
Setelah melihat mobil Shaka sudah jauh pergi meninggalkan loby kantor, Amira pun segera ke basement di mana pak Dody sedang menungguinya. Amira belum langsung pulang, dia teringat Salsa dan ingin mengunjunginya, rasanya sudah lama dia dan Salsa tidak bertemu semenjak ia mengalami depresi tempo hari, dia juga sengaja pergi ke rumah Salsa sekarang karena dia tau pasti Reza sedang ada di rumah sakit menjenguk Yura, itulah sebabnya dia berani datang ke rumah Reza karena tidak ada Reza di rumah.
"Pak sebelum pulang, kita ke rumah Salsa dulu ya. Bapak bisa kan mengantarkan ku ke sana?" Tanya Amira pada pak Dody.
"Baik nona." Jawab pak Dody patuh.
Mobil pun melaju meninggalkan basement kantor itu.
Sementara Shaka dan Kevin kini sudah berada di rumah sakit, mereka berjalan cepat menyusuri koridor, tak lama ia pun sampai di ruangan tempat Yura di rawat. Ia pun melihat Reza yang tengah terduduk di kursi tunggu dengan wajah cemas. Shaka dan Kevin pun menghampirinya dan duduk di kursi tunggu itu.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Kevin begitu duduk di kursi.
"Dokter masih menanganinya di dalam." Jawab Reza singkat.
"Bagaimana dia bisa masuk rumah sakit? Apa yang terjadi dengannya?" Shaka merasa penasaran.
"Sebenarnya sebelum dia masuk rumah sakit, dia menelepon ku lebih dulu dan memintaku untuk mengantarkannya ke rumah mu Ka." Jelas Kevin pada Shaka.
"Ke rumah ku? Untuk apa?" Tanya Shaka mengerinyitkan dahinya.
"Dia ingin meminta penjelasan padamu, kenapa kau pulang begitu cepat saat pesta ulang tahunnya masih berlangsung dan kenapa kau tidak mengangkat teleponnya sejak itu. Yura terlalu banyak memikirkanmu sehingga dia tidak makan dan minum selama beberapa hari dan akhirnya dia drop dan masuk rumah sakit hari ini." Jawab Kevin.
"Astaga" Ucap Shaka yang mendadak menjadi lesu sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Apa kau puas sekarang?" Tanya Reza yang tiba-tiba bersuara.
__ADS_1
"Apa kau puas telah menyakiti dua wanita sekaligus." Tanya Reza dengan tatapan kosong.
"Tutup mulutmu!! Kenapa kau selalu memojokkan ku." Jawab Shaka yang masih berusaha untuk bersikap tenang.
Tak lama dokter pun keluar dengan wajah yang sedikit tenang. Hal itu membuat mereka bertiga sontak langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Bagaimana?" Tanya Reza.
"Maaf tuan, di mana keluarga nona Yura?" Tanya sang dokter.
"Ayahnya masih di kantor dia datang di antar supir dan pelayan di rumahnya. Tapi Ayahnya sedang di perjalanan menuju ke sini." Jawab Reza.
Tak lama Ayah Yura dengan tergesa-gesa menghampiri dokter.
"Dok, bagaimana keadaan putri saya?" Tanya tuan Handika tampak sangat cemas.
"Apa saya sudah bisa melihatnya?" Tanya tuan Handika masih tampak cemas.
"Boleh, silahkan tuan." Jawab dokter.
Ayah Yura dengan keadaan cemas langsung masuk ke ruangan di mana Yura tengah di rawat. Namun sebelum itu dia memandangi Shaka yang saat itu hanya berdiri terdiam.
"Shaka, kau turut andil dalam hal ini. Kenapa kau begitu tegah padanya?" Ketus tuan Handika lalu masuk ke dalam ruangan Yura.
Tak lama Dokter dan Kevin pun ikut menyusul masuk. Kevin tanpa berkata-kata melewati Shaka begitu saja sembari menepuk-nepuk pundak Shaka. Sementara Shaka masih saja terdiam bersandar di dinding koridor rumah sakit dan kembali mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
"Kau begitu serakah Shaka." Ucap Reza lirih sembari mengintip Yura dari balik pintu kaca.
"Kau menjalin hubungan dengan Yura, namun tidak ingin menceraikan Amira. Bahkan kau terus bersamanya dan mengabaikan Yura hingga dia jadi seperti ini. Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Apa kau ingin memiliki keduanya? Tanya Reza.
Mendengar hal itu, sontak membuat darah Shaka jadi mendidih. Shaka pun langsung mencengkram kuat kerah Reza dengan kedua tangannya.
"Kau tidak pantas mengatakan aku serakah. Perlu kau tau, sampai saat ini aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Yura." Jawab Shaka menatap tajam ke arah Reza.
"Hah bulshit." Ketus Reza.
"Dari dulu, aku sudah suka padanya, aku pun berpacaran dengannya. Namun ternyata dia hanya terpaksa menerimaku karena merasa tidak enak untuk menolakku, sampai suatu hari dia memilih meninggalkan ku hanya untuk menyusulmu karena ternyata dia menyukaimu. Dan demi menjaga persahabatan kita, aku rela mengalah. Aku terus memendam perasaanku bertahun-tahun lamanya. Namun saat aku mati-matian menahan rasa sakit hatiku, apa yang kau lakukan padanya? Kau malah terus menolaknya dan menyia-nyiakannya." Jelas Shaka dengan suara parau.
"Dan saat ini keadaannya sudah tidak sama lagi. Cintaku pada Yura pun sudah hilang dan tak tersisa sama sekali. Kau tau apa penyebabnya?" Shaka kembali menatap sinis ke arah Reza sembari mengeratkan cengkramannya.
"Karena aku sudah mencintai Amira istriku!" Tegas Shaka lagi sembari melepas kasar cengkramannya.
"Jadi kali ini, aku tidak akan mengalah lagi padamu. Dan jangan harap kau bisa merebut Amira dariku!" Bentak Shaka lagi yang kemudian langsung pergi meninggalkan Reza.
Reza sontak jadi terdiam seribu bahasa, ia pun tersandar memandangi kepergian Shaka sembari masih tercengang mendengar ungkapan Shaka tentang perasaannya pada Amira.
Shaka mengebutkan mobilnya dengan membawa serta perasaannya yang kalut. Perasaan bersalah pada Yura muncul begitu saja. Shaka merasa semua orang jadi menyudutkan nya akibat sakitnya Yura, padahal Shaka sendiri merasa jika antara dia dan Yura tidak ada hubungan apapun yang lebih dari sekedar sahabat.
Mungkin kesalahanku karena aku tidak memberitahu Yura kalau aku sudah menikah dengan Amira. Dan kalau soal perasaan, aku tak pernah mengungkapkan perasaanku padanya apa lagi sampai mengajaknya pacaran. Gumam Shaka dalam hati.
Sementara Amira singga di toko cemilan dan membeli beberapa cemilan untuk Salsa. Amira turun dari mobil dan berjalan memasuki toko. Tak lama Amira keluar dari toko dan membawa beberapa cemilan di kantong plastik, pada saat Amira berjalan menuju mobil yang terparkir agak jauh dari toko tiba-tiba dari seberang jalan ada seorang lelaki yang sedang berada di dalam mobil, melihat ke arah Amira tengah berjalan sendirian menuju mobil.
__ADS_1
Cantik, dia semakin cantik sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Gumam lelaki itu dalam hati sembari tersenyum kagum memandangi Amira dengan senyum manis yang terukir di bibirnya.