Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 109 Amira Merindukan Shaka


__ADS_3

Amira tak bisa tidur karena begitu gelisah, sudah beberapa kali ia mencoba memejamkan mata, berbalik ke kanan dan ke kiri, namun hal itu tak bisa mengantarkannya ke alam mimpi, bukan tanpa alasan, ia tidak bisa tidur karena memikirkan Shaka yang tidur di luar tepatnya di sofa, sepanjang malam ia terus dihantui rasa tak tega, namun disaat yang bersamaan ia tak mampu memanggil Shaka untuk masuk ke kamar karena perasaan gengsi yang tak kalah besar.


“Tidak, tidak kalau aku memanggilnya masuk, itu sama saja dengan aku mengaku kalah padanya, bisa bisa dia semakin besar kepala,” ucap Amira dalam hati sembari menatap ke arah pintu kamar.


Beberapa saat di terpa perasaan gelisah, akhirnya perlahan tapi pasti mata Amira mulai sayu, beberapa saat kemudian ia pun berhasil masuk ke alam mimpi, sama halnya dengan Amira, Shaka pun di buat begitu gelisah karena tidur di sofa, untuk masuk ke kamar tamu atau kamar lama Amira membuat ia malas.


Waktu sudah sangat larut, namun Shaka belum juga bisa tidur, hingga akhirnya ia kembali bangkit, lalu ia berjalan mengendap-endap menuju pintu kamarnya, ia berjalan sangat pelan lalu membuka pintu kamarnya dan mengintip ke arah ranjangnya, ia melihat Amira sedang tidur nyenyak di atas ranjang, melihat itu perasaan kecewa pun menyelusup masuk ke dalam hatinya, ternyata ia bisa tidur nyenyak di saat suaminya sedang tidur di sofa.


“Sebegitu terganggu kah kamu saat aku berada di sisimu? Kamu bisa langsung tertidur lelap saat aku tidak ada,” gumam Shaka lirih dalam hati.


Akhirnya Shaka menutup pintu kamarnya dan kembali ke sofa dan membaringkan dirinya lagi dengan membawa perasaan galaunya.


Keesokan harinya…


Sinar mentari pagi perlahan mulai menyapa dan masuk ke sela-sela jendela dan menyengat hangat kulit wajah Amira, Amira pun perlahan membuka matanya dan hal pertama yang ia tangkap adalah jam dinding.


Saat waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi, Amira pun mulai bangun dari tidurnya dan mengucek-ngucek matanya ia pun menggeliat untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


Setelah lumayan lama termenung layaknya orang yang baru bangun, Amira pun perlahan melangkah ke arah pintu, ia membuka pintu dengan pelan dan diam-diam mengintip Shaka yang sedang tertidur nyenyak di sofa.


Meski pun berkali-kali ia mengatakan tidak peduli dengan Shaka, namun hatinya tidak bisa berbohong, dia tetap saja ingin tau bagaimana keadaan Shaka.


“Kenapa jam begini dia belum bangun? Apa mungkin dia tidak tidur dengan nyenyak semalaman?” Tanya Amira dalam hati.


“Ah tidak tidak, kenapa juga aku harus peduli, terserah dia mau bangun atau tidak,” gumam Amira lagi.


Tak ingin terus memikirkan Shaka, Amira pun beralih menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak lama Amira keluar dari kamar mandi sembari mengusap-usap rambut panjangnya yang basah, namun tiba-tiba pintu kamar di buka, Shaka terlihat memasuki kamar mereka, awalnya Amira terkejut ketika melihat Shaka dari pantulan cermin, namun ia tetap saja bersikap biasa saja.


Shaka pun berjalan masuk ke kamar mandi melewati Amira begitu saja, sudah tidak ada lagi ucapan selamat pagi dari Shaka untuk Amira seperti biasanya, melihat Shaka sudah memasuki kamar mandi, Amira pun melirik ke arah pintu kamar mandi dengan terheran-heran.


“Ada apa dengannya? Kenapa dia seperti mendiamiku?” Tanya Amira tampak heran.


Amira pun akhirnya masuk ke walk in closet untuk ganti baju, tak lupa pula Amira menyiapkan baju kerja untuk Shaka dan meletakkannya di atas ranjang seperti biasanya, lalu setelah itu Amira beranjak turun ke ruang makan, untuk membantu para pelayan menyiapkan sarapan pagi.

__ADS_1


“Selamat pagi semuanya,” sapa Amira.


“Selamat pagi nona muda,” jawab para pelayan itu dengan serentak.


Tanpa basa basi pun Amira langsung membantu mereka menghidangkan makanan di atas meja makan.


Makanan telah terhidang dengan rapi, tak lama nenek Emely pun keluar dari kamar dan ikut bergabung bersama Amira yang sudah duduk lebih dulu.


“Di mana suamimu?” Tanya Emely yang baru saja terduduk.


Namun belum sempat Amira menjawab, suara Shaka sudah menggema lebih dulu.


“Aku di sini nek,” jawab Shaka sembari menuruni anak tangga.


Sarapan pun di mulai dengan damai, Shaka lebih banyak diam dan memilih fokus menyantap makanan.


“Bagaimana pesta pernikahan Reza tadi malam? Apakah seru?” Tanya Emely di sela-sela sarapan mereka.


“Cukup meriah nek, banyak rekan bisnisku juga yang datang di sana,” jawab Shaka sembari terus memotong sandwich dengan pisau tanpa melirik ke arah nenek Emely.


Amira pun diam-diam melirik ke arah Shaka lagi-lagi dibuat bertanya-tanya dengan perubahan sikap Shaka, bahkan pagi-pagi begini ia sama sekali tak merecoki Amira seperti biasanya.


“Iya nek aku menikmatinya,” jawab Amira kemudian.


Shaka hanya diam dan menyantap makanannya sampai kandas, tak lama Shaka pun bangkit dari duduknya.


“Baiklah semuanya, aku sudah selesai dan aku harus ke kantor sekarang,” ucap Shaka tersenyum tipis.


“Nek aku pamit dulu ya,” Shaka mengecup ujung kepala Emely dengan singkat.


“Hati-hati Ka,” jawab Emely sembari tersenyum.


Shaka pun mengangguk.


“Aku pergi dulu ya,” ucap Shaka pada Amira lalu mengecup ujung kepala Amira dengan singkat dan langsung beranjak begitu saja.

__ADS_1


Amira pun beberapa saat kembali terdiam sembari menatap kepergian Shaka.


“Ada apa dengannya?” Tanya Amira lirih.


Hari bergulir begitu cepat, waktu pagi beranjak jadi siang, waktu siang beranjak jadi sore, hingga akhirnya tanpa terasa waktu pun sudah beranjak malam.


Begitu pun dengan Shaka yang bersikap masih sama, dalam beberapa waktu itu juga Shaka terus tidur di ruang TV, Amira di buat kebingungan sendiri dengan sikap Shaka yang sangat siginifikan.


Kali ini Amira sudah berada di fase yang benar-benar tidak tahan dengan keadaan mereka yang seolah menjauh dan berbicara seadanya.


Pagi ini Amira sudah bangun pagi-pagi sekali, pukul 05.30 ia sudah mandi dan berdiri melamun di balkon kamarnya, udara sejuk mulai merasuki pori-pori kulitnya, ditambah embun pagi yang membasahi setiap tanaman yang ada di sekitarnya, beserta kabut yang menambah kesan kedamaian pagi itu.


Tak berapa lama Shaka pun masuk ke kamar, ia nampak tergesa-gesa masuk ke kamar mandi, Amira pun melirik sejenak ke arah kamar mandi.


“Sepertinya inilah saatnya aku harus mengakhrinya,” celetuk Amira dalam hati.


Beberapa saat berlalu Shaka keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang sudah basah dan memakai selembar handuk yang dilingkarkan di pinggang.


Lalu ia memasuki walk in closet dan mengambil pakaiannya sendiri, Amira pun terdiam memandangi Shaka yang nampaknya masih grasak grusuk di kamarnya.


Sejenak ada perasaan ragu di benak Amira, ia kembali menatap taman dengan tatapannya yang sendu.


“Astaga kenapa aku harus ragu seperti ini,” gumam Amira dalam hati seakan logikanya berperang untuk melarangnya melakukan hal itu.


Tiba-tiba Shaka sudah berdiri di belakang Amira dan sudah memakai pakaian rapi, seperti sudah begitu siap untuk ke kantor.


“Aku pergi lebih pagi hari ini,” ucap Shaka sembari mengancing jasnya.


“Kamu mau pergi sekarang? Ta.. tapi ini masih pagi dan kamu belum sarapan,”


“Banyak kerjaan di kantor, masalah sarapan aku bisa makan di luar,” jawab Shaka dengan begitu tenang.


“Oh begitu,”’jawab Amira yang masih ragu-ragu memulai perbincangan.


“Baiklah aku harus pergi sekarang,” ucap Shaka sembari mengecup singkat ujung kepala Amira.

__ADS_1


Shaka pun berbalik badan dan ingin pergi, namun Amira spontan memanggilnya kembali.


“Tunggu Shaka Buwana,” ucap Amira.


__ADS_2