
Hal itu sontak menghentikan langkah Shaka, Shaka pun langsung berbalik badan menatap serius ke arah Amira.
“Ada apa?”
“Emm, apa.. apa masih ada sedikit waktu untuk kita bicara?” Tanya Amira yang mulai menatap Shaka dengan ragu-ragu.
“Katakan lah,” jawab Shaka masih dengan sikapnya yang begitu tenang.
“Emm, a…aku,” lidah Amira mendadak kelu, ia mulai terbata-bata sembari mengusap-usap tengkuknya.
“Ada apa? Apa kamu membutuhkan sesuatu? Katakan saja,”
“Bukan, bukan itu,”
“Lalu?” Tanya Shaka sembari menaikkan kedua alis matanya.
“Aku, aku sudah befikir untuk mengakhir semua ini, mak… maksud aku, aku sudah memaafkanmu dan aku ingin berbaikan dengan mu lagi,” ucap Amira pelan dengan tatapan sendu.
Pernyataan Amira membuat Shaka sontak membulatkan matanya, ia begitu terkejut, kini ia dibuat diam tak bergeming, seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan Amira.
“Apa?” Tanya Shaka dengan ekspresi yang masih tercengang.
“Maafkan aku, mungkin perkataan ku beberapa waktu lalu begitu keterlaluan sehingga membuatmu tersinggung, aku sungguh minta maaf, maaf juga aku sudah menyalahi kodratku sebagai seorang istri yang tidak taat pada suami, sekali lagi aku minta maaf,” ucap Amira yang kembali tertunduk.
Shaka masih diam terpaku seakan tak merespon penjelasan Amira.
Melihat reaksi Shaka yang hanya diam saja membuat Amira merasa bahwa penjelasannya tadi tidak berarti apa-apa untuk Shaka, namun ia mencoba mengerti.
“Ya sudah, hanya itu saja yang ingin aku sampaikan, kau pergilah ke kantor nanti kau terlambat,” ucap Amira dan mulai berbalik badan kembali menghadap taman belakang, namun baru saja Amira ingin berbalik tiba-tiba saja Shaka menarik tangannya dan membawa Amira dalam dekapannya.
“Terima kasih, terima kasih banyak sudah memaafkan aku,” ucap Shaka pelan sembari mengusap lembut rambut Amira.
Tanpa bisa ia bendung lagi, air mata Amira mengalir begitu saja, hingga akhirnya perlahan tangannya mulai membalas memeluk hangat tubuh tegap suaminya.
Beberapa saat menenggelamkan diri dalam dekapan Shaka, Amira pun kembali melepaskan tautan tubuh mereka.
“Sekali lagi aku minta maaf dari relung hatiku yang paling dalam, maafkan kebodohanku, aku sungguh berjanji akan berubah,” ucap Shaka menatap lekat wajah istrinya, sembari mengusap air mata Amira yang terus mengalir.
Amira pun mengangguk sembari tersenyum lirih.
“Aku sangat merindukanmu,” ucap Amira lirih dan semakin menangis.
“Aku berkali lipat merindukanmu, duniaku seakan terhenti saat kamu tidak ada di sisiku,” jawab Shaka.
“I love you Shaka,”
__ADS_1
“I love you more,” jawab Shaka kemudian tanpa permisi langsung mendaratkan bibirnya di bibir Amira.
Bisa dibayangkan bagaimana jadinya kedua insan yang saling merindu berada dalam situasi seperti itu? Tentu saja sama seperti dengan yang kalian bayangkan, mereka layaknya sepasang singa yang begitu kelaparan dan seakan saling memangsa satu sama lain.
Kali ini, Amira bahkan terlihat lebih agresif dari sebelumnya, ia memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri demi bisa ******* bibir Shaka yang terasa sangat menghangatkan.
Shaka semakin tak bisa menahan dirinya, meski saat itu mereka tengah berdiri di balkon, tak membuat Shaka segan menciumi istrinya dengan penuh gairah, tak puas hanya mengecap bibir Amira, kini Shaka mulai beralih ke leher Amira, hingga membuat Amira terdongak dan memejamkan mata menikmati setiap sentuhan yang sudah lama tidak ia rasakan.
“Ehhmmm,” gumam Amira.
Tak tahan dengan setiap sentuhan lembut dari suaminya, kini Amira semakin di buat terpancing, ia pun langsung mendorong tubuh suaminya masuk ke kamar, dengan bibir yang kembali bertautan, Shaka terus di buat melangkah mundur oleh Amira, yang seakan mengajaknya menuju ranjang, dengan penuh gairah, Amira membuka dasi Shaka dengan kasar dan membuangnya ke sembarang arah, begitu pun dengan jas Shaka yang berhasil ia hempaskan.
Kali ini, di tengah cerahnya pagi, Amira lah yang paling dominan menguasai permainan, rambut Shaka yang awalnya tersisir rapi, kini kembali di buat acak-acakan akibat remasan Amira.
Shaka terduduk di tepi ranjang dengan posisi Amira yang sudah berpangku di hadapannya, satu persatu pakaian mereka mulai berhambur ke lantai, erangan demi erangan mulai samar-samar terdengar di ruangan itu, kelakuan liar Amida sungguh membuat Shaka semakin buas, ia pun menghempas pelan tubuh istrinya ke ranjang, lalu perlahan mulai menindihnya, tubuh bagian atas Amira mulai jelas terekspos tanpa sehelai benang pun yang menutupi, membuat Shaka semakin rakus menjilati seluruh permukaan kulitnya yang begitu mulus.
******* Amira kembali pecah dan bersahut-sahutan dengan suata kicauan burung-burung saat Shaka dengan begitu jantan mulai menggagahi nya kembali seperti dulu, di tambah lagi dengan bunyi-bunyian aneh dari ranjang yang di buat sedikit bergoyang akibat permainan hebat mereka di atas ranjang.
Kedua insan yang sedang di landa asmara memang akan melupakan segala hal, mereka seakan tak peduli dengan apa pun lagi yang ada di sekitar, bahkan Shaka yang awalnya ingin buru-buru berangkat ke kantor saja seketika lupa akan hal itu akibat gairah yang begitu memuncak hingga memenuhi segala ruang di otaknya.
Entah sudah berapa lama mereka bergulat, akhirnya tubuh kokoh Shaka ambruk di atas tubuh Amira dengan peluh yang membasahi tubuh mereka masing-masing, bisa di bayangkan bagaimana buasnya mereka saat itu saling memangsa, bahkan di udara pagi yang masih begitu dingin, mereka malah berkeringat, dengan nafas yang terengah-engah, Shaka pun mengecup hangat kening Amira, sembari memancarkan sebuah senyuman kepuasan dari wajahnya.
“I love you,” bisiknya sembari menatap wajah istrinya yang masih terbaring lemas di bawahnya.
“Ke kenapa malah menarik selimut? Bukan kah kau tadi ingin buru-buru ke kantor?” Tanya Amira dengan raut wajah sedikit kebingungan.
“Nanti saja, mendadak aku jadi kehilangan nafsu untuk bekerja hari ini,” jawab Shaka sembari memeluk posesif tubuh istrinya.
“Kenapa bisa begitu?”
“Karena kamu telah memancing nafsu ku yang lain, sebabnya aku kehilangan nafsu untuk bekerja sekarang, kamu juga telah membuat energi ku di pagi hari terkuras habis, hingga membuatku merasa benar-benar lelah saat ini,” jawab Shaka dengan tenang sembari memejamkan matanya.
Mendengar penuturan Shaka membuat Amira mendengus dan memutar bola matanya.
Tak lama Amira ingin bangkit dari ranjangnya, namun Shaka seolah tak menyetujuinya, ia semakin mengunci Amira dalam pelukannya hingga membuat Amira tidak bisa beranjak.
“Kamu mau ke mana sayang?”
“Lepaskan Shaka, aku ingin mandi lagi lalu turun ke bawah,”
“Untuk apa turun ke bawah?” Tanya Shaka dengan keadaan mata yang masih terpejam.
“Hei apa kamu tidak lihat sekarang ini jam berapa? Sebentar lagi nenek pasti keluar untuk sarapan,”
“Nanti saja, aku masih ingin memeluk mu lebih lama,”
__ADS_1
Lagi-lagi Amira pun terdiam dan pasrah.
Beberapa saat kemudian ketukan pintu pun terdengar perlahan.
“Nona, tuan muda,” suara pelayan memanggil di balik pintu.
“Ada apa?” Tanya Shaka sembari melirik sejenak ke arah pintu.
“Maaf tuan muda, nyonya besar sudah menunggu di meja makan untuk sarapan,”
“Suruh nenek sarapan duluan saja, aku dan istriku akan menyusul,” jawab Shaka dengan begitu tenang.
“Baik tuan muda,”
Kemudian Amira pun ingin kembali beranjak namun lagi-lagi Shaka menahannya.
“Mau ke mana?” Tanya Shaka dengan nada yang sangat manja.
“Kamu tidak dengar pelayan bilang apa? Nenek sudah menunggu kita,” jawab Amira sembari menepis pelan tangan Shaka lalu ia pun bangkit.
Akhirnya Shaka pun ikut bangkit, lalu ia menggendong tubuh Amira begitu saja, dan membawanya masuk ke kamar mandi.
“Astaga apa yang kau lakukan? Tolong turunkan aku,” Amira terus menggoyang-goyangkan kakinya agar Shaka segera menurunkannya.
Namun Shaka hanya tersenyum dan terus saja menggendong Amira, lalu meletakkan tubuh Amira dengan begitu pelan ke dalam bathub, Shaka pun mengaturkan air hangat untuk mengisi bathub itu, lalu menuangkan cairan sabun dengan aroma vanila di dalamnya.
“Kamu harusnya tidak perlu begini, aku bisa sendiri,” ucap Amira pelan yang merasa jadi tak enak hati pada suaminya.
“Kamu adalah ratu ku, jadi masih hal yang wajar jika aku melayanimu seperti ini, ini tak seberapa,” jawab Shaka dengan nada yang begitu lembut.
Setelah air busa mulai memenuhi bathub, Shaka pun perlahan ikut masuk ke dalamnya, kini mereka duduk berhadapan dan saling menatap satu sama lain.
“Terima kasih sayang,” ucap Shaka kemudian.
“Terima kasih untuk apa?”
“Terima kasih, semenjak ada kamu di hidupku, hidupku jadi berwarna, dulu aku hampir lupa bagaimana caranya tersenyum saking kaku dan datarnya hidup yang aku jalani,” jelas Shaka sembari tersenyum lirih.
“Kamu bayangkan saja, dari umur belasan tahun, aku sudah harus memimpin seluruh usaha milik keluarga ku, bahkan kedua orang tuaku telah membentuk ku jadi orang yang serius saat aku kecil, jika tidak ada nenek mungkin aku akan menjadi manusia yang takkan pernah tersenyum dari awal aku di lahirkan,” tambah Shaka lagi.
Mendengar hal itu, Amira pun mendekati Shaka lalu membelai lembut pipinya sembari tersenyum.
“Untuk seseorang yang punya masa lalu yang kurang menyenangkan seperti itu, kamu sudah termasuk orang yang luar biasa, dan aku sangat mengagumi mu akan hal itu,” ucap Amira dengan lembut.
“Kamu hanya perlu waktu untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dan butuh orang-orang yang mensuport, untuk itu sebagai istrimu, aku akan menjadi orang yang paling depan mensuportmu, kita akan sama-sama memperbaiki diri menjadi lebih baik, agar kelak anak kita takkan merasakan hal yang serupa,” tambah Amira lagi kemudian mengecup singkat bibir Shaka.
__ADS_1