Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 106 Pernikahan Yura dan Reza


__ADS_3

Shaka pun akhirnya menyusul Amira yang sudah menunggu di bawah, keadaannya kini sudah mulai fit karena rutin minum obat, nenek Emely belum terlalu pulih hingga ia memutuskan untuk tinggal di rumah saja.


“Ayo kita pergi,” ucap Shaka sembari membenarkan kancing jas nya.


Mobil di kemudikan oleh pak Ardi, saat ini Shaka sedang duduk di belakang berdampingan dengan Amira.


Ballroom Hotel…


Amira dan Shaka pun tiba di pintu masuk menuju ballroom, dengan sangat terpaksa, Amira harus menggandeng tangan Shaka di depan para tamu dan khalayak ramai demi menjaga nama baik Shaka, karena ia tidak ingin para tamu berkomentar miring tentang mereka.


“Sayang, berikan undangannya,” bisik Shaka kemudian.


“Baiklah,” Amira pun menyerahkan undangan tersebut kepada dua petugas yang bertugas memeriksa setiap undangan yang ditunjukkan para tamu, kedua petugas yang berjaga langsung membungkukkan badan mereka.


“Selamat datang tuan dan nona muda,” sapa mereka secara serentak.


“Sebaiknya tuan muda tidak perlu menunjukkan undangan kepada kami, karena kami semua tau tuan muda Shaka dan nona muda adalah sahabat baik tuan muda Reza,” jelas salah satu petugas, saat Amira menunjukkan undangannya.


“Tidak apa, lagi pula tamu yang lain juga memperlihatkan undangan mereka, supaya adil aku dan istriku juga demikian,” jawab Shaka.


“Baiklah tuan muda, silahkan masuk,”


“Terima kasih,” ucap Shaka dan akhirnya kembali melangkah memasuki gedung yang megah nan mewah itu.


Amira hanya terdiam menyaksikan betapa suaminya sangat di istimewakan oleh banyak orang, Amira yang menjadi wanita yang saat ini berada di sisinya dan menjadi istrinya itu pun merasa bangga, selama ini ia merasa, selagi dia berada di sisi Shaka Buwana, semua masalah takkan jadi masalah.


“Apa kali ini aku harus kembali bangga menjadi istri seorang Shaka Buwana?” Tanya Amira dalam hati sembari sesekali melirik wajah Shaka yang saat itu nampak begitu tenang.


Acara pernikahan Yura dan Reza berlangsung dengan begitu meriah, sepasang pengantin yang kini telah resmi menjadi suami istri itu, terlihat sangat serasi.


Reza terlihat sangat tampan dengan balutan setelan jas warna putih dan dasi kupu-kupunya, begitu pun dengan Yura yang tak kalah menawan dengan gaunnya yang juga warna putih, membuat mereka berdua sangat selaras.


“Ku ucapkan selamat untuk kalian berdua yang sudah resmi menjadi suami istri, semoga kalian langgeng dunia akhirat,” Shaka menyalami kedua sahabatnya itu sembari mendoakan mereka.


“Terima kasih banyak Ka, terima kasih juga sudah menyempatkan diri untuk hadir,” jawab Reza sembari tersenyum.

__ADS_1


“Selamat ya buat kalian, aku turut bahagia melihat kalian berdua di persatukan dalam ikatan pernikahan,” Amira juga menyalami kedua pengantin itu.


“Terima kasih Amira, terima kasih banyak,” jawab Reza yang menatap lekat ke arah Amira.


Tak ingin membuang waktu lama, Amira pun langsung memeluk Yura yang ada di samping Reza.


“Sekali lagi selamat ya Yura, akhirnya kebahagiaan datang menghampiri mu, aku senang sekali melihat mu sebagai pengantin yang sangat cantik malam ini,”


“Terima kasih Amira, kau pun terlihat sangat cantik malam ini,” Yura pun tersenyum sembari melepaskan pelukan mereka.


Tak lama Shaka membawa Amira untuk menemui paman dan bibi’ Reza yang baru pulang dari Paris, mereka adalah pengganti orang tua untuk Reza dan Salsa, Shaka pun sudah kenal dekat dengan mereka sedari kecil.


“Hai paman, bibi, senang akhirnya bisa bertemu dengan kalian lagi,” sapa Shaka.


“Hai Shaka, yah ampun kau terlihat sudah sangat dewasa sekarang, berbeda dengan kau yang dulu,” ucap bibi’ Reza.


“Nampaknya kau sangat sukses dalam mengembangkan bisnis keluarga mu hingga ke manca negara, paman sangat bangga padamu,” tambah paman Reza sembari menepuk pundak Shaka.


Shaka pun hanya bisa tersenyum sembari mengangguk-anggukan kepalanya.


“Ah iya benar bibi, aku hampir lupa mengenalkannya, perkenalkan ini Amira Zavia Wijaya, istriku sekaligus ibu dari calon anakku,” jawab Shaka terlihat begitu sumringah sembari mengusap-usap perut Amira yang masih rata.


“Halo bibi, halo paman, senang bisa bertemu kalian,” sapa Amira sembari tersenyum.


“Kamu cantik sekali Amira, sangat cocok sekali mendampingi Shaka, iya kan pa?” Tanya Bibi Reza seraya melirik ke arah suaminya.


“Benar ma, mereka terlihat sangat serasi, selamat juga ya untuk kehamilan mu semoga calon pewaris tahta bisa lahir dengan selamat dan sehat,” tambah paman Reza.


“Terima kasih paman,” jawab Amira dan Shaka secara bersamaan.


Sebagian dari tamu undangan itu juga adalah rekan bisnis Shaka, sehingga beberapa dari mereka menghampiri Amira dan Shaka, untuk sekedar menyapa atau berbincang ringan dengan Shaka, di saat-saat seperti itu pula lah Shaka mulai memanfaatkan situasi agar bisa menggandeng Amira bahkan sesekali merangkul mesra istrinya itu.


“Kalian juga tak kalah serasi, seperti pengantin yang ada di sana,” celetuk salah satu rekan bisnis Shaka.


“Hahaha tentu saja, kami saling mencintai, sudah pasti kami serasi, bukan begitu sayang? Kamu mencintaiku kan?” Tanya Shaka sembari merangkul mesra Amira, dan menunjukkan senyuman termanisnya.

__ADS_1


Saat itu pula dalam hati Amira merasa sangat kesal, ia merasa terintimidasi oleh Shaka yang sungguh pandai memanfaatkan keadaan, sejenak mata Amira pun melotot pada Shaka, namun Shaka kembali memberi kode sebagai tanda untuk mengingatkan Amira kalau masih ada rekan bisnisnya di situ.


“Ah tentu saja sayang, aku sangaaaattt mencintai suamiku,” jawab Amira sembari mengusap-usap dada bidang Shaka.


“Wah istri anda ini benar-benar istri idaman tuan muda, benar-benar tidak canggung menunjukkan kemesraan kalian di depan kami,” gumam rekan bisnis Shaka.


Shaka pun kembali tersenyum puas karena ia bisa memanfaatkan situasi dan Amira pun benar-benar mampu meredam emosinya, itulah salah satu sebab kenapa Shaka terkagum-kagum dengan Amira, meski pun dalam hatinya kini sudah menyumpah Shaka karena saking kesalnya, namun dia tetap bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, demi menjaga nama baiknya sendiri.


Kini tibalah mereka di penghujung acara, Shaka memutuskan untuk pulang lebih awal karena ia tak ingin Amira yang sedang hamil muda, kelelahan dan terlalu banyak berdiri kesana kemari.


Kediaman Keluarga Buwana…


Amira sedang berdiri di depan meja riasnya sembari mencopoti satu persatu perhiasan yang ia kenakan di pesta tadi, Shaka pun memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, menyadari Shaka yang tak berada di kamar, Amira pun memilih untuk membuka gaunnya saat itu juga, perlahan ia pun membuka resleting yang ada di bagian belakang gaunnya, namun saat berada di tengah-tengah, resleting itu pun tersangkut hingga membuatnya tak bisa di turunkan ke bawah lagi.


“Yah ampun, kenapa susah sekali,” keluh Amira seorang diri, sembari terus berusaha menarik-narik resletingnya.


Shaka pun keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri, kini ia sudah memakai piyama tidur, Amira yang begitu kesusahan melepas resleting di bagian belakang bajunya, membuat Shaka berinisiatif untuk membantunya.


Shaka pun langsung menghampiri Amira, ia berdiri di belakang Amira dan langsung mengambil alih resleting itu, Amira pun terkejut dan awalnya ia menolak untuk di bantu Shaka.


“Ah tidak perlu, biar aku saja,” cegah Amira yang langsung berbalik badan menghadap Shaka.


Shaka hanya diam dengan mata yang menatap Amira begitu lekat, dengan sikapnya yang begitu tenang ia kembali meraih lengan Amira dan membalikkan tubuh Amira hingga kembali membelakanginya.


“Biar ku bantu, ini resletingnya tersangkut, akan sangat susah jika kau membukanya seorang diri,” ucap Shaka dengan begitu lembut.


Amira pun lagi-lagi di buat terdiam, rasanya begitu canggung saat Shaka membantunya untuk membuka resleting di gaunnya, tubuh Amira sedikit gemetaran saking nervous nya, wajahnya pun mulai memerah, sembari sesekali ia *******-***** gaunnya untuk menyembunyikan rasa gugupnya.


“Kenapa harus secanggung ini?” Tanya Amira dalam hati.


Akhirnya Shaka pun berhasil meloloskan resleting gaun Amira, dengan perlahan ia melorotkan resletingnya hingga punggung mulus Amira semakin terlihat jelas, melihat itu, birahi kelelakian Shaka kembali di buat meronta, tanpa sadar ia pun menelan ludahnya sendiri saat melihat punggung istrinya yang tampak begitu putih dan mulus.


Shaka saat itu seperti singa yang kehausan, ia sungguh sangat haus dengan kehangatan dari istrinya yang sudah lama ia tahan.


Shaka dengan perlahan mulai membelai lembut punggung Amira, lalu ia mengecup lembut pundak bagian belakang Amira, hal itu membuat Amira merinding dan sedikit menggeliat, tak di pungkiri Amira di buat terbuai sejenak dengan sentuhan yang di berikan Shaka di punggungnya, matanya berhasil di buat terpejam saat Shaka dengan lembut mulai menepikan rambutnya yang terurai, lalu dengan begitu lembutnya, Shaka pun mulai menciumi tengkuk hingga punggung atas Amira, hingga membuatnya semakin merinding.

__ADS_1


“Aku sungguh sangat, sangat merindukanmu sayang,” bisik Shaka tepat di telinga Amira.


__ADS_2