Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 61 Meminta Maaf


__ADS_3

Keesokan harinya..


Amira mengajak mamanya untuk makan di restoran yang biasa dia dan Shaka kunjungi. Amira dan mamanya baru saja menghabiskan makan siangnya. Mereka pun berbincang ringan tentang rencana liburan tahun baru yang sebentar lagi akan tiba. Saat sedang asik berbincang, tiba-tiba Amira di hampiri oleh dua orang wanita seumuran dengannya dengan wajah sembab dan terlihat berdiri lesu di depan Amira. Dua orang wanita itu tak lain adalah Windy dan Safa.


"Amira.." Panggil Safa dengan lirih.


"Safa.. Windy.." Ucap Amira sontak membulatkan matanya terkejut dengan keberadaan Windy dan Safa di hadapannya.


Tanpa berkata-kata lagi, mereka berdua pun langsung saja menangis dan berlutut di hadapan Amira, hal itu sontak membuat Amira terkejut dan kebingungan.


"Apa yang kalian lakukan? Bangunlah!" Ucap Amira sembari mencoba membangkitkan mereka berdua.


"Tolong kasihani kami, kami tidak tau harus bagaimana lagi." Ucap Safa yang terus meratap.


Mendengar itu seketika Amira teringat dengan kesalahan mereka yang sudah menjebak Amira di pesta ulang tahun Yura malam itu, namun Amira jadi bingung kenapa mereka datang minta maaf seperti ini. Amira sangat kenal dengan sifat Safa dan Windy yang tidak mungkin semudah itu minta maaf padanya kalau bukan karena suatu hal.


"Safa.. Windy.. Sudah sudah kalian bediri, kalian jangan seperti ini." Ucap Amira sembari berusaha membantu mereka untuk berdiri.


Mereka pun perlahan berdiri sembari terus menangis.


"Amira.. Maafkan kami, aku tau kita salah tapi aku mohon Amira maafkan kami yang sudah merugikan kamu dalam banyak hal maafkan kami Amira. Tolong kau bicaralah dengan suamimu, tolong jangan hancurkan perusahaan ayah ku dan jangan batalkan perjanjian kerja samanya dengan ayahku." Ucap Safa dengan tangisnya yang semakin pecah.


"Jadi kalian sudah bertemu suamiku?"


"Iya Amira, aku tak tau harus bagaimana dengan nasib kami terutama mama aku, dia sakit-sakitan Amira, kalau sampai perusahaan ayahku bangkrut, aku nggak tau lagi bagaimana dengan mamaku. Tolong bicaralah dengan suamimu Amira, kita janji kita nggak akan ulangin kesalahan kita lagi." Ucap Safa di tengah tangisnya.


"Aku juga janji Amira, kita nggak akan ganggu kamu lagi. Kamu bisa tenang sekarang tapi aku mohon maafkan aku dan Safa. Tolong katakan juga pada suamimu jangan pecat ayahku" Windy kembali berlutut sembari memeluk kaki Amira.


Mendengar hal itu sontak membuat Amira terdiam sejenak, tatapannya jadi kosong dan mulai berkaca-kaca. Dia tak tegah mendengar pengakuan Safa tentang mama nya yang sakit-sakitan. Di tambah lagi walau bagaimana pun Amira berfikir kalau Safa dan Windy itu adalah temannya juga walau mereka sering mengerjai dia tapi Amira tetap menganggap mereka sebagai teman.


Akhirnya Amira yang jadi merasa tak tega pun menyetujui untuk menyuruh Shaka mengurungkan niatnya untuk membatalkan perjanjian kerja sama dengan ayah Safa dan tidak memecat Papa Windy. Mereka yang mendengar pernyataan Amira sontak memeluk haru tubuh Amira.


"Terimakasih Amira, kau memang wanita yang baik." Mereka semakin mengeratkan pelukannya terhadap Amira.


Mama Riana yang melihat itu, begitu kagum dengan sifat anaknya yang murah hati.


Amira pun tersenyum lirih sembari mengusap punggung Safa dan Windy sementara mereka dari balik pelukan Amira, saling memandang satu sama lain dan sama-sama tersenyum sinis.


Amira pun melepaskan pelukannya. Tanpa curiga sedikit pun dengan Safa dan Windy yang hanya pura-pura minta maaf.


"Aku janji aku akan bicara dengan suamiku agar perusahaan ayah safa tetap aman dan tidak akan memecat papa Windy. Sekarang kalian pulang lah dulu, aku akan urus semuanya." Ucap Amira tersenyum sembari memandang mereka secara bergantian.


"Iya, Amira terima kasih banyak, yah sudah kalau begitu aku dan Windy pulang dulu ya." Ucap Safa kemudian berlalu meninggalkan Amira dan Mamanya.

__ADS_1


Flash back on..


Shaka sedang berada di ruangannya dan mencari tau asal usul Windy. Setelah di temukan, Shaka seketika terkejut dan sontak membulatkan matanya setelah mengetahui jati diri Windy. Ternyata Windy adalah anak dari salah satu staf di perusahaannya yang bernama Herman. Setelah berfikir sejenak, akhirnya Shaka tersenyum sinis sembari menelpon sekretarisnya dan memintanya untuk memanggil Herman ke ruangannya.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan.


"Masuk." Ucap Shaka kepada seseorang di luar.


Pintu di buka, terlihat seorang wanita yang tak lain adalah sekretaris Shaka, masuk ke dalam ruangan Shaka dengan di ikuti oleh seorang lelaki paruh baya dari belakangnya.


"Permisi tuan, ini pak Herman." Ucap Sekretaris Shaka dengan ramah sembari membungkukkan badannya.


"Tuan Shaka." Sapa Herman yang juga ikut membungkukkan badannya.


"Duduk!!" Perintah Shaka pada pak Herman.


Setelah itu, Sekretaris Shaka pamit undur diri meninggalkan ruangan Shaka yang menyisahkan Shaka dan Herman di dalam ruangan itu dengan Herman yang sudah duduk di depannya.


"Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Herman dengan masih menundukkan kepalanya.


"Apakah Windy itu adalah anak kamu?" Tanya Shaka langsung to the point.


"Iya tuan, ada apa dengannya?" Tanya Herman pelan.


"Iya tuan." Jawab Herman yang masih tertunduk.


"Malam pesta ulang tahun Yura Handika, anakmu berbuat kesalahan terhadap Amira. Ia sengaja membayar seorang laki-laki untuk mencekoki wine yang berisi obat perangsang pada Amira, agar Amira bisa melayani nafsu lelaki bejat itu dengan sukarela. Dan kau tau Amira itu siapa?" Ucap Shaka yang kini menatap tajam ke arah Herman.


Herman perlahan mengangkat wajahnya dengan raut wajah penasaran dengan kalimat Shaka.


"Amira itu adalah istriku." Ucap Shaka kemudian.


Mendengar itu, Herman sontak terperanjat, mendadak tubuhnya gemetaran dan ketakutan. Dia pun langsung berlutut di hadapan Shaka dan memohon ampun


"Maafkan aku tuan, aku sama sekali tidak tau dengan perlakuan anakku di luar rumah. Maafkan aku karena kurang mengawasinya, aku sudah gagal menjadi orang tua." Ucap Herman dengan lirih.


"Aku akan memaafkan anakmu asalkan kau bawah dia ke hadapanku sekarang juga. Kalau tidak hari ini juga kau ku pecat!! Dan aku akan memblack list nama mu di semua perusahaan yang akan kau masuki." Ketus Shaka mulai meninggikan suaranya.


"Iya tuan, baik aku akan menelepon dia dan menyuruhnya ke sini." Ucap Herman dengan tubuh yang gemetar.


"Bangunlah!! Dan telepon dia sekarang!!" Perintah Shaka yang sontak membuat Herman berdiri dan bergegas meraih ponsel di saku celananya.


"Datang ke kantor tempat papa bekerja sekarang!!" Perintah Herman pada anaknya.

__ADS_1


"Tapi pa, Windy kan ada kuliah hari ini." Jawab Windy dari seberang telepon.


"Izin dulu, ini yang lebih penting. Papa tunggu kamu sekarang juga!!" Ucap Herman lalu mematikan sambungan telepon.


"Ta.. Tapi pa." Celetuk Windy saat telepon sudah di matikan.


"Tuan, beberapa menit lagi Windy akan datang. Saya akan meminta dia untuk memohon maaf padamu." Cetus Herman sembari membungkukkan badannya.


Shaka mengangkat jarinya mengisyaratkan Herman untuk keluar dari ruangannya. Tak lama Herman kembali masuk ke ruangan Shaka dengan diikuti oleh Windy yang sedang berjalan sembari menundukkan kepalanya.


Herman dan Windy pun berjalan mendekati meja Shaka dengan penuh ketakutan.


"Ayo!! Kenapa hanya berdiri saja?" Ucap Herman pada anaknya.


"Jadi kau yang bernama Windy?" Tanya Shaka sembari beranjak dari duduknya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"I.. Iya tuan." Jawab Windy sembari menundukkan kepalanya.


"Kenapa malam itu kau menyuruh seorang lelaki untuk menjebak Amira di pesta ulang tahun Yura?" Tanya Shaka masih terlihat tenang.


"Ma.. Maaf tuan saya hanya di suruh." Jawab Windy dengan tubuh yang gemetar.


"Siapa yang menyuruhmu berbuat seperti itu?" Tanya Shaka yang kini mulai meninggikan suaranya.


Kini Windy semakin ketakutan, ia pun sontak berlutut di depan Shaka dengan memohon ampun.


"Ampuni aku tuan, aku di suru temanku Safa Tanubrata." Jawab Windy dengan tangisnya yang semakin pecah.


Mendengar nama belakang Safa, kini Shaka menunjukkan senyum devilnya.


Rupanya aku tau siapa ayah anak itu. Gumam Shaka dalam hati sembari tersenyum sinis.


"Berdiri!! Kau jangan berlutut seperti ini padaku tapi minta ampun dan berlutut lah seperti ini pada Amira. Sekarang juga kau pergi ke restoran tempat Amira makan siang dan bawa serta teman mu itu, berlutut dan minta maaf lah padanya karena jika tidak aku akan memecat papa kamu dari sini!!" Kini suara Shaka semakin menggelegar di dalam ruangan itu.


"Dan katakan juga pada temanmu itu, kalau sampai dia tidak berlutut dan minta maaf pada Amira maka aku akan membatalkan perjanjian kerja samaku dengan ayahnya dan aku pastikan perusahaan ayahnya bangkrut!!" Teriak Shaka sembari menatap tajam ke arah mereka.


Kini Windy langsung berdiri di hadapan Shaka sembari menundukkan kepalanya dengan air mata yang tumpah ruah.


"Tunggu apa lagi!! Pergi sekarang juga dan temui Amira!!" Bentak Shaka lagi membuat Windy dan Papanya pamit undur diri dari hadapan Shaka dengan raut wajah yang ketakutan.


Sementara di luar kantor, ayah Windy memarahi Windy habis-habisan dan menghukumnya untuk tidak memberinya uang jajan selama satu minggu. Herman bersikap seperti itu karena dia sungguh tidak tau dengan perbuatan anaknya di luar sana, karena dia tidak pernah mendidik Windy dengan berbuat serendah itu kepada orang lain.


Windy pun menangis dan tampak menyesal dengan apa yang dia lakukan. Di depan papanya dia berjanji tidak akan mengulang kesalahannya lagi. Dan segera menghubungi Safa serta mengajaknya untuk menemui Amira dan juga menyampaikan pesan Shaka padanya.

__ADS_1


Flash back off..


__ADS_2