah nya.
Yura mulai memikirkan perasaan Reza kepadanya, namun dia segera menepis pemikiran itu karena hingga saat ini hubungannya dengan Reza tidak lebih dari sekedar sahabat.
Walaupun selama ini Reza selalu ada untuknya dan mendampinginya di saat susah maupun senang, namun dia tidak ingin berharap lebih.
Yura pun dengan tenang berjalan menyusuri taman depan rumahnya, namun tak lama suara panggilan Reza sontak menghentikan langkahnya.
“Tunggu Yura,” ucap Reza.
Yura sontak berbalik badan dan menatap Reza.
“Re Reza, kau masih di sini? Ku fikir kau sudah pergi,” ucap Yura tersenyum lirih.
Reza pun terdiam sejenak.
“Ada apa?” Tanya Yura sembari mengangkat kedua alisnya.
Reza pun mulai menatap Yura dengan raut wajah yang begitu serius, ia mengambil nafas panjang, lalu membuangnya dari mulut secara perlahan demi menghilangkan rasa gugupnya.
“Aku sudah lelah dengan semuanya Yura,” ucap Reza memulai pembicaraan.
“Le lelah? Maksudmu apa Reza?”
“Aku tidak ingin kehilangan orang yang begitu berarti dalam hidupku untuk kedua kalinya,”
Mendengar hal itu mata Yura mulai membulat, bibirnya pun mulai bergetar, disusul dengan lidahnya yang mendadak jadi kelu.
“Belakangan terakhir ini kita banyak menghabiskan waktu bersama, dan aku menyadari akan satu hal Yura,”
“Apa itu?” Tanya Yura dengan raut wajah tanpa ekspresi.
“Aku mulai sadar, jika kau begitu berarti untuk ku, kau selalu bisa memahami ku, kau pun kini sudah sukses menjadi Yura yang begitu mengagumkan dengan segala kebesaran hati yang kau miliki,” ungkap Reza.
Mendengar itu, jantung Yura kini berpacu sangat cepat, matanya mulai berkaca-kaca, namun lidahnya masih tidak dapat mengungkapkan satu kata pun.
__ADS_1
“Yura, aku sadar akan kesalahanku di masa lalu yang selalu mengabaikan perasaan mu, maka dari itu aku ingin memperbaikinya,” Reza berkata begitu lembut dan mulai mendekati Yura yang diam terpaku.
“Yura izinkan aku membahagiakanmu dengan caraku, jadilah istriku Yura,” Reza tiba-tiba langsung berlutut di hadapan Yura sembari menunjukkan sebuah cincin.
Melihat hal itu Yura sontak menutup mulutnya dengan kedua tangannya saking terkejutnya.
“Re Reza apa maksud dari semua ini?” Tanya Yura yang masih tak percaya.
“Maksud ku adalah aku ingin melamar mu dan menikahimu, aku tidak mau hanya berpacaran tanpa adanya ikatan dan kejelasan,” jawab Reza sembari tersenyum.
Tanpa bisa di bendung, kini air mata Yura sontak langsung menetes melalui pipinya.
“I love you, and will you marry me Yura?” Tanya Reza lagi.
“I love you to, and yes i do,” jawab Yura.
Akhirnya Reza tersenyum bahagia dan langsung melingkarkan cincin berlian itu di jari manis Yura. Kemudian ia memeluk erat tubuh Yura sembari berputar-putar saking bahagianya.
Keesokan harinya….
Tiba-tiba saja di berbagai majalah dan surat kabar, mengabarkan bahwa Amira adalah wanita matre yang hanya memanfaatkan kekayaan Shaka demi keuntungan pribadi, ada pula yang memberitakan jika Amira dulunya adalah wanita malam yang hamil di luar nikah dengan orang lain, dan terlibat hubungan skandal dengan Shaka dan itulah sebabnya Shaka menikahinya.
Tak hanya itu, mendengar berita itu banyak orang yang menilai buruk tentang Amira.
Berita-berita miring seperti itu adalah yang pertama bagi Amira, ia bukanlah selebritis, namun sebagai istri pengusaha kaya raya yang terkenal, tentu membuat dirinya tak luput dari pemberitaan.
“Praaakkk”
Shaka menghempas kasar beberapa surat kabar di atas meja kerjanya, yang saat itu sedang memasang fotonya dengan Amira di cover depan dengan pemberitaan negatif tentang Amira.
“Apa-apaan ini Vin?” Tanya Shaka dengan meninggikan suaranya.
“Entahlah Ka, media massa sungguh menyebar berita hoax semaunya hanya demi bisa trending,” jelas Kevin dengan wajah serius.
“Cari tau siapa yang berani menulis berita menjijikan ini, aku tidak peduli siapa orangnya, pastikan mereka jadi pengangguran selamanya!” Tegas Shaka yang langsung bangkit dari duduknya sembari menggebrek meja.
“Ba, baik Ka,” ucap Kevin sediki takut melihat amukan Shaka, sudah lama ia tak melihat Shaka semarah ini, wajahnya terlihat merah padam, dengan sorot mata yang seakan mengobarkan api kemarahan.
“Bila perlu buat perusahaan yang menerbitkan majalah dan koran ini bangkrut!”
“Tenanglah Ka, biarkan aku yang mengatasi masalah ini,” ucap Kevin mencoba menenangkan Shaka.
“Aku ingin agar Amira tidak memegang ponsel dulu, jangan sampai dia tau tentang hal ini,” tegas Shaka lagi kemudian langsung keluar dari ruangannya.
Kevin dengan sigap langsung meraih ponselnya, ia memiliki orang-orang khusus yang biasanya sering ia tugaskan untuk mengurus masalah yang menyangkut media massa maupun media sosial.
__ADS_1
“Hallo,” ucap Kevin dengan keadaan ponsel yang di tempelkan di telinganya.
“Hari ini juga, aku mau kalian melenyapkan semua majalah dan surat kabar yang memunculkan berita buruk tentang istri tuan muda Shaka Buwana, dan aku minta kalian menekan beritanya agar tidak kembali terbit di media massa lainnya,” tegas Kevin.
“Lalu aku mau agar orang IT mu juga melenyapkan berita buruk ini di media sosial, besok aku tidak mau lagi melihat berita murahan ini muncul lagi di media sosial, mengerti?”
“Emm baik, aku tunggu kabar dari kalian,” jawab Kevin kemudian dan langsung mengakhiri panggilannya.
Shaka bediri tegak di sebuah balkon kantornya, ia terlihat begitu cemas, tak lama ia langsung meraih ponselnya untuk menghubungi Dody.
“Dody, aku ingin agar kau menahan seluruh surat kabar dan majalah yang di kirim ke rumah, kemudian matikan juga WIFI di rumah jangan biarkan Nenek atau pun Amira membaca berita buruk tentang Amira hari ini, kau mengerti?”
“Oh ya, jangan lupa kau juga suru orang untuk menahan majalah yang akan di kirim ke rumah mertuaku, dan matikan juga WIFI di rumah mereka, aku juga tidak ingin mereka melihat berita murahan itu,”
“Bagus!” Jawabnya kemudian dan langsung mengakhiri panggilannya.
Shaka begitu takut jika sampai Amira tau tentang berita tersebut, ini yang pertama dalam hidupnya mendapat pemberitaan buruk apa lagi berita tersebut begitu heboh di jagat maya maupun media cetak, Shaka takut Amira akan syok dan sedih mengetahui semua itu.
Jam berputar begitu cepat, kini Amira tengah berada di rumah Salsa bersaama dengan Yura untuk menjenguk Queen, Amira tidak sempat mengabari Shaka karena takut mengganggu sehingga Amira hanya mengirim pesan saja, namun sayang Shaka tidak sempat membacanya karena ada meeting dadakan.
Yura hingga detik ini belum mengabarkan kepada Amira dan juga Salsa mengenai rencana pernikahannya bersama dengan Reza.
Begitu juga dengan berita buruk tentang Amira, Yura juga belum memberitahukannya kepada Amira karena ia ingin menutupi berita tersebut karena tidak ingin Amira syok.
Amira sedang bermain-main dengan Queen yang sudah mulai besar dan semakin lucu.
Puas bermain-main dengan Queen, Amira kini menidurkan Queen di kamarnya, setelah selesai menidurkan Queen, Amira meraih ponselnya dan iseng membuka media sosial di ponselnya.
Ternyata apa yang di khawatirkan oleh Shaka kini menjadi kenyataan, setelah membuka sosial medianya, Amira terlihat mulai mengerutkan dahi saat melihat begitu banyak pemberitahuan orang-orang yang menandai nama akun nya lalu banyak yang berkomentar pedas.
Amira pun dengan sigap membuka foto yang mereka kirim kan, foto sebuah majalah yang cover depannya adalah foto dirinya bersama Shaka dengan judul besar.
Shaka Buwana sang crazy rich kota M menikahi seorang wanita malam yang hamil dengan pria lain.
Dan ada banyak lagi foto-foto surat kabar dan majalah lain nya yang juga memberitakan miring tentang dirinya, di tambah wanita tak di kenal mengirimkan pesan di akun media sosialnya.
“Dasar wanita ******, kau tidak pantas menjadi istri Shaka Buwana, dia sangat terhormat, jadi jangan kau nodai namanya dengan nama murahanmu itu,” begitu lah rata-rata bunyi pesan mereka.
Membaca berita tersebut, sontak membuat nafas Amira terengah, dada nya terasa begitu sesak seakan membuat ia kesulitan bernafas, perasaan sakit itu menghunus jantungnya begitu dalam, sebening air pun mulai membasahi netra nya begitu saja.
“Tidak, aku tidak seperti itu, aku bukan wanita malam, aku bukan pelacur,” ucap Amira pelan sembari menggelengkan kepalanya.
“Tidaakkk,” teriak Amira kemudian berlari meninggalkan kamar Queen begitu saja.
Yura yang mendengar teriakan Amira sontak bangkit dari duduknya dan melihat ke arah sumber suara.
__ADS_1
Yura terkejut melihat Amira berjalan cepat menuruni anak tangga dan berlari keluar meninggalkan Yura begitu saja.