
Hari sudah mulai gelap, api unggun pun sudah di nyalakan demi memberi kehangatan. Mereka semua duduk mengelilingi api unggun sambil sesekali berbincang tentang masa lalu mereka, kecuali Amira yang hanya menjadi pendengar yang baik.
"Oh iya bagaimana agar merasa lebih hangat kita makan indomie?" Yura kembali mengeluarkan idenya.
"Apa kau ada membawa indomie?" Tanya Shaka.
"Aku tidak membawanya, ku pikir di sini pasti sudah di sediakan, jika tidak ada, aku akan membelinya di toserba yang ada di dekat Vila ini." Jelas Yura ingin bangkit dari duduknya.
"Tunggu ya aku akan memebelinya dan langsung membuatkannya untuk kalian." Tambah Yura lagi.
"Yura, biar aku saja kebetulan aku juga mau ke toilet biar sekalian aku ambilkan dan buatkan untuk kalian. Lagi pula kau masih sakit jangan terlalu lelah dulu." Cegah Amira tiba-tiba dan langsung bangkit dari duduknya.
"Aku temani ya?" Reza menawarkan.
"Tidak perlu kak, kalian mengobrol saja di sini." Amira tersenyum singkat dan lalu beranjak untuk kembali masuk ke dalam Vila.
Selang bebarapa menit setelah Amira beranjak, Yura kembali ingin bangkit.
"Aku lupa memberitahu Amira di mana tempat penyimpanan indomie. Dia pasti kebingungan mencarinya." Ucap Yura.
"Tidak perlu Yura, kau duduk saja di sini, biar aku saja yang mengambilnya kau belum sembuh total jadi kau jangan terlalu banyak bekerja dulu." Shaka sontak menahan tangan Yura.
"Benarkah? Kau benar-benar peduli padaku. Terimakasih ya Ka." Yura memegang lengan Shaka dan tersenyum haru.
Shaka hanya tersenyum, sementara Reza yang mendengar itu hanya bisa mendengus sembari tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.
"Indomie nya ada di lemari kaca yang ada di dekat meja makan, letaknya paling atas." Jelas Yura lagi.
Shaka pun beranjak, meninggalkan Yura dan Reza yang tetap terduduk berdua di hadapan api unggun.
Entah kenapa, walau sudah tidak menaru harapan apa pun lagi pada Reza, Yura masih tetap merasa canggung saat berduaan dengan Reza seperti ini. Namun agar tidak terlihat gugup, Yura mengajak Reza berbincang lagi.
"Bagaimana perkembangan hubungan kamu dengan Amira?" Tanya Yura kemudian.
"Hubungan apa?"
"Dasar, masih saja berlagak bodoh, tentu saja hubungan percintaan kamu dengan Amira. Hubungan apa lagi." Ucap Yura.
"Oh hahaha itu rupanya, sepertinya kamu salah mengerti, aku dan Amira hanya berteman tidak lebih dari itu." Jawab Reza sembari tersenyum lirih.
"Kenapa? Padahal kalian terlihat sangat cocok. Dan sepertinya kamu menyukainya."
"Kenapa kau jadi sok tau ha?"
"Itu terlihat jelas dari cara kamu melihatnya, mulut bisa berbobong tapi mata tidak bisa berbohong." Jawab Yura.
Mendengar itu membuat Reza hanya tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kau begitu pintar menilai perasaanku kepada Amira, namun kenapa kau tidak bisa melihatnya dari Shaka? Apa kau sungguh tidak melihat matanya yang menatap lekat pada Amira. Celetuk Reza dalam hati.
Setelah keluar dari toilet Amira pun berjalan menuju kulkas. Amira mengerinyitkan dahinya saat melihat tidak ada indomie di dalam kulkas.
"Sepertinya aku akan ke toserba untuk membelinya." Celetuk Amira seorang diri sembari menutup kembali pintu kulkas.
"Apa ada masalah?" Tanya Shaka tiba-tiba.
Seketika Amira terperanjat dan menjerit singkat saat mendapati Shaka yang sudah berdiri di belakangnya.
"Aaagh." Teriak Amira saat terkejut.
Nafas Amira terengah-engah karena saking terkejutnya. Ia pun memegang dadanya karena jantungnya berdetak cepat.
"Shaka Buwana untuk apa kau ke sini?" Tanya Amira pelan.
"Aku akan mengambil indomie." Ucap Shaka dengan datar.
"Oh baiklah, aku akan membeli indomie di toserba." Ucap Amira yang sedikit gugup dan langsung melangkah melewati Shaka begitu saja.
__ADS_1
"Akhiri saja semua ini Amira." Ucap Shaka yang membuat langkah Amira terhenti.
"Apa yang harus di akhiri?" Amira berbalik badan menatap tajam ke arah Shaka.
"Semua sandiwara ini!!" Ucap Shaka dengan lantang.
"Kenapa kau begitu keras kepala."
"Apa? Aku keras kepala?" Tanya Amira membulatkan matanya.
"Iya, kau keras kepala dan juga egois. Hanya memikirkan perasaan mu saja tanpa memikirkan perasaanku sedikitpun. Kamu tidak memikirkan aku yang sudah berusaha untun menjadi suami yang baik untukmu." Ketus Shaka.
"Bukan kah kau bahagia dengan liburan ini? Wajahmu terlihat begitu ceria saat bersama Yura. Kau sama sekali tidak terbebani, apa kau masih mencintai mantan kekasihmu itu?"
"Apa maksud kamu? Aku sudah jujur jika aku mencintaimu dan sudah sepenuhnya melupakan Yura. Aku tidak menyembunyikan apa pun." Shaka memberatkan suaranya sembari menatap lekat ke arah Amira.
"Mencintaiku? Cinta seperti apa yang kau maksud ha? Sangat jelas terlihat kalau kau masih mencintai Yura, terlihat jelas kau begitu peduli padanya saat melihat dia terluka." Ucap Amira dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kau tidak bisa selamanya menyembunyikan perasaanmu padanya." Tambah Amira lagi sembari menggelengkan kepalanya.
"Kau yang menyetujui semua ini kan? Lantas kenapa kau komplen sekarang? Kenapa? Apa kau terbakar cemburu melihat aku peduli pada wanita lain? Dan akhirnya kau sadar dan tidak kuat melihat semua ini? Jika sudah tidak kuat akhiri lah semua ini Amira!!" Kini Shaka meninggikan suaranya.
Amira terdiam sejenak, Shaka terlihat begitu menggebu saat menumpahkan kekesalannya pada Amira.
Yura dan Reza yang mendengar itu tiba-tiba masuk ke dalam Vila dan menyusul mereka.
"Ka, ada apa?" Tanya Yura.
Amira dan Shaka yang tengah berdiri berhadapan pun langsung tersentak.
"Apa ada masalah?" Tanya Yura yang terlihat tidak mengerti.
"Ah tidak ada masalah Yura, indomie nya tidak ada jadi biar aku beli di toserba." Amira tersenyum singkat dan hendak pergi.
"Tunggu Amira!!" Cegah Shaka membuat langkah Amira terhenti dan sontak membalikkan badannya.
"Aku ingin menyampaikan hal penting pada kalian semua terutama pada kau Yura." Ucap Shaka dengan tatapan lurus ke depan.
"Apa yang akan kau sampaikan Ka?" Tanya Yura mendekat ke arah Shaka dan memegang lengannya. Yura berfikir Shaka akan melamarnya di depan Reza dan Amira.
Amira pun ikut penasaran dengan apa yang akan di sampaikan Shaka. Amira harap-harap cemas, dadanya terasa sesak dan ngilu. Dia mulai berfikir yang tidak-tidak, dia berfikir Shaka akan menyatakan cinta pada Yura di depannya.
"Shaka kenapa hanya diam saja? Apa yang akan kau sampaikan? Apa kau akan menyampaikan kalau kau masih mencintaiku dan melamarku di depan mereka?" Ucap Yura meraih tangan Shaka dan menggenggamnya.
Shaka hanya diam mematung mendengar semua perkataan Yura.
"Kau diam saja? Itu artinya iya kan? Kau akan melamarku?" Ucap Yura semakin sumringah dan sontak memeluk Shaka di depan Reza dan Amira.
Hal itu membuat Amira sontak membulatkan matanya, dia terkejut melihat apa yang dia saksikan sekarang, hingga tak terasa air matanya jatuh menetes membasahi pipinya.
"Ka, aku sangat mencintaimu. Katakan saja semuanya, tidak usah menutupinya lagi, aku tau kau masih mencintaiku semua itu terbukti dari caramu mempedulikan ku saat aku terluka tadi." Ucap Yura melepas pelukannya dan menatap lekat ke arah Shaka.
"Sudahi semuanya Ka, jangan mengujiku lagi, aku tau kau berlagak sok cuek padaku karena kau ingin menghukumku kan? Padahal di dalam hatimu kau masih sangat mencintaiku." Ucap Yura dan tiba-tiba mencium singkat bibir Shaka dan kembali memeluknya.
Melihat hal itu Amira semakin terkejut, ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan langsung berlari begitu saja meninggalkan mereka, sementara Reza yang melihat itu sontak mengepalkan tangannya, dan menatap tajam ke arah Shaka. Ia pun ikut berlari menyusul Amira.
"Yura stop!!" Shaka tersentak dan hendak melepaskan tautan tubuh mereka.
"Tidak Ka, jangan lepaskan biarkan aku memeluk tubuh mu lebih lama." Ucap Yura yang malah mengeratkan pelukannya.
"Ka, aku berani bersumpah sudah membuka sepenuhnya hatiku untukmu, jadi tolong jangan menghukum ku lagi dengan sok cuek padaku."
"Yura sepertinya.." Shaka ingin kembali melepaskan tautan tubuh mereka.
"Tolong Ka, hentikan semua ini. Kita mulai lagi dari awal, aku berjanji tidak akan mengecewakanmu Ka, aku bersumpah tidak akan meninggalkanmu lagi." Tambah Yura lagi yang masih tak membiarkan Shaka melepaskan pelukannya.
Di sisi lain, Amira berhenti dan menoleh ke arah Vila, jantung Amira kembali bertekak cepat, pikiran buruk secara tiba-tiba menyerang otak Amira hingga terus membayangi yang tidak-tidak pada Yura dan Shaka.
__ADS_1
Apa yang mereka lakukan ya? Tanya Amira dalam hati sembari terus memandang ke arah Vila.
"Amira!" Panggi Reza yang tiba-tiba muncul di hadapan Amira.
"Kak Reza!"
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak kak." Ucap Amira hendak melangkah lagi untuk pergi, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Shaka.
"Yura tolong lepaskan!!" Tegas Shaka.
Pelukan Yura sontak terlepas, berbalik sekarang Yura yang jadi tercengang memandangi Shaka yang sedikit kasar saat melepaskan pelukannya.
"Ka, ada apa denganmu?" Tanya Yura lirih.
Shaka sejenak masih diam dan mengusap kasar wajahnya sendiri.
"Ka, aku mohon jangan begini." Yura kembali memohon dan hendak memeluk Shaka lagi.
"Stop Yura stop!" Shaka dengan satu tangan menahan tubuh Yura agar tidak kembali mendekat kepadanya.
"Dengar! Aku mohon jangan pernah mengungkit masa lalu lagi, aku sudah melupakan mu dan sudah tidak mencintaimu lagi Yura! Semuanya sudah berlalu." Tegas Shaka.
"Ka, tolong jangan katakan itu." Yura mulai menangis sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maaf Yura, aku sudah tidak tahan lagi, rasanya ini saatnya aku harus jujur padamu. Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padamu, dan saat ini hubungan kita tidak lebih dari sebatas sahabat. Kita tidak bisa lagi menjalin hubungan seperti dulu.
Air mata Yura sontak menetes dan tubuhnya langsung gemetaran.
"Jujur lah padaku Ka, apa kau sudah mencintai wanita lain? Siapa orangnya? Katakan!" Yura mulai meninggikan suaranya, kedua tangannya mencengkeram kuat jaket Shaka sembari mengguncang-guncangkan tubuhnya.
"Benar Yura, sudah ada wanita lain yang ku cintai saat ini." Jawab Shaka tegas.
Mendengar pernyataan tegas Shaka, membuat mata Amira membulat, ia sontak melangkah pelan ke arah Vila.
Sementara Yura, tangisannya semakin pecah.
"Aku sudah menikah dengan wanita itu." Tegas Shaka kemudian.
"Tidak, tidak mungkin secepat itu! Tidak mungkin!!" Yura semakin berteriak histeris sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
"Katakan kalau kau hanya bercanda, tidak mungkin kau sudah menikah! Tidak mungkin juga kau bisa begitu cepat melupakan aku!" Yura kembali mengguncang-guncangkan lengan Shaka.
"Sama sekali tidak cepat Yura, semenjak kau pergi meninggalkan aku dan menyusul Reza, semenjak itu juga aku ingin sekali melupakanmu. Tapi semua itu tidak mudah, butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk aku bisa melupakanmu, dan selama bertahun-tahun itu juga, aku hidup dengan membawa sakit hatiku, dan selama itu juga aku masih berharap kau menyadarinya dan kembali padaku, namun ternyata kau tidak cukup peka untuk menyadarinya, hingga akhirnya nenekku menjodohkan aku dengan wanita itu. Awalnya aku tidak mencintainya dan selalu mengabaikannya, aku sangat membencinya. Namun entah kenapa, aku sudah mencintainya begitu dalam sekarang. Aku tidak bisa mengkhianatinya Yura, maafkan aku, aku tidak bisa." Suara Shaka melunak lalu ia menundukkan kepalanya.
Yura terdiam dan terus meneteskan air matanya, dia menyesal sekaligus kecewa dengan Shaka sekarang. Dengan tatapan kosong, perlahan ia mulai melepaskan cengkeramannya di jaket Shaka.
"Lalu, kenapa kau meninggalkannya dan datang berlibur bersamaku di sini? Kenapa kau memilih meninggalkannya demi aku?" Tanya Yura dengan suara mulai kembali pelan.
"Aku sama sekali tidak meninggalkannya Yura." Shaka menjeda kalimatnya.
"Lalu?" Yura kembali menatap tajam ke arah Shaka.
"Dia ikut bersama kita, dia ada di sini, di tengah-tengah kita." Tegas Shaka.
Mata Yura membulat dengan begitu sempurna, Yura bagai di sambar petir, dadanya begitu sesak. Begitu juga dengan Amira, tubuhnya langsung gemetaran hingga tanpa sadar dia menjatuhkan kantong belanja berisi indomie dan minuman di botol kaca yang sejak tadi di pegangnya.
Praanngg..
Bunyi minuman di botol kaca pecah, Shaka dan Yura pun terkejut dan sontak melirik ke arah Amira yang ternyata sejak tadi sudah berdiri agak jauh dari mereka.
"Amira." Ucap Shaka pelan.
"Jadi.. jadi Amira." Yura terbata-bata menatap lirih ke arah Shaka.
Shaka pun mengangguk.
__ADS_1
"Yura, sepertinya aku tidak bisa lagi melanjutkan liburan ini, maaf Yura." Ucap Shaka, ia melirik ke arah Amira dan Yura secara bergantian dan kemudian melangkah pergi begitu saja.
Mendengar pernyataan Shaka, Amira meneteskan air matanya dan langsung berlari menyusul Shaka. Amira tidak peduli lagi dengan semuanya, yang ingin ia lakukan sekarang adalah menyusul Shaka dan memeluk suaminya yang ternyata begitu setia dan mencintainya. Perasaan bimbang kini seketika lenyap, berganti jadi perasaan bersalah dan terharu saat mendengar Shaka mengutarakan perasaannya pada Yura. Kini Sudah tidak ada keraguan lagi di hati Amira, ia semakin yakin dengan cinta Shaka padanya, Amira memutuskan untuk percaya sepenuhnya pada Shaka dan tidak akan meminta apa pun lagi.