Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 143 Kehamilan Yura


__ADS_3

“Maksudnya bagaimana ya nak Shaka?” Tanya Adi tampak heran.


“Perusahaan keluarga Wijaya sudah kembali di tangan papa,” jawab Shaka tersenyum tipis.


Nampaknya Adi masih belum mengerti maksud dari ucapan menantunya itu, ia pun mengerinyitkan dahinya dan bertanya.


“Apa itu benar nak?”


“Iya benar,”


Shaka pun mulai meceritakan kronologi mulai dari bagaimana ia merebut perusahaan itu dari Dewa Atmadja, lalu kemudian dia di pertemukan dengan Andre, bagaimana dia, Andre dan Kevin mulai memperbaiki kembali keuangan perusahaan itu yang hampir terjun bebas selama 4 tahun lamanya, sampai perusahaan itu kembali jaya dan mulai beroperasi kembali seperti sekarang ini.


Mendengar itu Adi dan Riana nampak sumringah, bagaimana tidak, kerajaan bisnis yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya di bangun telah di rebut oleh orang yang tak berperasaan, 23 tahun lamanya mereka kehilangan perusahaan itu dan hidup serba pas-pasan, kini perusahaan itu kembali berkat kemurahan hati menantunya itu.


“Terima kasih banyak nak Shaka, kamu memang menantu terbaik, kamu berhasil memberikan apa yang rasanya sudah sangat mustahil lagi untuk kami dapatkan, kau mengembalikan kerajaan bisnis keluarga Wijaya yang sudah di bangun ayahku dengan susah paya,” ujar Adi Wijaya dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


“Iya nak Shaka, kami bahkan sudah tidak mengharapkan perusahaan itu kembali karena rasanya sangat tidak mungkin, tapi nyatanya kau bisa mendapatkannya kembali dengan kekuasaan yang kau miliki,” ucap Riana menimpali, sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan air mata yang membasahi pipinya.


“Ma, pa, tidak perlu berterima kasih seperti ini, karena ini memang sudah kewajiban saya sebagai suami, saya sangat tau kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan istriku juga, oleh sebab itu saya lakukan ini semua untuk kalian,” cetus Shaka dengan senyuman tipisnya.


“Begitu papa sembuh, papa langsung bisa masuk dan menjabat sebagai CEO di perusahaan papa,” lanjutnya kemudian.


“Papa akan mengatasnamakan perusahaan itu atas nama Amira, Amira adalah satu-satunya putri kami, begitu papa sudah tidak bisa lagi melanjutkan jabatan sebagai CEO, Amira lah yang akan menggantikan papa menjadi CEO di perusahaan kami, karena Amira adalah pewaris tahta keluarga kami,” jelas Adi Wijaya menatap Shaka dan Amira secara bergantian.


“Jadi apa boleh saya menyerahkan tugas pengalihan nama perusahaan Wijaya itu pada pak Andre?” Tanya Adi dengan ramah, yang beralih menatap Andre.


“Bisa tuan, serahkan saja semua tugas itu pada saya, saya akan segera mengurusnya kurang dari 24 jam, saya jamin semuanya akan segera terselesaikan,” jawab Andre tak kalah ramah.


“Terima kasih banyak pak Andre,”


“Sama-sama tuan,” balas Andre dengan membungkukkan badan.


Semua di dalam ruangan itu nampak berbinar-binar, mereka sangat bahagia dengan kejutan yang di hadiahkan Shaka untuk mereka saat ini, namun lain halnya dengan Amira, terpaksa dia harus mengubur dalam-dalam cita-citanya menjadi seorang Dokter, karena ia baru saja mendengar keputusan papanya yang akan mempersiapkan dia menjadi CEO di kerajaan bisnis milik keluarga mereka, dia sudah tidak berani lagi mengutarakan impiannya itu, lebih baik dia menuruti apa yang sudah menjadi keputusan ayahnya, itu semua demi kelangsungan perusahaan keluarganya, dia tidak ingin perusahaan mereka kembali terjun bebas seperti dulu.


Perusahaan Wijaya Group dulu sangat terkenal dan berjaya di masanya, perusahaan itu hampir seimbang sama berjaya nya dengan perusahaan Buwana Group, namun karena suatu insiden, perusahaan itu di rebut Dewa Atmadja, orang kepercayaan Adi Wijaya dulu, semenjak perusahaan itu di pimpin Dewa Atmadja, perusahaan itu telah di ganti namanya menjadi Skyline Corporation, nama perusahaan itu meredup saat di ganti namanya oleh Dewa dan semenjak Dewa memimpin perusahaan itu, kejayaan perusahaan itu merosot jauh dari perusahaan lainnya.


Hari demi hari berlalu dengan begitu cepat, hari-hari di lewati Amira dan Shaka dengan bahagia tanpa ada lagi masalah yang mengganggu, dia dan Shaka juga sudah sepakat untuk jujur pada Queen tentang siapa ayah kandungnya yang sebenarnya, hingga Genta dan Safa sudah bebas datang dan pergi ke rumah keluarga Buwana untuk sekedar menjenguk Queen, tak lupa pula Dewa dan Anisa sudah berubah menjadi sosok yang lebih baik lagi, atas kemurahan hati Amira dan juga Shaka, kini Anisa sudah bebas dari penjara.


Adi Wijaya sudah kembali menjadi CEO di perusahaan mereka, Wijaya Group kini sudah semakin berjaya di bawah pimpinan Adi, bahkan saat ini Adi sedang mengadakan proyek pembangunan sebuah hotel bintang 5 di kota itu, proyek itu kini sedang berjalan dan sudah hampir rampung, Wijaya Group dan Buwana Group memiliki kedudukan yang hampir berimbang di kota itu, bahkan Buwana Group berada satu tingkat saja di atasnya.


Kini Amira sudah mendaftar kuliah di salah satu kampus bergengsi di kota itu, anak-anak juga sudah bisa di titipkan pada 2 orang pengasuh yang di tugaskan menjaga kedua anak Amira, kini Amira di sibukkan dengan aktivitas barunya yaitu menjadi seorang mahasiswa.


Meski bukan mengambil fakultas kedokteran, setidaknya Amira merasa bersyukur sekaligus bangga, karena bisa kembali melanjutkan study yang sempat tertundah.


Waktu berjalan dengan begitu cepatnya, tak terasa 5 tahun sudah terlewati tanpa ada masalah yang berarti, kini Amira sudah 1 tahun berhasil menyelesaikan studinya, dan saat ini dia sedang di persiapkan untuk mulai memimpin perusahaan milik keluarganya.


Kini Amira sudah menjabat sebagai CEO Wijaya Group, tentu saja dia sudah banyak belajar dari suaminya, ditambah lagi dengan otak Amira yang memang sudah cerdas dari dulu, jadi tidak sulit untuknya belajar menjadi CEO sebuah perusahaan.


Sisi Lain Rumah Reza…


Di pagi hari yang cerah, Reza yang harusnya pergi ke kantor sempat tertundah karena di buat kelimpungan mengurus Yura yang sejak tadi terus saja muntah-muntah.

__ADS_1


Entah kenapa hari itu badan Yura terasa begitu lemas, dia bahkan tidak punya semangat ke butik karena kondisi tubuhnya yang tidak fit, bahkan Reza juga tidak ke kantor karena harus menjaga Yura yang sedang sakit.


“Lebih baik kamu ke kantor saja, aku bisa di sini bersama pelayan,” ujar Yura yang kini duduk bersandar di headboard dengan kaki berselonjor.


“Tidak, aku akan di sini menemani mu, aku tidak bisa tenang jika hanya meninggalkan mu pada pelayan, bisa-bisa aku tidak akan fokus bekerja,”


Tok… Tok.. Tok


“Masuk,”


“Maaf tuan, nona, di ruang tamu ada tuan Shaka dan nona Amira membawa nona Queen yang katanya ingin bertemu tuan dan nona,” ucap sang pelayan setelah masuk ke kamar majikannya.


“Suruh masuk saja ke sini, katakan kalau nona Yura tidak enak badan,”


“Baik tuan,” jawab pelayan itu, lalu kemudian berlalu meninggalkan kamar Reza dan Yura menuju ruang tamu, tempat Shaka dan Amira menunggu.


Mendengar penyampaian sang pelayang tentang keadaan Yura, Amira pun tampak panik dan langsung saja melangkah dengan menaiki anak tangga masuk ke kamar Reza dan Yura.


Sesampainya di kamar Yura dan Reza, Amira mendapati Yura yang kembali muntah-muntah di wastafel toilet kamar mereka.


“Shaka, Amira, kalian sudah di sini?” Tanya Reza dan langsung mempersilahkan Shaka dan juga Amira duduk di sofa kamar mereka.


“Iya, oh ya ampun Yura, wajahmu pucat sekali,” ujar Amira menghampiri Yura sembari mengusap-ngusap lengannya.


“Iya, tubuh ku lemas sekali, sejak tadi aku terus saja muntah,” jawab Yura kemudian.


Mendengar itu, sebuah senyuman terbit di wajah Amira, Reza, Yura dan juga Shaka tampak mengerinyitkan dahinya melihat Amira yang sedang tersenyum mendengar penuturan Yura.


“Dasar tidak peka!” Bisik Amira sembari mencubit perut suaminya.


“Awww,” Shaka menjerit karena cubitan Amira lumayan sakit.


“Emmm… Yura, apa kamu sudah melakukan pemeriksaan?” Tanya Amira yang kini beralih menatap Yura dan duduk di tepi ranjang tepat di samping Yura.


“Pemeriksaan? Pemeriksaan apa?” Tanya Yura tampak bingung.


“Begini, sebaiknya kak Reza panggil dokter kandungan saja untuk memastikan keadaan Yura, karena setahu saya, Yura ini bukan hanya sedang sakit, tapi ada faktor lain juga,”


“Faktor lain apa?” Tanya Reza yang nampak tidak mengerti.


“Sudah, turuti saja perkataan ku, dan semoga dugaan ku ini benar,” jawab Amira dengan terus menerbitkan senyuman di wajah cantiknya dan menatap mereka dengan tatapan tak biasa.


Akhirnya meski ragu-ragu, Reza pun menuruti saran Amira dan menghubungi dokter kandungan, tak butuh waktu lama, dokter kandungan pun datang membawa beberapa vitamin dan juga obat untuk Yura.


Shaka dan Amira serta Queen menunggu di luar, meninggalkan Reza yang menemani istrinya di dalam.


Pertama dokter menyuruh Yura untuk melakukan pemeriksaan urine, bukan untuk pemeriksaan narkoba, tapi untuk melakukan pemeriksaan kehamilan.


Yura pun membawa tempat penampungan urine yang sudah terisi itu pada dokter, dokter pun menggunakan sarung tangan di kedua tangannya dan langsung membuka bungkusan test pack lalu mencelupkan ujung test pack ke dalam tempat penampungan urine yang sudah terisi cairan berwarna kuning kecoklatan itu.


Yura dan Reza pun menunggu dengan harap-harap cemas, setelah tak lama menunggu kini dua garis merah terlihat sangat jelas bahkan tidak samar sama sekali pada benda itu.

__ADS_1


“Saya rasa, tuan Reza dan nona Yura tau arti dari garis merah yang terpampang nyata di test pack ini,” ucap sang dokter perempuan itu dengan tersenyum.


Yura dan Reza pun saling berpandangan, tak lama sebuah senyuman mulai terbit di bibir mereka masing-masing, mereka pun berpelukan dan sama-sama meneteskan air mata haru.


Dokter yang menyaksikan itu juga tersenyum bahagia melihat dua pasangan yang dia tau sudah 9 tahun lamanya menantikan kehadiran sang buah hati.


Setelah meresepkan obat dan vitamin untuk Yura, dokter itu pun pamit undur diri keluar dari kamar mereka.


Setelah keluar, Amira dan Shaka yang menunggu di depan pintu sontak menghampiri sang dokter dan bertanya.


“Bagaimana dok hasilnya?” Tanya Amira tampak antusias.


“Nona Yura ternyata sedang berbadan dua,” jawab sang dokter dengan tersenyum.


“Benarkah? Oh ya ampun Yura akhirnya,” Amira berseru saking bahagianya.


Setelah dokter itu pamit, Amira dan Shaka pun mengayunkan kaki mereka memasuki kamar Yura dan juga Reza.


Tanpa aba-aba, Amira dengan perasaan bahagianya sontak memeluk tubuh Yura dengan erat.


“Selamat ya Ra, selamat akhirnya kalian akan menjadi ibu dan ayah,” ujar Amira dengan wajah yang berbinar-binar.


“Terima kasih Mir,” jawab Yura membalas pelukan Amira.


“Selamat ya bung,” kini giliran Shaka yang memberi selamat pada Reza dan memeluk singkat tubuh sahabatnya itu.


Semua yang ada di kamar itu tampak berseri-seri mendengar kabar kehamilan Yura, namun berbeda dengan Queen, sejak tadi bocah 10 tahun itu tampak diam seribu bahasa dengan wajah sendunya.


Menyadairi anaknya yang terus saja berdiam diri membuat Amira dan Shaka tampak mengerutkan dahi masing-masing, Shaka pun mengangkat pundaknya tanda tak tau.


“Queen sayang, kenapa diam saja mendengar mama Yura hamil?” Tanya Amira kemudian.


Yura dan juga Reza beralih menatap anak angkat mereka itu.


“Bagaimana Queen bisa senang kalau papa dan mama menciptakan saingan baru untuk Queen, entah lah kalau nanti kalian sudah punya anak, kalian pasti akan melupakan ku,” ujar Queen mengungkapkan isi hatinya yang terasa begitu resah sejak tadi.


Mendengar itu Yura dan Reza pun saling melempar pandang sembari menahan senyum.


“Jadi itu yang membuat Queen nampak gusar?” Tanya Reza yang kini berdiri mensejajarkan tubuhnya di depan anak angkatnya itu.


Queen hanya diam tak bergeming mendengar pertanyaan Reza itu.


“Ayo nak,” Reza menarik pelan tangan Queen membawanya duduk di samping Yura.


“Dengar ya nak, meski pun mama dan papa punya anak 10 sekali pun, mama dan papa tidak akan pernah melupakan Queen, kamu tetaplah anak pertama kami,” ucap Yura mengusap rambut panjang bocah 10 tahun itu.


“Benarkah?” Tanya Queen dengan raut wajah berbinar.


“Iya,” akhirnya tanpa aba-aba, Queen sontak memeluk tubuh mama angkatnya itu dengan erat lalu mengusap perut Yura yang masih rata.


“Adik kecil, keluarlah dengan sehat dan selamat, jaga mama dan jaga dirimu, jangan biarkan mama kesakitan ya sayang, kakak di sini akan menunggu kehadiran kamu, jadi sekarang kakak sudah punya dua adik, kamu dan Samudra, senangnya,” seru Queen beralih menatap Yura dan tersenyum sumringah.

__ADS_1


Mereka pun sama-sama tertawa bahagia melihat tingkah Queen yang begitu lucu di mata mereka.


__ADS_2