Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 110 Peluh di Pagi Hari


__ADS_3

Shaka pun tersenyum sembari membelai lembut pipi Amira


“Tuhan benar-benar tau apa yang orang seperti aku butuhkan Amira, yaitu sosok seperti mu, kamu sungguh wanita yang super power yang mampu membuat seorang Shaka Buwana tunduk padamu,” ucap Shaka sembari tersenyum.


Mendengar kata-kata Shaka, sontak membuat pipi Amira memerah karena malu, Amira pun hanya tersenyum dan menundukkan pandangannya, namun jari telunjuk Shaka kembali mengangkat dagunya, membuat mereka jadi kembali bertatapan, dengan begitu lembut, bibir Shaka pun kembali mendarat sempurna di bibir Amira.


Ciuaman yang awalnya dilakukan perlahan, kini mulai berubah menjadi ciuaman yang menuntut, membuat mulut Amira semakin terbuka membiarkan lidah Shaka berpetualang di dalam nya, suara sentuhan bibir mereka mulai terdengar menggema di ruangan itu, begitu juga dengan suara gemericik air yang ada di dalam bathub turut menambah riuh suasana yang kembali terasa hangat.


“Apa kita harus melakukannya di sini?” Tanya Amira dengan nafas terengah-engah.


“Dimana pun tempatnya, asal melakukannya dengan mu, akan menjadi hal yang sangat menyenangkan,” jawab Shaka dan kemudian kembali menerkam tubuh istrinya.


Tubuh Amira jadi tersandar di ujung pembatas bathub itu, Shaka dengan begitu lahap mengecap gundukan daging milik istrinya yang mulai mengeras, suara ******* pelan-pelan mulai menggema memenuhi isi ruangan, mata Amira pun di buat merem melek oleh sang suami.


Beberapa saat bergulat, akhirnya junior Shaka mulai menerobos masuk ke dalam lubang surgawi Amira, membuat ******* Amira kian mengalun indah seolah mendayu-dayu, berbarengan dengan suara riuhnya air yang meluap keluar dari bathub akibat guncangan hebat itu.


Shaka Buwana memang memilik fantasi **** yang cukup liar, ia tidak bisa puas jika hanya melakukannya di atas ranjang belaka, ia menyukai melakukan hal itu di tempat yang berbeda, di tempat yang sedikit menantang, di tambah lagi saat ia melakukan itu dengan Amira istrinya, itu sangat bisa mempengaruhi moodnya dalam menjalani hari menjadi jauh lebih baik.


Akhirnya tibalah mereka di puncak kepuasan, dengan nafas yang kembali terengah, Shaka mengajak Amira untuk berbilas.


“Maafkan aku sayang,” di bawah guyuran air shower, Shaka berbisik sembari memeluk Amira dari belakang.


“Untuk apa?” Tanya Amira yang masih terlihat begitu kelelahan.


“Maaf karena pagi-pagi sudah membuat mu kelelahan,” jawab Shaka sembari tersenyum.


“Kita seharusnya tidak boleh sering-sering melakukannya, karena kehamilan ku masih muda, tidak boleh terlalu banyak mengalami guncangan,” jelas Amira.


“Benarkah begitu? Itu kan ku lakukan bukan hanya karena nafsu, itu juga ku lakukan untuk mengunjungi calon anak ku, bukan kah makin sering mengunjunginya akan lebih baik, dia pasti senang papa nya sering datang berkunjung,” jawab Shaka sembari tertawa geli.


“Ha, pemahaman macam itu?” Ucap Amira sembari mendengus.


Beberapa saat kemudian setelah mandi bersama dan berpakaian, Amira dan Shaka pun turun menuju meja makan, saat itu terlihat nenek Emely sedang melahap sarapan mereka bahkan hampir selesai.


“Selamat pagi nenek,” sapa Shaka sembari menggandeng tangan Amira saat menuruni anak tangga, dan memancarkan sebuah senyuman begitu manis.


“Kenapa kalian lama sekali? Apa terjadi sesuatu?” Tanya Emely sembari melirik ke arah Shaka dan Amira.


“Tentu saja terjadi sesuatu di antara kami pagi ini nek,” jawab Shaka dengan begitu berbinar.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Amira pun sontak menyenggol lengan Shaka.


“Tidak nek, tadi aku hanya merasa sedikit mual, jadi Shaka memilih untuk menemaniku dulu, ta.. tapi ini sudah jauh lebih baik,” jawab Amira sembari cengengesan.


“Benarkah sudah baik-baik saja?” Tanya Emely memastikan.


“Iya nek,” jawab Amira sembari tersenyum dan melirik singkat ke arah Shaka.


Shaka pun hanya tersenyum sembari mengusap-usap tengkuknya.


“Emm, ya sudah ayo kalian makan lah,” ucap Emely kemudian.


Amira dan Shaka pun bergabung makan bersama nenek, lalu mulai menyantap sarapan yang terhidang di atas meja dengan penuh semangat, Shaka pun terus memancarkan senyuman sepanjang ia mengunyah makanannya, hingga sejenak membuat neneknya mengerinyitkan dahi saat melirik ke arahnya.


Selesai makan, Amira pun mengantar Shaka sampai ke teras.


“Aku pergi dulu ya sayang,” ucap Shaka sembari mengecup lembut dahi istrinya.


“Ka,” ucap Amira setelah Shaka melepaskan kecupannya.


“Ada apa?”


“Silahkan saja,” jawab Shaka dengan tenang.


“Boleh kah kau mencari tau kabar Marsel dan memberitahukannya padaku? Aku begitu merasa bersalah, hanya demi melindungiku Marsel sampai rela tertembak,” jelas Amira dengan tatapan sendu.


Mendengar itu, Shaka pun terdiam sejenak.


“Kenapa kau harus mencari tau kabarnya? Bukan kah dia sudah jahat padamu? Dia bahkan hampir membunuhmu,”


“Iya itu benar, tapi dia sudah menyelamatkan nyawaku, ayo lah Shaka aku mohon, aku hanya ingin tau bagaimana keadaannya, aku tidak akan meminta mu untuk pergi menjenguknya jika kau tidak suka,” ucap Amira dengan memelas.


“Emmm.. baik lah aku akan cari tau,” jawab Shaka tak bersemangat.


“Benarkah? Terima kasih suamiku,” ucap Amira dengan binar di wajahnya.


Akhirnya Shaka pun pamit pergi setelah Amira mencium tangannya.


Kantor Utama Buwana Group…

__ADS_1


Pagi ini Shaka di buat kembali bersemangat akibat suntikan vitamin yang ia dapatkan di pagi hari dari sang istri, sepanjang jalan ia terus tersenyum, bahkan ketika berjalan santai memasuki kantor ia juga bersiul girang hingga membuat para pegawai yang berpapasan dengannya jadi terheran-heran.


“Selamat pagi tuan muda, pagi yang cerah untuk jiwa mu yang juga nampak begitu cerah pagi ini,” ucap Kevin menyambut kehadiran Shaka.


Mendengar itu Shaka hanya mendengus dan tersenyum santai memasuki ruangannya.


“Minggir,” ucap Shaka dengan tenang saat Kevin berdiri di hadapannya.


“Ka, apa semuanya baik-baik saja?” Tanya Kevin yang mengikuti langkah Shaka.


Shaka pun akhirnya tiba di ruangannya, ia duduk dengan santai di kursi kejayaannya.


“Memangnya kenapa?” Tanya Shaka menaikkan kedua alisnya.


“Akhir-akhir ini, aku sering melihat mu begitu fokus dan jarang tersenyum apa lagi bersiul seperti tadi, aku hanya khawatir pada kesehatan mental dan psikis mu, karena gangguan jiwa biasanya di awali dengan gelagat aneh, contohnya ya seperti kamu ini, senyum-senyum sendiri,” jelas Kevin yang terlihat begitu serius.


Mendengar penuturan Kevin, kembali membuat Shaka tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.


“Aku masih terlalu muda untuk menjadi orang gila, lagi pula mana ada orang gila setampan aku,” jawab Shaka dengan tenang sembari membuka berkas-berkas yang sudah terletak di atas mejanya.


Kevin pun hanya bisa tertawa sembari ikut menggelengkan kepalanya.


“Oh ya Vin, apakah kau tau bagaimana kabar Marsel saat ini? Jika tidak tolong segera cari tau,”


“Ku dengar dari Vicko, saat ini Marsel masih di rawat di rumah sakit dekat kantor polisi, luka tembakannya semakin parah, karena mengenai tulang rusuknya,” jelas Kevin.


“Memangnya kenapa Ka? Kenapa tiba-tiba bertanya soal Marsel?” Tanya Kevin penasaran.


“Amira yang memintaku untuk mencari tau kabar Marsel, dia merasa bersalah karena Marsel rela tertembak demi melindunginya,”


“Nah, itu dia yang membuat aku heran sampai sekarang, padahal kan Marsel begitu jahat dan ingin mencelakai Amira, tapi kenapa dia malah menyelamatkan Amira dan mengorbankan dirinya untuk melindungi Amira,”


“Aku juga memikirkannya, apa dia punya motif lain di balik ini?” Ucap Shaka sembari tengah berfikir.


“Apa jangan-jangan, dia mulai mencitai istrimu? Bisa saja kan pada akhirnya dia luluh karena kelembutan dan kepolosan Amira,”


“Heh jaga bicara mu, jangan merusak mood baik ku karena mendengar pernyataan itu, tidak mungkin itu terjadi! Namun jika itu benar, aku tidak akan mengampuninya,” ketus Shaka sembari menatap tajam ke arah Kevin.


“Kenapa jadi marah? Aku kan hanya berpendapat saja, anggap saja itu sebagai test, bukan kah kau sudah berjanji untuk berubah menjadi orang yang tidak gampang emosi?”

__ADS_1


Akhirnya Shaka pun kembali terdiam, dan melupakan pembahasan mereka, beberapa saat kemudian, Kevin pun meminta Shaka untuk memasuki ruang meeting untuk membahas beberapa proyek baru.


__ADS_2